Hotel
Setelah mengalami malam yang panjang bersama, suami istri itu tertidur pulas sampai pagi hari. Mereka terbangun kala sinar mentari menyeruak masuk melewati celah-celah korden. Anita mengerjapkan matanya, dia melihat jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi. Dia bergegas membangunkan suaminya, karena jika tidak dibangunkan akan terlambat ke kantor.
"Sayang? Ayo bangun!" ucapnya, membangunkan sang suami.
"Hem," Dimas masih enggan untuk membuka matanya.
"Sayang! Ini sudah siang! Sudah jam delapan pagi! Cepatlah bangun!" perintahnya.
"Apa?" Dimas langsung bergegas bangun dan masuk ke kamar mandi. Anita menyiapkan semua keperluan kantor suaminya, dari baju, dasi dan sepatu suaminya.
Beberapa menit kemudian dia sudah siap akan pergi ke kantor. Dia berpamitan kepada istri keduanya untuk pergi ke kantor. Dia tidak sempat sarapan karena memang jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi lebih.
Dimas Sanjaya adalah pemilik Perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi. Tidak sebesar milik Perusahaan Halwa, namun nama Dimas Sanjaya sudah dikenal kalangan para pembisnis muda lainnya. Dia pria yang cukup tampan dan mempesona.
Sedangkan Anita Key adalah wanita yang cukup cantik dan berkelas. Dia juga seorang anak dari salah satu Pengusaha terkenal. Semenjak ayahnya meninggal, Perusahaan ayahnya mengalami kebangkrutan. Karena Anita sendiri terbiasa hidup manja, dia tidak mau belajar untuk mengelola Perusahaan ayahnya, sehingga tidak ada yang mengurus dan pada akhirnya Perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan.
Anita berjalan memberhentikan taksi, dia memberitahukan tujuannya kepada pak sopir. Taksi melaju dengan kecepatan sedang menuju alamat tersebut dan berhenti di sebuah rumah sederhana milik seseorang.
Tok .... Tok .... Tok
Anita mengetuk pintu tersebut, dan seseorang membukanya.
"Anita?" mamanya terkejut. Anita menyerobot masuk ke dalam.
"Mah, gawat! Dia sudah kembali!" ucapnya.
"Siapa?" tanya Mamanya, bingung.
"Wanita itu." ucapnya. Anita mengambil air putih dan menenggak dengan sekali tegukan.
"Wanita siapa?" bingung mamanya.
"Salwa," jawabnya.
"Salwa! Bukankah kau bilang dia sudah mati?" tanya mamanya.
"Aku yakin, dia memang sudah mati!" ujarnya.
"Lalu, kenapa dia masih hidup?" tanya mamanya.
"Entahlah," ujarnya.
"Aku sudah memastikan, mobil itu jatuh ke jurang, dan ....!"
"DORR." Anita memperagakan bunyi ledakan yang sangat keras.
"Aku yakin, dia sudah mati!" imbuhnya lagi.
"Tapi, dia tidak tahu apa-apa kan?" ucap Jeselyn, ibu kandung Anita.
"Sepertinya tidak! Karena dia sama sekali tidak menyinggung atau curiga kepadaku!" ujarnya.
"Baguslah kalau begitu!" ucap mamanya.
"Oh, Iya, Aku teringat! Dia pernah mengatakan kalau dirinya kehilangan memorinya saat kecelakaan! Berarti dia memang kecelakaan, Mah!" jelasnya.
"Benarkah?" senang jeselyn.
"Baguslah kalau seperti itu! Semoga saja dia kehilangan memorinya untuk selama-lamanya!" ujarnya.
"Kok bagus, Ma?" tanya Anita.
"Iya, bagus dong! Dengan begitu dia tidak akan mengingatnya! Jadi, Kau aman!" tuturnya.
"Bagaimana keadaan di rumah?" tanya Jeselyn.
"Mas Dimas tidak menganggapnya lagi! Sikapnya kepada Salwa berubah total! Jika bukan permintaan anak nakal itu, pasti Mas Dimas sudah mengusirnya," kesal Anita.
"Biarkan saja! Yang penting jangan biarkan wanita itu merusak kebahagiaan mu! Sebisa mungkin kau terus membuat Dimas membenci perempuan itu!" tutur Jeselyn.
"Baik, Ma! Kata-kata Mama akan terus aku ingat!" ujar Anita.
"Bagus, Sayang!" jawabnya.
Disisi lain, setelah lelah berjalan-jalan Halwa mengajak Noah pulang ke rumah. Mereka berdua berjalan selayaknya seorang ibu kandung dan anaknya, menuruni tangga mall dengan riang gembira. Di lantai bawah, seorang pria mencuri dompet seorang wanita dan dikejar-kejar oleh security mall. Pria tersebut berlari ke arah Halwa dan Noah, dan tiba-tiba saja pria tersebut menarik tangan Halwa dan menodongkan senjata tajam dileher Halwa. Noah yang melihat itu menjerit ketakutan karena sang ibu disandera oleh pria itu. Para Security mencoba untuk membuat pencuri tenang, karena jika sang security bertindak gegabah, maka nyawa Halwa menjadi taruhannya. Semua pengunjung di mall tersebut berteriak histeris melihat kejadian itu.
Halwa yang menguasai ilmu beladiri dan sangat terlatih, dia menyikut perut pencuri tersebut, memberikan bogeman demi bogeman ke arah perut dan muka pria itu. Hingga pria itu babak belur dan tersungkur di lantai mall. Semua pengunjung yang menyaksikannya bertepuk tangan, memberikan selamat kepada Halwa atas keberaniannya. Noah yang baru pertama kali melihat sang Mama berkelahi, langsung menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Halwa membungkukkan badannya, dan berpamitan kepada security mall tersebut. Sepasang mata, dari lantai dua memperhatikan aksi tersebut sedari tadi.
Halwa menggandeng tangan putranya keluar mall. Sepanjang berjalan, Noah menatap mamanya dengan serius, hingga mamanya menoleh ke arahnya.
"Kenapa? Apakah ada yang salah?" tanya Halwa.
"Mama hebat sekali," puji Noah.
"Sssssstttttttt," Halwa meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
"Ini adalah rahasia kita berdua! Oke!" ujar Halwa kepada putranya.
"Kenapa, Ma?" tanya Noah penasaran.
"Ehm, apa yah?" Halwa nampak berfikir.
"Mama sedang menjadi detektif, Apakah Noah mau menjadi asisten Mama?"
"Mau," girang Noah.
"Kalau begitu, kita harus menjadi partner! Dan kita harus menjaga rahasia kita! Salah satunya yang tadi," jelas Halwa.
"Baiklah, Mah! Noah mengerti! Noah harus menjaga rahasia karena ini adalah misi dari seorang detektif! Bukankah begitu, Ma?" tanya Noah.
"Iya, Sayang! Kamu anak yang sangat pintar," puji Halwa mencium kening putranya.
Mereka berdua melanjutkan perjalanannya kembali. Pak Sopir sudah menunggu di depan mall. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah. Sepanjang perjalanan, Noah selalu bercerita. Semakin lama, putranya sangat cerewet, dia sangat senang bercerita. Namun itu semua membuat hiburan tersendiri baginya. Tidak terasa mobilnya sampai di depan rumah.
Halwa menggendong putranya di punggungnya, Noah begitu bahagia. Saat akan memasuki pintu masuk, Dimas dan Anita sudah berdiri di ruang tamu. Aura Dimas nampak sangat marah, Halwa tahu pasti ini soal dirinya yang membawa Noah berjalan-jalan tanpa seizinnya.
Halwa menyuruh Mimin untuk membawa Noah dan barang-barang yang dibelinya ke kamarnya, dia tidak mau putranya mendengarkan kedua orangtuanya bertengkar.
"Kemana kamu membawa putraku?" bentaknya dengan suara yang meninggi.
"Saya mengajak Noah berjalan-jalan," jawabnya.
"Kamu membawa Noah berjalan-jalan? Kamu tahu tidak kalau dia sedang bersekolah? Dan saya mendapatkan laporan bahwa Noah membuat masalah lagi di sekolahnya!" hardik Dimas dengan amarah yang meluap-luap. Halwa menatap tajam ke arah Dimas, rasanya dia ingin sekali menghajar wajah laki-laki didepannya ini.
"Saya meminta maaf sebelumnya! Karena saya tidak meminta izin kepada Anda! Karena saya juga berhak atas Noah! Dia putra kandung saya!" jawabnya. "Dan masalah sekolah, seharusnya Anda mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada putra kandung Anda! Jangan hanya bisa bersenang-senang dan menyalahkan anak kecil yang masih polos!" hardiknya.
Kemudian Halwa langsung meninggalkan Dimas begitu saja. Dimas dan Anita begitu terkejut, pasalnya, dulu, Salwa selalu bersikap lemah lembut. Dia tidak pernah berbicara kasar ataupun dengan nada meninggi.
"Kau bisa lihat sifat aslinya kan?" tanya Anita sengaja memanas-manasi suaminya.
"Sudahlah, Anita, aku capek!" ucap Dimas berlalu pergi begitu saja.
to be continued.....
******************************************
Saya kasih visualnya ya, silahkan menghalu sendiri...
Salwa/ Halwa Calista
Reyhan Arsenio
Dimas Sanjaya
Anita Key
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Ina Karlina
boleh lah visual nya di terima 😁😁😁
2024-11-29
0
pipin bagendra
visualnya cakep smua 😍😍😍
2025-01-07
0
Ririn Nursisminingsih
visualnys kereenn thor
2024-12-30
0