Keesokkan paginya
Melihat kepergian Dimas dan Anita, Halwa mengendap-endap masuk ke kamar mereka. Dulu, kamar ini adalah kamar Dimas dan Salwa. Namun semenjak Salwa menghilang selama enam bulan, kamar ini berubah menjadi kamar Dimas dan Anita. Halwa masih belum tahu, apa penyebab Dimas begitu dingin dan membenci Salwa. Dari sinilah, dia ingin mencari petunjuk atau informasi apapun.
Halwa mencari tiap sudut kamar ini, barang-barang milik saudara kembarnya. Namun, tidak satupun dia temukan. Semua bersih, barang-barang Salwa sudah tidak ada ditempat. Halwa pun menghentikan pencarian, dia keluar dari kamar tersebut.
DORR ..
Suara Noah mengagetkan dirinya.
"Noah? Kamu mengagetkan Mama?" manyun Halwa pura-pura kesal.
"Ha .... Ha .... Ha." tawa Noah.
"Mama sedang ngapain?" tanya Noah.
"Ehm, Mama sedang mencari sesuatu?" ucapnya, Halwa sedang berfikir mencari jawaban yang pas untuk putra cerdasnya ini.
"Mama sedang mencari barang-barang Mama yang tertinggal di sini!" elaknya.
"Apakah Mama mencari ponsel?" tanya Noah.
"Ponsel? Dimana ponsel Mama?" tanya Halwa kepada Noah.
"Semua barang-barang Mama ditaruh di gudang oleh Papa," ujarnya.
"Kenapa?" tanya Halwa lagi.
"Mana Noah tahu!" jawab Noah geleng-geleng kepala.
"Dimana gudangnya?" tanya Halwa.
"Di sana!" tunjuk Noah, ke ruangan dibelakang rumah ini yang berfungsi sebagai gudang, tempat untuk menyimpan barang-barang yang sudah tidak di pakai lagi.
Halwa membuka pintu gudang tersebut, banyak sekali barang-barang yang diletakkan di sana. Termasuk foto besar, foto pernikahan Dimas dan Salwa.
"Dia benar-benar sudah melupakan Salwa! Bahkan dia sudah menghapus semua jejak istri pertamanya! Suami macam apa dia?" batinnya.
Halwa menemukan ponsel yang sudah mati milik Salwa, dia juga menemukan buku harian milik saudara kembarnya yang kotor dan berdebu. Dia menyimpan, dan menyuruh Noah untuk keluar dari gudang tersebut, karena terlalu kotor dan berdebu. Dikamar Noah, Halwa berusaha untuk menghidupkan ponsel tersebut, namun ponselnya mati. Ia pun mengisi daya baterai terlebih dahulu.
"Sayang! Mama mau keluar sebentar! Apakah kau tidak apa-apa Mama tinggal sendiri di rumah?" tanya Halwa, dia tidak mungkin membawa Noah pergi bersamanya.
"Mama mau kemana? Kenapa Noah tidak boleh ikut?" tanya Noah penasaran.
"Mama ada urusan, Sayang! Mama janji, setelah urusan Mama selesai, Mama akan secepatnya pulang!" jawab Halwa, ada sedikit kesedihan di hati Noah, Halwa tahu itu.
"Mama mau membelikan Noah mainan robot-robotan! Bukankah Noah menginginkan robot Transformer yang sedang ngetrend itu?"
"Benarkah, Ma?" tanya Noah sangat senang, karena sebentar lagi dirinya akan memiliki robot-robotan yang selama ini ia inginkan.
"He'em! Mama janji!" ucapnya.
"Baiklah, hati-hati ya, Ma!" kata Noah, sambil memeluk Mamanya.
Halwa pun langsung keluar rumah untuk menemui seseorang dengan membawa ponsel tersebut. Dia harus memastikan tidak diikuti oleh seseorang, namun ditengah perjalanan dia merasa ada sebuah mobil yang terus mengikutinya. Ia langsung menelfon Adam untuk meminta bantuan, karena dia tidak mau kalau rahasianya harus terbongkar hari ini juga.
Dalam waktu beberapa menit, asisten Adam mengarahkan Nona mudanya, agar taksi yang ditumpangi berbelok di persimpangan jalan. Halwa pun mengikuti arahan Adam, dia menyuruh sang sopir taksi untuk berbelok di persimpangan, karena sang Asisten sudah menunggu di persimpangan itu. Mobil yang terus mengikuti, dihadang oleh truk besar berisi muatan. Halwa menyuruh Pak Sopir untuk berhenti, setelah membayar ongkos taksi tersebut, ia berpindah ke mobil asistennya. Adam melajukan mobil dengan kecepatan tinggi seperti seorang pembalap profesional.
"Siapa dia, Nona?" tanya Adam.
"Entahlah, Asisten Adam! Aku tidak tahu! Sepertinya, orang itu sengaja diperintahkan untuk menyelidiki ku," ujarnya.
"Apakah mereka mulai curiga?" tanyanya lagi.
"Mungkin! Yang jelas, orang ini pasti ada kaitannya dengan kasus kecelakaan saudaraku," jawabnya lagi.
"Nona harus berhati-hati! Mereka bukan orang sembarangan, Nona!" saran Adam.
"Terima kasih! Kamu sudah mengingatkanku soal ini!" jawabnya. "Oh, iya, Tolong kau bongkar isi ponsel Salwa!" perintahnya, sambil menyerahkan ponsel milik Salwa.
"Baik, Nona!" jawabnya.
Tidak terasa mobil yang dikendarai Adam sudah sampai di Rumah Sakit. Halwa langsung menemui saudara kembarnya. Dia mencium kening Salwa, dan selalu mendoakan Salwa agar cepat sehat. Ia teringat, kalau hari ini ia merekam suara Noah. Dia ingin memutar rekaman tersebut, agar Salwa juga ikut mendengarkannya. Di rekaman tersebut Noah bercerita banyak hal, dia juga sangat suka bernyanyi dan menari, sesuai dengan anak seusianya yang masih suka bermain dan bergembira.
Tidak terasa, Salwa meneteskan air mata. Namun kedua mata masih enggan untuk membuka. Dia begitu bergembira, ada reaksi batin dari saudara kembarnya.
"Sekarang aku tahu, kau sangat mencemaskan putramu," ujarnya. "Aku berjanji, aku akan menjaganya dengan segenap jiwa dan raga ku," cakapnya, sambil menggenggam tangan saudara kembarnya.
Sepulangnya dari Rumah Sakit, Halwa mengingat janji yang di ucapkannya kepada Noah. Dia pergi ke sebuah toko mainan yang sangat terkenal di kota Jakarta, tempatnya sangat besar dan sangat mewah. Mainan-mainan yang dijual bukan mainan sembarangan. Semua barang bermerek mahal. Halwa membeli robot-robotan, mainan yang diinginkan Noah.
Setelah mendapatkan mainan yang diinginkan, Halwa langsung pulang ke rumah dengan menggunakan taksi. Dia tersenyum bahagia, karena sebentar lagi Noah akan mendapatkan mainan baru. Tidak terasa taksi yang ditumpangi sudah sampai didepan gerbang, ia membayar ongkos taksi dan langsung masuk ke rumah besar itu. Halwa mendengar Noah menangis, ia langsung berlari masuk ke dalam. Saat Anita hendak menampar Noah, Halwa langsung mencengkram erat tangan Anita, dan menepis dengan kasar.
"Jangan pernah menyentuh putraku!" murkanya, dia menatap Anita dengan tatapan membunuh.
"Hiks ... hiks .... hiks." tangis Noah meminta perlindungan.
"Ada apa, Sayang?" tanya Halwa kepada putranya.
"Noah tidak sengaja menyenggol guci milik Mama Anita," ujarnya sambil terisak.
"Dia sudah membuat guciku pecah! Kau tahu berapa harganya? Lima ratus juta! Dan dia sangat membuatku marah," kesal Anita.
"Demi guci, kau sampai mau main tangan dengan putraku! Apakah kau sudah tidak waras?" berangnya.
"Dia pantas menerimanya! Karena dia sudah membuatku kehilangan uang ratusan juta," teriaknya.
"Dia tidak sengaja! Dia hanyalah anak kecil, jadi, berhentilah menyalahkannya!" ucap Halwa.
"Tidak, aku tidak terima semua ini! Dia harus menerima hukuman," marah Anita. Noah yang merasa ketakutan, berdiri dibelakang Mamanya. Anita hendak menarik tangan Noah, namun tangan Anita dipelintir oleh Halwa.
"Selama ini aku diam! Tapi, kali ini aku tidak akan diam! Karena, kau berusaha menyakiti putraku!" ancamnya. "Aku tahu, kau kan yang selama ini berusaha menyakiti putraku! Sekarang, aku tidak akan membiarkan kau menyakitinya lagi!" tegas Halwa.
Kemudian Halwa menggandeng tangan Noah, untuk masuk ke kamar. Anita tidak percaya dengan apa yang dia dengar dan dia lihat. Salwa sudah berani mengancam, padahal selama ini dia selalu terlihat lemah dan tidak berdaya.
"Apakah aku tidak salah dengar? Dia berani mengancam ku? Apakah dia itu benar-benar Salwa?" ucap Anita berdialog dengan dirinya sendiri.
to be continued....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
G** Bp
bukan hanya sekedar mengancam bahkan membunuhmu sekalipun dia berani..
2024-08-06
0
Riesti Anny
makin seru ,,, lanjuuut part selanjutnya 🤗
2022-06-07
6
Alanna Th
jngn balikn salwa pd dimas, thor, walaupun ia nanti bakal mnyesal 🙏😞😰
2022-06-06
0