Reyhan ikut duduk di depan bocah itu, dan mengajaknya bermain tebak-tebakan. Tidak menunggu lama pesanan mereka datang. Noah begitu bahagia, dia langsung menyantap ice Creamnya dengan hati yang bahagia. Begitu juga dengan Reyhan, ia juga menikmati ice Cream di depannya. Sekilas ia melirik ice Cream milik Salwa.
"Tumben sekali dia memesan ice Cream strawberry, biasanya dia sangat suka dengan ice Cream coklat," batin Reyhan, sambil mengernyitkan alisnya.
"Bagaimana? Enak?" tanya Halwa kepada putranya.
"Enak, Mama! Ini lezat sekali!" jawabnya.
"Oh, iya, bolehkah aku bertanya?" tanya Reyhan kepada Salwa.
"Boleh, Ada apa?" ucap Salwa, justru dia balik bertanya kepada Reyhan.
"Selama enam bulan menghilang, kau kemana?" tanya Reyhan.
DEGH ....
Maniknya memandang Reyhan lekat, dia ingin sebuah kejujuran di mata Reyhan. Namun sepertinya memang Reyhan tidak tahu kalau Salwa mengalami kecelakaan tragis.
"Saya mengalami kecelakaan! Saya kehilangan sedikit memori! Maaf, jika Saya kurang mengenali Anda," jawab Halwa sangat lembut.
"Kecelakaan? Kau kecelakaan? Sejak kapan? Kenapa aku tidak tahu? Jadi, selama ini kau kecelakaan?" tanya Reyhan sangat khawatir.
"Aku sudah sehat! Tidak perlu khawatir," jelasnya.
"Dia memang tidak tahu menahu soal Salwa yang kecelakaan," batin Halwa.
"Apakah ada yang serius? Jika memang ada yang serius, aku antarkan kamu ke Rumah Sakit!" cemasnya.
"Apa? Yang benar saja? Apakah dia menyukai Salwa? Buktinya dia sangat khawatir dengan keadaan Salwa," batinnya.
"Tidak usah! Saya baik-baik saja! saya cuma kehilangan sedikit memori saya saja," jelasnya. "Jika saya lupa sedikit, Apakah saya boleh bertanya?"
"Ehm, Silahkan! Kamu mau bertanya apa?" tanya Reyhan mengernyitkan alisnya.
"Apakah kita sudah kenal lama?" tanya Halwa.
"Sudah," jawabnya.
"Sedekat apa?" tanyanya lagi. Reyhan nampak mengernyitkan alisnya.
"Apakah kau lupa pertemanan kita?" tanyanya. "Ish, kau sungguh keterlaluan!" cebiknya. "Kita ini sekolah di Sekolahan yang sama! Aku kakak kelas mu dan kau adik kelasku," jelasnya.
"Benarkah! Maaf saya lupa," ujarnya.
"Mama, ice Cream Noah sudah habis," sela Noah.
"Apakah Noah mau menambah satu lagi?" tawar Reyhan.
"Nggak, Om! Noah sudah kenyang," ujarnya sambil mengelus perutnya yang buncit, membuat Halwa tersenyum geli.
"Kalau begitu biar Mama bayar dulu, lalu kita pulang," ucap Halwa.
"Oke, Mama!" jawab Noah.
Saat Halwa akan membayar ice Cream itu, ditahan oleh Reyhan. Reyhan lah yang membayar semuanya di kasir. Halwa merasa tidak enak, karena dia sudah mengatai Reyhan pelit. Malah justru dia yang mentraktir dirinya, Halwa jadi merasa malu.
Reyhan mengantarkan Halwa dan Noah sampai depan rumah. Namun kejadian itu nampak terlihat jelas di mata Dimas. Dimas begitu sangat marah dan geram. Dia menghampiri istri pertamanya di depan pintu gerbang.
"Salwa?" teriaknya sangat memekikkan telinga. Noah juga merasa sangat kaget.
"Papa,"
"Apakah kau tidak malu, diantarkan pulang oleh laki-laki yang bukan suami kamu?" murka Dimas.
"Ehm, Sayang! Kamu masuk duluan! Papa dan Mama mau mengobrol sebentar," ucapnya kepada Noah. Halwa sengaja melakukan itu agar Noah tidak mendengarkan pertengkaran para orang dewasa.
"Baik, Ma! Jangan lama-lama ya? Noah menunggu di kamar," ucap Noah, sambil berlalu pergi meninggalkan mereka di depan gerbang.
"Iya, Sayang!" jawab Halwa.
Halwa menoleh ke arah Dimas, dia sangat kesal, karena Dimas tidak bisa mengontrol emosinya di depan Noah.
"Pak Reyhan ini hanya mengantar saya saja! Kami tidak memiliki hubungan apapun," jelasnya.
"Tapi, tetap saja itu salah!" bentak Dimas.
"Tolong, jangan bentak istri Anda! Dia tidak bersalah! Saya hanya mengantarkan pulang saja, tidak lebih!" jelas Reyhan.
"Tutup mulut kamu," marah Dimas, dan dia melayangkan bogemnya ke muka Reyhan.
BUGH ..
Reyhan tersungkur dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Hentikan, Apa yang kamu lakukan?" tanya Halwa kepada Dimas.
"Sudah jelas bagiku, bahwa kau memang berselingkuh!" tuduhnya kepada istri pertamanya.
"Bukankah aku sudah tidak memiliki arti apapun bagimu?" tanya Halwa. "Lalu, kenapa kau marah?" tantang Halwa.
"Apa kau bilang?" Dimas menatap tajam ke arah Halwa, "Jadi kau menantang ku?" ancam Dimas tersenyum sinis.
"Bukankah kau sendiri yang bilang, aku sudah tidak ada artinya apapun untukmu! Jadi, kenapa kau harus marah?" tanya Halwa tidak kalah sengitnya.
Reyhan berdiri dari tempatnya terjatuh tadi. Dia tidak percaya kalau Salwa bisa berbicara dengan nada tinggi kepada Dimas. Terakhir kali Reyhan bertemu dengan Salwa, saat dia mengantarkan Salwa pulang karena kehujanan. Dimas yang cemburu langsung memarahi dan menghina Salwa, namun Salwa hanya diam, dia tidak pernah berani menjawab ataupun menatap manik suaminya. Salwa hanya menunduk tidak berdaya, mendengarkan kata-kata kasar Dimas. Namun kali ini dia melihat sendiri, Salwa menegakkan kepala, menjawab setiap pertanyaan dari Dimas.
"Aku bukan boneka, yang harus menuruti setiap kata-katamu! Aku manusia yang memiliki perasaan," teriak Halwa. "Jika memang kau sudah tidak menginginkan aku lagi sebaiknya kita berpisah! Ceraikan saja aku! Aku dan Noah akan pergi dari rumah ini," tegasnya menatap tajam ke arah Dimas. Seketika hujan deras turun dan membasahi ke tiga manusia yang sedang berdebat ini.
Halwa hendak masuk ke rumah, namun tangannya di tarik oleh Dimas dan dia langsung memeluk istri pertamanya. Dimas memeluk dengan erat, seakan-akan dia tidak rela melepaskan Salwa. Halwa berusaha untuk melepaskan pelukan Dimas, namun sangat susah karena Dimas memeluk Salwa dengan sangat erat.
"Biarkan begini dulu," pintanya kepada Halwa. Dimas sangat merindukan pelukan hangat dari istri pertamanya.
Reyhan yang melihat kejadian mesra tersebut, memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang sedang dibanjiri oleh air hujan. Reyhan memukul-mukul kemudi mobil, ada rasa sakit di hati melihat wanita yang sangat dia cintai harus di peluk oleh suaminya.
Rumah Sakit
Adam menemani Salwa yang masih terbaring koma di Rumah Sakit. Sambil memainkan ponsel, dia duduk di dekat tempat tidur Salwa. Ada pergerakan dari tangan Salwa, Adam bisa melihatnya. Dia langsung memanggil Dokter untuk segera memeriksa. Sang Dokter datang, dan dia memulai untuk mengecek kondisi pasien. Mengecek tensi darah dan denyut jantung. Semua sudah normal, namun Salwa masih belum membuka matanya.
"Ada apa dengannya, Dok?" tanya Adam kepada Dokter.
"Mungkin dia ingin membuka matanya namun hatinya masih enggan untuk membuka! Kemungkinan, pasien mengalami beban mental yang berat, sebelum kecelakaan dan koma," jelas Dokter kepada Adam.
"Sampai kapan dia akan seperti ini, Dok?" tanya Adam lagi.
"Itu tergantung pasien, Pak! Kita harus membantunya sadar dari sini, dengan cara menceritakan kisah-kisah yang membekas dalam hidupnya atau juga bisa cerita yang membuatnya bahagia! Mungkin dengan itu, dia memiliki keinginan untuk sembuh," jelas Dokter panjang lebar.
"Terima kasih banyak, Dok," ucap Adam.
"Sama-sama, Pak! Saya permisi dulu," ucap Dokter.
"Silahkan," perkembangan yang lumayan bagus, Adam sampaikan kepada nona mudanya. Halwa sangat bahagia, meskipun hanya sedikit, dia percaya kalau suatu saat nanti saudaranya bisa sembuh.
to be continued....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Helen Nirawan
amit2 gw py laki model gini , buang ke laut aj sono isshh
2024-09-29
0
X'tine
semoga Salwa lekas siuman...
2024-07-06
3
Buna Seta
Lanjut say semakin sukses msmpir juga ya KAU LUPA ANAK ISTRI MU
2022-04-04
8