"Ini Ayahanda!" ucap Li Phin melompat dari kuda berlari ke arah ayahnya dan menyerahkan sebuah kepala yang masih tertutup cadar hitam.
"Jang Min periksa kepala siapa itu?" ucap Li Sun.
Jang Min maju dan memeriksanya, "Ya Dewa! Bukankah ini Tuan Ma?" ujar Jang Min.
"Apa? Tuan Ma kepercayaan Tuan Qin Chai Xi penasihat kekaisaran?" tanya Li Sun ingin bergerak dari tanah. Dara langsung memapah ayahnya untuk melihat ke arah kepala tersebut.
"Iya, Yang Mulia Jenderal!" balas Jang Min, keduanya saling pandang dan saling menganggukan kepala seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Li Sun.
Jang Min dan prajurit yang lain langsung menguburkan Tuan Ma dan yang lainnya. Dara masih mengobati lengan dan punggung Li Sun yang terluka.
Li Sun mengambil sapu tangan di selipan pinggangnya dan menyeka darah di wajah putrinya, "Simpanlah, sapu tangan itu! Itu milik almarhum ibumu, Jang Mei!" balas Li Sun.
Dara terkesiap, ia tidak menyangka jika Li Sun masih menyimpan sapu tangan milik ibunya Li Phin yang telah tiada setelah begitu lamanya, "Pantas saja Li Phin bucin! Bapaknya aja bucin akut!" batin Dara.
"Li Phin, aku tidak menyangka kau bisa setangguh ini. Dari mana kamu belajar bela diri. Siapa yang mengajarimu?" tanya Li Sun penasaran.
"Aku … aku hanya melihat prajurit berlatih dan entahlah aku berusaha untuk mempertahankan diriku saja," balas Dara bingung harus menjelaskan bagaimana, "tidak mungkin aku mengatakan sebuah kebenaran jika aku Dara Sasmita bukan Li Phin," batin Dara.
"Maafkan, aku Nak! Selama ini. Aku tidak pernah menemani dan menyayangimu. Aku selalu menyalahkan karena kehadiranmu maka Jang Mei harus meninggal," ucap Li Sun.
"Oh, begitu toh!" batin Dara, "hm, pantas saja Li Phin bersikap arogan, mungkin dia ingin mencari perhatian ayahnya," lanjut batin Dara menarik kesimpulan.
"Li Phin … maukah kamu memaafkan Ayah?" Li Sun menggenggam tangan Li Phin
"Oh, tentu saja!" balas Dara mewakili Li Phin. Dara membebat luka dan membalurkan obat dengan menyobek sedikit ujung baju prajuritnya untuk membalut luka ayah Li Phin dengan cekatan.
"Yang Mulia penguburan telah selesai. Apakah kita akan melanjutkan perjalanan?" tanya Jang Min.
"Perjalanan masih jauh agar tiba ke Xuchang! Selain itu kita akan menginap di daerah desa terdekat," ujar Li Sun.
Dara dan Jang Min berusaha untuk memapah Li Sun, sebaiknya Yang Mulia berkuda bersama Nona Li Phin," balas Jang Min.
Dara menunggang kuda dengan Li Sun di belakangnya, "Tuan Jang, sebaiknya para prajurit yang berjalan mengendarai kuda para musuh saja, kita akan lebih cepat sampai ke desa di depan. Bagaimana menurutmu?" usul Dara.
"Itu adalah usul yang sangat bagus!" balas Jang Min, "Para prajurit! Ambil semua kuda milik musuh," perintah Jang Min. Semua prajurit langsung mengambil semua kuda secepat kilat dan menungganginya melesat mengikuti Dara dan Jang Min melesat secepatnya menembus teriknya matahari.
***
Sementara di kediaman Liang Bao di Limen Utara, Jiajia hilir mudik di ruangannya menanti kabar dari Tuan Ma. Para dayang hanya berdiri dengan menunduk tidak berani bersuara, "Mengapa belum ada kabar? Ciacia, kamu lihat apakah ada burung merpati di luar kediamanku ini?" tanya Jiajia.
"Maaf, Tuan Putri. Sama sekali tidak ada!" balas Ciacia.
"Um, apa yang sudah terjadi sebenarnya? Apakah Tuan Ma telah gagal?" batin Jiajia.
"Lapor Tuan Putri! Ini burung merpati membawa pesan," ucap salah seorang dayang.
Jiajia langsung mengambil kertas yang terselip di kaki merpati, "Misi gagal! Elang telah tewas oleh Anak Harimau!" ulang Jiajia membaca setiap kalimat dengan perlahan, "apa? Apakah Tuan Ma tewasdi tangan Li Phin? Bagaimana bisa?" batin Jiajia bingung.
Jiajia langsung terduduk di tempat tidurnya, "Tuan Muda Liang Si memasuki Istana Persik!" ucap pengawal.
Jiajia langsung merapikan dandanan dan sanggulnya berdiri beserta para dayang di depan pintu menyambut tunangannya Liang Si, "Salam Yang Mulia Tuan Muda Liang Si. Semoga panjang umur!" ucap Jiajia dan semua orang.
"Silakan duduk Yang Mulia!" ucap Jiajia dengan manis langsung menyuruh salah satu dayang untuk menuangkan minuman dan menyuguhkan makanan.
"Jiajia aku hanya ingin pamit kepadamu! Utusan dari Kekaisaran Donglang meminta kepada seluruh kerajaan di bawah pemerintahan untuk bergerak ke Xuchang. Memadamkan pemberontakan dari kerajaan Qin,"ucap Liang Si.
"Apa? Apakah aku boleh ikut?" tanya Jiajia, menatap ke wajah Liang Si.
"Maaf, Sayang! Aku tidak bisa membawamu! Kau tahu, di sana sedang perang bukan bersenang-senang atau berburu binatang Jiajia," balas Liang Si.
"Tapi, aku tidak ingin Yang Mulia bertemu dengan Li Phin setiap waktu. Aku tidak ingin dia akan selalu menggodamu!" balas Jiajia takut.
"Jiajia, aku hanya mencintaimu. Bahkan kekaisaran pun sudah merestui pernikahan kita, aku tidak akan berpaling Jiajia," ucap Liang Si tegas.
"Baiklah, Yang Mulia!" balas Jiajia sedikit tidak senang tetapi ia sendiri pun tidak bisa menolak titah raja Donglang yaitu Kaisar Liu Fei.
"Baiklah Sayang aku akan bersiap-siap!" ujar Liang Si. Jiajia dan semua orang langsung berdiri memberikan penghormatan.
"Yang Mulia, bawalah ini! Agar engkau selalu mengingatku," ucap Jiajia mengerikan salah satu tusuk konde emas miliknya kepada Liang Si.
"Baiklah, Sayang!" balas Liang Si meninggalkan Jiajia.
Sepeninggal Liang Si, Jiajia merasa sangat kacau, "Bagaimana jika Liang Si tertarik dengan Li Phin? Aku sudah susah payah mengelabui semua orang, untuk menghancurkan reputasi Li Phin. Bagaimana jika Liang Si mengetahui semua rahasia?" batin Jiajia semakin kacau.
"Ciacia, kirim merpati ke rumah ayahanda," perintahnya menulis di secarik kertas dan menyematkan ke kaki burung merpati.
"Baik Yang Mulia Putri!" ucap Ciacia membawa burung merpati dan melepaskannya ke angkasa.
***
Dara dan semua pasukan Li Sun telah sampai di desa kecil di depan sebuah penginapan, di sepanjang jalan semua orang memberi penghormatan dan penyambutan kepada Li Sun dan pasukannya.
"Ayahanda, engkau begitu terkenal sekali!" ucap Dara di dalam pakaian prajurit laki-laki sehingga orang tidak menyangka jika ia adalah seorang wanita.
"Ya, begitulah! Tapi, semua itu tidak ada artinya bagiku. Aku telah gagal menjadi seorang Ayah bagimu, Nak!" balas Li Sun.
"Jangan berkata begitu Ayahanda!" balas Dara bingung harus berkata apa. Dibenaknya Li Phin tidak pernah muncul kala ia dekat dengan Li Sun, ia merasa Li Phin memiliki rasa kesedihan yang sangat mendalam, "aku akan meminta Li Phin memaafkan dan berteman dengan Ayahnya. Bagaimanapun tidak ada yang tahu umur," batin Dara.
"Jang Min sebaiknya kita beristirahat di penginapan di depan saja!" ujar Li Sun.
"Baik Yang Mulia!" balas Jang Min dengan rasa tanggung jawab. Dara melihat Jang Min sangat berwibawa dan tampan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Novi Yantisuherman
Yang benerrrrrrr,Entar boong lagi.
"KUCING DIKASIH IKAN AJA GA NOLAK" wkwkwk
2023-05-31
1
Hasan
hmmmm msh mengikuti alur dan sampai saat ini msh bagus
2022-08-19
1
Elisabeth Ratna Susanti
baca sampai sini dulu 😍 tak lupa kudaratkan like fav and rate 5 😍
2022-04-23
3