Keesokkan paginya
Setelah sarapan, Halwa hendak mengantarkan Noah ke Sekolah. Namun Dimas juga ingin mengantarnya, tentu saja itu membuat Anita kesal.
"Kenapa sayang? Kok tumben sekali kamu mengantarkan Noah! Kan sudah ada sopir yang mengantarkannya," cakap Anita agak kesal.
"Selama ini aku kurang perhatian kepada Noah! Padahal Noah adalah putraku! Jadi, biarkan aku menjadi papah yang baik buat Noah," jelasnya kepada Anita.
"Tapi, Sayang! Apakah harus dengan wanita itu?" tanya Anita. "Kamu jangan terpancing dengan wajah lugunya! Dia hanya ingin memperdaya kamu, Sayang!" imbuh Anita lagi.
"Tentu saja tidak, Anita! Kamu tidak perlu merisaukannya! Pengkhianatan yang dia lakukan sudah membuatku sangat terluka! Jadi, kau tidak usah khawatir!" jelas Dimas.
"Baiklah, aku setuju!" kata Anita.
Dimas pun mengantarkan istri pertama dan Noah ke Sekolah. Seperti biasa, Salwa enggan untuk bertutur kata dengan suaminya. Dia lebih memilih membuang muka ke arah yang berlawanan daripada harus melihat wajah Dimas.
Sampai di depan Sekolah, Mereka berdua turun dari mobil Dimas. Dimas berpesan, agar sepulang Sekolah mereka menunggu. Karena, Dimas sendiri yang nanti akan menjemput. Noah menganggukkan kepala tanda setuju. Noah melambaikan tangannya, hingga mobil Dimas sudah tidak nampak lagi di depan mata. Dimas benar-benar dibuat heran oleh sikap Salwa, karena sekarang Salwa begitu dingin dan cuek. Dia tidak menemukan lagi sikap hangat dari Salwa.
Halwa mengantarkan Noah ke kelasnya, sembari menunggu Noah selesai belajar. Dia menghubungi Asistennya untuk bertemu di tempat biasa. Pesan sudah ia kirim, tinggal dia menunggu di Cafe tersebut. Beberapa menit kemudian, Asisten Adam datang dengan membawa paper bag kecil ditangannya.
"Maaf, Nona! Saya terlambat!" ucapnya.
"Tidak masalah! Karena cuma beberapa menit saja!" jawab Halwa. "Silahkan duduk! Mau minum apa?" tanya Halwa.
"Coffe latte saja, Nona!" jawabnya.
"Oya, ini, Nona!" ucap Adam menyerahkan paper bag kecil dari tangannya.
"Ini ponselnya! Dan semua data sudah dipindahkan ke ponsel baru yang Anda pesan! Ponsel yang Anda pesan sama persis seperti milik Nona Salwa dulu," jelasnya.
"Terima kasih banyak, Asisten!" jawab Halwa. Halwa membuka ponsel barunya, dimana semua data dari ponsel lama Salwa sudah di pindahkan oleh Adam. Tidak ada informasi apapun dari ponsel milik Salwa, hanya foto-foto Noah, Dimas dan Salwa. Namun di ponsel milik Salwa banyak sekali panggilan dengan nama Reyhan. Tentu saja Halwa berfikir bahwa saudara kembarnya memilki hubungan yang cukup dekat dengan pria yang bernama Reyhan.
"Asisten, aku ingin kau mencari tahu seseorang lagi! Dia bernama Reyhan! Aku dengar dia adalah teman dekat Salwa! Bahkan Noah saja sangat mengenal Reyhan! Aku ingin kau mencari tahu, siapa Reyhan sebenarnya?" tegas Halwa.
"Apakah Nona tahu nama panjangnya? Apa pekerjaanya?" tanya Adam.
"Sayangnya aku tidak tahu, Asisten!" jawabnya, "Nanti coba aku tanyakan kepada Noah! Mungkin saja dia tahu," imbuhnya lagi.
"Baiklah, Nona! Saya akan menunggu kabar dari Nona! Saya juga akan mencari tahu sendiri," ucap Adam. Setelah percakapan yang lumayan lama itu, akhirnya mereka berpisah, Halwa kembali ke Sekolah Noah. Takutnya Noah sudah selesai belajar dan mencari dirinya di sana. Dan benar saja, Noah baru keluar dari kelasnya dan sedang mencari keberadaan Mamanya.
"Noah?" panggil Halwa melambaikan tangan.
"Mama," jawabnya, Noah berlari dan menghambur ke pelukan Mamanya.
"Bagaimana belajarnya hari ini? Apakah menyenangkan?" tanya Halwa.
"Menyenangkan, Mama!" jawabnya.
"Oya, Mama ini!" Noah mengeluarkan sebuah surat dari tasnya.
"Apa ini?" tanya Halwa.
"Akan ada liburan ke kebun binatang, dan anak-anak harus pergi bersama salah satu orang tuanya! Jika setuju Mama atau Papa harus menandatangani surat ini! Besok pagi, harus dikumpulkan!" ucap Noah.
"Liburan?" Halwa membaca isi surat tersebut dengan seksama, dan ternyata memang benar isinya adalah liburan ke kebun binatang. Halwa nampak berfikir, lalu Ia menyimpan surat tersebut ditasnya.
"Papa?" panggil Noah. Ternyata di depan Sekolah, Dimas sudah menunggu kepulangan istri dan anaknya. Ternyata benar, Dimas menepati janjinya untuk menjemput mereka.
"Hei, Sayang! Ayo kita pulang!" ucap Dimas kepada Noah.
"Papa, Noah lapar! Sebelum pulang, Apakah Noah boleh makan dulu?" tanya Noah.
"Tentu saja boleh, Sayang!" jawab Dimas sambil melirik ke istrinya, namun sikap Halwa masih sama tanpa ekspresi. "Kita mau makan dimana?" tanya Dimas.
"Noah ingin makan chicken," jawabnya sangat polos.
"Baiklah, Let's go!" ujar Dimas.
"Hore ... Hore! Noah akan makan Chicken bersama Papa dan Mama," ujar Biar bersorak-sorai, begitu bahagiyanya. Halwa tersenyum melihat tingkah lucu putranya. Dan ini adalah pertama kalinya Dimas melihat senyuman istrinya lagi.
"Manis sekali," gumamnya, namun tidak di dengar oleh Halwa.
Mobil Dinas melaju menuju tempat makan yang menjual chicken, makanan kesukaan Noah. Kalau di rumah, setiap hari pelayan harus memasak chicken untuk Noah, dan dia makan dengan sangat lahap. Tidak terasa ternyata mobil sampai di depan tempat makan yang menjual chicken. Noah sangat gembira, dia pun langsung buru-buru turun untuk memesan chicken kesukaannya. Dimas memesan tiga porsi chicken dengan nasi, sambal dan tiga mangkok sup, Dimas juga memesan dua ice cola dan es susu untuk putranya.
Noah menikmati makanannya dengan sangat lahap. Bahkan dia tidak meminta untuk disuapi oleh Salwa. Halwa sangat senang melihat Noah makan dengan lahap. Sekarang gilirannya untuk makan, dia juga menikmati makanannya juga dalam diam. Sekali-kali Dimas melirik ke arah Salwa, dia tetap tenang. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Salwa.
"Sayang, mau nambah ayamnya?" tanya Dimas membuka percakapan.
"Nggak, Pa! Noah sudah kenyang!" ucapnya.
"Apakah kamu juga mau nambah?" tanya Dimas kepada Halwa, Halwa melirik ke arah Dimas dengan tatapan yang dingin.
"Tidak, Terima kasih," jawabnya, singkat dan jelas.
"Baiklah," ucap Dimas.
Selesai makan siang, Dimas pun mengantarkan istri dan putranya pulang ke rumah. Melihat kedekatan suami istri itu, Anita menjadi tidak senang. Dia sangat tidak bahagia, hatinya sangat ingin untuk menyingkirkan perempuan itu. Dia harus memiliki ide yang brilian untuk menyingkirkan Salwa.
"Sayang?" panggilnya, "Kok kamu pulang? Biasanya kamu tidak pernah pulang di siang hari?" cemberutnya.
"Maaf, Anita! Aku buru-buru harus kembali ke kantor," ujarnya sambil berlalu meninggalkan rumah.
Halwa dan Noah masuk ke dalam rumah melewati Anita yang masih berdiri di tengah pintu. Halwa menyuruh putranya untuk pergi ke kamarnya terlebih dahulu. Noah pun menuruti perintah Mamanya.
"Tunggu?" ucap Anita.
"Ada apa?" tanya Halwa.
"Kau memang wanita tidak tahu malu! Sudah berselingkuh, kau masih saja mengelak! Apa mau mu sih?" ketus Anita.
"Aku tidak pernah berselingkuh! Jangan menuduhku yang tidak-tidak!" jawab Halwa tidak kalah ketus.
"Oya," Anita masuk ke dalam kamarnya, dan menunjukkan bukti bahwa Salwa memang benar-benar selingkuh.
"Lihat ini!" Anita menyerahkan beberapa lembar foto Salwa tanpa busana sedang tidur bersama pria lain. Halwa nampak sangat terkejut.
"Siapa pria yang bersama saudara kembarnya? Apakah dia kekasihnya? Apakah cuma pelampiasan saja? Dan itu bukanlah Reyhan? Lalu, siapa pria itu?" batinnya, otaknya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.
to be continued.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Sri Winarni
gemna nii thor zaman skrg rmh org da pake cctv smua, masa rmh org kaya ga da cc tv, kan Halwa bsa gecek lwt cc tv ktanya halwa sangat pinter
2024-10-14
1
ENDAH_SULIS
gak enak bgt panggilan nya asisten...tgl panggil nama aja lebih enak sih
2024-04-19
4
El_Tien
semajgat up mam
2022-05-17
1