Keesokkan paginya
Setelah mandi dan berganti baju, Halwa membantu Noah menyiapkan buku-buku yang akan dibawanya ke Sekolah. Dia nampak murung, ketika Halwa menyuruhnya memakai sepatu. Dia duduk sambil memandang ke luar jendela.
"Sayang, Ada apa?" tanya Halwa.
"Ehm, boleh tidak hari ini tidak ke Sekolah?" lirihnya.
"Kenapa? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Halwa.
"Tidak! Noah cuma ingin di rumah," jawabnya. Halwa tersenyum simpul, kemudian dia mendekati Noah dan memangkunya.
"Ada apa, Sayang? Apakah ada yang menjahili mu di Sekolah?" tanya Halwa sangat lembut, bak seorang ibu, dia mengusap rambut putranya dengan sayang. Meskipun dirinya belum pernah menikah dan memiliki anak.
"Bagaimana kalau Mama yang mengantarkan mu?" tanya Halwa.
"Benarkah?" senang Noah.
"He'em." di jawab anggukan oleh Halwa.
Halwa bersiap-siap akan mengantarkan Noah ke Sekolah, dia memakai kemeja panjang warna putih dan celana kulot panjang warna merah, dipadukan dengan sepatu putih juga. Dia sedikit berdandan dengan mengoleskan bedak dan lipstik yang tipis, namun masih terlihat sangat cantik. Noah sampai tidak berkedip melihat kecantikan Mamanya.
"Mama cantik sekali," puji Noah.
"Mama siapa dulu?" sombong Halwa.
"Mamanya Noah dong?"
"Ha ... ha .... ha." mereka tertawa bersama.
"Ternyata seperti ini menjadi seorang ibu," batin Halwa. Ibu dan anak itu berjalan beriringan menuruni tangga, para pelayan dirumah itu sampai tidak berkedip melihat istri pertama majikannya begitu cantik, bahkan sangat cantik.
"Selamat pagi, Nyonya! Nyonya cantik sekali," puji Mimin sang asisten rumah tangga.
"Pagi, terima kasih atas pujiannya!" jawab Halwa sangat ramah.
"Nyonya mau kemana?" tanya Mimin.
"Saya mau mengantarkan Noah ke Sekolah," jawab Halwa.
"Wah, tumben sekali! Den Noah mau pergi ke Sekolah! Semenjak Nyonya pergi dari rumah, Den Noah nggak mau sekolah! Tuan sampai marah, kadang juga memukul," jujur Mimin.
"Memukul?" tanya Halwa.
"Ups, aku keceplosan!" Mimin langsung menutup mulutnya.
"Siapa nama kamu?" tanya Halwa.
"Hah, Nyonya lupa dengan nama Mimin!" heran Mimin.
"Iya, saya lupa dengan nama kamu! Karena saya mengalami kecelakaan, membuat memori saya sedikit hilang," bohongnya.
"Oh, kecelakaan! Jadi Nyonya selama ini kecelakaan?" tanya Mimin.
"Iya, siapa nama kamu?" tanya Halwa lagi.
"Mimin, Nyonya!"
"Oh,"
"Baiklah, saya mau sarapan dulu, karena saya akan mengantarkan Noah ke Sekolahnya!" ujarnya.
Setelah sarapan, Halwa mengantarkan Noah ke Sekolahnya. Seperti biasanya, untuk pergi ke Sekolah Noah akan diantar jemput oleh sopir pribadi. Jadi, Dimas tidak perlu repot-repot mengantar atau menjemput putranya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju Sekolah Noah. Sekolah Taman kanak-kanak, Sekolahnya sangatlah besar dan cukup terkenal. Semua anak didiknya berasal dari kalangan anak orang kaya. Noah berjalan didampingi oleh Mamanya, dia begitu bahagia. Semua mata tertuju ke arah Noah, karena dia berjalan berdampingan dengan perempuan yang sangat cantik. Saat berpapasan dengan temannya, tiba-tiba saja Noah menundukkan kepalanya ketakutan. Halwa bisa merasakan itu. Dia menggenggam tangan putranya dengan erat. Setelah memastikan putranya masuk ke kelasnya, Halwa menunggunya di halaman sekolah.
Dia mengaktifkan ponselnya, mendial nomor asisten Adam untuk menanyakan kabar saudara kembarnya.
"Bagaimana keadaan Salwa?" tanya Halwa kepada Adam.
"Masih sama, Nona!" jawab Adam.
"Tolong pantau terus perkembangannya!" pinta Halwa.
"Oya, Asisten Adam, tolong carikan informasi mengenai Anita Key dan Dimas Sanjaya! Aku ingin secepatnya kau mencari tahu! Kerahkan semua orang-orangmu," perintahnya.
"Siap, Nona! Apakah ada yang lain lagi?" tanya Adam.
"Sementara itu dulu! Sekarang aku sedang berada di Sekolah! Nanti aku telfon lagi," ucap Halwa.
Tut ... Tut ... Tut
Panggilan mereka terputus, Halwa mematikan sambungannya secara sepihak kala dia mendengar suara riuh terdengar di kamar mandi anak-anak. Semua anak-anak sedang tertawa seolah-olah ada kejadian yang sangat lucu dan hiburan yang istimewa. Halwa mendekat ke arah kamar mandi dan melihat apa yang terjadi, ternyata yang sedang ditertawakan oleh teman-temannya adalah Noah, Dia sedang berdiri memegangi celananya yang basah, sepertinya Noah kencing di celana. Halwa langsung mendekat ke arah putranya, dia hendak mengelus rambut putranya namun ditepis oleh Noah. Noah berlari ke arah taman Sekolah, Halwa mengejar putranya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Halwa, ketika putranya duduk di kursi taman sambil menangis.
"Mama pasti tidak akan percaya kepada Noah! Seperti Papa juga tidak akan percaya! Papa juga akan memarahi Noah! Apakah Mama juga akan memarahi Noah?" tanyanya sangat polos.
"Astaga, Kenapa dia bisa berfikiran seperti itu?" batin Halwa.
"Tidak, Sayang! Mama tidak akan memarahimu! Sekarang, jujurlah!" bujuk Halwa.
"Mereka mengunci Noah di dalam kamar mandi! Dan mereka juga mematikan lampu kamar mandi! Noah takut dan pipis di celana," lirihnya, namun masih bisa terdengar ditelinga Halwa.
Halwa menutup mulutnya sendiri, tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan anak-anak nakal itu. Anak-anak yang menjahili putranya, memang bertubuh besar dan tinggi, hingga Noah tidak berani untuk melawannya. Halwa menggandeng tangan putranya, dan melaporkan kejadian ini ke kepala sekolah. Kepala Sekolah tidak percaya, karena tidak mungkin anak didiknya bersikap seperti itu. Justru Kepala Sekolah menyalahkan sikap Noah yang terlalu pendiam dan tidak mau bergaul dengan teman-temannya yang lain.
BRAKK ...
Halwa menggebrak meja kepala sekolah, dia tidak percaya seorang kepala sekolah bisa bersikap seperti itu.
"Bukankah disini ada CCTV? Ayo kita lihat Cctv-nya!" tegas Halwa kepada kepala sekolah.
"Baiklah, akan saya buktikan!" ujarnya.
Di Cctv nampak jelas terlihat bahwa Noah sedang dijahili oleh teman-temannya, hingga Noah menangis karena ketakutan. Pak Kepala sekolah merasa malu, dan berkali-kali meminta maaf kepada Halwa.
"Saya menyesal telah menyekolahkan putra saya di Sekolahan seperti ini! Padahal sekolahan ini cukup ternama di kalangan orang-orang kaya dan para pejabat! Jika mereka semua tahu kalau memiliki Kepala Sekolah seperti Anda! Apa yang akan terjadi?" ancam Halwa.
"Maaf Nyonya! Saya benar-benar meminta maaf!" mohon Kepala sekolah.
"Kalau begitu! Anda harus bersikap bijaksana kepada anak-anak yang melakukan kesalahan!" tegas Halwa lagi.
"Baik, Nyonya! Akan saya tindak lanjuti," ucapnya. Kemudian Kepala sekolah memberikan hukuman kepada anak-anak tersebut untuk dirumahkan selama satu Minggu.
Urusan Sekolah sudah beres, Halwa mengajak putranya membeli baju di mall. Noah memilih baju yang dia sukai, dan langsung menggantinya di kamar mandi mall. Selesai berganti baju, Halwa juga mengajak putranya berjalan-jalan di mall. Noah sangat bahagia, semua wahana permainan di mall tersebut sudah dia coba dengan Mamanya. Bosan dengan wahana permainan, Halwa mengajak putranya membeli mainan. Halwa menyuruh putranya untuk membeli mainan yang dia suka. Noah membeli robot-robotan, mobil-mobilan dan pesawat remote. Dia nampak sangat bahagia, kesedihannya sedikit hilang.
Lelah memilih mainan, Halwa mengajak putranya makan siang di Restaurant. Halwa menyuapi putranya dengan sayang, Noah sangat bahagia mendapatkan perhatian dari Mamanya.
to be continued....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
🍇🐊⃝⃟🍒EndahCђαη🍁❣️🕊️⃝ᥴͨᏼ🍂
ibu peri Noah telah tiba
2022-06-09
5
Ani Muani
ceritanya bikin penasaran, lanjut thor
2022-06-09
0
Alanna Th
dimas bnr" hrs dhukum, ia dbwt anita lupa drtn smp mnelantarkn anak n istrinya; bgt percaya pd istrinya yg sundel bolong 😂🤣👍
2022-06-06
0