Saat ini usiaku sudah beranjak dewasa, tepatnya sudah menjalani usia yang ke 22 tahun. Terkadang tubuhku masih merinding mengingat kehidupanku yang sebelumnya. Setiap hari aku melalui kehidupan di Mansion ini, aku selalu mengingat kejadian kelam kecelakaan itu. Dalam hatiku ini selalu bertanya akankah di kehidupanku yang kedua ini akan berakhir juga dengan tragis.
Aku kembali memandangi tubuhku di depan cermin. Dikehidupanku yang sebelumnya, tubuhku tidak cantik-cantik amat. Saat ini aku mendapati tubuhku juga tidak terlalu tinggi sepadan dengan ukuran tinggi wanita pada umumnya, di usiaku yang ke 22 tahun ini tinggiku sudah mencapai 165 cm, dengan hidungku yang bangir tidak mancung juga tidak masuk kedalam dengan bibir yang seksi serta pipi yang padat.
“Lumayan juga penampilan tubuhku ini, bahkan dadaku sangat berisi, beda jauh dengan tubuhku yang sebelumnya, aku tidak menyangka bisa memiliki dada dengan ukuran cup C, padahal yang sebelumnya hanya cup A, oh.. apa yang aku pikirkan” gumamku memandangi tubuhku di depan cermin, saat ini tubuhku sudah setengah bugil.
“Putri, Bos sudah menunggu anda di area latihan menembak” sahut seorang pelayan wanita membuyarkan lamunanku, dia pelayan wanita yang sudah terbiasa membantu merapikan tubuhku di dalam kamar pribadiku, nama pelayan wanita ini adalah Emil pelayan pribadiku.
“Kenapa kau memberikan pakaian ini, aku tidak akan memakainya, bahkan pakaian ini terlihat sempit” sahutku pada Emil.
“Bisa-bisanya Emil memberikan pakaian seksi” gumamku kesal.
“Maaf Putri, di zaman sekarang pakaian wanita sudah seperti ini modelnya, apa Putri mau ketinggalan zaman dengan wanita-wanita yang ada di Kota” sahut Emil.
“Kau tidak perlu memberitahuku untuk masalah fashion, aku tahu pakaian tren zaman sekarang, aku juga tidak akan keluar dari Mansion ini, tolong hilangkan pakaian ini dari lemariku Emil” sahutku padanya.
“Baik Putri, saya tidak akan menaruh pakaian ini lagi” sahut Emil merapikan semua pakaian baru yang aku yakin pakaian itu sengaja dibeli oleh ibuku.
“Di kehidupanku sebelumnya aku seorang desainer, bahkan aku sengaja kuliah mengambil jurusan desain hanya untuk membanggakan orang tuaku. Walau aku terlahir kembali, tanganku ini masih bisa merancang sebuah gaun. Berarti Tuhan tidak menghilangkan bakatku” gumamku merapikan diri dengan pakaian biasa yang aku pakai.
Tidak berapa lama ibuku sudah masuk kedalam kamarku.
“Kenapa semua pakaian itu kamu rapikan” tanya ibuku pada Emil.
“Anu nyonya, ini perintah dari Putri” sahut pelayan itu merasa bersalah, dia masih kebingungan berdiri mematung memegangi pakaian baruku.
“Ibu, aku yang menyuruhnya membawa pakaian itu keluar” sahutku saat ibu melangkah mendekat padaku. Aku memainkan jariku pada Emil, agar dia segera membawa pakaian itu keluar dari kamarku. Emil langsung menunduk pertanda dia sudah boleh keluar karena ucapanku pada ibu serta jentikan jariku.
“Sia, kau sudah dewasa, selama ini kau hanya berdiam diri di Mansion ini, bahkan ayahmu melarang identitasmu terbongkar keluar. Apa kau tidak ingin terlihat cantik dengan model pakaian terbaru. Setidaknya saat pria asing berkunjung ke Mansion ini, dia melirikmu karena kau anak yang sudah maju sama dengan anak gadis yang ada di Kota” sahut ibu panjang lebar mengkhawatirkan diriku.
“Ibu, kenapa ibu mengkhawatirkan hal yang tidak berguna begitu” sahutku pada ibu. Ibu langsung memegangi wajahku dengan kedua tangannya, dia menatap dan memperhatikan wajahku.
“Putriku ini sangat cantik, sayangnya sampai sekarang kau bahkan belum memiliki seorang kekasih, ibu mana yang tidak khawatir kalau anak gadisnya masih juga melajang dan perawan tua di usianya yang sudah dewasa” sahut ibu kembali.
“Ibu, tidak perlu repot mengurusi masalah seperti itu, putri ibu ini masih berusia 22 tahun, masih banyak waktu yang tersisa untuk mendapatkan sorang kekasih” sahutku pada ibu.
“Ya ampun, putriku ini tidak ada rasa khawatir tidak mendapatkan kekasih” sahut ibu kembali mencemaskan aku.
“Ibu, ayah sudah menungguku, aku harus menghadap padanya” sahutku pada ibu, agar dia segera mengakhiri perbincangannya mengenai seorang pria. Aku ingat sejak usiaku 18 tahun, ibu selalu menjodohkanku dengan pria-pria asing, bahkan dia membawa semua foto-foto pria itu, mengatakan pria itu anak pengusaha, anak pebisnis, hingga pria berumur yang belum menikah. Aku sudah bosan membahas hal itu pada ibu. Aku lupa mengatakan bahwa di Kota Boma yang masih terlihat kota kecil masih saja pemikiran dari masyarakatnya yang tertutup, setiap anak gadis di kota kecil ini yang berusia 18 tahun sudah segera dinikahkan.
“Pergilah temui ayahmu” perintah ibu.
Aku langsung keluar dari kamar menuju halaman belakang Mansion. Aku sudah melihat ayahku sedang berdiri memainkan pistol-pistol kesayangannya.
“Dor ... dor ....” suara tembakan pistol itu sudah mengisi area latihan. Aku sudah terbiasa mendengar suara ini.
Setibanya aku di tempat latihan, segala jenis senjata api mulai dari jenis revolver hingga desert eagle sudah tergeletak di meja latihan.
“Kau sudah tiba” sahut ayahku meletakkan pistolnya, saat aku menghampirinya.
“Sudah ayah” sahutku memeluk tubuh ayahku.
“Kau sudah dewasa, untungnya kita masih di area Mansion ini, kalau sampai keluar bisa-bisa orang-orang akan mengataimu” sahut ayahku melepas pelukanku.
“Aku ini Putrimu, tidak peduli dengan orang-orang di luar sana” sahutku, aku langsung duduk dikursi.
“Sia, sebentar lagi kau sudah menikah, jagalah sikapmu” sahut ayahku melap tangannya dengan handuk pembersih. Pelayan pria sudah datang membawa minuman. Ayahku langsung meminum minuman itu.
“Ada apa dengan ayah, kenapa bahas menikah” gumamku.
“Kenapa kau duduk, beranjaklah dari kursimu. Ayah tidak punya banyak waktu, sebentar lagi ayah harus beranjak ke Kota Kenya” perintah ayahku.
“Baiklah ayah” sahutku.
Mendengar ayah bicara serius, aku langsung beranjak dari kursiku, kalau dia sudah serius aku tidak boleh menganggap dia sebagai ayahku. Saat ini dia adalah pelatihku, kalau aku salah hukuman ringan adalah push-up selain itu, aku akan mendapatkan ada banyak permainan hukuman darinya. Bila aku mengingat hukuman dari ayah, aku lebih memilih untuk tidak melakukan kesalahan.
Pistol jenis desert eagle sudah kuraih, aku sudah berdiri dengan kaki yang menapak kuat pada tanah, kakiku kuarahkan selebar bahu dan lututku sedikit menekuk. Pistol itu sudah kuarahkan sejajar dengan wajahku. Target yang akan kutembak sudah kubidik, tidak berapa lama jari telunjuk tangan kananku menekan pelatuk pistol.
“Dor ... dor ....” Suara tembakan keluar dari pistol yang kupegang.
“Dor ... dor ....” Kembali kutekan pelatuk pistol itu, aku yakin sasaranku tidak pas dengan target.
“Stop!” Perintah ayahku. Aku langsung meletakkan pistol eagle itu ke atas meja.
Sementara ayah, dia sudah memerintahkan Jordi untuk melihat jumlah sasaran yang bisa aku tembus. Kebetulan sedari tadi Jordi selalu berada di area latihan menembak.
Aku langsung menarik nafas, sedari tadi aku menahan nafas, aku tidak tahu ini latihanku yang keberapa, setiap latihan pasti tidak tepat sasaran. Aku sudah menghabiskan 10 peluru dari pistol itu.
“9, 7, 5, 0 ....” teriak Jordi melambaikan tangan.
“Dari sekian peluru yang sudah terbuang, hanya satu yang tepat sasaran” sahut ayah kecewa padaku. Aku hanya terdiam.
“Aku selalu bilang padamu untuk konsentrasi penuh. Konsentrasi saat menekan pelatuk hingga pistol menembak, seperti ini” sahut ayahku memperagakan cara konsentrasi penuh.
“Dor ... dor ....” Ayahku langsung menekan pelatuk pistolnya.
Tidak berapa lama, setelah tembakan dari ayahku selesai Jordi langsung mencek hasil sasaran dari tembakan ayah barusan.
“0,0, sempurna ....” Teriak Jordi dari tempat sasaran melambaikan tangan.
Dua peluru yang di tembakkan ayah keduanya tepat sasaran. Aku tidak heran lagi dengan kemampuan ayahku ini, dia sangat luar biasa, kelak aku juga ingin memiliki suami seperti ayah.
“Kenapa kau bengong, kau ambillah sikapmu” perintah ayah menghukumku.
“Aih, ini hukuman yang tidak aku suka” gerutuku pelan.
“Kau mau membantah” sahut ayah, ternyata ayah mendengar gerutuku.
“Tidak ayah, aku akan melakukannya” sahutku melakukan hukuman menahan berat tubuhku dengan kedua tanganku. Hukuman ini mengatur ketahanan otot tangan. Ayah sengaja menghukumku dengan cara ini agar tanganku tidak gemetar saat menarik pelatuk pistol, bagaimanapun aku seorang perempuan berbeda dengan pria, pria memiliki mental lebih dan juga lebih cepat beradaptasi dengan senjata api.
Bersambung..................
Hai Reader terima kasih sudah mampir, jangan lupa jadiin favorit untuk up selanjutnya, 😊
Oya tinggalin like dan komentar kalian😊
See You 👋👋👋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Oki Indriani
aku udah mampir nih kak, ceritanya keren, aku bacanya nyicil dulu ya kak setiap episode juga udah ku like, rate 5 juga, mari saling support kak 😅
2020-06-27
1
K y⃟ ◂▸ yᵘⁿɑ ༆
lanjutt
2020-05-12
1
💞🌜Dewi Kirana
semangat thor lanjutkan
2020-05-12
1