"Baiklah, jika itu memang keputusanmu! Mulai besok kamu akan pergi ke perbatasan Xuchang," perintah Li Sun.
"Baik, Ayahanda!" balas Dara.
"Mengapa kau melakukan ini? Kau ingin membunuh kita berdua begitu?" teriak Li Phin yang sudah kembali ke tubuhnya.
"Kau bilang, 'Kau menyerahkan segalanya kepadaku?' lalu, mengapa sekarang kamu marah?" balas Dara di dalam benak mereka.
"Kau! Tapi, bukan seperti ini?" ucap Li Phin kesal dan kembali lenyap.
"Nona Li Phin, menjadi prajurit begitu mengerikan, apakah kamu sudah memikirkannya?" tanya Liang Bao.
"Tidak Masalah, Yang Mulia! Saya akan menjalaninya," balas Dara, "daripada aku akan menjadi bulan-bulanan dan hinaan. Mending di medan pertempuran," batin Dara, "lagian hanya ini cara satu-satunya mengangkat harkat dan martabat Li Phin," batin Dara.
Malam harinya Dara di dalam tubuh Li Phin duduk menatap rembulan purnama di dekat kolam ikan yang penuh dengan bunga teratai dan ikan koi di sebuah taman di dalam istana milik Tuan Liang Bao.
"Di sini indah, tapi alangkah lebih indah jika aku berada di negaraku sendiri dan di kehidupan modern. Um, aneh juga! Untung saja, aku pernah belajar Bahasa Mandarin dengan Tek Kim," batin Dara mengingat teman sekolahnya yang gempal, "bagaimana bisa Jimmy berkhianat? Pantas saja, kami tak pernah bisa menangkap gembong narkoba sialan itu!" batin Dara.
Bayangan wajah anggotanya Jimmy benar-benar terbayang di wajahnya, ingin rasanya Dara segera kembali ke kehidupannya, "sampai kapan aku harus di sini?" lanjut batinnya semakin kacau.
"Apakah kau yakin akan menjadi seorang prajurit Li Phin?" ujar Liang Si, yang telah berada di belakang Li Phin. Ia merasa sedikit terenyuh dan harga dirinya jatuh terhempas kala Li Phin menolak menjadi selirnya.
Dara di dalam tubuh Li Phin hanya diam saja memandang lurus ke depan, rambut panjang Li Phin yang indah dan hitam legam dibiarkannya terurai, tertiup angin menebarkan aroma keharuman yang menggoda bagi Liang Si.
"Aku tidak menyangka jika Li Phin begitu cantik, selama ini ia selalu saja menyanggul rambutnya," batin Liang Si, "sebaiknya kamu terima saja tawaran untuk menjadi selirku. Aku sangat yakin kau sangat mencintaiku dan kau pun pasti rela berbagi cinta dengan semua selir dan Jiajia," lanjut Liang Si.
"Aku tidak pernah bermimpi menjadi selir siapa pun, aku hanya ingin menjadi ratu di hati dan kehidupan seseorang," balas Dara membalikkan tubuhnya menghadap Liang Si.
"Hahaha, aku tidak yakin ... akan ada pria yang akan menikahi seorang wanita yang terkenal telah mengejar-ngejar pria lain," sindir Liang Si.
"Kita tidak tahu jodoh kita dengan siapa, bukan? Aku harap jodohku adalah orang yang bisa menerima segala kelebihan dan kekuranganku," balas Dara.
Plok! Plok!
Liang Si bertepuk tangan menghina,
"Hebat! Untuk pertama kalinya seorang Li Phin yang selama ini mengejar-ngejarku bagaikan anak anjing terhadap tuannya, telah berubah menjadi sosok gadis yang luar biasa," ujar Liang Si menghina Li Phin,
"um, aku tidak yakin kau akan bisa bertahan di medan perang!" hina Liang Si.
"Kita lihat saja!" balas Dara.
"Hahaha, apakah kau akan mengejar semua jenderal di Xuchang begitu? Atau kau ingin menjadi seorang prajurit yang paling cantik di Xuchang untuk memuaskan pria kesepian di sana?" hina Liang Si.
"Apakah kau cemburu jika aku melakukan hal itu? Atau kau diam-diam juga sudah mencintaiku tanpa kau sadari Liang Si? Sayangnya, cintaku sudah hilang kepadamu!" balas Dara dengan tatapan dingin.
"Cih! Aku tidak akan pernah mencintaimu, Li Phin! Walaupun bumi ini terbelah, aku tidak akan pernah mencintaimu," hina Liang Si.
"Syukurlah!" balas Dara sekenanya.
Liang Si mengulurkan kipasnya ingin menyerang Li Phin, "Jika kau bisa melawanku di dalam satu jurus, saja. Berarti kau sangat hebat! Tapi aku rasa kau tidak akan bisa," ucap Liang Si angkuh.
Dara berkelit dan melompat dengan mudah menghindari setiap serangan yang dilakukan oleh Liang Si. Bahkan dia berhasil mendaratkan pukulan ke wajah Liang Si, tepat lima jari mendarat di pipi kanan Liang Si, membuat tanda di sana, "Aku harap itu sebagai hadiah perpisahan dari seekor keledai dungu, yang pernah mengiba-iba dan mengharapkan cintamu!" balas Dara telak ia berjalan menyusuri jembatan menuju ke ruangannya.
"Sial, bagaimana mungkin wanita lemah seperti Li Phin bisa berkelahi?" batin Liang Si, memegang pipi dan memandang ke arah Li Phin yang berjalan dengan gemulainya.
"Jangan lupa! Aku adalah putri dari Menteri Pertahanan Li Sun!" balas Dara meninggalkan Liang Si masuk ke kamarnya.
***
Keduanya tidak menyadari jika dua pasang mata di tempat berbeda sedang mengamati keduanya, "Li Phin putriku bisa berkelahi? Dari mana dia belajar ilmu bela diri?" batin Li Sun tidak mempercayainya, "putriku yang manja telah berubah! Apakah aku terlalu keras dan tidak mempedulikannya dari kecil sejak kematian Jang Mei," batin Li Sun bersedih.
Ia kembali ke kamarnya membayangkan ketangkasan putrinya, "entah apa yang telah terjadi padanya selama ini, aku pun tak pernah tahu!" batinnya terus berkecamuk.
***
Sementara di tempat lain, "Sialan! Bagaimana mungkin Li Phin bisa bela diri? Aku akan membuatnya menderita," batin Jiajia mengepalkan kedua tangannya, "bisa-bisa semua rencanaku gagal! Sepertinya Liang Si pun menyukai Li Phin tanpa disadarinya. Ini tidak boleh terjadi," batinnya kesal.
Ia secepat kilat pergi meninggalkan taman dan memasuki ruangannya, "Shi Rong, panggil Tuan Ma!" perintahnya.
"Baik Putri!" balas Shi Rong langsung meninggalkan ruangan, melepaskan burung merpati ke angkasa setelah menyelipkan secarik kertas di kaki burung merpati.
"Ada apa Tuan Putri memanggil saya?" ujar seorang pria muncul dengan pakaian serba hitam mirip dengan seorang ninja berlutut di belakang tubuh Jiajia yang sedang duduk di depan cermin menyisir rambutnya.
"Aku ingin kau menjalankan satu misi, aku tidak ingin Tuan Li sun dan putrinya Li Phin sampai ke perbatasan Xuchang esok hari. Bunuh mereka seakan mereka sedang kecelakaan, Ingatlah, Tuan Ma! Apa yang sedang direncanakan oleh ayahanda, jangan sampai gagal.
"Buatlah seolah-olah, mereka sedang diserang oleh perampok atau pemberontak tentara Mongol," ujar Jiajia, "jika kau gagal! Maka nyawamu adalah taruhannya," lanjut Jiajia dingin.
"Baik, Yang Mulia!" balas Tuan Ma. Melesat secepat kilat dari bubungan kamar Jiajia yang masih terus menyisir rambutnya.
"Shi Rong!" teriak Jiajia.
Wanita muda sebagai dayangnya langsung masuk ke ruangan Jiajia, "Siapkan semua perlengkapan tidurku!" perintah Jiajia.
Dayangnya segera menyiapkan semua keperluan Jiajia, ia tidak ingin dihukum cambuk atau dipenjara oleh majikannya yang mengerikan tersebut.
***
Dara masih duduk di pembaringannya seorang dayang ingin membantunya mengganti baju, "Aku bisa sendiri. Pergilah!" usir Jiajia.
"Maaf, Tuan Putri, aku adalah utusan dari Tuan Li Sun ayahanda Tuan Putri," ucap dayang tersebut. Dara melihat wanita yang sangat belia bersimpuh dengan takut di depan Dara.
"Baiklah," balas Dara. Ia merasa kasihan selain itu ia juga tidak ingin mengecewakan Li Sun.
"Ya Tuhan! Mengapa banyak luka di tubuh ini?" batin Dara melihat bekas-bekas luka sudah berubah menjadi garis-garis putih, "jika aku berada di zamanku, aku pasti sudah melasernya sehingga kulit mulus ini tidak ternoda," batin Dara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Kartika Lina
setiap tokoh antogonis jika jiwanya berganti pasti mulai terlihat sebenarnya siapa yang jahat,, protagonis yang pura pura pemah lembut padahal aslinya beuhhh ucing garong 😡
2024-09-27
0
Lenkzher Thea
Lanjut 👍❤❤❤❤❤ plus Favorit dàn ranting ⭐⭐⭐⭐⭐
2022-05-26
1
Elisabeth Ratna Susanti
semangat 😘
2022-04-23
1