Mereka memasuki penginapan Jang Min telah memesan beberapa kamar dan makanan, tetapi saat memasuki penginapan yang merangkap sebagai restoran pada zaman kerajaan itu, "Seperti klub malam saja!" batin Dara mengamati semua wanita yang berdandan sedikit menggoda kaum Adam.
Li Phin merasa risih kala salah satu wanita-wanita malam mendekatinya, "Apa kabarmu tampan?" tanya seorang wanita berdandan menor mendekati Li Phin.
"Menjauhlah darinya!" ucap Li Sun. Ia melihat jika putrinya sedikit risih.
"Ah, Tuan Li Sun, apa kabarmu?" tanya wanita tersebut membelai kerah baju zirah Li Sun.
"Nona, saya mohon Nona menyingkirkan tangan Nona dari tubuh Jendral Li! Tuan Li Sun ingin istirahat," balas Dara ia tidak suka jika ayahnya diganggu oleh wanita tersebut.
"Silakan!" ujar wanita penggoda beralih ingin menggoda Jang Min. Namun, pandangan Jang Min yang dingin membuat semua wanita membeku di depannya dan menjauh.
"Silakan! Silakan Tuan!" ujar pelayan pria mempersilakan Li Sun dan semua pasukannya untuk duduk di sebuah meja. Seorang pelayan yang sedikit tua membawa sebuah kain lap bersih di bahunya memakai topi dan celemek, menggiring Li Sun dan kelompoknya ke sebuah meja di tengah ruangan yang memuat beberapa bangku.
Dara mengamati sekeliling di meja kasir seorang wanita cantik menghisap cerutu panjang yang langsing di depan sempoa. Di meja-meja lain beberapa orang duduk memperhatikan semua prajurit, Li Phin merasa mereka bukanlah orang biasa.
Di sudut ruangan di meja paling pojok, seorang pria berbaju hitam dengan topi caping terbuat dari kain hitam lebar juga pedang di mejanya sedang memakan daging bebek dan secangkir arak dari sebuah guci. Aroma makanan dan minuman berbaur bersama asap cerutu juga wangi dupa yang membaur menjadi satu.
"Aku merasa ini seperti obat bius!" batin Dara, "Tuan Jang! Aku merasa aroma ini adalah aroma obat bius!" bisik Dara tanpa sadar ke telinga Jang Min bisikan Dara membuat Jang Min sedikit menjauh. Dara menyadari kekeliruannya ia menjauhkan tubuh dan bersikap layaknya seorang ksatria.
Jang Min berbisik kepada prajurit di sampingnya dan terus berlanjut ke semua prajurit, "Ayahanda sebaiknya Ayah beristirahatlah!" usul Dara ia merasa akan terjadi sesuatu hal.
Di pintu masuk beberapa pria Mongol memasuki penginapan dengan tampang yang mengerikan dan wajah sangar. Li Sun langsung menggenggam pedang dengan erat, "Li Phin berhari-hatilah! Mereka sangat kejam," bisik Li Sun. Dara hanya menganggukkan kepala memahami apa yang dimaksud oleh Li Sun.
"Berikan kami makanan dan minuman, cepat!" teriak salah seorang pria dengan rambut panjang dikuncir dan tato di wajahnya bergambar naga.
"Memang di mana-mana kalau penjahat mengapa selaku bertampang menyeramkan, sih?" batin Dara. Ia menyesap air putihnya ia tidak terbiasa minum arak di zamannya, sehingga ia akan takut jika ia mabuk dan membongkar identitas dirinya.
Dara berusaha setenang mungkin ia berusaha untuk menggunakan keahlian yang dimiliki sebagai detektif kala ia masih bertugas menjadi intel di jalanan Kota Padang-Indonesia.
Brak!
Pria Mongol langsung menggebrak meja, "Pelayan! Berikan arak terbaik dan daging yang paling enak!" ujar seorang wanita Mongol dengan pedang panjang dan lebar dengan anting-anting di mata pedangnya.
Dara memakan sesuatu, "Aku harus makan! Aku tahu tubuh Li Phin sangat ringkih dan dia juga memiliki asma. Aku tidak ingin kejadian tadi terulang lagi," batin Dara mengantisipasi segala hal yang diperlukan.
Ia makan dengan lahap membuat Li Sun dan Jang Min menatap ke arahnya, "Apakah kamu kelaparan Nona Li Phin?" tanya Jang Min.
"Ya, pertempuran menguras energiku apalagi, aku sangat yakin pertempuran lain akan menyusul aku harus makan banyak!" balas Dara dengan mimik menggemaskan.
"Makanlah ini!" ujar Li Sun mengangsurkan bebek peking ke mangkok nasi milik Dara.
"Bagaimana denganmu Ayahanda?" tanya Dara.
"Aku bisa menahan lapar," balas Li Sun, membuat Dara tercepat.
"Makanlah, Nona Li!" ucap Jang Min mengerti apa yang sedang dipikirkan Dara yang terhenti dengan mangkuk dan sumpit yang masih bertengger di depan mulut dengan tampang lugu.
"Terima kasih!" balas Dara langsung menyuapkan nasi dengan cepat, "berhati-hatilah dengan wanita itu! Ia memiliki racun!" ujar Dara mengatakan dengan nalurinya.
Ia secepatnya makan dan minum, prajurit yang lain masih menantikan titah dari atasan mereka, "kalian makan saja! Sebentar lagi akan ada pertempuran. Sayang jika semua makanan ini akan jatuh ke lantai," ujar Dara membuat semua prajurit memandang dan menelan ludah.
"Makanlah kalian dengan cepat dan waspadalah!" perintah Li Sun. Semua prajurit langsung makan bagian mereka dengan secepat yang mereka bisa.
Li Sun, Li Phin, dan Jang Min masih bersiaga di balik mangkuk makanan dan cangkir minuman mereka.
"Silakan Tuan!" ujar pelayan tergopoh-gopoh.
Gerombolan Mongol makan dan berbicara di dalam aksen mereka yang cepat dan tidak dimengerti oleh Dara.
"Pelayan! Apa yang kau suguhkan ini? Arak ini tidak enak sama sekali! Sedangkan kepada prajurit Donglang kau suguhkan yang paling enak!" teriak pria bertato dengan membanting guci arak tersebut ke lantai.
Prang!
Pecahan berserakan, semua orang berhamburan pergi dari penginapan tersebut yang tertinggal hanyalah prajurit Donglang dan pria di sudut yang masih menyantap makanannya dengan tenang.
"Maaf, Tuan arak kami hanya itu, tidak ada perbedaan dari pelanggan yang lain," ujar wanita di kasir.
"Kau terlalu banyak mulut!" ujar pria Mongol menghunuskan pedang melesat ke arah wanita di kasir yang langsung melesat ke langit-langit penginapan semua wanita malam berhamburan ke luar ruangan.
"Kau jangan membuat rusuh di penginapan ini!" teriak si wanita kasir melontarkan jarum ke arah si pria Mongol yang mengangkat pedang dan menangkis serangan jarum beracunnya. Dara masih saja terus makan dengan cepat dan meminum banyak air.
"Salah satu jarum melesat menembus ke tubuhnya ia langsung menangkis dengan mangkuk nasi yang sudah habis dengan gerakan cepat.
"Wah, prajurit Donglang benar-benar hebat!" puji pria Mongol.
"Terima kasih! Tapi kau tidak bisa membuang dan menangkis dengan sengaja mengarah ke kami! Kau hanya mencari keributan di penginapan ini, kami bisa menangkapmu kapan pun!" hardik Dara, "aduh, apakah daerah ini masih kekuasaan dari Kekaisaran Donglang?" batin Dara sedikit bingung.
"Hahaha, kau cerdik sekali Nona! Kau menyamar menjadi prajurit pria ternyata kau adalah seorang wanita!" ujar pria Mongol tersebut.
"Jika aku wanita apakah itu salah? aku juga tidak meminta untuk dilahirkan menjadi wanita, Tu- Dewalah yang memberikan hal itu!" ucap Dara sedikit bingung. Ia tidak mengerti ajaran agama yang dianut pada zaman itu.
"Dia bagianku!" ucap si wanita Mongol melesar menghunuskan pedang beracunnya, "matilah kau!" teriak si wanita menyerang Dara. Li Sun dan Jang Min ingin menangkis serangan dengan pedang mereka.
akan tetapi mereka kalah cepat Dara sudah melesat melompat menghunuskan pedang dan menangkis serangan si wanita Mongol. Dentingan pedang dan tebasan memporak-porandakan ruangan, meja, dan kursi langsung terbelah juga hancur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Hana Nisa Nisa
baru mulai baca
2023-08-04
0
Elisabeth Ratna Susanti
joosssss
2022-04-23
2
Eti Yulianti
bagus tor....
2022-04-20
2