Aku Malu

Tok… tok… tok…

“Bellov!”

Tok… tok.. tok…

“Love, bukain pintunya, kamu kenapa?”

Berulang kali Abraham mengetuk pintu kamarnya karena isterinya berlari masuk kedalam kamar dan mengunci pintu sebelum suaminya masuk.

Tok… tok… tok…

“Lov! Kenapa kamu berlari? Ada apa sih sebenarnya?”

Tidak ada jawaban dari dalam kamarnya. Dia sangat khawatir pada isterinya itu.

‘Aneh, ada apa dengannya, apa aku mengatakan sesuatu yang salah?’

Saat makan malam tadi, Abraham menyuruh isterinya untuk menggunakan kartu kredit yang diberikannya pada Bellova. Dia mau agar isterinya bisa membeli apa yang menjadi keperluannya, termasuk pakaian dalam yang mungkin suaminya tidak tahu bagaimana cara membelinya. Abraham merasa kasihan pada isterinya, pikirnya, isterinya tidak memiliki uang untuk membeli yang baru, makanya Abraham mengingatkan

Bellova agar menggunakan kartunya untuk apapun yang disukai Bellova.

“Love, kalau kamu tidak buka pintunya, aku akan marah, dan pintu ini aku dobrak saja!” ancam Abraham. Tentu saja dia tidak ingin melakukannya, hanya sekedar menakuti isterinya saja.

“Aku hitung sampai 3 ya, kalau kau tidak buka maka aku-

Ceklek!

“Loh, padahal belum mulai dihitung kan?”

Ternyata Bellova sudah membuka pintu.

Setelah membuka pintu, dia kembali duduk diujung tempat tidur dengan menundukkan wajah. Masih malu

menatap suaminya yang sudah berdiri dibelakangnya.

Abraham masih berdiri, menunggu reaksi Bellova lagi. seperti orang dewasa menunggu anak kecil yang sedang ngambek.

Isterinya memang tidak menangis atau merajuk. Hanya diam tanpa kata dan membuat Abraham tidak sabar

meminta penjelasan.

“Lov, sebenarnya kamu kenapa sih?” tanya Abraham menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.

Sekarang dia sudah berdiri tepat dihadapan Bellova yang duduk diranjang menundukkan wajah.

Bellova tidak langsung menjawab, Abraham menunggu jawaban.

“Apa ada yang salah? Apa aku melakukan kesalahan?”

Bellova masih diam.

“Ck, Love, kamu ngomong dong, kalau kamu marah, katakan kenapa kau marah, kalau kau kesal atau tersinggung, katakan saja. Jangan main diam saja, aku nggak mengerti.”

“A… aku, aku-

“Iya, kamu kenapa?”

“Aku malu!” tiba-tiba isterinya mengangkat wajahnya yang sudah memerah.

Abraham mengernyitkan keningnya, “Malu? Malu sama siapa? Kenapa kamu malu?” tanya Abraham yang memang tidak tahu apa-apa.

Bellova menggigit bibirnya, “Hey, jangan menggigit bibirmu,” ucap Abraham menyadari.

Abraham mengambil posisi duduk disamping isterinya.

“Sekarang, ceritakan padaku, kenapa kamu malu? Pada siapa? Ceritakan padaku,” ucapnya memutar bahu

Bellova agar mereka saling berhadapan.

“Sebenarnya-

“Iya, sebenarnya kenapa?”

“Tunggu aku bicara dulu, jangan di sela!”

“Waw,” Abraham terkejut saat isterinya meninggikan suaranya walau tidak seperti berteriak.

“Maaf,” kembali Bellova menundukkan wajah.

“Nggak apa-apa, sekarang kamu bicara saja, aku tidak akan memotong ucapanmu.”

“Sebenarnya… sebenarnya tentang ‘barang’ itu, aku… aku…”

‘Barang? Barang apa maksudnya? Aduh, sebenarnya dia mau ngomong apa sih?’ Abraham menggaruk kening.

Ingin bertanya, tapi takut kalau isterinya kesal lagi.

“Aku ingin membuangnya, tapi karena aku lupa, jadi sampai sekarang aku bawa-bawa. Aku tidak menggunakan itu sudah lama sekali kok,” Bellova meyakinkan suaminya.

Abraham tidak berkutik, bukan karena mau mengabaikan, tapi dia tidak mengerti apa yang dikatakan isterinya yang bercerita sangat serius.

“Ekhem, Lova, aku tidak mengerti apa yang kau katakan,”

“Itu… itu, yang kamu pegang sebelum kamu… mandi.” Dengan malu-malu Bellova mengatakannya.

Abraham terlihat berpikir keras.

‘Yang mana ya? Sebelum mandi? Apa waktu di dapur? Apa yang aku pegang waktu didapur?’

Bellova menatap wajah Abraham yang dalam kebingungan.

Bola mata Abraham berputar kekiri, kekanan untuk mengingat-ingat kejadian sebelum dirinya mandi.

‘Aaaa, apa di kamar?’

“Maksudmu ‘barang’ itu, pakaian dalam milik-

“Mmmppphh..” tiba-tiba Bellova menutup mulut suaminya.

‘Ternyata benar. Jadi karena itu dia malu.’

“Aku sudah bilang kan, kalau sebenarnya aku ingin membuangnya, hanya karena aku lupa saja.” Bellova menjelaskannya lagi.

Abraham mengangguk, Bellova menarik tangannya.

Rasanya Abraham ingin tertawa. Dia berusaha keras agar bibirnya tidak naik keatas. Bagaimana tidak, dia merasa lucu dengan tingkah isterinya yang malu-malu itu.

“Pft,” Abraham tidak bisa menahan tawanya saat teringat apa yang ada ditangannya sebelum mandi.

Isterinya langsung menoleh padanya, “Ekhem, maafkan aku. Tapi masa sih hanya karena itu kau jadi malu begini? Aku malah pikir apa aku sudah melakukan kesalahan, apa kau marah atau, apalah itu.”

“Aku benar-benar malu.” Suara Bellova memelan, menundukan wajahnya lagi.

Abraham mulai mengerti.

“Dengarkan aku,” wajah Bellova diangkat Abraham agar menatapnya.

“Siapa yang sudah mencuci semua pakaianku?”

“Aku,”

“Termasuk pakaian dalamku kan?”

Bellova menjawab dengan anggukan kepala, dan menundukkan wajahnya lagi.

“Angkat wajahmu, jangan menunduk terus.”

“Saat kau mencucinya, apa yang ada dalam pikiranmu?”

“Aku tidak memikirkan apa-apa kok. Aku hanya ingin mencuci dan mengeringkannya.”

“Tidak kau pandangi terus meneruskan? Kau tidak membayangkan isi dalam celana itu kan?”

“Enggak kok! Aku tidak berpikir seperti itu.” wajah Bellova sudah memerah.

‘Ya ampun, padahal aku hanya menggodanya sedikit saja kok, kenapa dia meresponnya dengan serius begitu.’

“Oke, oke, aku percaya. Nah, saat aku melihat pakaian dalam milikmu pun, aku tidak memikirkan apa-apa, hanya biasa saja. Aku hanya sedikit terkejut saat melihat kondisinya yang… sedikit memprihatinkan.”

“Itu memang-

“Iya aku tahu. Itu memang ingin kau buang karena tidak kau gunakan lagi. Aku masih ingat kok apa yang kau katakan.”

“Ck, Lov, aku kan sudah bilang, jangan menggigit bibirmu seperti itu,” dia menyentuh bibir isterinya, agar lepas dari gigitannya.

“Sekarang, masalah ‘barang’ itu sudah selesai kan? Sudah jelas kan?”

“Iya,” jawabnya sambil mengangguk.

“Apa mau aku temani untuk membeli yang baru?”

“Tidak usah! Aku bisa membelinya sendiri.”

“Iya, iya.”

Permasalahannya sudah selesai. Abraham menyadari ternyata isterinya bersikap seperti itu karena malu jika menyangkut barang pribadi. Padahal dirinya sendiri tidak berpikir kotor atau mesum, hanya karena kasihan  dan takut, kalau isterinya tidak nyaman tinggal bersamanya. Walau pernikahan tanpa cinta, tapi dia tidak ingin diantara mereka berdua ada jarak.

Dalam diam, Abraham mengusap-usap kepala isterinya dengan lembut.

‘Sekarang wajahnya sudah tidak semerah tomat. Berarti dia sudah mulai tenang.’

Tanpa disadarinya, tangannya sudah berada dipipi Bellova. Untung saja wajahnya lembut sehingga Abraham menyukai pipinya yang kenyal itu.

“Ekhem, tadi sepertinya kau belum selesai makan deh, lebih baik kamu habiskan saja makananmu,” Abraham berdiri.

“Bram sendiri? Apa sudah selesai makannya?”

“Belum sih, tapi karena kamu langsung berlari tadi, aku jadi kenyang.”

“Kamu makan saja ya, aku mau mengerjakan pekerjaanku dulu diruang sebelah.”

Abraham hendak melangkah menuju pintu, “Apa kau membutuhkan yang lainnya? Misalnya kopi atau?”

“Hm, bandrek susu saja. Kau tahu cara membuatnya kan?”

“Iya, aku bisa membuatnya.” Jawab Bellova semangat.

“Baguslah, buatkan itu saja dan antar keruanganku. Jangan terlalu terburu-buru, kenyangkan saja dulu perutmu.”

Terpopuler

Comments

Nurak Manies

Nurak Manies

😁😁😁🤦‍♀️🤦‍♀️

2022-04-22

0

Nurak Manies

Nurak Manies

🤣🤣🤣🤣

2022-04-22

0

Azzam

Azzam

pasangan malu2 kucing🤭😍

2022-04-20

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 54 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!