"Aku kira, kau ingin membunuh kita berdua di medan pertempuran. Aku hanya ingin diakui dan disayang oleh Ayahanda, bukan menjadi sesuatu yang tidak diharapkan sama sekali. Sesuatu yang hanya menambah beban, aku bukanlah anak sial." Li Phin menyudahi tiupan seruling menyelipkannya ke balik bajunya.
"Baiklah, aku pun tidak akan mau mati begitu mudahnya. Aku hanya ingin kita bekerja sama, aku sama sekali buta di zamanmu ini," ujar Dara berterus terang.
"Memang kamu berasal dari mana?" tanya Li Phin bingung.
"Aku dari beribu-ribu tahun yang akan datang, aku dari masa depan," balas Dara.
Tok! Tok! Tok!
"Nona Li Phin! Nona Li Phin! Kita harus bergerak malam ini!" teriak suara menggedor pintu.
"Siapa itu?" tanya Li Phin sedikit takut di dalam benaknya.
"Entahlah, aku akan memeriksanya!" balas Dara langsung melesat meraih pedang dan menggenggamnya dengan erat membuka pintu perlahan.
"Ada apa?" tanya Li Phin pada seorang prajurit yang dikenalnya.
"Tuan Li Sun dan Tuan Jang Min memutuskan kita akan berangkat malam ini, pasukan Mongol mulai memasuki Xuchang!" ujarnya.
"Sial! Baiklah," ucap Dara langsung mengambil topi prajurit di atas meja dan memakainya berjalan cepat menuruni tangga dan segera bergabung dengan Li Sun dan Jang Min.
"Aku harap kamu sudah beristirahat, Putriku!" ucap Li Sun menatap putrinya.
"Ayahanda …," lirih Li Phin ia yang bersuara, "i-iya aku sudah beristirahat," balas Li Phin, Dara hanya diam saja di dalam benak Li Phin ia ingin ayah dan putri saling merasakan kasih sayang itu.
Li Phin sedikit bingung mengendarai kudan Dara segera mengambil alih tubuh Li Phin, "terima kasih, aku tidak ingin Ayahanda curiga jika kita berada di satu tubuh!" ujar Li Phin.
"Tenang, saja! Aku hanya tidak ingin kau menghilang sesuka hatimu, aku tidak mengenal orang-orang di sini," ucap Dara.
"Aku tidak bisa terlalu lama di tubuh ini, aku tidak tahu apakah aku sudah mati atau jiwaku kalah denganmu?" balas Li Phin, "terima kasih," lanjut Li Phin menghilang kembali.
"Andaikan aku bisa seperti Li Phin, aku juga akan pulang ke duniaku! Nyebelin!" teriak Dara membuat Li Sun dan Jang Min menatap ke arahnya, "ups! Hadeh aku keceplosan," batin Dara tersenyum.
"Apakah kau menyesali menjadi prajurit, Li Phin?" tanya Li Sun.
"Oh, maaf Ayahanda! Bukan, bukan seperti itu, aku hanya kesal akan sesuatu saja," balas Dara berusaha untuk tersenyum dan menepis kecurigaan Li Sun dan Jang Min juga semua prajurit.
"Baiklah, mari kita jalan!" perintah Li Sun berkuda dengan sendirinya.
"Ayahanda, apakah lukamu sudah sembuh?" tanya Dara penasaran.
"Aku rasa sudah!" balas Li Sun tidak ingin membebani putrinya.
"Oh," Dara hanya menatap ke arah Li Sun tanpa berani membantah, "aku melihat di film-film jika pada zaman ini seorang anak wajib patuh, nanti bila sampai di Xuchang aku akan memeriksa luka Ayahanda," batin Li Phin.
"Memang kamu bisa pengobatan Li Phin?" tanya Dara di dalam benaknya.
"Hahaha, banyak hal yang tidak diketahui orang, selain si Li Phin si Penggoda," ujar Li Phin sedih.
"Sudahlah, kamu ini selalu saja seperti jailangkung!" sungut Dara.
"Apa itu jailangkung?" tanya Li Phin bingung.
"Um, sejenis hantu pada zamanku," ujar Dara.
"Apakah zamanmu seperri sekarang atau lebih maju?" tanya Li Phin bingung.
"Sangat maju dan modern, nanti kapan-kapan aku akan menceritakan kepadamu. Tapi, mengapa kau selalu datang sesuka hatimu, sih?" tanya Dara kesal.
"Aku sudah bilang di satu tubuh tidak mungkin ada dua jiwa dan jiwaku kalah dengan jiwamu. Aku tidak tahu mengapa? Aku terlalu lemah, mungkin saja aku sudah mati dan arwahku penasaran," balas Li Phin sekenanya.
Sementara derap langkah kaki kuda terus bergema membelah malam, "aku baru kali ini menunggangi kuda dengan sendirian," keluh Lin Phin, "ternyata luar biasa, rasanya!" lanjut Li Phin semangat.
"Jadi selama ini kamu ke mana aja?" tanya Dara bingung.
"Ah, aku harus pergi lagi! Berhati-hatilah, Dara. Musuhku terlalu banyak," pesan Li Phin sebelum lenyap lagi.
"Dasar, jailangkung! Jika Li Phin sudah mati, lalu bagaimana denganku?" batin Dara bingung, ia mengigit bibirnya, "Apa yang sedang kamu pikirkan?" ucap Jang Min sudah berada di sisi kudanya.
"Tidak, ada!" balas Li Phin dingin.
"Oh, jika ada sesuatu katakan saja," ucap Jang Min.
"Ya!" balas Dara bingung. Ia tidak mengerti mengapa Jang Mim bersikap baik padanya.
Derap kaki kuda semangkin mendekati perbatasan Xuchang mereka melihat pertempuran telah berlangsung, Li Sun mengangkat sebelah tangannya, membuat semua pasukan berhenti secepatnya, "Kita akan menyerang ke sana, apakah kalian siap?" tanya Li Sun dengan lantang.
"Siap Jendral!" ujar semua orang.
"Serang!" teriak Li Sun.
Dara menatap ke arah Li Sun ia tahu jika Li Sun masih menanggung luka di tangan dan punggung hanya kewajibannyalah yang membuat Li Sun harus terus maju. Langkah kaki kuda bergerak menembus malam melesat membelah pertempuran di mana prajurit Donglang dan orang Mongol telah bertarung di sana, kilatan pedang dan tombak mewarnai malam yang tertimpa cahaya rembulan purnama.
Trang! Trang!
Pedang beradu begitu juga dengan tombak memecah malam dan teriakan kesakitan dan nyawa melayang mewarnai malam, "Ya Tuhanku! Aku bisa gila di sini!" batin Dara tetapi ia terus menarik kekang kuda berusaha mendekat dan menjadi bayang-bayang Li Sun di sisinya. Pedangnya berkilau ke angkasa menebas leher dan tubuh musuh secepat kilat pedang yang berkilau mandi darah.
"Gila! Itu manusiakah?" batin Dara melihat salah satu orang Mongol berjalan melompati kuda dan kepala prajurit dengan menebas leher prajurit, rambutnya yang putih berkibar diterpa angin malam.
"Pendekar gila, Mongol Cien Fang benar-benar muncul!" teriak Li sun, "berhati-hatilah!" lanjut Li sun menarik dua pedangnya melompat dari pelana kuda dan menerjang melakukan hal yang sama dengan Cien Fang dan menyerang.
"Ayahanda, benar-benar hebat! Tapi dia sedang terluka! Dara selamatkan Ayahanda!" teriak Li Phin muncul di benak Dara.
"Tentu, saja!" balas Dara melompat menggunakan teknik yang diperlihatkan dari Li Sun, saat pedang Cien Fang ingin melukai dada Li Sun.
Trang!
Dara menangkis pedang Cien Fang dan kembali bertempur di atas pelana kuda berjumpalitan seperti di film-film, Dara mengerahkan seluruh kemampuannya.
Dara hanya menggabungkan semua ilmu bela diri modern yang dipelajarinya. Semua prajurit bertempur dengan gagah dan meninggal di sekitar Dara. Jang Min bertempur di tempat lain, Li Sun telah muntah darah akibat luka dalam.
"Aku harus mengakhiri semua ini!" batinnya ia semakin gigih.
"Li Phin! Gunakan ini!" teriak Li Sun melemparkan pedangnya.
Dara secepatnya menangkap salah satu pedang Li Sun, ia menggunakan dua pedang. Akan tetapi pedang Li Sun terlalu berat baginya ia bingung mengerahkan tenaga dalam miliknya, ia tidak pernah belajar hal itu. Hingga ia terjatuh berguling ke tanah karena beban pedang tersebut, membuat tawa bergema dari Cien Fang dan orang Mongol.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Hasan
mungkin emang benar jiwa si li phin asli sudah mati makanya dia ga bisa terlalu lama ditubuhnya
2022-08-19
0
DEBU KAKI
mantap kali Thor
2022-03-30
3