“Dia masih ada ditempat anak breng**k itu?”
“Benar Pak Irwan, tapi yang dibawa hanya si Lucifer itu, dan tidak ada perlawanan atau anak buahnya yang tampak disana.” Ucap Tomy, rekannya.
“Loh? Kenapa hanya dia saja yang ditangkap? Isterinya? Adik dan iparnya? Harusnya mereka semua yang
ditangkap juga!” Jendral Irwan masih belum puas sepenuhnya.
“Pak Jendral, kita harus menangkap Bos besarnya dulu. Kalau dia sudah ada ditangan kita, untuk menghabisi yang lainnya, pasti akan semakin lebih mudah,” ucap Tomy menenangkan Irwan.
“Ekhem, tapi pak Irwan, mau itu si Lucifer atau isterinya, mereka semua sama-sama sangat kuat.
Kelompok itu sudah ada dari generasi ke generasi baru. Bahkan, mertuanya si Lucifer, yang dulunya atau pemimpin dari… mmm, kelompok apa itu namanya, saya lupa, dia masih hidup sampai sekarang, dan dulunya, dia juga terkenal sangat kejam. Belum lagi dari adik Lucifer, kita harus benar-benar berhati-hati.” Ucap Alex, orang yang ikut kerja sama dengan Irwan.
‘Ck, apa-apaan sih si Pak tua ini, bukannya membantu malah ngomong yang aneh-aneh.’
“Pak Alex, itu kan dulu, dan lagi mereka sudah tua, tentu saja-
“Ya, itu memang dulu, tapi bukan berarti kelompok itu tenggelam, karena yang meneruskannya adalah anak-anaknya yang sangat kuat. Dan kudengar, mereka jauh lebih kejam dari orang tuanya. Shadow dan Rock saja, bisa kalah hanya dengan Lucifer saja, bagaimana jika yang lainnya terlibat lebih dalam?”
“Maafkan saya, saya memang sangat dendam dan benci dengan Abraham, tapi kita harus pikirkan masa
depan kita juga. Resikonya, pasti berat. Bukan hanya Pak Irwan saja yang menerima resiko, saya, Pak Tomy dan lainnya yang terlibat.”
Tomy dan Irwan diam dan memikirkan ucapan rekannya.
“Apalagi, apa kalian tidak curiga, Lucifer sudah ditangkap, tapi kenapa tidak ada pergerakan atau perlawanan dari mereka? Kenapa mereka diam?”
“Benar juga,” Irwan mulai sadar.
“Kata Agus, orang yang anda tempatkan ditempat Abraham, setiap hari ada saja yang datang menemui si Lucifer itu. Isterinya, adik dan iparnya datang bergantian.”
“Apa? Jadi, apa yang mereka bicarakan?” Tomy mulai panik dan penasaran.
“Agus tidak tahu apa yang mereka bicarakan.”
“Apa menurut kalian, Abraham sudah mencurigai Agus?” tanya Irwan.
Tomy dan Alex saling melihat, “Sepertinya, masih belum. Agus bilang, Abraham masih terlihat shock dan khawatir, jadi tidak ada waktu untuk mencurigai orang di sekitarnya.”
“Bagus!”
“Apa ada pengacara yang akan membelanya?”
“Belum ada. Mungkin tidak ada yang berani sebagai pengacaranya, karena kasus ini sudah mendunia.
Membela si mafia itu, sama saja mengorbankan jabatan dan harga dirinya.”
“Bagus, paling tidak kita berhasil mengurangi satu masalah. Suruh si Agus lebih mengamati mereka.
kalau ada informasi tentang pengacara yang akan membela Lucifer, kita harus melenyapkannya.” Ucap Irwan memberi informasi untuk rekan-rekannya.
‘Hah, sebentar lagi, orang tua dan anak sial itu akan ‘habis’. Dendam puteraku akan terbalaskan karena ulah si anak mafia itu.’ ucap Tomy dalam hati.
Orang-orang yang bekerja sama dengan Irwan, adalah orang-orang yang kecewa dengan kepolisian karena mengabaikan dirinya dan anggota keluarganya yang ingin bergabung. Mereka pikir, Abraham bisa naik ke posisi yang sekarang, karena ada campur tangannya Lucifer, selaku Bos Mafia.
***
Sudah hampir seminggu Lucifer ditahan di kantor polisi, tempat Abraham bertugas. Rasa khawatir mereka
juga sedikit demi sedikit berkurang. Orang yang lebih penting mengatur rencana ini adalah Denis. Dengan cara Denis meyakinkan semuanya, hingga mereka mengikuti rencana Denis meski ada yang ragu-ragu. Sebenarnya, kalau tidak karena Lucifer yang menyuruh mereka untuk mengikuti rencana Denis, mereka akan
berontak pada salah satu anak angkat Lucifer. Apalagi, cara bicaranya Denis yang arrogant dan sangat percaya diri itu. Yang dihargai Denis, hanyalah Eva dan Lucifer, selebihnya dia tidak takut pada siapapun, termasuk Abraham.
Lucifer juga tidak pernah bosan, karena setiap hari dia bisa bertemu dengan putera dan menantunya.
Tentu saja, isteri kesayangannya datang membawa makanan atau pakaian hangat untuknya. Malahan, Eva juga membawa banyak dan membagikannya dengan tahanan yang lain, sehingga mereka tahu, bagaimana karakter Bos mafia dan keluarganya itu.
“Mereka tidak sekejam yang di rumorkan.” Begitulah komentar para tahanan yang menyaksikannya.
Dan untuk Abraham, dia memang akan lebih kejam pada tahanan yang benar-benar melakukan kejahatan, itu mutlak.
Klik!
Diam-diam ada orang yang mengambil gambar saat Eva, Vicky dan Bellova datang menjenguk Abraham atau
Lucfer. Orang itu adalah Agus, yang berdiri dibelakang mereka diam-diam.
Ting!
Irwan membuka ponselnya saat menerima pesan dalam bentuk foto.
‘Hm, siapa wanita ini? Apa dia isteri dari orang itu?’ batinnya.
***
Malam hari, Abraham sudah tiba dirumahnya. Saat sore, Bellova pulang lebih dulu dengan diantarkan salah satu anak buah Lucifer, karena saat itu, Adley atau Venom masih sibuk dengan pekerjaannya.
Karena suaminya pulang malam, Bellova lebih sering menunggu dilantai bawah, agar bisa mendengar suara ketukan pintu dari suaminya saat pulang.
Walau terlambat, Abraham makan malam dirumah, bersama isterinya. Awalnya Abraham selalu menyuruh
Bellova untuk makan lebih dulu, tapi Bellova terus menunggunya. Untuk menahan rasa lapar, saat Bellova datang, dia akan membawa buah atau camilan yang dibuatnya sendiri.
Yang awalnya pulang sekitar pukul 11 malam, berangsur-angsur pulang paling lama dijam 8 malam.
Tentu saja, dia tidak ingin menunda pekerjaan mana yang lebih penting untuk diselesaikan. Tidak ada pekerjaan yang menumpuk. Dan kerja sama dengan rekan-rekannya juga sangat baik.
“Love, tadi siang aku melihatmu sedang mengobrol dengan tahanan didalam sel, apa yang kalian bicarakan?” tanya Abraham duduk dikursi makan.
Bellova sedang menyendokkan makanan ke piring Abraham, “Hanya bicara tentang bagaimana mereka ada disana, didalam penjara. Apa nasinya sudah cukup segini?”
“Iya, cukup. Lalu, apa yang mereka katakan?” Abraham menerima piring dari Bellova.
“Mereka mengatakan, ada yang memfitnah, melakukannya karena terpaksa, untuk perlindungan, bahkan
ada juga yang mengatakan, ‘kalau tidak aku yang mati, ya dia yang harus mati’, begitu katanya.” Bellova mempraktekkan cara bicaranya. Abraham sampai menutup mulut agar tidak tertawa, takutnya isterinya tersinggung.
“Ada dua karakter didalam penjara, yang pertama mereka mengatakan yang sebenarnya, dan ada yang
pura-pura mengatakan yang sebenarnya dengan alasan yang mereka sendiri tahu.”
“Maksudnya, ada yang jujur, dan ada juga yang tidak jujur.”
“Nah, pintar,” Abraham menunjukkan jempol tangan kanan yang tekena bumbu dapur.
“Dan kamu, jangan asal percaya atau kasihan pada mereka. Karena orang-orang yang disana, secara tidak
langsung akan memainkan perasaanmu.” Ucap Abraham mengunyah makanannya.
Bellova diam memperhatikannya.
Dia berusaha memikirkan apa yang dikatakan suaminya.
“Kenapa kamu diam? cepat makan makananmu, tidak lapar?”
“Ah, iya.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Nurak Manies
💪💪💖💖🌷🌷🌷💖
2022-05-02
1
umiazmi
kasih pripat blajar buat love gth bram
2022-04-08
1
"SAYANGKU"😘
aduh, lova kayaknya mulai dicurugai nih
2022-04-05
2