Andre yang merasa sia-sia tidak mendapat pinjaman dari bosnya, merasa kecewa. Jangankan 70 juta. 1 juta pun bosnya mengatakan tidak akan memberikannya.
Memang Andre bekerja di tempat yang memiliki bos sangat pelit dan kejam jadi tidak mungkin memberinya pinjaman sebanyak itu. Apalagi Andre baru bekerja selama 1 bulan dengan gaji yang tidak seberapa.
Meski sudah memohon bahkan Andre sampai berlutut agar di beri pinjaman tetapi tetap saja sang bos yang kejam itu tidak memberikannya.
Tidak mendapat pinjaman. Andre malah mendapat hinaan yang banyak dari mulut wanita pedas itu. Jadi usahanya sangat sia-sia.
Akhirnya Andre mengunjungi mamanya kerumah sakit. Andre duduk di kursi di samping tempat tidur sang mama. Dengan menggengam tangan mamanya meletakkan di pipinya.
Menatap wanita pucat itu yang terdapat di mulutnya selang infus dan suara detak jantung dari mesin monitor.
" Maaf kan Andre ma, maaf," ucap Andre yang hanya bisa meminta maaf. Andre meneteskan air matanya ketika kembali tidak bisa melakukan apa-apa.
Mamanya penderita kanker paru-paru. Harus di operasi secepatnya. Andre juga tadi sudah bertemu dengan Dokter. Dan pasti Dokter mengatakan itu lagi dan lagi.
Apa lagi jika tidak kondisi mamanya yang semakin menurun dan harus secepatnya di operasi jika ingin menyelamatkan nyawa sang mama.
Sang mama sudah berada di rumah sakit hampir 15 hari dalam keadaan koma. Biaya rumah sakit bukan tidak mahal. Meski memakai BPJS tetapi tetap saja banyak biaya tambahan BPJS hanya untuk meringankan sedikit.
Keluarga yang jatuh miskin itu tidak memiliki keluarga yang bisa membantu mereka. Mereka hanya berdiri tegak di atas kaki mereka sendiri. Semenjak keluarga mereka bangkrut satu persatu orang-orang meninggalkan mereka termasuk kerabat dekat mereka.
Jadi wajar saja mereka tidak memiliki keluarga yang bisa membantu biaya operasi sang mama. Bahkan uang yang sudah di kumpulkan pun sudah tidak akan mungkin pernah cukup.
" Apa lagi yang harus Andre lakukan, Andre sudah berusaha ma, Andre tidak harus menjari kemana lagi?" tanya Andre yang benar-benar bingung dengan keadaannya yang semakin memburuk.
Saat Andre menangis di depan sang mama. Tangan lembut mengusap pundaknya dan membuat Andre melihat kebelakang siapa tangan yang menyentuhnya yang ternyata sang adik.
" Felly," lirih Andre yang langsung mengusap air matanya dia tidak ingin Felly melihatnya menangis.
" Benar kata Bibi, kakak menginap di rumah sakit," ucap Felly tersenyum tipis.
" Ya, kakak menemani mama," sahut Andre bohong.
Padahal dia baru sampai rumah sakit. Karena memang baru pulang bekerja jam 6 pagi dan bahkan belom tidur. Dia hanya tidak ingin sang adik khawatir. Jadi tetpaksa berbohong.
" Lalu kenapa kakak menangis?" tanya Felly dengan lembut.
" Kondisi mama semakin memburuk, Dokter bilang operasinya harus segera di laksanakan. Jika tidak mama...." Andre tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Felly berlutut di lantai dan memeluk pinggang kakaknya dengan erat.
" Felly tau kak, kakak jangan khwatir. Felly juga sudah bicara dengan Dokter. Mama akan di operasi," ucap Felly meyakinkan.
" Kakak tau Felly tau. Tetapi kata segera tidak akan tau kapan itu," sahut Andre yang sudah putus asa.
" Dalam minggu ini mama akan di operasi," ucap Felly membuat Andre kaget tidak mungkin rasanya.
" Maksud kamu?" Tanya Andre heran. Felly mengangkat kepalanya dan melihat kakaknya.
" Iya mama akan segera di operasi, tidak lama lagi dalam Minggu ini," jelas Felly lagi membenarkan.
" Uang dari mana?" tanya Andre heran. Karena tidak mungkin Felly mendapatkan uang sebanyak itu.
" Kakak tenang saja. Felly akan menikah dengan mas Damar dan mahar Felly akan membayar rumah sakit mama. Mama akan secepatnya di operasi. Jadi kakak jangan khawatir," jelas Felly.
" Kamu akan menikahi Damar dalam Minggu ini?" tanya Andre memastikan tidak yakin dengan keputusan adiknya.
" Iya kak, bahkan Felly sudah bertemu keluarga mas Damar, jadi kakak jangan khawatir mama akan sembuh," jawab Felly tersenyum tipis.
" Felly, kamu yakin akan menggunakan mahar kamu untuk biaya operasi mama?" tanya tidak percaya dengan keputusan adiknya. Felly mengangguk dengan cepat.
" Iya kak, itu sudah niat Felly. Lagi pula mas Damar juga tau. Jadi tidak ada masalah. Dengan begitu mama akan secepatnya sembuh dan kembali bersama kita," ucap Felly tersenyum sekaan tidak sabaran menantikan hati itu.
Andre ikut bahagia mendengarnya. Tetapi dia juga justru sedih mendengarnya. Andre memegang ke-2 pipi sang adik, menundukkan kepalanya mendekati wajah sang adik yang tampak lesu.
" Maafkan kakak. Kamu harus berkorban lagi," ucap Andre merasa bersalah merasa gagal sebagai kakak. Felly langsung menggeleng dengan cepat.
" Tidak. Felly tidak melakukan apa-apa. Tidak ada yang salah memberikan mahar pada mama dan itu bukan pengorbanan. Itu sudah sudah jalan yang terbaik. Setelah Felly menikah dengan mas Damar. Keluarga kita pasti akan jauh lebih baik," ucap Felly meyakini.
Mendengar kata-kata sang adik Andre meneteskan air matanya dan langsung memeluk Felly dengan erat.
" Kakak jangan sedih lagi, nanti mama ikutan sedih," ucap Felly.
" Seharusnya kakak bertanggung jawab atas kalian. Tetapi kakak tidak bisa melakukan apap-apa. Kamu harus mengorbankan segalanya untuk semua ini. Maafkan kakak Felly, maaf," batin Andre yang merasa sangat pengecut.
***********
Kantor pengacara.
Aditya memang langsung menemui pengacara kakeknya. Dia benar-benar ingin memastikan apa yang dikatakan sang kakek benar atau tidak.
" Ini tuan," Mario memberikan map hijau kepada Aditya yang sudah duduk di sofa di ruangannya.
Aditya langsung membukanya dan melihat data-data tentang pabrik yang di minta Aditya kemarin malam.
" Kapan kakek membuat ini?" tanya Aditya
" Semenjak pabrik itu sudah tidak di produksi lagi," jawab Mario apa adanya.
" Lalu kapan pengalihan namanya?" tanya Aditya dengan penasaran.
" Setelah pernikahan sah. Maupun itu dari calon istri tuan atau istri tuan Damar," jelas singkat Mario.
" Jadi benar kakek akan memberikan itu kepada wanita yang menjadi istri Damar," batin Aditya yang awalnya menganggap kakeknya hanya beralaskan saja.
" Jika tuan menikah duluan pabrik itu juga akan di miliki istri tuan," sahut Mario.
" Aku tidak akan menikah. Jika hanya karena kekuasaan," sahut Aditya sinis.
Aditya merapikan jasnya berdiri dengan kemarahannya. Lalu pergi tanpa berpamitan.
Sementara di sisi lain sang kakek yang berada di lapangan golf menurunkan ponselnya dari telinganya setelah mendapat telpon dari pengacaranya.
" Anak itu benar-benar. Kapan dia bisa mempercayaiku. Selalu saja perlu bukti untuk mempercayai omonganku. Aku tidak tau bagaimana lagi aku harus mengahadapi Aditya," gumam kakek saat menerima telpon dari pengacaranya.
Mengenai kedatangan Aditya yang mempertanyakan kepemilikan pabrik.
Bersambung
Jangan lupa Vote, like, koment sangat di butuhkan saran dari para readers terima kasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 324 Episodes
Comments
Any any
nyimak thoor.. kyakx mnarik... 👌
2022-10-03
3
Sonia pramita
lanjut Thor👍👍
2022-06-06
0