Keesokan harinya, Abraham dan Bellova kembali kerumah. Sebelumnya mamanya sudah menahan agar
suami isteri itu tetap dirumahnya dulu, namun Abraham menolak dengan pelan agar mamanya tidak tersinggung.
Sebenarnya, alasan yang paling besar adalah karena kedatangan Denis yang masih terus mengganggu pikirannya.
Setelah habis sarapan, Abraham mengajak isterinya untuk pulang. Bellova tidak keberatan jika suaminya mengajaknya pulang.
Sekarang mereka sudah dalam perjalanan didalam mobil.
“Apa kau kenal dengan pria itu?” pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Abraham setelah beberapa saat perjalanan.
“Mmm? Siapa?”
“Denis, pria yang baru datang waktu itu.” jawab Abraham sambil terus fokus pada kemudi setirnya.
“Oh, iya.”
Jawaban Bellova membuat Abraham menoleh padanya, “Apa kalian kenal sudah lama?”
“Enggak. Yang tadi malam itu adalah pertemuan kedua kami. Sebelumnya, aku bertemu dengannya saat dipasar.”
Abraham mengernyitkan dahinya.
“Di pasar?” Abraham semakin tidak mengerti.
Bellova menoleh melihat suaminya yang masih penasaran, “Iya, mm…. waktu itu aku pernah ditabraknya-
Ccrriitt!
Tiba-tiba mobilnya dipaksa berhenti.
“Bram?”
“Apa maksudmu? Ditabrak?”
“I… iya, tapi itu tidak sengaja-
“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”
“Itu kan-
“Sial, aku harus memasukkannya kedalam penjara,” kesal Abraham.
“Ti… tidak usah, lagipula dia tidak sengaja. Dan juga aku tidak terlalu terluka.” Bellova membujuk suaminya agar tidak sampai marah. Dia pasti merasa bersalah kalau mereka sampai bertengkar.
“Ck,”
Abraham melanjutkan kemudi mobilnya. Walau masih kesal, dia terus bersabar mengingat isterinya yang
memasang wajah melas agar tidak dipermasalahkan lagi.
‘Paling tidak dia bukan orang pentingmu.’ Batin Abraham.
****
“Aku punya beberapa bukti dari anak buahnya si Irwan itu Pa, makanya aku yakin, kalau mereka pasti sudah bekerja sama untuk menjebak dan menjatuhkan kalian.” ucap Denis, berbicara dengan Lucifer dan lainnya.
“Oh ya? Tapi, apa kau yakin kalau rencanamu berhasil?”
“Tentu saja Paman Revand. Ini masalah gampang kok, kalian percaya saja. Kunci utamanya kan adalah si Angela itu, kita ancam saja dia untuk berbicara jujur saat pengadilan.”
“Berarti, Papa tidak akan dihukum kan?” tanya Arshinta masih khawatir dengan papanya.
“Hm, biar bagaimanapun, Papa tidak bisa lepas begitu saja dari hukuman.”
“Apa? Jadi kau tidak bisa menyelamatkan Papa?” giliran Ina yang bertanya.
“Dengarkan dulu. Papa tetap harus dihukum-
“Tidak!”
“Tapi hukuman untuk Papa tidak lama kok, paling mungkin hanya beberapa bulan saja. Papa Lucifer bisa kan bertahan beberapa bulan di penjara?”
Lucifer yang dengan tenang melihat Denis, tersenyum mengangguk. Itu artinya dia sepakat dan setuju dengan rencana anak angkatnya itu.
“Kalau Ina mengatakan aku tidak bisa menyelamatkan Papa, itu artinya Papa mati kan? Aku tidak akan membiarkannya, hanya saja, hukuman kecil saja untuk Papa, agar mereka diam.”
Semuanya mengerti. Denis meminum kopi yang disiapkan pelayan Eva.
“Kau yakin itu kan? Pasti bisa kan?” tanya Eva. Denis menjawab dengan senyuman dan anggukan. Tidak ada keraguan diwajah Denis.
******
Brum… brum… brum…
Mobil sudah terparkir. Abraham turun lebih dulu dan membuka bagasi mobil untuk mengeluarkan satu koper
milik Bellova dan belanjaan keperluan dapur lainnya. Mereka sempat berbelanja dipusat belanja sebelum sampai dirumah.
“Sini biar aku bawa sebagian?” pinta Bellova. Dia tahu kalau suaminya tidak bisa membawa semuanya.
“Hm, yang mana yang harus kau bawa ya?” dicarinya barang mana yang tidak terlalu berat.
“Aku bisa bawa yang mana saja kok, karung berasnya juga bisa-
“No! itu biar aku saja yang membawanya,” Abraham mengangkat tangannya, melarang isterinya membawa
sekarung beras sekitar 20 kilo itu.
“Ini, kamu bawa ini saja,” Abraham mengambil bungkusan yang kecil untuk dibawa Bellova.
Isterinya heran, “Ini? Hanya ini saja?” tanyanya karena bungkusan itu tidak terlalu berat dibawanya.
Abraham menjawab dengan anggukan kepala.
“Tapi itu masih banyak, biar aku bawa sedikit lagi.” Bellova kasihan pada suaminya kalau membawa itu semua.
“Tidak usah, kau masuk saja dulu, dan ini kunci, bukakan pintu rumah kita,” kuncinya dikeluarkan dari saku celana dan diberikan pada Bellova.
“Tunggu apa lagi sih Lov?”
“I… iya,” walau masih ragu, akhirnya Bellova pergi. Baru beberapa langkah kakinya, sudah berbalik melihat Abraham yang kembali fokus pada barang bawaannya.
‘Bagaimana caranya membawa itu semua?’
Klik!
Pintu sudah berhasil dibuka lebar.
Bukannya masuk, Bellova menoleh kebelakang.
Brugh!
Tak!
Ternyata dibelakangnya sudah ada Abraham, dan tidak sengaja menabrak bagian depan suaminya itu. Akibat
tabrakan kecil itu, karung beras yang berada dibahunya jatuh hampir mengenai kaki isterinya yang terkejut. Rupanya Abraham berjalan dengan cepat agar segera sampai bahkan bisa mengejar isterinya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Abraham panik. Dia takut kalau karung beras mengenai tubuh Bellova.
Bellova menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku tidak apa-apa.”
“Lagian kenapa kamu berdiri disini? Kamu masuklah, biar aku bisa masuk.”
“Oh, iya, maaf.”
Abraham masuk dan Bellova masih berdiri dibelakangnya.
Karena karung berasnya jatuh, Bellova mengangkatnya dengan dua tangan.
“Tunggu, itu ber…at.” Sudah terlambat, Bellova sudah mengangkatnya dengan mudah.
“Kau bisa mengangkatnya?” Abraham tercengang karena wanita didepannya bisa membawa karung berasnya.
“Iya, ini tidak berat kok. Saat di kampung, aku sering membawa lebih berat dari ini.”
“Oh,” angguknya pelan masih heran.
Karena merasa lelah, Abraham langsung mendaratkan bokongnya disofa sambil merentangkan tangan.
“Bram, apa kau mau aku buatkan es?”
“Hm, boleh deh, jangan terlalu manis ya.” pinta Abraham bersandar.
Bellova pergi kedapur, menyiapkan minuman untuknya dan suaminya juga.
Hanya memerlukan waktu hampir 10 menit, minuman dingin dan buah yang sudah dicuci akan dibawa kedepan, dimana Abraham sedang menunggu.
“Bram, aku sudah membawa…”
Ternyata suaminya sudah tertidur pulas.
‘Dia sudah tidur? Dia pasti kelelahan.’
Karena wajah suaminya berkeringat, Bellova mengusap keringat dengan telapak tangannya. Pelan-pelan, agar suaminya tidak terbangun. Dia tidak mau waktu tidurnya terganggu.
“Nyalain AC dong,” tiba-tiba suara Abraham tanpa membuka matanya.
“Eh?” Bellova terkejut, dia langsung mengangkat tangannya yang masih menyentuh kening Abraham.
“I… iya, aku… aku nyalain AC-nya dulu.” Gelagapan Bellova berdiri mencari remot AC dan menyalakannya.
‘Aku pikir dia tidur.’ Batinnya. Dia masih berdiri membelakangi Abraham.
“Aahhh…” suara Abraham yang baru saja selesai menghabiskan minuman dingin yang dibuatkan isterinya itu. Hanya dalam satu tegukan saja sudah mengosongkan gelasnya.
Karena mendengar suara dari belakang, Bellova menoleh. Abraham sudah kembali tertidur lagi.
Tanpa disadarinya, bibirnya terangkat tersenyum.
Deg! Deg! Deg!
Tidak mau terus memperhatikan suaminya, Bellova berinisiatif menyelesaikan sisanya. Pelan-pelan agar tidak mengeluarkan suara berisik, bahkan melangkahpun sangat pelan.
Setelah sibuk didapur, sekarang dia naik kekamar untuk membereskan kamar tidur mereka. Saat itu dia sangat bersemangat meski keringat sudah membasahi punggung hingga pakaiannya basah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
baby_chubby
masih nyimak thor
2022-07-30
1
Nurak Manies
💪💪🌷🌷💖💖💖
2022-04-21
1
Azzam
langsung baper bgt bgt bgt🤭
2022-04-19
1