Di dalam benak Li Phin kecil jika ia bertemu dengan mamanya, seorang wanita menolongnya, "Anak yang malang!" ujar wanita tersebut mengangkat tubuh kecil Li Phin masuk ke dalam gua lebih dalam. Tetesan air di dalam gua bagaikan musik yang menakutkan, si wanita cantik bergaun putih berambut panjang langsung membaringkan Li Phin di sebuah batu pipih membalurkan obat di punggungnya merawatnya hingga dengan ajaib luka itu langsung mengering dan meninggalkan bercak putih
"Kau akan menjadi pendekar hebat di masa depan! Walaupun mungkin ada hal yang sulit untuk dicerna dengan logika, aku harap kamu masih bisa bertahan," bisik si wanita langsung memberikan sesuatu mutiara hijau ke dalam mulut Li Phin kecil. Si wanita mengangkat Li Phin dengan melompati tebing gua ke permukaan kembali ke kebun persik yang sedang berbunga.
"Selamat berjuang, suatu saat kita akan bertemu lagi!" balas wanita yang memiliki wajah yang sama dengan Dara Sasmita kembali ke guanya.
***
"Nona Li Phin! Nona Li Phin!" teriak inang pengasuh dan pengawal mencari Li Phin, "bagaimana ini? Hari sudah mulai gelap! Tuan Muda Liang Si, mengatakan, 'Li Phin meninggalkannya di taman persik,' apakah Li Phin tersesat dan terluka?" tanya inang pengasuh, "Tuan Li Sun akan menghukum dan membunuhku," lirih Inang pengasuh berderai air mata.
"Sabarlah, Inang pengasuh! Kita akan mencari Nona kecil!" balas seorang pengawal.
"Apakah Nyonya Qin, yang melakukan semua ini? Dia tidak pernah menyukai Nona Kecil," lanjut si inang pengasuh.
"Stt, pelankan suaramu. Jika ada yang mendengar ucapanmu, kamu akan dipenjara bahkan mungkin akan dibunuh, Nyonya Ming." Pengawal menatap ke arah pengasuh bernama Ming Cia.
"Itu seperti Nona Li Phin?" teriak pengawal dari depan, mereka berlarian mengangkat Li Phin dan membawa ke kamar Li Phin dan memanggil tabib.
***
Masa kini …. Li Phin tersengal mimpinya terpotong, "Aku di mana?" lirihnya menatap cahaya silau dari celah-celah jendela kertas. Mengedarkan pandangan melihat ruangan yang penuh dengan alat perang, baju zirah yang digantung di kayu juga meja kecil di ruangan.
"Ayahanda …," lirih Li Phin melihat Li Sun terbaring di salah satu tempat tidur di seberangnya, Dara ingin bergerak untuk bangun tetapi bahunya terasa sakit, "apa yang terjadi denganku?" batinnya berusaha untuk mengingat semua kejadian saat pertempurannya bersama Cien Fang.
"Apakah pendekar itu sudah mati?" batin Li Phin berusaha turun dari pembaringan, derit bale kayu bergema ia berusaha pelan untuk tidak menimbulkan keributan membangunkan ayahnya.
"Li Phin! Kamu mau ke mana?" tanya Li Sun yang segera bangun melihat putrinya mulai bergerak.
"Ayah! Aku hanya ingin … ke kamar mandi!" ujar Li Phin.
"Oh, baiklah! Apakah perlu Ayah antar?" tanya Li Sun.
"Hahaha, aku bukan anak kecil lagi," balas Dara.
Li Sun terdiam ia tahu ia telah melewatkan segalanya, "Baiklah, berhati-hatilah!" ucap Li Sun.
"Baiklah, Ayah!" balas Dara berjalan ke keluar dari kamar menuju ke Kamar mandi umum. Setelah Li Phin mandi dan kembali segar dengan pakaian prajurit baru. Ia kembali ingin menemui Ayahandanya yang sudah berpakaian lengkap dengan baju zirah.
Dara terkesiap melihat Liang Si di sana, Li Phin kembali kabur dari benaknya meninggalkan Dara, "kau hadapilah pria itu," pamit Li Phin kabur.
"Oh, sang mantan! Hm, aku akan membuat Liang Si menyesali perbuatannya. Aku lupa bertanya mengenai mimpiku, tapi … aku seperti melihat diriku sendiri," batin Dara bingung. Ia masih mengamati dari kejauhan, ia ingin kabur seperti yang dilakukan oleh Li Phin. Namun, naluri emosi mulai merayap di jiwa, "memang siapa dia? Masa gara-gara dia aku kabur? Aku bukan Li Phin yang cinta sampai mati dan berkalang darah hanya karena cinta!" batin Dara kesal.
Dara berjalan dengan anggun dan gagah mendekati semua kumpulan pria di sana, hanya dialah satu-satunya prajurit wanita. Ia tidak peduli jika semua mata memandang ke arahnya. Kini, ia tak lagi mengenal lipstik, bedak, perona pipi, maupun tusuk konde kepala atau apa pun.
Dara tidak peduli, "Kecantikan bersumber dari hati bukan? Jika hatiku senang wajahku pasti kelihatan berseri. Lagian, aku ingin menjadi seorang prajurit yang hebat! Agar semua orang tidak menganggap rendah diriku, bukan sebagai pelakor.
"Kecantikan ini akan aku gunakan sebagai simbol kegagahan di medan perang," batin Dara, "lapor Yang Mulia Ayahanda dan Tuan Muda pangeran kedua Limen Utara!" ujar Dara memberi penghormatan.
"Nona Li Phin, apakah lukamu sudah baik-baik, saja?" tanya Jang Min khawatir.
"Terima kasih, sudah mengkhawatirkan saya Tuan Jang Min. Saya baik-baik, saja!" balas Dara.
"Baiklah, aku ingin mengajakmu berkeliling untuk memeriksa benteng," ajak Jang Mim yang ingin membebaskan Li Phin dari Liang Si yang sudah menghinanya.
"Baiklah, Tuan Jang!" balas Dara.
"Li Phin makanlah dulu dan minumlah obat yang diberikan oleh Tabib Luo. Aku tidak ingin kau sakit lagi," balas Li Sun.
"Apakah benar jika Nona Li Phinlah yang telah membunuh Cien Fang?" tanya Liang Si menatap ke arah Li Phin yang hanya diam saja.
"Maaf, Yang Mulia! Saya rasa bukan saya, tetapi para prajurit. Saya pingsan," elak Dara.
Li Sun dan Jang Min menatap ke arah Dara tak mempercayai apa yang dilakukan oleh Li Phin. Mereka tidak menyangka jika Li Phin benar-benar ingin menghilangkan jejak kepatriotannya.
"Ada apa dengan Li Phin?" batin Jang Min.
"Apakah putriku tidak ingin jika ada yang tahu mengenai semua kebenaran kekuatannya? Apakah dia mengetahui sesuatu?" batin Li Sun menatap tajam putrinya.
"Mengapa Li Phin mengelak akan semua kebenaran? Apakah dia benar-benar tidak menyukaiku lagi? Padahal semua orang dan prajurit mengatakan dialah yang telah membunuh Cien Fang," batin Liang Si menatap tajam ke arah Li Phin, "apakah kau berbohong Nona Li Phin?" tanya Liang Si masih penasaran.
"Saya tidak berani! Saya benar-benar pingsan," balas Dara menunduk ia tidak ingin menatap wajah Liang Si, mengingatkan setiap hinaan yang selalu dilontarkannya pada Li Phin.
"Aku ingin bicara berdua denganmu Nona Li Phin. Bisakah kalian berdua meninggalkan kami?" ujar Liang Si membuat Jang Min dan Li Sun tercekat.
"Baiklah, Yang Mulia!" jawab keduanya serempak.
"Sialan, pria ini! Apalagi sih, yang diinginkannya? Apa dia belum puas juga menghinaku?" batin Dara kesal. Namun Dara di dalam tubuh Li Phin hanya diam saja tak bergeming maupun berkutik, Jang Min dan Li Sun telah meninggalkan mereka berdua.
"Mari, Nona Li Phin!" ajak Liang Si. Ia mempersilakan Li Phin untuk berjalan di sisinya yang selama ini tak pernah dilakukannya.
Dara berjalan dengan diam, "Dara, aku rasa ia benar-benar menyukai kita! Ah, aku bahagia sekali!" ujar Li Phin bahagia seakan ia memiliki sayap ingin terbang di benak tubuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Sulati Cus
najong bgt si ling pin msh aja berharap
2022-12-19
0
ARA
Senangnya Li Phin... Tapi biarin aja Ling SI kena jerat jahat si jia-jia biar tau rasa😜
2022-10-30
0
Alya Yuni
Makan it cinta Lin phin
2022-08-31
0