"Aduh, Li Phin! Kamu benar-benar menyebalkan, pantas sajalah Liang Si marah. Apa yang harus aku lakukan?" batin Dara. Ia berusaha untuk menggerakkan tubuhnya tetapi semua tulangnya hampir putus rasanya.
"Liang Si! Aku tidak berbicara kepadamu, aku ingin bertanya kepada Nona Li Phin," ujar Liang Bao, "Nona Li Phin, apakah kamu mau menjadi selir dari putraku Liang Si?" tanya Liang Bao.
"Tidak! Aku telah salah selama ini, aku kira cinta akan datang dengan mudahnya, jika aku mengikuti ke mana pun Tuan Muda Liang Si. Sekarang dan sampai kapan pun aku tidak akan mencari Tuan Muda Liang Si, lagi!" balas Dara, sebagian batinnya menangis pilu, "kamu jahat sekali!" suara berdengung jauh di batin Dara, "Li Phin, kaukah itu?" tanya Dara di dalam batinnya.
Namun, ia tidak mendapatkan jawaban hanya isak tangis di dalam jiwanya, "sudahlah, apakah kau ingin mati! Pria itu pun tidak mencintaimu, kau cantik mengapa mau jadi pelakor sih? Lagian jika kau masih melawan dengan cintamu? Apakah kau masih bisa hidup di sini?" tanya Dara dibenaknya. Tangisan Li Phin semakin menjauh, "Li Phin! Li Phin! Tunggu!" teriak batin Dara mencari Li Phin yang menghilang.
"Baiklah, Nona!" ujar Liang Bao membuyarkan lamunan Dara.
"I-iya Yang Mulia!" balas Dara sedikit bingung harus berkata apa.
"Apakah kau ingin pulang ke Chang An?" tanya Liang Bao.
"Iya, Yang Mulia!" balas Dara bingung.
"Baiklah, kau akan pulang setelah lukamu sembuh! Tabib Wang, tolong obati semua luka Nona Li. Aku harap kalian tidak mengganggunya lagi. Dia adalah tamu di sini," lanjut Liang Bao.
"Baik, Yang Mulia!" jawab semua orang menundukkan kepala termasuk Dara. Ia mengikuti instingnya. Seorang tabib langsung membawa Li Phin meninggalkan aula.
Dara hanya diam memperhatikan sekelilingnya, ia ingin bertanya tetapi diurungkannya, "Ini pada tahun berapa? Apakah sesuai dengan novel yang aku baca? Sialnya, aku baru berapa ratus lembar membacanya. Apa yang harus aku lakukan? Aku juga tidak tahu bagaimana keadaan rumah dan ayah Li Phin," batin Dara di dalam tandi dengan termenung.
Dara hanya membaca jika Li Phin di dalam cerita novel adalah wanita antagonis yang jahat dan selalu mengejar cinta Liang Si dan ingin memisahkan Liang Si dan Tan Jiajia, "Li Phin hanyalah wanita manja dan selalu kekanak-kanakkan. Apa yang terjadi dengannya sebenarnya?" batin Dara bingung, ia ingin menggerakkan tangannya, "aduh, sepertinya tangan ini patah! Apa yang terjadi pada Li Phin? Sial, sekali! Jimmy benar-benar pengkhianat. Aku akan menghukum mati dirinya suatu saat nanti," batin Dara kesal.
Ia mengangkat tangan kirinya dengan tangan kanan, ia ingin memejamkan mata dengan bersandar di tiang tandu yang diangkat beberapa prajurit.
"Turunkan, saja di sini. Tolong angkat Nona Li Phin," ujar Tabib Wang. Dara terkesiap seorang prajurit menggendong tubuhnya dengan mudah. Dara hanya diam, saat prajurit membaringkan tubuhnya di sebuah bale bambu.
"Nona, makanlah bubur ini dulu!" ujar Tabib Wang, "Jier, suapkan bubur kepada Nona Li Phin," lanjut Tabib Wang.
"Mengapa harus aku, Kakek? Wanita itu begitu angkuh dan menyebalkan, biarkan saja dia makan sendiri. Biar tahu, rasa," ketus Jier.
"Jier, tidak baik berkata demikian. Setiap orang memiliki masa lalu, Nak!" balas Tabib Wang.
Wanita muda bernama Jier langsung mengambil mangkuk dan sendok berusaha untuk menyuapkan bubur pada Li phin.
"Tidak, usah! Biar aku saja!" balas Dara dingin selama ini ia selalu mandiri kala luka seperti apa pun dideritanya. Ia langsung mengambil mangkuk dari tangan Jier. Walaupun ia bersusah payah untuk itu, "Terserah, dasar gadis sombong!" umpat Jier.
Dara hanya diam berusaha untuk makan dan diam, "Semua orang membenci Li Phin termasuk diriku," batin Dara, "apa yang harus aku lakukan agar nama baik Li Phin kembali. Paling tidak diriku tidak menjadi hinaan terus menerus," batin Dara diam sambil memakan bubur.
"Nona Li Phin, maaf hanya ini yang bisa kami sajikan," balas Tabib Wang.
"Tidak apa-apa, Tabib. Terima kasih, maaf saya saat ini tidak punya uang untuk membayar semua pertolongan Tabib, nanti jika saya sudah kembali ke Chang An. Aku akan menyuruh salah satu pengawal untuk memberikan biaya perawatanku," balas Dara. Ia berusaha untuk membayar segalanya, ia tidak tahu harus bagaimana dan tidak ingin berhutang budi.
"Tuan Muda Ke-2 Liang Si datang!" teriak seorang prajurit di luar kediaman Tabib Wang.
"Salam, Yang Mulia! Semoga Mulia panjang umur!" ujar Tabib Wang berlutut Dara bingung harus bagaimana ia tidak lagi peduli dan tidak ingin bertemu dengan pria tampan yang masuk ke dalam kediaman Tabib Wang, di belakangnya sang tabib tergopoh-gopoh dengan wajah tua dan janggut putihnya.
"Tuan Wang, Ayahanda memberikan semua ini untuk perawatan Nona Li phin!" ujar Liang Si tanpa melihat sedikit pun ke arah Li Phin.
Dara hanya diam dan mencoba untuk memakan buburnya, "Dasar, tidak punya sopan santun!" ujar Liang Si.
"Sampaikan, ucapan terima kasihku kepada Yang Mulia Liang Bao yang telah berbaik hati menolong diriku," balas Dara menghentikan suapan buburnya tanpa menoleh ke arah Liang Si.
"Bila kau bicara, lihat lawan bicaramu! Di mana sopan santunmu? Selama ini kau mengejar-ngejar diriku," ucap Liang Si dengan penuh kemenangan dan wibawa.
"Maaf, jika selama ini aku terlalu bodoh, untuk mengejarmu. Jangan khawatir aku tidak akan pernah lagi menampakkan wajahku dihadapanmu," balas Dara.
"Hiks! Hiks," sebuah tangisan di batin Dara. Ia tahu jika itu adalah Li Phin yang tidak rela kehilangan Liang Si.
Namun, Dara tidak peduli, "pria tampan bukan hanya Liang Si di dunia ini, masih banyak pria tampan dan mapan lebih dari Liang Si," batin Dara.
"Syukurlah, jika pada akhirnya kau menyadari hal itu. Kau tahu, aku tidak akan pernah mencintaimu sampai kapan pun," ucap Liang Si menyodorkan kipasnya ke dagu Dara dan mengangkat dagu itu, sehingga mau tidak mau kedua mata mereka saling bertatapan.
Deg!
Jantung Dara bergetar, "Sial, perasaan Li Phin benar-benar kuat terhadap pemuda ini," keluh batin Li Phin. Ia merasa kabut mulai menghadang di mata Li Phin, "jangan menangis, jangan merendahkan dirimu terlalu dalam hanya untuk pria sialan ini," batin Dara mengutuk Li phin.
Liang Si menarik tangan dan meninggalkan Dara di dalam tubuh Li Phin, Dara terdiam kembali memakan buburnya.
"Tumben kau tidak mengiba dan memohon-mohon kepada Tuan Muda ke-2," cibir Jier.
"Apa itu perlu? Dulu, mungkin iya. Sekarang, tidak akan pernah!" balas Dara terus memakan buburnya.
"Kamuflase apalagi yang akan kamu mainkan, Nona Li Phin? Semua orang di seluruh Kekaisaran Donglang tidak akan percaya," balas Jier.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Titin Sampita
Sampai disini masih menyimak belum ada pendapat n koment, tetap semangat Thor dalam berkarya.
2023-10-16
0
Nulis terus✍️💪
semangat Thor 💪☺️
2022-06-16
2
Lenkzher Thea
Mantap 👍❤❤
2022-05-26
2