Mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan halaman rumah, ternyata Dimas masih berada di rumah. Dimas sedang duduk santai di dekat kolam renang, sambil membaca koran. Noah menghampiri Papahnya dan berhambur ke pelukan sang papa.
"Papa?" panggil Noah.
"Hei, Sayang, Kau sudah pulang?" tanya Dimas kepada putranya.
"Sudah, Papa," jawabnya.
"Papa, di sekolah akan diadakan piknik dan kali ini kami semua akan mengunjungi kebun binatang, Apakah Noah boleh ikut?" tanya Noah.
"Ehm, tapi, Papa dan Mama Anita ada acara penting! Jika kamu pergi, kamu akan didampingi siapa?" tanya Papanya.
"Sama Mama," jawab Noah, menunjuk ke arah Mamanya yang baru saja masuk. Halwa yang merasa ditunjuk, menoleh ke arah keduanya.
"Baiklah, Papa setuju, asalkan kamu jangan nakal," tuturnya.
"Hore, hore, Asyik." senang Noah berjingkrak-jingkrak.
Halwa menyerahkan surat yang harus ditandatangani oleh Dimas, kemudian dia berlalu pergi ke kamarnya tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Sudah, Sayang, Papa sudah menandatanganinya! Kamu bisa pergi dengan Mama," ujar Dimas.
Tiga Hari Berlalu
Dimas dan Anita sudah bersiap-siap hendak berlibur ke Bali. Mereka juga sudah memesan tiket penerbangan pagi, sampai di Bali mereka bisa langsung istirahat. Sedangkan Halwa dan Noah memiliki rencana lain yaitu perjalanan wisata ke kebun binatang. Sudah ada bis besar yang disediakan pihak sekolah untuk para murid dan orang tua. Halwa mengikuti peraturan yang diberikan oleh Sekolah.
Mereka berdua duduk di bangku paling depan bis besar tersebut. Sekitar pukul delapan pagi, bis berangkat. Dari rumah, Halwa sudah menyiapkan bekal dan air minum untuk Noah.
Sepanjang perjalanan Noah begitu bersemangat dan antusias, dia tidak berhenti melihat ke arah jendela, melihat pemandangan yang sangat indah.
"Mah, pemandangannya sangat indah?" ujarnya.
"Iya, Sayang! Kamu suka?" tanya Halwa tersenyum kepada Noah.
"Suka, Mah!" senang Noah, hatinya begitu riang gembira. Sepanjang perjalanan Noah tidak berhenti bercerita, dia sangat cerewet seperti Papanya.
Tidak terasa bis yang mereka tumpangi sudah sampai di tempat tujuan. Mereka turun dan membeli tiket untuk masuk ke Kebun binatang. Para guru membagi menjadi lima kelompok, supaya mudah untuk menghitung jumlah anak-anak dan orang tuanya. Noah berada di kelompok satu. Tujuan pertama mereka, mereka akan melihat burung. Di tempat tersebut, anak-anak bisa berlibur sambil belajar di kebun binatang.
Noah begitu bahagia melihat berbagai macam banyak burung. Mungkin ini adalah pengalaman pertama baginya.
"Ayo, Sayang, berfoto dengan burung kakaktua," ucap Mamanya.
"Takut, Ma," jawab Noah.
"Jangan takut, Sayang, burungnya jinak kok," timpal petugas kebun binatang. Mereka pun berfoto selfie dengan banyak burung seperti burung kakaktua, burung beo, dan jenis burung lainnya.
Dari tempat burung, rombongan kembali melanjutkan perjalanan ke tempat binatang-binatang buas. Noah sangat senang, ini adalah pertama kalinya dia melihat harimau dan singa dalam jarak yang sangat dekat. Dari tempat binatang buas, mereka menuju ke kandang kuda. Namun di kebun binatang ini, kudanya dibiarkan secara bebas. Para pengunjung bisa menunggang kuda dengan hanya merogoh kocek sebesar lima puluh ribu rupiah, dan ada petugas sendiri yang membantu memegang tali kudanya. Halwa menyuruh Noah beristirahat sebentar, karena dia melihat kalau Noah terlihat capek dan lelah. Halwa menyeka keringat yang membasahi kening putranya.
Tiba-tiba saja ada orang berteriak meminta tolong, karena kuda yang ditungganginya tidak bisa dikontrol. Semua orang yang melihat itu berteriak histeris, kuda terus berlari tanpa henti. Petugas yang bertanggung jawab pun kualahan menangkap kuda tersebut. Halwa menitipkan Noah kepada guru sekolahnya. Guru sekolahnya di buat keheranan dengan apa yang dilakukan oleh Mama Noah.
Halwa berlari kencang dan mengambil kuda yang sedang dipegang oleh salah satu petugas. Dengan kuda tersebut Halwa mengajar anak kecil itu, anak itu terus menangis, dia bingung harus berbuat apa, sedangkan orang tuanya menangis histeris melihat kejadian tersebut. Suasana ramai dan menjadi sangat riuh dengan teriakan.
Halwa masih mengejar kuda itu, dia mengarahkan kuda yang ditungganginya ke arah kuda yang berlari kencang. Dia berusaha meraih tali, agar memudahkannya untuk berpindah ke punggung kuda. Dengan ancang-ancang yang pas, dia melompat ke arah kuda itu. Semua mata yang melihat dan menyaksikan menjerit ketakutan. Halwa berusaha menenangkan kuda tersebut agar mau berhenti. Dan benar saja kuda itu berhenti seketika. Dia berusaha untuk turun dari kuda dan menurunkan anak yang sedang ketakutan itu. Orang tuanya langsung menghampiri anaknya dan langsung memeluknya.
Halwa masih berusaha untuk menenangkan kuda itu. Biasanya kuda sangat senang jika diberikan sentuhan lembut di bagian leher kuda, barulah kuda tersebut merasa tenang kembali. Biasanya kuda bersikap seperti itu karena jiwanya merasa terancam atau ketakutan. Setelah cukup tenang, dia mengembalikan kuda tersebut ke petugas yang merawatnya. Petugas tersebut berterima kasih dan memberikan pujian kepada Halwa. Semua orang yang melihat dan menyaksikan aksi berani dari salah satu orang tua murid bertepuk tangan dan memberikan selamat. Terutama para guru Sekolahan Noah, mereka tidak henti-hentinya memuji aksi Halwa. Halwa hanya tersenyum dan mencoba beramah-tamah dengan semua orang.
Selesai berkeliling kebun binatang, akhirnya mereka semua pulang. Sepanjang perjalanan Noah tidak berhenti memuji aksi Mamanya yang sangat berani.
"Mama hebat banget, kok Noah baru tahu kalau Mama bisa sehebat itu," ucap Noah, membuat Halwa terkekeh geli. Sebenarnya dia tidak ingin menunjukkan keahliannya menunggang kuda, namun melihat anak itu dia merasa tidak tega. Dia terlatih menunggang kuda saat dirinya masih berada di asrama. Dan itu adalah salah satu keahliannya.
Tidak terasa bis yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan sekolah. Halwa dan Noah sudah dijemput oleh sopir pribadinya. Mereka kembali ke rumah, di perjalanan Noah tertidur di dalam mobil. Sampai di depan rumah, Halwa menggendong putranya masuk. Dan dia meletakkan tubuh putranya di tempat tidur.
"Sepertinya dia kelelahan," gumamnya. "Kau memang anak yang sangat pintar, aku berjanji akan menjaga dirimu dengan segenap jiwaku," lirihnya sambil mencium kening putranya.
Halwa merasakan tubuhnya sangat lengket, dia pun memutuskan untuk berendam di bathtub di kamar mandi Noah. Rasanya sangat segar, dan badannya terasa rileks. Biasanya selesai mandi dia akan dipijat oleh seorang profesional. Dan dia dimanjakan oleh para pelayan. Namun disini, dia harus lebih mandiri dan menjadi seorang wanita yang sangat sederhana seperti saudara kembarnya.
Selesai mandi dan memakai baju, dia berbaring di samping putranya. Tidak terasa matanya sangat mengantuk, dia pun tertidur dan sudah berada di alam mimpi.
to be continued...
***************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Sandisalbiah
Halwa yg kago semuanya kenapa tiba di rumah dimas jd lemah gitu.. katanya mau ngebela hak Salwa.. mau cari bukti tp lambat geraknya
2024-09-18
0
G** Bp
suatu saat kamu akan menyesal Dimas karena telah menuruti semua keinginan Anita si ular betina...
2024-08-06
1
Alanna Th
aq mah boro" naik kuda, ngedenger ringkikannya aja udeh gk suka. trouma nyaris keinjek kuda yg sdng ngamuk. d dpn rmh ortuq d kmpng hlmn adalh pasar, bnyk delman d sana 😞😂🤣👍
2022-06-06
3