PB 9. Memasuki Usia Dewasa

Saat ini usiaku sudah beranjak dewasa, tepatnya sudah menjalani usia yang ke 22 tahun. Terkadang tubuhku masih merinding mengingat kehidupanku yang sebelumnya. Setiap hari aku melalui kehidupan di Mansion ini, aku selalu mengingat kejadian kelam kecelakaan itu. Dalam hatiku ini selalu bertanya akankah di kehidupanku yang kedua ini akan berakhir juga dengan tragis.

Aku kembali memandangi tubuhku di depan cermin. Dikehidupanku yang sebelumnya, tubuhku tidak cantik-cantik amat. Saat ini aku mendapati tubuhku juga tidak terlalu tinggi sepadan dengan ukuran tinggi wanita pada umumnya, di usiaku yang ke 22 tahun ini tinggiku sudah mencapai 165 cm, dengan hidungku yang bangir tidak mancung juga tidak masuk kedalam dengan bibir yang seksi serta pipi yang padat.

“Lumayan juga penampilan tubuhku ini, bahkan dadaku sangat berisi, beda jauh dengan tubuhku yang sebelumnya, aku tidak menyangka bisa memiliki dada dengan ukuran cup C, padahal yang sebelumnya hanya cup A, oh.. apa yang aku pikirkan” gumamku memandangi tubuhku di depan cermin, saat ini tubuhku sudah setengah bugil.

“Putri, Bos sudah menunggu anda di area latihan menembak” sahut seorang pelayan wanita membuyarkan lamunanku, dia pelayan wanita yang sudah terbiasa membantu merapikan tubuhku di dalam kamar pribadiku, nama pelayan wanita ini adalah Emil pelayan pribadiku.

“Kenapa kau memberikan pakaian ini, aku tidak akan memakainya, bahkan pakaian ini terlihat sempit” sahutku pada Emil.

“Bisa-bisanya Emil memberikan pakaian seksi” gumamku kesal.

“Maaf Putri, di zaman sekarang pakaian wanita sudah seperti ini modelnya, apa Putri mau ketinggalan zaman dengan wanita-wanita yang ada di Kota” sahut Emil.

“Kau tidak perlu memberitahuku untuk masalah fashion, aku tahu pakaian tren zaman sekarang, aku juga tidak akan keluar dari Mansion ini, tolong hilangkan pakaian ini dari lemariku Emil” sahutku padanya.

“Baik Putri, saya tidak akan menaruh pakaian ini lagi” sahut Emil merapikan semua pakaian baru yang aku yakin pakaian itu sengaja dibeli oleh ibuku.

“Di kehidupanku sebelumnya aku seorang desainer, bahkan aku sengaja kuliah mengambil jurusan desain hanya untuk membanggakan orang tuaku. Walau aku terlahir kembali, tanganku ini masih bisa merancang sebuah gaun. Berarti Tuhan tidak menghilangkan bakatku” gumamku merapikan diri dengan pakaian biasa yang aku pakai.

Tidak berapa lama ibuku sudah masuk kedalam kamarku.

“Kenapa semua pakaian itu kamu rapikan” tanya ibuku pada Emil.

“Anu nyonya, ini perintah dari Putri” sahut pelayan itu merasa bersalah, dia masih kebingungan berdiri mematung memegangi pakaian baruku.

“Ibu, aku yang menyuruhnya membawa pakaian itu keluar” sahutku saat ibu melangkah mendekat padaku. Aku memainkan jariku pada Emil, agar dia segera membawa pakaian itu keluar dari kamarku. Emil langsung menunduk pertanda dia sudah boleh keluar karena ucapanku pada ibu serta jentikan jariku.

“Sia, kau sudah dewasa, selama ini kau hanya berdiam diri di Mansion ini, bahkan ayahmu melarang identitasmu terbongkar keluar. Apa kau tidak ingin terlihat cantik dengan model pakaian terbaru. Setidaknya saat pria asing berkunjung ke Mansion ini, dia melirikmu karena kau anak yang sudah maju sama dengan anak gadis yang ada di Kota” sahut ibu panjang lebar mengkhawatirkan diriku.

“Ibu, kenapa ibu mengkhawatirkan hal yang tidak berguna begitu” sahutku pada ibu. Ibu langsung memegangi wajahku dengan kedua tangannya, dia menatap dan memperhatikan wajahku.

“Putriku ini sangat cantik, sayangnya sampai sekarang kau bahkan belum memiliki seorang kekasih, ibu mana yang tidak khawatir kalau anak gadisnya masih juga melajang dan perawan tua di usianya yang sudah dewasa” sahut ibu kembali.

“Ibu, tidak perlu repot mengurusi masalah seperti itu, putri ibu ini masih berusia 22 tahun, masih banyak waktu yang tersisa untuk mendapatkan sorang kekasih” sahutku pada ibu.

“Ya ampun, putriku ini tidak ada rasa khawatir tidak mendapatkan kekasih” sahut ibu kembali mencemaskan aku.

“Ibu, ayah sudah menungguku, aku harus menghadap padanya” sahutku pada ibu, agar dia segera mengakhiri perbincangannya mengenai seorang pria. Aku ingat sejak usiaku 18 tahun, ibu selalu menjodohkanku dengan pria-pria asing, bahkan dia membawa semua foto-foto pria itu, mengatakan pria itu anak pengusaha, anak pebisnis, hingga pria berumur yang belum menikah. Aku sudah bosan membahas hal itu pada ibu. Aku lupa mengatakan bahwa di Kota Boma yang masih terlihat kota kecil masih saja pemikiran dari masyarakatnya yang tertutup, setiap anak gadis di kota kecil ini yang berusia 18 tahun sudah segera dinikahkan.

“Pergilah temui ayahmu” perintah ibu.

Aku langsung keluar dari kamar menuju halaman belakang Mansion. Aku sudah melihat ayahku sedang berdiri memainkan pistol-pistol kesayangannya.

“Dor ... dor ....” suara tembakan pistol itu sudah mengisi area latihan. Aku sudah terbiasa mendengar suara ini.

Setibanya aku di tempat latihan, segala jenis senjata api mulai dari jenis revolver hingga desert eagle sudah tergeletak di meja latihan.

“Kau sudah tiba” sahut ayahku meletakkan pistolnya, saat aku menghampirinya.

“Sudah ayah” sahutku memeluk tubuh ayahku.

“Kau sudah dewasa, untungnya kita masih di area Mansion ini, kalau sampai keluar bisa-bisa orang-orang akan mengataimu” sahut ayahku melepas pelukanku.

“Aku ini Putrimu, tidak peduli dengan orang-orang di luar sana” sahutku, aku langsung duduk dikursi.

“Sia, sebentar lagi kau sudah menikah, jagalah sikapmu” sahut ayahku melap tangannya dengan handuk pembersih. Pelayan pria sudah datang membawa minuman. Ayahku langsung meminum minuman itu.

“Ada apa dengan ayah, kenapa bahas menikah” gumamku.

“Kenapa kau duduk, beranjaklah dari kursimu. Ayah tidak punya banyak waktu, sebentar lagi ayah harus beranjak ke Kota Kenya” perintah ayahku.

“Baiklah ayah” sahutku.

Mendengar ayah bicara serius, aku langsung beranjak dari kursiku, kalau dia sudah serius aku tidak boleh menganggap dia sebagai ayahku. Saat ini dia adalah pelatihku, kalau aku salah hukuman ringan adalah push-up selain itu, aku akan mendapatkan ada banyak permainan hukuman darinya. Bila aku mengingat hukuman dari ayah, aku lebih memilih untuk tidak melakukan kesalahan.

Pistol jenis desert eagle sudah kuraih, aku sudah berdiri dengan kaki yang menapak kuat pada tanah, kakiku kuarahkan selebar bahu dan lututku sedikit menekuk. Pistol itu sudah kuarahkan sejajar dengan wajahku. Target yang akan kutembak sudah kubidik, tidak berapa lama jari telunjuk tangan kananku menekan pelatuk pistol.

“Dor ... dor ....” Suara tembakan keluar dari pistol yang kupegang.

“Dor ... dor ....” Kembali kutekan pelatuk pistol itu, aku yakin sasaranku tidak pas dengan target.

“Stop!” Perintah ayahku. Aku langsung meletakkan pistol eagle itu ke atas meja.

Sementara ayah, dia sudah memerintahkan Jordi untuk melihat jumlah sasaran yang bisa aku tembus. Kebetulan sedari tadi Jordi selalu berada di area latihan menembak.

Aku langsung menarik nafas, sedari tadi aku menahan nafas, aku tidak tahu ini latihanku yang keberapa, setiap latihan pasti tidak tepat sasaran. Aku sudah menghabiskan 10 peluru dari pistol itu.

“9, 7, 5, 0 ....” teriak Jordi melambaikan tangan.

“Dari sekian peluru yang sudah terbuang, hanya satu yang tepat sasaran” sahut ayah kecewa padaku. Aku hanya terdiam.

“Aku selalu bilang padamu untuk konsentrasi penuh. Konsentrasi saat menekan pelatuk hingga pistol menembak, seperti ini” sahut ayahku memperagakan cara konsentrasi penuh.

“Dor ... dor ....” Ayahku langsung menekan pelatuk pistolnya.

Tidak berapa lama, setelah tembakan dari ayahku selesai Jordi langsung mencek hasil sasaran dari tembakan ayah barusan.

“0,0, sempurna ....” Teriak Jordi dari tempat sasaran melambaikan tangan.

Dua peluru yang di tembakkan ayah keduanya tepat sasaran. Aku tidak heran lagi dengan kemampuan ayahku ini, dia sangat luar biasa, kelak aku juga ingin memiliki suami seperti ayah.

“Kenapa kau bengong, kau ambillah sikapmu” perintah ayah menghukumku.

“Aih, ini hukuman yang tidak aku suka” gerutuku pelan.

“Kau mau membantah” sahut ayah, ternyata ayah mendengar gerutuku.

“Tidak ayah, aku akan melakukannya” sahutku melakukan hukuman menahan berat tubuhku dengan kedua tanganku. Hukuman ini mengatur ketahanan otot tangan. Ayah sengaja menghukumku dengan cara ini agar tanganku tidak gemetar saat menarik pelatuk pistol, bagaimanapun aku seorang perempuan berbeda dengan pria, pria memiliki mental lebih dan juga lebih cepat beradaptasi dengan senjata api.

Bersambung..................

Hai Reader terima kasih sudah mampir, jangan lupa jadiin favorit untuk up selanjutnya, 😊

Oya tinggalin like dan komentar kalian😊

See You 👋👋👋

Terpopuler

Comments

Oki Indriani

Oki Indriani

aku udah mampir nih kak, ceritanya keren, aku bacanya nyicil dulu ya kak setiap episode juga udah ku like, rate 5 juga, mari saling support kak 😅

2020-06-27

1

K y⃟    ◂▸ yᵘⁿɑ ༆

K y⃟ ◂▸ yᵘⁿɑ ༆

lanjutt

2020-05-12

1

💞🌜Dewi Kirana

💞🌜Dewi Kirana

semangat thor lanjutkan

2020-05-12

1

lihat semua
Episodes
1 PB 1. Pacarku Yang Sebenarnya
2 PB 2. Terpaksa Menjalani Pertunangan
3 PB 3. Masih Diberi Hidup Kedua
4 PB 4. Terlahir Kembali di Keluarga Boma
5 PB 5. Cara Ibu Melindungiku
6 PB 6. Pengakuan Sebagai Putri dari Kerajaan Boma
7 PB 7. Pengakuan Sebagai Putri Boma
8 PB 8. Aslan Manusia Berwujud Singa
9 PB 9. Memasuki Usia Dewasa
10 PB 10. Perintah Melaksanakan Misi
11 PB 11. Nama Samaran Sebagai Golda
12 PB 12. Pertemuan Pertama dengan CEO Perusahaan Xevran
13 PB 13. Mengukur Tubuh Pria Pembersih
14 PB 14. Penyerangan di Butik
15 PB 15. Gaun Terakhir Putri Boma
16 PB 16. Bertemu Lagi dengan Kekasihku yang Berhianat
17 PB 17. Bar Hotel
18 PB 18. Penyusup di Bar Hotel
19 PB 19. Wangi Tubuh Wanita Itu Sama dengan Golda
20 PB 20. Sakit Karena Demam
21 PB 21. Sampai Kapan Gadis Ini Berbohong
22 PB 22. Gadis Ceroboh
23 PB 23. Undangan Ulang Tahun
24 PB 24. Para Pria Mesum
25 PB 25. Gadis Yang Agresif
26 PB 26. Pria Sinting Minta Pertanggungjawaban
27 PB 27. Tranding Topik
28 PB 28. Menyamar
29 PB 29. Ciuman Pertama
30 PB 30. Klasifikasi
31 PB 31. Wanita Ini Lumayan Juga
32 PB 32. Serangan Dalam Perjalanan
33 PB 33. Kasino
34 PB 34. Sandiwara
35 PB 35
36 PB 36
37 PB 37
38 PB 38
39 PB 39
40 PB 40
41 PB 41
42 PB 42
43 PB 43
44 PB 44
45 PB 45
46 PB 46
47 PB 47
48 PB 48
49 PB 49
50 PB 50
51 PB 51
52 PB 52
53 PB 53
54 PB 54
55 PB 55
56 PB 56
57 PB 57
58 PB 58
59 PB 59
60 PB 60
61 PB 61
62 PB 62
63 PB 63
64 PB 64
65 PB 65
66 PB 66
67 PB 67
68 PB 68
69 PB 69
70 PB 70
71 PB 71
72 PB 72
73 PB 73
74 PB 74
75 PB 75
76 PB 76
77 PB 77
78 PB 78
79 PB 79
80 PB 80
81 PB 81
82 PB 82
83 PB 83
84 PB 84
85 PB 85
86 PB 86
87 PB 87
88 PB 88
89 PB 89
90 PB. 90
91 PB. 91
92 PB. 92
93 PB 93
94 PB 94
95 PB 95
96 PB 96
Episodes

Updated 96 Episodes

1
PB 1. Pacarku Yang Sebenarnya
2
PB 2. Terpaksa Menjalani Pertunangan
3
PB 3. Masih Diberi Hidup Kedua
4
PB 4. Terlahir Kembali di Keluarga Boma
5
PB 5. Cara Ibu Melindungiku
6
PB 6. Pengakuan Sebagai Putri dari Kerajaan Boma
7
PB 7. Pengakuan Sebagai Putri Boma
8
PB 8. Aslan Manusia Berwujud Singa
9
PB 9. Memasuki Usia Dewasa
10
PB 10. Perintah Melaksanakan Misi
11
PB 11. Nama Samaran Sebagai Golda
12
PB 12. Pertemuan Pertama dengan CEO Perusahaan Xevran
13
PB 13. Mengukur Tubuh Pria Pembersih
14
PB 14. Penyerangan di Butik
15
PB 15. Gaun Terakhir Putri Boma
16
PB 16. Bertemu Lagi dengan Kekasihku yang Berhianat
17
PB 17. Bar Hotel
18
PB 18. Penyusup di Bar Hotel
19
PB 19. Wangi Tubuh Wanita Itu Sama dengan Golda
20
PB 20. Sakit Karena Demam
21
PB 21. Sampai Kapan Gadis Ini Berbohong
22
PB 22. Gadis Ceroboh
23
PB 23. Undangan Ulang Tahun
24
PB 24. Para Pria Mesum
25
PB 25. Gadis Yang Agresif
26
PB 26. Pria Sinting Minta Pertanggungjawaban
27
PB 27. Tranding Topik
28
PB 28. Menyamar
29
PB 29. Ciuman Pertama
30
PB 30. Klasifikasi
31
PB 31. Wanita Ini Lumayan Juga
32
PB 32. Serangan Dalam Perjalanan
33
PB 33. Kasino
34
PB 34. Sandiwara
35
PB 35
36
PB 36
37
PB 37
38
PB 38
39
PB 39
40
PB 40
41
PB 41
42
PB 42
43
PB 43
44
PB 44
45
PB 45
46
PB 46
47
PB 47
48
PB 48
49
PB 49
50
PB 50
51
PB 51
52
PB 52
53
PB 53
54
PB 54
55
PB 55
56
PB 56
57
PB 57
58
PB 58
59
PB 59
60
PB 60
61
PB 61
62
PB 62
63
PB 63
64
PB 64
65
PB 65
66
PB 66
67
PB 67
68
PB 68
69
PB 69
70
PB 70
71
PB 71
72
PB 72
73
PB 73
74
PB 74
75
PB 75
76
PB 76
77
PB 77
78
PB 78
79
PB 79
80
PB 80
81
PB 81
82
PB 82
83
PB 83
84
PB 84
85
PB 85
86
PB 86
87
PB 87
88
PB 88
89
PB 89
90
PB. 90
91
PB. 91
92
PB. 92
93
PB 93
94
PB 94
95
PB 95
96
PB 96

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!