Dua Minggu Berlalu
Semua barang-barang Halwa sudah dimasukkan ke dalam koper oleh pelayan, Halwa menenteng tasnya yang berisi barang-barang berharga seperti dompet, visa dan barang-barang berharga lainnya. Dia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang. Sang sopir sudah mulai melajukan mobilnya menuju Bandara. Sepanjang perjalanan, Halwa terus memandangi foto di liontin yang dikalungkan di lehernya.
"Aku akan datang! Tunggulah aku saudariku!" gumamnya. Halwa mencium foto tersebut, hatinya bahagia sekaligus cemas yang luar biasa.
Tidak terasa mobil yang dia tumpangi, sudah sampai di Bandara. Halwa turun dari mobilnya, semua barang-barang miliknya dibawa oleh sopir untuk dititipkan di hangar pesawat.
Halwa memasuki pesawat dan memilih duduk dekat jendela. Ini adalah pertama kalinya dia bepergian jauh ke luar negeri. Biasanya dia akan melakukan perjalanan bisnisnya hanya keluar kota saja. Namun kali ini demi mengungkapkan sebuah misteri dia harus rela mengorbankan waktunya demi saudara kembarnya.
Halwa memilih pesawat termahal dan terlengkap untuk perjalanannya ke Indonesia. Dengan fasilitas seperti hotel, dan hanya para seorang pembisnis saja yang mampu untuk membayar harga tiketnya. Lima belas jam perjalanan dilalui Halwa, ia merasakan rasa jenuh, seharian hanya bisa duduk dan melihat pemandangan dari kaca jendela pesawat. Ia pun memutuskan untuk ke bar mini di pesawat tersebut. Dia berjalan ke bar mini, dan memesan minuman kaleng bersoda.
Dari jauh nampak seorang pria memperhatikannya, saat pria tersebut hendak mendekat ke arah Halwa, suara pengumuman memerintahkan agar para penumpang duduk di kursinya masing-masing, karena pesawat akan melakukan pendaratan. Halwa pun langsung kembali ke kursinya.
Pesawat berhasil mendarat dengan mulus, pramugari memberikan instruksi bahwa penumpang sudah bisa keluar dan turun dari pesawat. Halwa turun dari pesawat tersebut, dia berjalan ditengah kerumunan orang yang lalu lalang di Bandara Internasional tersebut. Seorang pria mengikutinya sambil berlari pelan agar tidak kehilangan jejak Halwa. Namun karena penuhnya orang yang berjejal di Bandara membuat pria tersebut kehilangan jejak Halwa.
Halwa keluar dari pintu dan sudah disambut oleh sekertarisnya. Sang sekertaris mengambil tugas membawakan koper nona mudanya.
"Bagaimana perjalanannya, Nona?" tanya Adam.
"Lancar! Aku ingin langsung ke Rumah Sakit! Apakah kau bisa mengantarkan ku Asisten Adam?" tanya Halwa kepada Asisitennya.
"Siap, Nona!" jawabnya.
Adam melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit, tempat di mana Salwa dirawat. Sekitar empat puluh menit perjalanan yang dibutuhkan untuk sampai ke Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit, Adam menunjukkan kamar rawat Salwa. Halwa hendak membuka gagang pintu, tiba-tiba hatinya berdesir, rasanya antara percaya dan tidak percaya, ia memiliki seorang saudara kembar.
Halwa membuka pintu itu, dia mendekati tempat tidur saudara kembarnya. Hatinya begitu sedih, baru pertama kali bertemu dengan saudara kembarnya, namun dia dihadapkan dengan kenyataan yang tidak menyenangkan. Dia harus dipertemukan dengan keadaan Salwa yang sedang terbaring lemah di tempat tidur Rumah Sakit.
"Hiks ... hiks .... hiks." Tiba-tiba saja air matanya luruh begitu saja, dia tidak tega melihat keadaan saudara kembarnya dengan selang infus dan oksigen di tubuh milik saudara kembarnya.
"Aku datang! Apa yang terjadi kepadamu? Kenapa sampai begini? Tolong bangunlah!" pinta Halwa kepada Salwa, agar saudara kembarnya membuka matanya.
"Aku sudah menemukan mu! Aku sudah memenuhi janjiku kepada ibu, tapi kenapa justru kau terus menutup matamu? Ayo, bangunlah!" ajak Halwa kepada Salwa. Kondisi Salwa masih tetap sama saja, tubuhnya tidak bergeming sedikitpun.
"Asisten Adam, Apa yang terjadi kepada Salwa?" tanya Halwa kepada asisitennya.
"Dia koma, Nona! Kata Dokter, dia koma selama enam bulan lebih akibat kecelakaan tragis, Nona!" jawab Asisten Adam.
"Kecelakaan?"
"Iya, Nona! Tapi, yang membuat saya heran, tidak ada satupun dari keluarga Nona Salwa datang untuk menjenguknya," ujar Asisten Adam.
"Apa yang kau ketahui lagi Asisten Adam?" tanya Halwa kepada Asistennya. Adam menunjukkan berkas hasil informasi dari detektif swasta yang dia percaya untuk mencari informasi tersebut. Halwa membacanya dengan seksama, apa yang tidak dimengerti oleh Halwa, Adam mencoba untuk menjelaskannya secara detail.
"Huft," Halwa menghela nafasnya panjang.
"Apakah menurutmu ini kecelakaan yang disengaja, Asisten Adam?" kesal Halwa.
"Saya rasa begitu, Nona!" ucap Adam. "Rasanya begitu aneh, menurut informan saya, Nona Salwa tidak bisa mengendarai mobil! Bagaimana dia bisa berada di mobil dan tiba-tiba saja terjun ke jurang? Rasanya sangat mustahil!" terang Asisten Adam. "Dan yang membuat saya merasa aneh, tidak ada satupun keluarganya yang mencari atau sekedar ingin tahu kabar beritanya! Padahal dia memiliki suami dan juga keluarga suaminya! Lalu, kemana mereka semua?" kira Adam.
"Apakah menurutmu begitu?" tanya Halwa.
"Iya, Nona!" jawabnya.
"Aku ingin mengetahui secara detail keluarga Salwa! Aku akan masuk ke rumahnya sebagai Salwa! Dan aku akan mencari tahu, bagaimana dia mengalami kecelakaan," ujar Salwa penuh penekanan.
"Anda serius, Nona!" ujar Adam.
"Tentu saja! Aku tidak akan membiarkan orang yang sudah tega mencelakai saudaraku bisa bebas berkeliaran di sana! Dia harus membayar semua perbuatan yang telah dilakukannya," marah Halwa.
"Baik, Nona! Saya akan laksanakan," cakapnya. Adam keluar dari ruang rawat Salwa, dia melaksanakan tugas yang diberikan oleh nona mudanya.
Halwa memandangi tubuh kurus dan kulit pucat Salwa. Dia kembali menitikkan air matanya melihat kondisi saudara kembarnya.
"Apa yang terjadi kepadamu? Apakah mereka semua menyakitimu? Ayo bangunlah dan katakan di mana makam ayah kita! Antarkan aku ke sana!" bujuk Halwa.
Satu jam Halwa mengajak Salwa mengobrol namun tidak ada perubahan apapun. Perutnya terasa sangat lapar, dia pun memutuskan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Dia keluar dari Rumah Sakit untuk mencari Restaurant. Tepat di depan Rumah Sakit ini ada Restaurant western, dia pun kesana dengan berjalan kaki saja. Halwa duduk di meja dekat dengan jendela, karena ia paling suka dengan pemandangan.
Palayan mencatat pesanan pelanggannya. Tidak menunggu waktu yang lama pesanan Halwa datang. Dia langsung memasukkan irisan daging bistik ke mulutnya, rasanya sangat enak. Disela makannya ia melihat seorang anak kecil berdiri melihatnya menikmati daging bistik sambil menelan ludahnya sendiri dan memegangi perutnya. Kemudian pemilik Restaurant datang, dengan kasar mengusir anak tersebut. Halwa yang melihat kejadian tersebut, keluar dari Restaurant dan memarahi pelayan itu. Adu mulut pun terjadi antara dirinya dan pemilik Restaurant.
"Jika memang kau tidak rela memberikan makananmu kepada anak ini, kau tidak perlu mengusir ataupun berlaku kasar padanya" berang Halwa.
"Tapi, Nona! Anak ini sudah membuat Restaurant ini menjadi kotor dan bau," ucapnya.
"Aku menyesal datang ke Restaurant ini! Ternyata pelayanannya kepada orang lain seperti ini!" dengus Halwa. Halwa pun membayar makanannya tadi ke kasir dengan black card-nya, membuat sang pemilik Restaurant menelan salivanya. Dia merasa tidak enak hati dan malu, pasalnya hanya orang berkelas saja yang memiliki black card seperti itu.
Halwa mengajak anak tersebut ke sebuah Restaurant lain yang letaknya tidak jauh dari Restaurant tadi. Dia membelikan anak itu banyak makanan dan minuman. Halwa juga memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan untuk anak tersebut. Tidak henti-hentinya sang anak mengucapkan terima kasih kepada Halwa. Halwa tersenyum bahagia karena telah menolong anak itu.
to be continued....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Ina Karlina
oh jangan jangan itu Noah keponakan mu halwa..dia di telantar kan oleh ayah dan ibu tirinya..ajak dia bersamamu
2024-11-29
0
G** Bp
baik banget kamu Salwa walaupun kaya tapi tdk sombong bin songong
2024-08-06
0
reza indrayana
nangis bener nichh ....sediihh bangeetTtt...😥😥😥
2024-04-30
3