Jika kalian membunuhku kalian pun akan membunuh Jiajia, silakan!" ucap Dara.
"Mundur!" balas Jiajia.
"Ada apa ini?" tanya Liang Si yang entah sejak kapan berada di sana.
"Sayang, lihatlah Li Phin. Aku hanya ingin berbaik hati menjenguknya, tapi dia malah memuntir tanganku," balas Jiajia mendekati Liang Si dan menggamit lengan Liang Si.
"Sudah aku bilang, jangan mendekati rubah betina ini! Kau tidak percaya," balas Liang Si dingin menatap Li Phin yang masih duduk di bale bambu tanpa berdiri sedikit pun.
"Aku kira rubah betina ini, memiliki sedikit rasa belas kasih, aku tidak tahu jika dia sebenarnya sangat mengerikan!" ucap manja Jiajia.
"Rasanya aku mau muntah, melihat sikap Jiajia! Hadeh, mana yang benar mana yang salah sih, ini?" batin Dara djam saja, "percuma melawan di kubu musuh, mereka pasti selalu beranggapan aku selalu yang salah. Apalagi, masa lalu Li Phin mengerikan, nasib pelakor!" batin Dara kesal.
"Apa yang kau lamunkan, Li Phin?" tanya Liang Si. Entah mengapa ia sedikit merasa ingin mengetahui ketenangan yang entah sejak kapan diperlihatkan oleh Li Phin, "mengapa Li Phin bisa berubah begitu cepat? Padahal dulu dia akan mencakar Jiajia jika Jiajia mendekatiku, tapi, dengan sikap diam dan tak ingin melihatku membuatku merasa kehilangan sikap kanak-kanak dan polos Li Phin yang tidak dibuat-buat," batin Liang Si.
"Nona Li Phin, Tuan Muda ke-2 bertanya kepada Anda," ucap Tabib Wang.
"Aku tahu, Tabib. Tapi, aku sudah tidak ingin berurusan dengan mereka. Sudah aku katakan, aku tidak akan mengejar dan mencari Liang Si lagi. Aku sudah menyadari ketololanku, selama ini,
"Tabib, kapan aku bisa pulang ke Chang An?" tanya Li Phin tidak mempedulikan pasangan di depannya.
"Aku rasa besok, Nona sudah bisa pulang, aku akan melaporkan kepada Yang Mulia Liang Bao," balas Tabib Wang.
"Terima kasih Tabib," balas Dara.
"Apakah kamu yakin dia sidah sembuh dengan benar, Tabib Wang?" tanya Liang Si sedikit khawatir.
"Sudah Tuan Muda," balas Tabib Wang.
"Baiklah, Tabib!" ucap Liang Si meninggalkan kediaman Tabib Wang. Ia tidak mempedulikan jika Jiajia berlari mengejarnya.
***
Keesokan pagi ….
Li Phin sudah berada di aula perjamuan perpisahan, Tuan Liang Bao menjamunya dengan baik karena ia akan pulang ke Chang An.
"Terima kasih akan kemurahan hati Yang Mulia Liang Bao. Saya akan mengingatnya," ujar Dara.
"Jangan begitu Nona, Li Phin. Aku mengenalmu seja kecil sejak kematian Nyonya pertama, saya tahu betapa berat hidupmu, Nak. Kamu yakin tidak ingin menjadi selir dari Liang Si?" tanya Liang Bao menatap tubuh ringkih dan lemah Li Phin di depan meja kecil jamuannya.
"Terima kasih, Yang Mulia! Tidak, saya akan kembali ke Chang An," balas Dara dengan sopan dan tegas.
Liang Si dan Jiajia berada di sisi kanan dan di depan meja jamuan Li Phin terdiam mereka tidak menyangka jika Li Phin berubah menjadi sangat dingin dan tegas. Liang Si masih memperhatikannya, "Ke mana jiwa kekanak-kanakan dan manja Li Phin?" batin Liang Si tidak suka.
"Lapor, Yang Mulia! Menteri Pertahanan Kekaisaran Donglang berada di gerbang," ujar salah satu prajurit.
"Persilakan masuk, Pengawal!" balas Liang Bao berdiri dengan senyuman.
"Apakah Ayahanda Li Phin datang? Bagaimana rupanya?" batin Dara bingung. Ia melihat semua orang berdiri hingga dia pun ikut berdiri. Ia berusaha seanggun mungkin memberikan penghormatan seperti yang dilakukan semua orang. Baju sutra hijau botol yang dikenakannya begtiu melambai-lambai dan berlapis.
"Salam Yang Mulia, Liang Bao!" sapa seorang pria setengah baya dengan baju zirah perang berwarna hitam pekat dengan aksesoris atribut kerajaan.
"Ayahanda Li Phin benar-benar gagah dan tampan," batin Dara. Ia sama sekali belum melihat wajahnya di cermin maupun air mandi ia hanya melihat sekilas jika wajah Li Phin sangat cantik. Namun Dara tidak peduli ia benci wajah yang cantik yang saat ini miliknya karena mengejar cinta seorang pria yang sama sekali tidak memandangnya. Apalagi wajah itu terkenal menjadi salah seorang pelakor, jika di zaman modern yang dihina dan dikucilkan.
"Jangan terlalu sungkan sahabat lamaku, aku senang kamu datang kemari. Jika tidak ada hal yang penting kamu pasti tidak akan pernah kemari," balas Liang Bao.
"Ya, aku minta maaf atas perbuatan putriku yang sangat memalukan," ucap Li Sun menatap Li Phin dengan kemarahan, "putriku telah mempermalukan keluarga Li dan mengacau ketenangan keluarga Liang, aku mohon maaf!" ujar Li Sun berlutut dengan mengepalkan kedua belah tangan di depan wajahnya seakan meminta pengampunan.
"Ayahanda …," batin Li Phin bersedih.
"Kau lihat perbuatanmu, Li Phin? Kau sangat membuat malu keluargamu!" hardik Dara di dalam benaknya,
Li Phin hanya diam saja, ia hanya menangis, "kamu cengeng sekali! Seharusnya kau bertanggung jawab!" ucap Dara kesal.
"Aku tidak akan mencintai Liang Si lagi. Aku juga tidak akan mencarinya," tangis Li Phin di benak Dara. Kedua jiwa mereka saling menguatkan kali ini, "Baiklah, bagaimana kalau kita bekerja sama. Aku juga tidak tahu sampai kapan aku berada di tubuhmu ini? Aku ingun kembali!" teriak Dara di dalam benaknya.
"Terserah padamu!" balas Li Phin terseru.
"Baiklah, kau tidak menyesal?" tanya Dara.
"Tidak! Aku sudah tidak ingin mempermalukan keluargaku lagi," balas Li Phin.
"Baiklah!" Dara dan Li Phin saling bekerja sama untuk membahagiakan Li Sun.
"Berdirilah, sahabatku Li Sun. Aku malah senang jika kita menjadi besan," balas Liang Si.
Dara dan Li Phin membeku di tempat berdirinya, "Terima kasih! Liang Bao, kamu memang berjiwa ksatria," balas Li Sun memandang ke arah Li Phin.
"Li Phin …." Li Sun menatap wajah putrinya yang membeku dan seputih kapas, gips di tangannya masih ada.
"Iya, Ayahanada!" balas Dara dengan membungkukan sedikit tubuh.
"Apakah kau memang ingin menikah dengan Liang Si?" tanya Li Sun.
Sementara Liang Si sedikit membeku di tempatnya berdiri, di sisinya Jiajia sedikit menarik tangan Liang Si tidak suka akan usul terdebut.
"Maaf, Ayahanda! Saya telah melakukan kesalahan. Tapi, kali ini tidak akan lagi. Aku sudah menyadari jika aku telah mempermalukan keluarga kita, aku tidak ingin menikahi Liang Si," balas Dara tegas sementara jiwa Li Phin berlari entah ke mana menangis di sudut benak lain. Dara tidak peduli, ia sudah merasa jika Li Phin benar-benar dibuat malu.
"Kau! Kau yang mengejar hingga sampai kemari! Jika kau tidak mau menikah dengan Liang Si, maka kamu akan menjadi prajurit rendahan di perbatasan!" teriak Li Sun marah dan malu terhadap Liang Bao dan semua orang, "kamu pilihlah! Menikah dengan Liang Si atau menjadi prajurit rendahan!" teriak Li Sun.
"Aku memilih menjadi prajurit rendahan, Ayahanda!" balas Dara tegas.
Semua orang terdiam termasuk Li Sun dan Liang Bao, "Kamu bisa memikirkan lagi, Nak!" ucap Liang Bao.
"Tidak, Tuan Liang Yang Mulia! Saya akan bertanggung jawab dengan pilihan saya," balas Dara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Pradiv
mantapppp... sukaaaa bgttttttt
2023-07-30
0
Senopati Arya Mada
visualx dong thor?
2023-01-03
0
Sulati Cus
bagus jgn mau di injak2 cm krn cowok
2022-12-19
0