Obrolan Lucifer, Denis Dan Abraham

“Papa, maafkan aku,” Abraham memeluk Lucifer.

Setelah mereka sudah berada diruangan Abraham, dia langsung memeluk papanya.

“Hahaha, tidak apa-apa Nak, yang kau lakukan sudah benar.” Ucap Lucifer. Suaranya yang pelan dan lembut seakan tidak menyangka kalau dia adalah seorang pemimpin mafia.

Borgol yang mengikat kedua tangannya juga sudah dilepaskan Adley. Bukan Abraham yang menyuruh, tapi

atas keinginan Adley sendiri.

Dua pria dewasa yang terhubung dengan darah itu saling berpelukan. Tidak ada yang mengganggunya. Hanya ada Adley, Venom, Abraham dan Lucifer saja diruangan itu. Ridwan, rekan Abraham sengaja disuruh diluar untuk mengamati kejadian dan menjaga keamanan.

“Papa, anda duduk saja dulu,” Venom mengambil kursi untuk Lucifer. Lucifer tidak menolaknya, dia langsung duduk. Bukan karena Lucifer tidak kuat berdiri, tapi kalau dia tidak melakukannya, anak angkatnya akan terus mendesak dan memaksanya karena mereka khawatir dengan kesehatannya.

“Apa Papa benar-benar tidak apa-apa jika ada disini?” tanya Abraham yang duduk juga dikursi kayu, dihadapan Lucifer.

“Tentu saja Papa tidak apa-apa Nak. Apa menurutmu Papa tidak pernah mengalami ini? Sudah beberapa kali Papa mengalaminya Nak, jadi, jangan merasa ini adalah beban untukmu.”

“Papa percaya pada Denis?”

“Tentu saja. Papa percaya padanya.”

“Hallo Papa Lucifer!” Denis muncul dari arah pintu. Semuanya melihat kearahnya. Abraham mengernyitkan

kening.

Beberapa waktu yang lalu, Denis baru saja tiba didepan kantor polisi. Mobil merah sudah diparkirkan.

“Itu! itu siapa?” tunjuk wartawan yang melihat kedatangan Denis.

“Apa dia juga ada hubungannya dengan si mafia itu?”

Denis yang menggunakan pakaian casual berwarna putih dan kacamata bening. Sambil tersenyum melambaikan tangan pada para wartawan.

“Apa yang dia lakukan? Kenapa dia melambaikan tangan kesini?”

“Entahlah, apa dia orang yang narsis?”

“Tapi dia memang sangat tampan sih.”

Komentar dari wartawan perempuan dan laki-laki. Pesona Denis membuat mereka terpikat.

“Maaf, apa anda ada hubungan dengan Bos Mafia yang ada didalam?” dengan sedikit keberanian, salah satu dari wartawan menghampiri dan langsung memberikannya pertanyaan.

“Hm? Mafia? Dimana? Waw.. sangat menakutkan dong,” respon Denis santai tanpa melepas kacamatanya.

Kelompok wartawan itu heran, “Apa anda tidak takut?”

“Takut? Memangnya aku melakukan kesalahan? Aku kan tidak cari masalah atau gara-gara dengan si Bos Mafia yang kalian katakan tadi.”

Wartawan dan lainnya saling melirik.

“Biasanya, Bos Mafia itu akan marah pada orang yang sudah mengusik dan mengganggunya. Hah… untung saja aku orang baik-baik,” ucap Denis melirik wajah wartawan yang mulai panik.

Setelah mengatakan itu, Denis melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam kantor polisi.

‘Apa… apa si Mafia itu akan balas dendam padaku?’ ucap Roy dalam hati, mata-mata Ridwan juga yang berperan sebagai wartawan.

Kembali ke waktu sekarang.

“Denis, apa yang kau lakukan disini?” Abraham berdiri melihat Denis.

Denis melepas kacamatanya, “Tentu saja ingin melihat Papaku,” ucapnya tersenyum menatap Lucifer yang juga melihatnya.

“Papamu? Siapa yang kau sebut papamu?”

Denis mengabaikan pertanyaan Abraham, dia terus berjalan dan duduk dilantai, dibawah Lucifer.

‘Apa yang dia lakukan? Apa dia sedang menarik perhatian Papaku?’

Abraham semakin kesal pada Denis. Dia merasa, apa yang dia miliki, perlahan-lahan ingin dirampas Denis.

Plak!

“Aduh, hehehe,” Denis mendapat pukulan kecil dari Lucifer dibahunya. Bukannya merasa kesakitan atau tersinggung, Denis malah tertawa kecil sambil mengusap-usap bahu yang tidak sakit itu.

Lucifer sendiri, tidak marah atau tersinggung dengan ulah Denis. Rasa sayangnya memang sangat besar untuk ketiga anaknya, tapi bukan berarti dia mengabaikan perasaan sayang dari anak-anak angkatnya. Pikirnya, tidak ada anak angkatnya yang akan menyakitinya atau anak-anaknya.

Wajah Abraham sedikit senang karena Papanya memberinya hukuman, walau kecil. Abraham kembali duduk

dikursinya lagi. Yang duduk hanya Abraham dan Lucifer, si Denis, duduk dilantai sendiri. Sedangkan Adley dan lainnya berdiri seperti pengawal yang bertugas.

“Apa kau sudah puas dengan rencanamu?” tanya Abraham.

“Belum!”

“Apa?” Abraham terkejut.

“Ini baru permulaan saja Bram. Setelah ini, Papa harus dipindahkan kepenjara lain.”

“Omong kosong!” Abraham berdiri, tidak terima dengan usul Denis lagi.

“Benar, ini omong kosong!” Adley, dan Venom juga sepakat.

Lucifer hanya duduk tenang, diam tanpa khawatir. Denis, tersenyum pada Lucifer, seakan dia tahu, kalau Lucifer mengetahui rencananya.

“Papa percaya padaku kan?” sekarang Denis bertanya pada Lucifer.

Lucifer hanya menatap Denis, tapi tidak ada penolakan darinya.

“Bram, kalau Papa Lucifer ada disini, semua rencana kita gagal total! Mereka tidak akan percaya dan mikir kalau ini hanya pura-pura saja, yah walaupun ini memang benar-benar sandiwara. Kita harus pindahkan Papa sebelum diadili dipengadilan.”

Denis berdiri, “Kalau kita ingin ‘menangkap mangsa’, kita harus pura-pura tidak berdaya didepan mereka, dan satu-persatu, mereka akan mengeluarkan belangnya.” Ucap Denis meletakkan tangan dibahu Abraham.

“Kau khawatir dengan keselamatan Papa? Tenang saja, anak buah Papa kan banyak, ada Om Aris, Om Hendra dan lainnya, mereka akan tetap menjaga Papa, jadi… tenanglah Bram.” Denis tersenyum.

“Papa setuju dengan rencana Denis,” akhirnya Lucifer mengeluarkan suaranya lagi. Dia berdiri, menghampiri Abraham dan Denis.

“Oh ya, Bram, kau juga harus mengawasi yang namanya Agus itu.”

“Hm? Kenapa? Apa kau mencurigainya?”

“Iya. Dan, waktu kejadian penculikan Angel, dia ada disana, bukan berdiri dipihakmu, tapi berada dipihak lawan.” Ucap Denis.

Abraham tersenyum, “Tenang saja, dari awal aku memang sudah tahu keterlibatannya. Aku sengaja menyuruhnya untuk ikut menjemput Angel, agar dia bisa melaporkan pada mereka.”

Denis mengangguk, “Syukurlah kau sudah tahu. Aku datang dua kali kesini, dan dia menatapku tajam, untungnya daya ingatku masih kuat.”

“Aku tidak bodoh Denis, sehingga aku tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan.”

“Tentu saja kau tidak bodoh, orang tuamu saja dari pemimpin mafia. Iya kan Pa?” Denis tersenyum dan melihat Lucifer yang merespon dengan anggukan kepalanya saja.

“Ekhem, maafkan saya, tapi, apa selama beberapa hari ini Papa Lucifer tinggal dan menetap disini?” sela Adley.

Semuanya diam dan melihat Lucifer.

“Kenapa tidak? Aku

tidak keberatan tidur disini.” Jawab enteng Lucifer.

“Tapi Pa-

“Asal siapkan saja selimut dan tikar kecil, itu sudah cukup.”

“Tidak Pa! Papa tidak perlu tidur disini.”

“Bram, biarkan malam ini Papa tidur disini. Pasti diluar sana juga sedang mengawasi kita. Seperti kata Denis, jangan biarkan mereka curiga dan semua rencana kita gagal. Sia-sia kan?”

“Kalau begitu, saya akan disini menemani Papa Lucifer.” Adley menawarkan dirinya.

“Ya, saya juga akan disini,” Venom mengajukan dirinya juga.

“Aku juga-

“Tidak!” Denis dan Lucifer menolak keras ucapan Abraham. Mereka mengatakannya serentak.

“Kau harus temani isterimu Bram.”

“Benar! Atau… apa kau mau aku yang menemani-

“Denis!” panggil Lucifer.

“Tutup mulutmu!” ucap Abraham.

“Ups, aku kan hanya mengajukan pendapat,” Denis menutup mulut dengan kedua tangannya.

Terpopuler

Comments

Inayke Yani

Inayke Yani

denis tengil

2023-09-19

0

Apendi Pendi

Apendi Pendi

ga di situ ga di sini. kenapa yang namanya Denis itu orang nya tengil 😁

2022-06-01

3

Nurak Manies

Nurak Manies

si Denis tengil banget deh🙄😒
💪💪🌷🌷💖💖💖

2022-04-29

2

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 54 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!