Arshinta, Raka dan Ina sudah datang untuk menjemput Bellova. Setelah Abraham selesai sarapan dan berangkat bekerja, Bellova pun bersiap-siap dan menunggu kedatangan adik dan kakak iparnya.
“Jangan keluar dari rumah ini, kalau mereka belum datang menjemputmu.” Itu adalah pesan terakhir dari Abraham sebelum berangkat bekerja pada Bellova.
Sekalipun untuk membuka pintu, harus dipastikan bahwa yang datang itu adalah orang yang dikenal dan dekat dengannya.
Karena tidak ingin membuat iparnya menunggu lama, setengah jam sebelum janji untuk datang, Bellova
sudah duduk manis disofa menunggunya.
“Semua sudah aku bereskan kan? Tidak ada yang ketinggalan atau kelupaan?”
“Listrik, jendela, pintu-pintu, semua sudah aku tutup dan dikunci.”
Bellova berusaha mengingat dan memeriksa bagian sudut rumah dan kamar, memastikannya agar tidak ada orang jahat yang masuk, atau hal yang membuat bahaya didalam rumah.
Ting!
Baru suara bel pertama yang didengar, Bellova sudah berlari untuk memeriksa siapa yang datang. Melalui celah dipintu, Bellova bisa melihat siapa yang berdiri didepan pintunya.
Ceklek!
Pintupun dibuka, saat melihat iparnya yang datang.
“Hallo kakak ipar,” Arshinta mencium pipi Bellova, kiri dan kanan. Sama seperti yang dilakukan Arshinta, Ina juga menyapa dan memberi kecupan di pipi iparnya.
“Tante,” Raka, yang berdiri ditengah mereka, dengan senyum bahagia merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Bellova. Bellova jongkok untuk memeluk dan menggendong putera dari adik perempuan Satmaka atau Nathan itu.
“Lov, kamu sudah siap?” tanya Ina.
“Sudah, kak Ina.” Jawab Bellova.
“Baiklah, kita langsung berangkat ya,” ajak Ina tidak mau menunggu lama lagi. Karena juga sudah sangat siang.
Mereka tidak sempat masuk, hanya berbicara didepan pintu, lalu berangkat. Setelah Bellova mengunci pintu, dia yang masih menggendong Raka, berjalan bersama saudara Abraham.
Mobil Ina yang berwarna silver, sudah menunggu di halaman. Ina duduk dikursi kemudi, Arshinta didepan dan Bellova dibelakang bersama dengan Raka.
Baru saja mobilnya nyala dan ingin meninggalkan kediaman Abraham, ponsel Bellova sudah berbunyi, seseorang sedang menghubunginya.
“Hallo Bram,” Bellova menjawab panggilan.
“Kamu sudah jalan?”
“Sudah, Arshinta dan Kak Ina baru saja datang menjemputku.” Arshinta menoleh melihat Bellova saat tahu namanya disebut. Arshinta tersenyum, lucu mendengar suara kakaknya yang terlihat khawatir.
“Kamu jangan jauh-jauh dari mereka, biar tidak hilang.”
“Pft,” Arshinta dan Ina menahan tawa. Walau tidak di speaker, tapi suara Abraham terdengar jelas didalam mobil.
“I… iya, aku akan mengikuti mereka kemanapun pergi.” Bellova pun menjawab dengan gugup, melirik iparnya yang masih menahan tawa.
Hanya sebentar saja Abraham menghubunginya. Itupun karena suami Bellova khawatir, takut kalau Bellova nekad pergi keluar tanpa ada yang mengawasi.
“Ekhem, sepertinya, kak Abraham mengkhawatirkanmu Kak Lov,” ledek Arshinta.
“Tentu saja Shin. Mereka kan suami isteri.”
“Tapi Kak Ina, aku tidak menyangka loh, kalau Kak Abraham bisa sekhawatir itu pada wanita, maksudku, pada isterinya.”
“Yah, nanti juga saat kamu menikah dengan Satmaka, dia juga pasti khawatir padamu.”
“Belum suami isteri saja, dia tetap khawatir kok padaku. Kak Aditya juga kan?” balas Arshinta. Ina yang juga sudah memiliki calon suami.
Dua wanita yang duduk didepan, tertawa dan mengobrol santai. Bellova merasa sangat nyaman dengan mereka.
Karena terus dicandain, Bellova sampai malu-malu dan wajahnya memerah. Padahal, mereka tidak tahu, kenapa Abraham sampai menikah dengannya.
“Pertama-tama, kita belanja dulu ya,” usul Ina.
“Iya, karena aku juga ingin membeli pakaian dalam nih,” sahut Arshinta.
Karena Arshinta mengatakan pakaian dalam, Bellova pun teringat dengan kejadian beberapa hari, yang tentu saja membuatnya sangat malu, rasanya ingin lari dari Abraham.
“A… aku juga ingin… beli,” Bellova ingin ikut. Tidak ada yang aneh dengan ucapan Bellova, mungkin karena itu sudah wajar untuk wanita. Hanya Bellova yang merasa malu dan gugup. Mentalnya mulai tenang karena iparnya tidak membahas tentang pakaian dalam miliknya. Padahal dia pasti sangat bingung saat iparnya nanti menanyakan tentang kondisi pakaian pribadinya, yang sulit untuk dijelaskan.
****
“Love, sini, kau coba pakaian ini, sepertinya ini cocok untukmu,” panggil Ina dengan dress berwarna hitam selutut ditangannya.
Bellova datang, dia melihat dress yang masih dalam genggaman Ina, “Ini, kau coba pakai diruangan sana ya,” Ina menunjuk dimana kamar ganti berada.
“Tapi kak Ina, pakaian ini terlalu-
“Sudah, jangan tanya dulu, sekarang kau coba saja dulu,” Ina tidak mau mendengar penolakan dari Bellova. Dia memutar tubuh Bellova, dan mendorongnya dengan pelan mengarah pada kamar ganti.
Bellova, mau tidak mau akhirnya pergi kekamar ganti. Saat dia menoleh kebelakang, Ina melambaikan tangannya agar Bellova tidak perlu melihatnya dan cepat mengganti pakaiannya.
Sambil menunggu Bellovakeluar dari ruang ganti, Arshinta dan Ina masih asik memilih-milih pakaian untuk mereka.
Raka, yang terus membuntuti dua wanita itu, tidak terlihat lelah, bahkan sesekali dia menawarkan pakaian pilihannya untuk dikenakan Arshinta.
Beberapa menit kemudian, Bellova muncul dengan dress pilihan Ina.
“Wah, cocok banget kamu memakainya.” Puji Ina yang takjub dengan penampilan adik iparnya.
Bellova berdiri dihadapan mereka dengan malu-malu. Tangannya menutupi bagian dada, yang sebenarnya tidak terlalu terbuka, hanya menunjukkan tulang dibawah leher.
Cekrek! Cekrek!
Arshinta mengambil foto Bellova.
Tidak hanya Ina dan Arshinta saja yang takjub dengan penampilan Bellova, bahkan semua pengunjung di butik itu pun suka dan tertarik dengan dress juga orang yang memakai dress itu.
“Bagaimana? apa aku bisa mengganti pakaiannya sekarang?” tanya Bellova. Dia tidak nyaman dengan pakaian itu, apalagi lirikan-lirikan yang diarahkan padanya.
“Kenapa harus terburu-buru sih? Kamu pakai pakaian ini saja sekarang.” Ucap Ina, Arshinta pun mengangguk sepakat.
“Tapi, tapi kak Ina, aku tidak nyaman memakai ini.”
Ina dan Arshinta tidak ingin memaksanya, dan mengalah.
“Baiklah, kamu ganti saja pakaiannya. Pakaian ini tetap kamu ambil, biar aku yang bayar,” ucap Ina.
“Tapi kak Ina, harganya sangat mahal, nanti kalau-
“Ssshh, walau harganya mahal, aku masih bisa membelinya untukmu.”
‘Tapi harganya benar-benar mahal kan? Hanya satu pakaian ini saja harganya hampir 10 juta.’ Batin Bellova.
“Kak Ina, biar aku saja yang membayarnya. Abraham memberiku ini, katanya aku bisa membeli apapun dengan kartu ini,” Bellova mengeluarkan black card milik Abraham yang memang diberikan padanya setelah mereka menikah.
Arshinta dan Ina saling melihat dengan tatapan sedikit terkejut.
“Ini, siapa yang memberikannya padamu?” tanya Ina seakan tidak percaya dengan apa yang dipegang Bellova.
“Abraham, dia memberikannya padaku setelah kami menikah.” Jawab santai dari Bellova.
“Hah, dia benar-benar sangat perhatian padamu ya,” ucap Arshinta.
“Apa… apa ini tidak bisa digunakan?” wajah Bellova panik.
“Bisa kok, sangat bisa, tapi, untuk saat ini, kau tidak usah menggunakannya, karena ini tetap aku yang akan membelinya untukmu. Jadi, simpan saja kartunya dan jangan sampai hilang,” suruh Ina. Tidak ada kecemburuan atau tidak suka jika adiknya memperhatikan Bellova, yang sekarang menjadi adik iparnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Nurak Manies
💪💪🌷🌷💖💖🌷
2022-04-27
0
Rangrizal28
kelyarga kompak
2022-04-03
0
umiazmi
ka ina blikan linjeri gehh biar bang abraham jatuh cinta
2022-04-03
0