"Oya," Anita masuk ke dalam kamarnya, dan menunjukkan bukti bahwa Salwa memang benar-benar selingkuh.
"Lihat ini!" Anita menyerahkan beberapa lembar foto Salwa tanpa busana sedang tidur bersama pria lain. Halwa nampak sangat terkejut.
"Siapa pria yang bersama saudara kembarnya? Apakah dia kekasihnya? Apakah cuma pelampiasan saja? Dan itu bukanlah Reyhan? Lalu, siapa pria itu?" batinnya, otaknya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.
"Aku tidak pernah melakukan perbuatan hina seperti itu! Jadi, jangan memfitnahku," hardiknya.
"Kau masih mau menyangkalnya? Dasar wanita murahan! Tidak tahu diri! Berapa pria yang tidur denganmu? Selain pria ini, aku yakin kau juga tidur dengan banyak pria yang lain," hina Anita.
"Tutup mulut kamu, Anita!" murka Halwa, tangannya sudah terangkat dan hendak menampar pipi Anita. Namun dari arah pintu ada seseorang berteriak kepadanya.
"Berhenti!" teriaknya. Seorang wanita separuh baya mendekat ke arah mereka, dan matanya nyalang menatap Halwa.
PLAKKK ....
Tamparan yang sangat keras mendarat di pipi putih mulus Halwa. Membuat pipinya kemerahan akibat tamparan keras itu.
"Jangan pernah sekali-kali kamu menyakiti menantuku!" hardiknya dengan tatapan yang sangat tajam. "Kenapa kau ingin menyakiti Anita?" tanyanya.
"Siapa wanita ini?" tanya Halwa di dalam hati.
"Dia memfitnah ku," ujarnya sambil menutupi pipinya yang merah. Terasa sangat panas dan perih.
"Fitnah apa?" tanyanya lagi.
"Ini Ma, aku menunjukkan foto ini! Tapi, dia menyangkalnya, malah dia berusaha menyakiti ku," ucap Anita. Wanita paruh baya itu melihat foto tersebut, dia sangat marah dan meremas foto itu hingga tak berbentuk.
"Bukankah ini fotonya, Ma? Tapi, dia tidak mau mengakuinya!" imbuh Anita.
PLAKKK ....
Wanita paruh baya itu kembali menampar Halwa hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Namun Halwa hanya diam, dia tidak melakukan tindakan apapun.
"Memalukan! Sejak awal aku memang tidak pernah merestui kau menjadi menantuku! Tapi, Dimas memang orang yang keras kepala! Sebenarnya apa sih yang membuat putraku begitu mencintaimu? Ternyata selama ini, apa yang aku pikirkan benar! Kau bukan wanita baik-baik! Kau hina dan rendah! Dan juga sangat murahan!" hina Wanita tersebut.
"Maaf, saya tidak seperti yang Anda pikirkan! Saya tidak pernah berselingkuh! Ada seseorang yang berusaha memfitnah saya!" belanya.
"Kau masih mau mengelak!" geramnya. "Anita?" usir dia dari rumah ini. Wanita itu menarik tangan Halwa, agar dia keluar dari rumah putranya. Wanita paruh baya itu adalah Hilda, Mamanya Dimas. Hilda dan menantunya secara bersamaan menarik tangan Halwa agar keluar dari rumah.
"Rumah anakku bisa kena sial, jika, ditinggali wanita murahan seperti dirimu," hinanya lagi.
"Tolong, Lepaskan! Saya tidak melakukan hal buruk semacam itu! Itu hanyalah fitnah," ucap Halwa membela diri.
"Cih, Tidak tahu diri! Apakah kau masih menyangkal dengan semua bukti yang ada?" hardik Hilda. Anita yang melihat Salwa akan diusir dari rumah, hatinya begitu bahagia.
Dari dalam kamar, Noah mendengar suara ribut-ribut dari luar, dia pun berlari ke arah sumber suara. Ternyata Mamanya sedang ditarik oleh Omanya dan Mama Anita.
"Mama?" teriaknya.
"Noah,"
Noah berhambur kepelukan Mamanya sambil menangis.
"Oma jangan usir Mamanya, Noah!"
"Hiks ... Hiks .... Hiks." Noah terisak.
"Noah, minggir!" bentak Omanya.
"Noah nggak mau!" teriaknya sambil menangis dan memeluk tubuh Mamanya.
"Hiks .... Hiks .... Hiks."
"Mama, Noah ikut Mama! Tolong jangan usir Mama, Noah!" ucapnya memohon kepada Omanya.
"Anita, pegangi Noah! Aku akan mengurus perempuan murahan ini," ujar Hilda.
Hilda mendorong tubuh Halwa agar keluar dari rumah putranya. Bahkan dia menyuruh dua security rumah, untuk mengusirnya dari rumah. Halwa hanya pasrah, menerima perlakuan dari wanita separuh baya itu yang baru dia ketahui ternyata adalah Mama mertua Salwa. Bukannya dia tidak bisa melawan, namun dia harus berhati-hati mengambil tindakan. Dia harus pandai memainkan peran.
"Security, tutup gerbangnya! Jangan biarkan wanita murahan itu masuk ke rumah!" ketusnya.
Halwa menunggu di depan gerbang, sampai Dimas pulang. Meskipun hujan mengguyur tubuh sangat deras, dia tidak perduli. Dia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah. Security yang melihatnya merasa tidak tega, ia pun memberikan satu stel jas hujan untuk sang majikan. Namun Halwa menolak dengan halus, dia tidak mau sang security kena semprot Hilda.
Beberapa jam menunggu di depan gerbang, akhirnya suaminya yang ditunggu pulang juga. Dia melihat Salwa berdiri di luar gerbang, dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan. Dimas keluar dari mobilnya, dan mendekati istrinya.
"Kenapa diluar?" tanyanya, suaranya agak meninggi karena suaranya kalah dengan derasnya suara gemericik air hujan.
"Itu?" tiba-tiba Halwa jatuh tidak sadarkan diri. Dimas menangkap tubuh istri pertamanya dan membopongnya, Ia berteriak kepada security untuk membuka gerbangnya.
Dimas membopong tubuh istrinya masuk ke dalam rumah. Mama dan Anita yang melihat sangat terkejut, karena Dimas membawa wanita itu lagi ke dalam rumah.
"Dimas, Apa yang telah kamu lakukan? Kenapa kamu membawa wanita itu lagi ke dalam rumah?" tanya Hilda.
"Jadi, Mama yang mengusir Salwa! Dia kehujanan, Mah! Gara-gara Mamah, dia pingsan," ujar putranya. Dimas membawa Salwa ke kamar Noah. Noah yang melihat Mamanya pingsan, menangis sedih dan terisak.
"Mama?" panggilnya. "Mama kenapa, Pah?" tanya Noah.
"Tenang, Sayang! Mama cuma pingsan saja!" ujar Dimas.
Dimas akan menggantikan baju istrinya yang basah, tiba-tiba Halwa terbangun. Kepalanya merasa pusing, dia meminta teh hangat kepada Dimas. Dia langsung membuatkan teh hangat sendiri untuk istrinya, itu membuat Anita dan Hilda semakin jengkel. Sampai di kamar, ternyata Salwa sudah mengganti bajunya dengan baju yang kering dan bersih.
"Minumlah," perintahnya.
"Terima kasih, Mas!" jawab Salwa.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Dimas.
"Kepalaku sangat pusing," jawab Salwa.
"Alah, itu cuma alasanmu saja, supaya kamu tidak diusir dari rumah ini?" serunya.
"Mama?" tukas Dimas.
"Kamu harus membuka matamu, Dimas! Wanita seperti apa dia ini! Dia wanita murahan! Penipu dan pengkhianat! Apakah kamu akan terus mempertahankan dia di rumah ini?" ketus Hilda.
"Apa salahku, Ma?" tanya Salwa sambil terisak.
"Hiks ... Hiks .... Hiks." tangis Salwa. Noah mendekat ke arah Salwa, dan memeluknya.
"Mimin?" panggil Hilda kepada salah satu pelayan. "Bawa Noah keluar! Kami sedang membicarakan hal penting!" perintahnya.
"Baik, Nyonya," jawab Mimin. "Ayo, Den! Kita bermain di taman," ajak Mimin kepada Noah. Awalnya Noah menolak, karena Salwa membujuk terus akhirnya dia mau ikut Bi Mimin.
"Dimas? Ingat dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh istri kamu! Buka mata kamu lebar-lebar! Dia sudah tidur dengan sahabat kamu sendiri! Apakah kamu masih menerima dia sebagai istri?" murka mamanya. Mendengar apa yang dikatakan Hilda, seketika itu raut muka Dimas berubah menjadi pias. Ada rasa kecewa dan kemarahan, Halwa bisa melihat itu di mata Dimas.
"Apakah kau akan terus mempertahankan rumah tangga atas dasar pengkhianatan?" tanyanya lagi. "Ingat, dia sudah mencoreng keluarga kita! Dia juga sudah mengkhianati pernikahan kamu! Ceraikan wanita itu!" tegas Hilda. Dimas menoleh ke arah istri pertamanya.
"Tidak, aku tidak pernah berkhianat! Aku akan membuktikan semuanya!" ujar Salwa. Namun amarah dan kebencian terlanjur menguasai Dimas, dia pun memilih pergi dari kamar itu.
to be continued.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Ina Karlina
halwa mengakah untuk menang..bongkar semua kebusukan Anita..HM padahal dia perempuan yg ga bener dasar ular
2024-11-29
0
Memyr 67
pantas dimas goblog, ibunya juga. pasangan anak dan ibu goblog, gampang dimanipulasi.
2025-02-17
0
Itoh
ktanyaa ahli beladiri tpii d ko lemahh gk ada perlawanan
2024-05-20
5