"Aku harus berhati-hati wanita Mongol ini begitu luar biada hebat!" batin Dara ia berusaha untuk mengimbanginya.
Dentingan pedang dari keduanya membuat segalanya menjadi mengerikan pria Mongol yang bertato berusaha untuk membantu wanita Mongol akan tetapi Jang Min menangkis serangan yang dilakukan pria Mongol tersebut.
"Jangan bisanya main keroyokan, kamu lawan aku saja!" ujar Jang Min menebaskan pedangnya kericuhan semakin kacau, Jang Min dengan kemampuannya yang luar biasa berhasil menebas dan melukai pria Mongol tersebut.
"Bajingan! Kau berani melukaiku, kau lihat saja, kami akan menghancurkan kalian!" teriak pria Mongol tersebut melemparkan sesuatu, asap memenuhi ruangan.
"Berhati-hatilah, ini asap beracun!" teriak Jang Min.
Dara masih bertempur dengan wanita Mongol akan tetapi ia tidak melihat apa pun di sana lagi. Ia menutup hidungnya dengan sapu tangan almarhim ibunya, "Sial! Ke manakah wanita itu?" umpatnya.
Perlahan asap memudar mereka tidak melihat siapa pun dari Bangsa Mongol lagi di sana, "Mereka telah kabur!" ujar Li Sun, "sudah biarkan saja," lanjut Li Sun.
"Yang Mulia Jenderal! Bagaimana dengan penginapanku? Semua sudah hancur berantakan, siapa yang akan bertanggung jawab?" tanya si wanita kasir.
"Sudahlah, aku rasa ini cukup untuk mengganti kerugianmu!" balas Li Sun memberikan beberapa tael perak kepada si wanita yang langsung berulang kali mengangkat kedua tangannya, "Terima kasih, Yang Mulia Jenderal! Semoga sejahtera dan panjang umur!" ujar si wanita dengan senang.
"Kami ingin istirahat dulu!" ucap Li Sun. Dara memapah Li Sun menuju ke kamar ayahnya.
"Istirahatlah, Nak!" balas Li Sun.
"Baik Ayahanda!" balas Dara langsung ke luar menuju kamarnya yang bersebelahan dengan Li Sun.
"Aku harus mandi bau darah ini begitu menyengat! Ke mana orang-orang Mongol tadi?" batin Dara penasaran, "Li Phin!" teriak Dara di benaknya, "asap itu sedikit membuat asmaku hampir kambuh," lirih Dara membuka helm prajurit meletakkan ke meja.
Namun, Li Phin tak jua muncul, "Hah! Benar-benar arogan!" batin Dara ia langsung membuka semua atribut kerajaannya dan membersihkan diri, menceburkan tubuh ke sebuah bak mandi penuh bunga, secepatnya ia memakai kembali baju prajuritnya, ia tidak ingin jika serangan orang-orang Mongol kembali datang dan ia tidak siap.
Ia masih menggulung rambut kala ketukan pintu kamar, "Masuk!" ujar Dara.
"Oh, apakah aku sudah mengganggumu Nona Li Phin?" tanya Jamg Min ingin kembali ke luar.
"Tidak! Masuklah," balas Dara santai saja di depan cermin menggulung rambutnya seperti lelaki agar bisa memakai topi prajurit.
Namun, Jang Min masih berada di depan pintu, "Ada apa Tuan Jang?" tanya Dara menatap ke arah Jang Min.
"Saya hanya ingin mengantar ini," ucap Jang Min memberikan sebuah nampan dengan cangkir yang masih mengepul.
"Apa ini?" tanya Dara bingung menghampiri Jang Min, "aromanya tidak enak!" ujar Dara meniup ramuan tersebut.
"Ini sangat bagus untuk sakit asma yang engkau derita Nona," balas Jamg Min.
"Oh, begitu! Baiklah aku akan meminumnya," ujar Dara langsung mengambil nampan dan ingin menutup pintu.
"Aku harap Nona meminumnya," ucap Jang Min.
"Jangan khawatir, terima kasih!" balas Dara langsung menutup pintu dengan tidak sopan, ia lupa jika ia tidak berada di zaman dan di kantornya.
"Wanita yang sangat dingin! Orang bilang, 'Li Phin wanita penggoda!' tapi kesopansantunan pun dia tidak punya," batin Jang Min bingung, "jangankan menggoda bermanis kata pun tidak," batin Jang Min kembali ke kamarnya.
Ia duduk di salah satu kursi di kamarnya, "mengapa bisa Li Phin berkeinginan menjadi prajurit? Apakah penolakan Liang Si benar-benar membuatnya patah hati?" batin Jang Min, "tapi, dia sangat tangkas, Tuan Li Sun tidak pernah mengenalkan Li Phin ke publik dan acara kerajaan. Ia seperti tidak pernah mengakui Li Phin sebagai anaknya.
"Padahal Li Phin sangat cantik! Tapi, mata itu … begitu dingin. Apa yang sudah dialaminya selama ini?" batin Jang Min penasaran.
Ia masih hilir mudik dengan pakaian biasa berwarna gelap. Ia tidak memakai baju zirah seperti Li Sun. Tabib sudah mengobati Li Sun dan sedang dijaga oleh prajurit di depan pintu kamarnya.
Jang Min mencoba untuk istirahat, tetapi ia tidak bisa istirahat, "Apakah orang-orang Mongol akan kembali lagi?" batinnya tidak tenang, "apakah kecurigaan Than Li Sun dan Kaisar Liu Fei benar? Jika Qin Chai Xi sedang mengadakan kudeta dengan diam-diam membantu berdirinya kerajaan Qin?" batin Jang Min.
Ia keluar dari kamarnya dan berusaha untuk melakukan patroli, ia mendengar sebuah suara seruling dari kamar Dara. Ia ingin mengetuk pintu kamar Dara, tetapi diturunkannya, "Lagu yang menyedihkan," batin Jang Min.
***
Sementara di dalam kamar, Li Phin telah kembali ke benaknya mengambil seruling yang terselip di balik jubah prajuritnya, "Wanita ini luar biasa, aku hanya ingin meminjam tubuhku sejenak, agar Ayahanda tahu jika aku membenci dan merindukannya," batin Li Phin.
Dara di sudut benak lain hanya diam, ia lelah untuk berdebat dengan Li Phin. Suara tiupan seruling Li Phin benar-benar merdu, Dara menikmatinya.
"Kau sangat pintar! Lalu itu sangat indah," puji Dara.
"Kau juga sangat hebat, Um, siapa namamu? Aku berhak tahu, karena kau yang mengambil alih tubuhku!" balas Li Phin.
"Aku Dara … Dara Sasmita. Apakah kau sudah mati atau kau menjadi hantu bergentayangan?" tanya Dara di dalam benak mereka, tubuh Li Phin masih meniup seruling walaupun dua jiwa berbicara di tubuhnya.
"Aku tidak tahu, saat mereka menyergap dan menyiksaku aku hanya ingin mati dan semua ini berakhir, aku tidak tahu saat aku kembali ke tubuhku, kau sudah berada di sana. Rasanya jika dua jiwa di dalam satu tubuh itu sangat sesak.
"Apalagi, aku tidak bisa melihat Liang Si. Aku tahu kau menghina dan mengejek, tapi apakah kalian tahu mengapa aku mengejar-ngejar dia? Kalian tidak tahu bukan?
"Pria jahanam itu telah berjanji akan selalu mencintaiku menemaniku, dan merayuku! Tapi ia begitu saja mencampakkanku … hanya karena aku hanyalah wanita lemah, dan hanya putri seorang jenderal.
"Aku benci mereka mengolok-olokku! Aku benci dibilang pelakor, sebelum dia mengenal Jiajia dia adalah sahabatku dari kecil, tapi dia lupa!" ujar Li Phin berderai air mata.
Irama sulingnya sarat akan air mata dan patah hati, membelah malam dan kesedihan semakin membuncah sebagai luapan kasih yang tercampakkan dari seorang Li Phin.
"Apakah kau ingin kembali kepada Liang Si?" tanya Dara.
"Tidak! Mereka hampir saja membunuhku, aku tidak mau kembali! Tapi, aku belum sanggup untuk bertemu denganmu, itu saja!" balas Li Phin.
"Apakah kamu masih marah padaku karena membawamu ke tengah pertempuran? Aku tidak tahu bagaimana caranya agar membawamu untuk mengembalikan harga dirimu, bukan harga diriku juga. Aku tidak tahu sampai kapan aku terperangkap di tubuhmu!" ucap Dara.
"Awalnya aku marah, aku lemah dan sakit-sakitan aku terlahir saat usia kandungan ibuku 7 bulan dan kata Inang pengasuhku, 'Ibundaku Jang Mei keracunan sehingga ia harus melahirkan secepatnya dan meninggal setelah melahirkan,' sementara ayahku sendiri tidak pernah menemuiku dia hanya melihat dari kejauhan," ujar Li Phin berusaha tersenyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Hasan
akhirnya terungkap sedikit kisah jiwa aslinya
2022-08-19
2
Yane Kemal
Duh sedih
2022-08-14
2
Elisabeth Ratna Susanti
top markotop 😍
2022-04-23
2