“Hhoaamm…” Abraham bangun merentangkan kedua tangannya keatas. Dilihatnya disekitar yang tidak ada
siapa-siapa.
Terdengar suara dari arah dapur, ‘Siapa yang ada didapur?’
Karena penasaran, diapun akhirnya berdiri berjalan mengarah dapur.
‘Barang belanjaannya dimana?’
Tap!
Langkahnya sudah berhenti didepan dapur. Dilihatnya ternyata isterinya yang sedang sibuk dan mengeluarkan suara dari masak memasaknya.
“Lov?”
Bellova berpaling melihat asal suara, yang ternyata Abraham sedang berdiri disisi pintu sambil memperhatikannya.
“Bram? Kau sudah bangun?”
Suaminya tidak langsung menjawabnya, dia berjalan mendekati isterinya yang masih memperhatikannya dengan sendok goreng ditangan.
“Apa, apa aku membangunkanmu?”
“Mmm? Bagaimana caramu membangunkanku? Memangnya kau sengaja membangunkanku?”
“Tidak, aku tidak sengaja kalau kau terbangun.”
“Jangan gugup begitu. Aku memang terbangun karena mendengar ada suara dari arah dapur, makanya aku
datang kesini, selain itu aku mencium aroma enak. Kau sedang memasak apa?” tanya Abraham sambil mengintip isi didalam kuali.
“Ini, aku sedang memasak ayam kecap manis, kau suka ayam kecap?”
Abraham menjawab dengan anggukan kepala.
“Apa ada yang mau aku bantu lagi?”
“Tidak usah, semuanya sudah hampir selesai kok.”
“Bagaimana kalau aku cuci piring kotornya?”
“Jangan, biar aku saja. Kamu mandi saja lebih dulu, nanti habis itu, kamu bisa langsung makan malam.”
“Hm, begitukah? Ya sudah kalau begitu, aku mandi duluan ya,”
“Iya.” Isterinya masih memperhatikan Abraham yang hendak keluar dari dapur. Pokoknya, setiap suaminya
berada didekatnya, pasti jantungnya akan berdetak kencang sampai dirinya mengeluarkan keringat saking gugup.
Baru saja sampai didalam kamar, Abraham takjub dengan kondisi kamarnya yang rapi dan wangi.
Seprei, selimut dan sarung bantal juga sudah diganti dengan yang baru dan bersih.
“Apa dia sendiri yang membereskan ini semua?”
Saat ingin mengambil pakaian gantinya, dia kembali takjub lagi. Karena pakaiannya tersusun rapi.
Untuk pakaian formal yang dipakai saat bekerja dibedakan tempatnya dengan pakaian casual sehari-harinya.
“Sejak kapan dia mengerjakan ini semua? Apa dia tidak istirahat?”
Dilihatnya koper milik isterinya masih ada dilantai.
“Ini kopernya kan? Kenapa masih ada disini?”
Diangkatnya koper dan dibuka.
“Ini pakaiannya kenapa tidak disusun dilemari?”
Tanpa ragu-ragu, diangkatnya pakaian isterinya yang berada didalam koper itu, dipindahkan kedalam lemari pakaian yang sama dengannya juga.
Plak!
“Apa yang jatuh itu?” dilihatnya sesuatu yang jatuh dari tumpukan pakaian isterinya saat dia hendak
memindahkan. Ternyata yang jatuh adalah pakaian dalam milik Bellova.
“Hm? Ternyata ini yang jatuh,” dia jongkok untuk memungut segitiga dan bra milik Bellova yang berwarna putih.
“Kenapa warnanya jadi begini?”
Ceklek!
Tiba-tiba Bellova masuk kedalam kamar tanpa mengetuknya. Pikirnya suaminya masih berada didalam kamar mandi.
Tatapan mata mereka bertemu. Bellova terkejut dengan apa yang ada ditangan Abraham. Dengan cepat dia
berlari ingin merebut apa yang ada dalam jangkauan suaminya.
“Love?”
Deg! Deg! Deg!
Jantungnya semakin berdetak sangat kencang, dan wajahnya sangat memerah seperti tomat matang.
Pakaian dalam miliknya sudah digenggam dan bahkan dipeluk seakan tidak mau ada yang melihatnya.
Bellova berdiri disudut ruangan seperti orang yang ketakutan karena melakukan kesalahan.
“Kamu kenapa Love?” tanya Abraham tidak mengerti kenapa isterinya bersikap seperti itu.
‘Kenapa ini ada ditangannya? Aku sangat malu sekali.’
Abraham berjalan mendekati Bellova yang menunduk malu.
“Lov, kamu kenapa? apa kamu sakit?”
Tap!
Telapak tangannya mendarat dikening Bellova untuk memeriksa suhu tubuh isterinya.
“A… aku… aku tidak apa-apa,” jawabnya menghindari sentuhan tangan suaminya.
“Terus kenapa wajah kamu merah begitu? Kamu lapar?”
“Tidak, tidak. Aku tidak apa-apa Bram. Kenapa… kenapa kamu… belum mandi?” dia mengalihkan topik.
“Oh, aku tadi mau mandi, tapi aku lihat koper kamu masih dilantai, dan berinisiatif untuk memindahkan pakaianmu kedalam lemari.” Jawabnya santai. Padahal isterinya sudah sangat malu.
“Oh, ya udah, kamu… mandi saja, biar aku yang membereskan pakaianku.”
Abraham merasa ada yang aneh dengan isterinya. Dia masih berdiri didepan isterinya yang malah semakin berkeringat.
“Kamu kenapa sih sebenarnya? Apa ada yang tidak nyaman kamu rasa?”
Bellova menjawab dengan gelengan kepala.
Dilihat apa yang digenggam Bellova dengan sangat erat, “Apa itu milikmu?” tanyanya sambil menunjuk.
Karena ditunjuk, semakin eratlah Bellova menggenggamnya seakan takut itu akan direbut dari tangannya.
“Tenang saja, aku tidak akan merebutnya darimu. Kalau begitu aku mandi dulu ya,” ucapnya mengsuap-usap kepala Bellova dengan lembut.
Abraham berjalan ke lemari lagi untuk mengambil pakaian ganti yang akan dipakainya.
Setelah sudah ada ditangannya, dia masuk kedalam kamar mandi.
“Hah….” Bellova bernapas lega setelah suaminya masuk kedalam kamar mandi. Kakinya hampir saja
lemas tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya. Sekarang dia sudah jongkok menghilangkan rasa gugupnya.
***
Bellova sudah selesai mandi dikamar mandi lain saat Abraham mandi juga. Bellova lebih dulu selesai mandi dan sedang menyiapkan makan malam bersama.
Abraham terlihat menuruni anak tangga.
Menarik satu kursi untuknya duduk. Bellova masih sibuk mondar-mandir kedapur.
“Ada yang ingin aku bantu?”
“Tidak ada,” jawab Bellova dari dalam dapur.
Potongan buah terakhir yang dibawanya. Awalnya ingin diam-diam melihat suaminya, ternyata malah tertangkap basah sedang memperhatikannya.
“Kenapa?”
“Hah? Tidak apa-apa kok,” jawabnya duduk disebelah Abraham. Suaminya tidak langsung percaya dan masih menatapnya aneh.
Bellova tahu kalau suaminya masih memperhatikannya, tapi dia pura-pura tenang sambil menyendokkan nasi kedalam piring Abraham.
“Ini, makanannya sudah siap.”
“Lov, sebenarnya apa yang terjadi denganmu?”
“Apa? Memangnya apa yang terjadi?”
“Ayolah, kamu tidak bisa membohongiku. Wajah dan gerak-gerikmu itu terlihat jelas sedang ada sesuatu yang terjadi. Ada apa?”
“Sungguh, tidak ada yang terjadi kok. Aku hanya sedikit gugup tentang masakannya.”
“Kenapa masakannya?”
“Aku takut rasanya kurang cocok untuk Abraham.”
Abraham menyendokkan potongan ayam kecap kedalam mulutnya, “Tidak ada yang kurang kok, rasanya
sangat enak.”
“Syukurlah,” senyum Bellova.
Abraham tidak ingin mengungkitnya lagi. Pikirnya, isterinya pasti tetap tidak akan memberitahukannya apa yang terjadi.
Untuk beberapa saat mereka makan dalam diam. Hanya suara sendok dan piring yang terdengar.
“Lov,”
“Hm?”
“Kartu kreditku masih ada padamu kan?”
“Iya, masih ada. Apa kau memerlukannya? Nanti habis makan aku-
“Tidak, tidak. Kau ambil saja kartunya.”
Sekarang Bellova yang merasa ada yang aneh dengan suaminya.
“Kau tahu kana pa fungsi kartu itu?”
Bellova diam, “Kau bisa membeli apapun dengan kartu itu, tidak perduli berapa harganya.” Ucap Abraham lagi.
“Jadi, Bellova.” Dia meletakkan sendok diatas piring, menatap wajah isterinya dengan serius. Tentu saja Bellova kembali gugup lagi.
‘Sebenarnya dia mau bicara apa?’
“Gunakan kartu itu untuk membeli keperluan pribadimu.”
Bellova mengernyitkan keningnya. Berusaha mengerti apa yang dimaksud suaminya.
“Maksudku seperti… pakaian dalam milikmu.”
“Uhuk… uhuk.. uhuk…”
Saking terkejut, isterinya batuk, wajah kembali memerah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Asih Asih
aku mohon jangan ada pelakor di antara mereka ya Thor plisss
2023-08-12
0
Febriani Soemantri
Kapan bucin kaya papanya pak
2022-05-14
1
Rini
hahaha bang abraham tidak peka dengan sikap belova, masih penasaran menunggu malam pertamanya nanti 😂😂
2022-04-25
1