Keesokan harinya, benar saja sesuai perkiraanku Aslan sudah tidak bernyawa lagi, aku sangat sedih melihat tubuh Aslan akan di kuburkan menyatu dengan tanah. Tiba-tiba saja air mataku menetes saat aku ikut menguburkannya. Saat bersama Aslan aku selalu gembira, karena Aslan adalah hewan yang bisa berkomunikasi denganku, hanya saja aku tidak bisa lagi bertemu dengannya, aku sangat menyesal tidak bisa melindunginya.
Setelah aku selesai menguburkan mayat Aslan, aku langsung mengusut para pelayan yang sudah membuat tubuh Aslan membrontak kemarin. Aku masih ingat ucapan terakhir Aslan, bahwa dia sudah diberi obat, makanya tubuhnya langsung membrontak. Memang selama ini hanya Jordi yang selalu memberikan Aslan makan dan memandikan tubuh Aslan, walau dia tidak mau mandi karena tidak menyukai air, karena bujukanku dia sudah jinak dan mau dimandikan.
# Ruang Eksekusi.
Sebelumnya aku sudah menanyai Jordi mengenai makanan yang biasa dimakan oleh Aslan, aku bisa melihat dari ucapan dan tatapan Jordi, dia mengatakan kejujuran padaku. Aku memang tidak pernah meragukan dia, dia adalah orang yang setia.
Pagi itu aku memerintahkan pada Jordi untuk mengumpulkan semua pelayan yang bertugas di Mansion untuk menghadap padaku di ruangan eksekusi.
“Sisa daging ayamnya sudah kami bawa Putri” ucap pelayan wanita menghadap padaku.
Mereka terlihat kebingungan juga heran melihat diriku, mungkin mereka tidak tahu alasanku menyuruh mereka membawakan sisa daging ayam yang dimakan oleh Aslan kemarin sore.
“Jordi, tolong panggilkan Dokter keluarga” perintahku pada Jordi.
“Baik Putri” sahut Jordi, dia langsung undur diri melaksanakan perintahku.
“Apa kalian yakin tidak memberikan apapun pada Aslan kemarin selain daging ayam” sahutku pada semua pelayan.
“Tidak Putri” sahut semua pelayan.
“Setahu kami, Jordi pangawal pribadi Putrilah yang memberikan makan pada Aslan kemarin sore” ucap pelayan pria.
“Benar Putri, kami tidak menyentuh Aslan” sahut pengawal Penin bawahan Hans.
“Kalian yakin, kalau sampai aku menemukan sesuatu pada ayam itu, aku pastikan kalian tidak akan lepas dariku” tegasku pada mereka.
Aku sudah melihat wajah mereka mulai terlihat gelisah ketakutan. Aku masih ingat tatapan sinis mereka memandangku kemarin dan sebelumnya, namun sejak semalam mereka sudah terlihat ketakutan mendengar ucapanku barusan. Sangat terlihat di wajah mereka, masih tidak menyangka bahwa aku bisa membunuh manusia. Tidak berapa lama seorang wanita masih muda dia bekerja sebagai Dokter keluarga di Mansion ini, dia sudah tiba bersama Jordi.
“Saya menghadap pada Putri” sahut Dokter Mila, lebih tepatnya dia Dokter pribadi ibuku.
“Aku ingin Dokter memeriksa sisa daging ayam ini” sahutku memberikan daging ayam yang baru saja di bawa oleh pelayan wanita tadi. Saat aku memberikan daging ayam itu, betapa terkejutnya semua pelayan yang ada di hadapanku saat ini. Mereka bahkan sudah keringat dingin.
“Baik Putri” sahut Dokter Mila.
“Aku ingin hasilnya segera Dokter berikan padaku” sahutku pada Dokter Mila.
“Akan saya laksanakan Putri” sahut Dokter Mila melaksanakan pemeriksaannya pada daging ayam yang tersisa.
Semua pelayan dan pengawal sudah berbisik-bisik saling menatap. Setelah Dokter Mila menyelesaikan tugasnya, dia langsung menghadap padaku.
“Putri untuk daging ayam yang tersisa ini sudah mengandung obat untuk membuat hewan cepat gila, obat itu diberikan dengan dosis yang tinggi” jelas Dokter Mila dihadapan semua pelayan dan pengawal.
“Terima kasih Dokter Mila, anda sudah boleh pergi” sahutku pada Dokter Mila.
“Baik Putri, saya pamit” sahut Dokter Mila keluar dari ruangan eksekusi.
“Kalian sudah dengar penjelasan dari Dokter Mila” Tegasku pada semua orang yang ada di ruangan eksekusi.
“Putri maafkan kami” sahut semua pelayan wanita.
“Putri, sudah jelas yang memberikan Aslan makan daging ayam itu adalah Jordi, tidak mungkin kami semua akan mendapatkan hukuman dari Putri” sahut Penin berdalih.
“Benar Putri, kami juga sibuk kemarin sore mengurusi urusan di luar Mansion” sahut palayan pria membela Penin.
“Putri, maaf saya yang salah sudah lalai tidak memeriksa daging ayam itu kemairin sore, saya yang pantas disalahkan sudah memberikan daging ayam itu pada Aslan” ucap Jordi berlutut.
“Apa kalian tahu, akibat kelalaian kalian Aslan yang begitu baik menjadi pembrontak, bahkan ada banyak nyawa yang sudah menjadi korban dari kelalaian kalian, aku sangat tidak suka dengan orang yang tidak jujur dan berhianat” sahutku pada mereka.
“Tidak Putri, kami tidak melakukan hal keji itu” sahut para pelayan.
“Sekali lagi aku tanya pada kalian, siapa yang sudah memasukkan obat itu pada daging ayam itu” tegasku pada mereka.
“Tidak Putri, kami tidak melakukan apapun, percaya pada kami” sahut para pelayan dan pengawal. Kesabaranku sudah habis, mereka bahkan tidak ada yang jujur, padahal aku sudah memiliki bukti, mereka masih saja menyangkal. Aku langsung mendekati pengawal Penin.
“Pengawal Penin, apa kau sudah yakin bahwa kau tidak terlibat memberikan obat itu pada daging ayam itu” sahutku pelan padanya, aku bisa melihat wajahnya sudah gemetar.
“Tidak Putri saya tidak terlibat, pengawal Jordilah seharusnya yang Putri salahkan” sahut Penin. Tidak berapa lama, aku menarik pedangku dari sarungnya.
“Ttsuks ....” Pedangku menebas lengan Penin.
“Putri” sahut Penin meringis kesakitan.
“Untungnya lenganmu tidak copot” sahutku, darah Penin sudah menempel pada pedangku.
“Putri” sahut semua pelayan dan pengawal, mereka sudah ketakutan melihat tindakanku.
“Kalian masuklah” sahutku pada penyelidik pendamping ayahku.
“Lapor Putri, kami sudah menyelidiki kasus daging ayam itu. Yang menjual daging ayam itu mengenali wajah pengawal Penin yang membeli daging ayam dan kami sudah introgasi salah satu palayan wanita melihat pengawal Penin merendam ayam itu sebentar, saat pelayan wanita itu bertanya untuk apa ayam itu direndam, pengawal Penin mengatakan bahwa ayam itu hanya dicuci saja, tempat pencucian ayam itu masih terletak di dapur, kami sudah cek, ternyata aroma obat itu masih tersisa di tempat pencucian ayam itu sebelum diberikan pada Aslan” jelas penyelidik memberikan hasil penyelidikannya.
“Putri maafkan saya, saya salah, kepala pengawal Hanslah yang menyuruh saya” sahut Penin meminta maaf, akhirnya dia jujur mendengar penjelasan dari penyelidik.
“Putri maafkan saya, saya tidak berani memberitahukan pada Putri” sahut salah satu pelayan wanita.
Tidak berapa lama ayahku Garendra Boma, sudah tiba di ruangan eksekusi.
“Ayah” sahutku melihat kedatangan ayahku.
“Bos ....” sahut semua pelayan dan pengawal.
Tiba-tiba saja ayahku langsung menarik pedang dari tanganku.
“Tsuk ....” Pedangku menembus perut Penin. Tubuh Penin langsung terjatuh ke lantai.
“Bos ....” sahut semua pelayan dan pengawal.
Aku sangat terkejut dengan tindakan ayahku, awalnya aku hanya ingin Penin jujur dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
“Orang yang tidak jujur dan berhianat harus dibunuh” tegas ayahku pada semua orang yang ada di ruangan eksekusi.
“Maafkan kami bos, kami salah” sahut para pengawal.
“Aku tegaskan lagi pada kalian, jangan sampai putriku mengotori tangannya hanya untuk hal konyol ini. Siapapun yang mencari masalah dengan Putriku, akulah yang akan membunuhnya” tegas ayahku. Semua pelayan dan pengawal hanya bisa menunduk.
“Kuburkan mayat Penin di samping pengawal Hans, berikan bunga terindah sebagai penghormatan terakhir sebagai kesetiannya selama ini” perintah ayahku.
“Baik Bos” sahut para pengawal mengangkat tubuh Penin.
Bersambung............
Hai Reader, terima kasih sudah mampir,
Jangan lupa like dan komentar ya,😊
Oya, jadiin novel ini favorit untuk up lanjutan😍
See You 👏👏👏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Oki Indriani
keren banget cerita nya
2020-06-27
1
LastZee
mantap thor❤
2020-05-29
2
Hazumi san
mksh dah mampir kak di karya ku
aku juga mampir nih smgt yah kak,sehat selalu yah kak
jgn lupa sering2 mampir dikarya aku
2020-05-13
1