Merebut POnsel

Denis semakin terkejut, karena kaki dan tangannya diikat. Hanya mata dan mulutnya tidak ditutup. Sekarang, tidak mungkin dia berpura-pura tidak takut atau berlagak berani. Saat ini, dia benar-benar sangat takut hingga wajahnya pucat dan basah karena keringat saking ketakutannya.

Felix, yang sebelumnya terlihat hangat dan baik, malah mengabaikan dirinya sambil tertawa puas dihadapannya.

“Apa yang kau lihat bocah jelek?” bentak Felix, berdiri dihadapan Denis. Denis tidak melawan, dia diam dan menundukkan wajahnya.

“Kau pintar, awalnya, tapi ternyata, kau sama saja seperti mereka, bodoh!” tunjuknya pada anak-anak yang berhasil diculik.

******

Anak perempuan yang sekitar berumur 4 tahun datang menghampiri Denis.

“Hai, apa kau dibawa paksa kesini juga? Atau, apa kalena kau benal-benal bodoh asal ikut dengan olang itu?” tanya wanita kecil itu. Dia jongkok dihadapan Denis yang menundukkan wajah. Kedua tangannya diikat kebelakang, membuat bahu dan lengannya merasa sangat kesakitan.

Karena mendengar suara gadis kecil itu, Denis mengangkat wajahnya, ingin melihat anak mana yang berbicara padanya seperti itu.

‘Kenapa anak ini ada disini dan tidak diikat? Tidak seperti yang lainnya?’ batin Denis berbicara.

Padahal, bukan karena tidak ada orang-orang yang berjaga-jaga sehingga gadis kecil itu bisa berjalan kemana saja.

“Kau siapa? Apa kau anak dari pria tua itu?” wajah Denis kesal melihat gadis yang masih jongkok dengan wajah lugunya.

“Bukan. Papaku sangat kuat dan tampan, bukan sepeyti meyeka. Udah jeyek, gendut lagi.” dengan bangganya gadis itu membanggakan Papanya.

Hampir saja Denis tidak mengerti apa yang dikatakan anak itu. Karena cadelnya dan tidak bisa mengatakan huruf ‘R’.

“Kau sudah makan? Aku punya yoti, ini ambil untuk kamu,” dia memberikan potongan roti pada Denis. Roti yang sudah dimakannya setengah.

Denis menolaknya. Dia memalingkan wajahnya kesudut lain.

“Shinta! Kemari! Apa yang kau lakukan disana?” panggil Nathan. Dia khawatir pada temannya sesama korban diculik. Walau suara Nathan terdengar seperti berbisik, Ina dan Shinta mendengarnya dengan jelas.

Denis melihat Nathan, dimana keadaannya sama seperti dirinya, terikat, lalu melihat Shinta lagi yang malah masih tersenyum menatapnya tanpa rasa takut.

‘Siapa sebenarnya anak perempuan ini?’

“Ini makanlah, jangan malu. Kamu jangan takut juga, kayna bentayl lagi Papaku yang kuat akan datang menolong kita,” Shinta meletakkan potongan roti itu dihadapan Denis. Kalau Denis ingin memakannya, pasti tidak akan kesulitan dan ada caranya.

 “Hey! Kenapa tangan dan kakimu tidak diikat? Kenapa kau tidak membantu kami untuk melepas ikatan ini? Apa kau-

Arshinta berhenti melangkah dan berbalik melihat Denis, “Sssshhh, tenang saja,” ucap Arshinta berbisik dengan jari telunjuknya dimulut.

Shinta berdiri sambil melambaikan tangannya pada Denis, sebelum akhirnya dia kembali pada Nathan dan

duduk disamping anak laki-laki kecil itu.

***

Denis yang kecil itu dengan jelas memperhatikan Arshinta kecil. Nathan, yang tidak suka dengan lirikan Denis, memasang wajah beringasnya pada Denis. Seandainya ada orang dewasa yang menyaksikannya, pasti hanya melihat wajah lucu dan menggemaskan dari Nathan.

Saat tengah malam, terdengar suara jeritan anak kecil, dan Arshinta terbangun dari tidurnya.

“Ada apa? Siapa yang menjeyit?” tanya Arshinta mengusap matanya yang baru terbangun.

“Sepertinya ada anak yang disiksa.” Jawab Nathan ketakutan.

Arshinta berdiri, “Hey, kau mau kemana? Apa kau mau kita disiksa juga? Cepat kesini,” suruh Nathan khawatir. Dia menahan Arshinta agar tidak menghampiri lokasi anak yang menjerit kesakitan itu.

“Aku ingin melihatnya, kenapa dia menangis,” jawab Arshinta tetap melanjutkan langkahnya.

“Hey, cepat kesini!” bisik Nathan memanggil Arshinta. Tapi gadis kecil itu malah terus berjalan. Denis, Ina dan yang lainnya menatap pada Arshinta.

‘Berani sekali anak itu. Sebenarnya anak siapa dia?’ ucap Denis dalam hati.

“Om, apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuka celananya?”

Pria yang dipanggil ‘Om’ itu menoleh melihat kebelakang, yang ternyata ada Arshinta sedang berdiri menatapnya dengan berani.

“Om jahat sekali. Kenapa Om menyakiti anak kecil? kata Papaku, orang dewasa yang menyakiti anak kecil, itu namanya pengecut.”

Pria itu menaikkan celananya dan melepas korbannya yang ingin dilecehkan,seorang anak lak-laki, dan dia adalah Leo. Leo segera memakai celananya sambil menangis dan merasa sakit dipinggangnya akibat digenggam sangat erat.

“Nona manis, kenapa kau ada disini? Kenapa belum tidur?” tanyanya dengan jongkok dihadapan Arshinta.

Gadis kecil itu menangkis tangan pria itu, “Om, tanganmu bau dan joyok, Om jayang mandi ya?” Arshinta menutup hidungnya.

‘Sialan\, kalau Bos besar tidak menyukai wanita ini\, akan aku per***a saja dia.’

“Iya, Om minta maaf ya.”

“Om, aku mau bawa temanku belsamaku. Aku mau bobok dengannya,” pinta Arshinta menunjuk Leo yang masih merintih kesakitan.

Si pria itu melihat Leo lalu melihat Arshinta lagi, “Baiklah, Nona cantik ini boleh membawanya,” ucapnya dengan wajah menahan kemarahannya.

******

“Shinta, kenapa kau berani sekali menghampiri orang jahat itu? kalau kau nanti dibunuh bagaimana?”

“Kau berlagak seperti Papamu mafia saja.” gerutu Nathan yang sangat khawatir.

“Papaku oyang baik kok, tapi mungkin Pamanku yang mafia. Sudahlah, aku punya…. Ini!” Arhinta mengeluarkan ponsel dari belakang tangannya.

“Shinta, kenapa barang itu ada bersamamu? Dari mana kau mendapatkannya?”

“Nanti saja aku jeyaskan. Aku mau telepon Papaku duyu.”

“Cepatlah! Sebelum mereka datang,” Nathan berjaga-jaga mengawasi agar tidak ketahuan.

Semua anak-anak hanya diam dan berharap agar apa yang dilakukan Arshinta berhasil dan mengeluarkan

mereka.

“Nathan, kamu tahu nomoyl Papamu?”

“Tidak, aku tidak ingat,” Nathan menggelengkan kepalanya. Arshinta malah menepuk jidatnya  saat mendengar jawaban temannya itu.

******

Setelah Arshinta menghubungi Papanya, Lucifer, dengan santainya dia menyimpan ponselnya agar tidak ketahuan. Lucifer menyuruh puterinya agar tidak takut dan jangan sampai melawan. Dan akan menjanjikan datang dengan cepat untuk menyelamatkannya.

Denis juga melihat Bos besar yang datang, yaitu Bossa menghampiri dan memberi makanan enak pada Arshinta,  ‘Kenapa anak perempuan ini diperlakukan dengan baik dan manja? Apa dia puterinya?’

Banyak pertanyaan dalam kepalanya tentang Arshinta. Seakan tidak percaya kalau anak itu adalah korban penculikan sama sepertinya.

Setelah beberapa hari kemudian pun, Arshinta mengambil foto dirinya ditempat itu,

‘Apa yang dia lakukan? Disaat seperti ini dia malah berfoto? Apa dia tidak tahu kalau dirinya dalam bahaya?’

Keesokan malamnya.

“Nomornya masih aktif, sepertinya ada yang mengambil Hpmu.” Ucap teman sipemilik Hp. Dia sedari tadi mencoba menghubungi nomor telepon rekannya, yang berada pada Arshinta.

Suara getarannya terdengar jelas, yang ternyata mengarah pada Arshinta dan Nathan. Mereka langsung berjalan menghampiri Arshinta dan Nathan. Bukan hanya Nathan saja yang ketakutan, semuanya takut kecuali Arshinta, masih berusaha tenang.

“Mana Hp itu? cepat berikan?” bentak pria sipemilik Hp pada Nathan.

“Aku, aku tidak tahu Om, aku tidak melihatnya.” Jawab Nathan gemetaran.

Plak!

Tamparan keras diwajah Nathan. Semuanya ketakutan, termasuk Denis. Pasti semua anak-anak akan terkena imbasnya.

“Om jangan pukul temanku!” teriak Arshinta.

Terpopuler

Comments

Edi Nst

Edi Nst

akhir nya ada juga kelanjutan ny,,, masih inget cerita nya kok AQ ,,, ini dia yg aku tunggu",,, baru ketemu 🙂 makasih ya 😘

2022-12-20

0

Rini

Rini

leo nanti besarnya menjadi ahli forensik

2022-04-25

1

Nurak Manies

Nurak Manies

💪💪💖💖🌷🌷🌷
ceritanya mereka masih nonet ya😁

2022-04-18

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 54 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!