Berita penangkapan Lucifer sudah tersebar luas. Irwan dan kawan-kawannya sangat senang mendengarnya. Kantor tempat Abraham, dan Ina menjadi ramai oleh wartawan. Tapi tidak ada yang tahu apa yang direncanakan Lucifer, Denis dan Abraham. Bahkan identitas Denis yang adalah seorang Pengacara pun, tidak ada yang tahu. Banyak yang ingin berkunjung melihat Lucifer, tapi dibatasi. Yang pertama kali bertemu
Lucifer, adalah Eva, isterinya.
Eva langsung memeluk suaminya tanpa mengeluarkan airmata.
Abraham dan lainnya menjaga jarak agar tidak ada yang curiga. Apalagi, Agus, mata-mata Irwan terus membuntutinya.
“Mama harus menjaga kesehatan, walau Papa tidak ada dirumah, Mama harus sehat.” Pesan Lucifer
mengusap kepala isterinya. Sedangkan tangannya yang lain, menggenggam tangan Eva di atas meja.
“Anggap saja Papa lagi bertugas di luar, dan akan segera kembali. Toh, tidak ada yang berani menyakiti
Papa disini,” Adam terus menenangkan isterinya yang panik. Dia tahu, sepanjang hari isterinya menangis karena terlihat dari wajah Eva yang bengkak, apalagi didaerah mata.
Karena mendapat pesan seperti itu, Eva malah menangis lagi.
“Jangan menangis Isteriku, kau lihat putera kita disana? Dia sangat khawatir pada kita. Pasti rasanya berat melihat orang tuanya dalam kondisi seperti ini, jadi, ayo kita bekerja sama.”
Eva melihat Abraham yang berdiri bersandar didinding dengan arah mata pada mereka. Wajahnya murung
dan sedih.
Karena itu, Eva mengusap air matanya. Dirinya juga sebenarnya merasa berat, masih tidak bisa tinggal jauh dari suami tercintanya.
“Ekhem, iya Pa. Mama… mama tidak akan menangis lagi.” ucapnya dengan suara bergetar.
“Gitu dong, anggap saja Papa sedang bekerja dengan Abraham , dan sebentar lagi pulang. Oh ya, nanti siang juga menantu kita mau datang kesini,”
“Iya, Abraham juga mengatakan itu.”
“Bawa saja Bellova kalau Mama merasa kesepian.”
“Mana mungkin, nanti Abraham ngambek lagi.”
“Hahaha..”
Abraham akhirnya bisa bernapas lega saat melihat orang tuanya tertawa dan tersenyum bahagia.
Memasukkan papanya kedalam penjara saja, sudah membuatnya merasa sangat bersalah. Tapi, karena nasihat dan ide dari Denis, yang hanya itu saja jalan keluarnya, Abraham mengikutinya.
Arshinta dan Ina juga selalu menemani Eva dirumah, bahkan menginap bersama Satmaka atau Aditya. Tentu
tidak sampai satu kamar.
Sebelum Eva pergi karena waktu besuk berakhir, Eva memberikan pakaian hangat, dan makanan kesukaan suaminya.
“Mama jangan khawatir ya, meski aku mengatakan ini terus menerus, tolong jaga kesehatannya.”
“Iya Sayang, Mama percaya padamu dan yang lainnya. Hanya, memang Mama saja yang cengeng begini,
maklumlah namanya juga wanita.” Eva memeluk Abraham.
Aris dan Hendra, bertugas untuk menjaga dan melindungi isteri dari bos besarnya. Mereka menunggu
disekitar kantor. Dua anak buah kepercayaan Lucifer ingin melihat bosnya, tapi mereka harus menahan dulu karena lebih diutamakan keluarga dan orang penting dulu.
“Kalau begitu, Mama pulang dulu ya,”
“Ada yang jaga kan Ma?”
“Iya, ada Aris dan Hendra. Mereka lagi menunggu diluar.”
“Ya udah Ma, hati-hati dijalan. Kalau ada yang jahatin, kasih tahu Bram, biar dimasukkan kedalam penjara.”
“Hahaha, tenang saja, ada mereka berdua saja, tidak ada yang berani tuh. Oh ya, kata papamu, Bellova mau datang kesini?”
“Iya, Ma. Setiap hari, dia datang untuk mengantar makan siang, dan sekalian kan, makan siang bersama.”
“Wah, tapi jangan memaksanya ya, kalau dia tidak mau, jangan suruh.”
“Aku tidak memaksanya kok.”
“Kau harus bisa melihat dari ekspresi wajahnya, kau pasti tahu kan?”
“Iya Ma, iya.”
****
“Sampai kapan aku disini? Dasar orang jahat! Apa kau tidak tahu siapa aku? Hah?”
Plak!
denis menampar Angela. Wanita itu menjerit kesakitan. Pipinya terasa panas, masih dengan satu tamparan.
Ujung bibir Denis terangkat melihat wajah Angela.
“Aku tahu kau siapa. Kau adalah anak dari sampah masyarakat. Sampah, harus dibuang pada tempatnya.
Tapi karena kau sampah yang susah hancur, jadi harus ditanam sampai busuk.”
Menjelang siang, Denis pergi ingin menemui Angela di tempat rahasia yang diaturnya. Rumah kecil dengan
satu pembantu. Dan diluar rumah, ada juga beberapa anak buah Lucifer untuk menjaga.
Adanya pembantu, bukan untuk melayani Angela. Tugasnya hanya memberikan makanan pada Angela, 2 kali
sehari, itupun hanya nasi dan tahu atau tempe. Yang penting, wanita itu masih hidup.
“Kesalahanmu sudah sangat banyak, tapi kau bisa bernapas lega sedikit, karena sekarang bukan bagianmu dulu untuk diurus. Kau harus menikmati sengsara dan siksaan ini terlebih dahulu, Lacur!” caci Denis menarik rambut Angela hingga dia kesakitan.
Keadaan Angela juga sangat memprihatinkan. Tubuhnya yang kurus, rambut dan penampilan yang berantakan. Pakaiannya saja diganti satu kali dalam 4 hari. Disekap didalam kamar kecil tanpa jendela dan hanya ada satu pintu saja. Kamera CCTV juga ada disudut kamar tanpa Angela ketahui.
Sudah berapa kali Angela ingin kabur, tapi baru keluar dari kamar, anak buah Lucifer sudah berdiri dan memasukkannya lagi kedalam kamar dengan pengawasan yang semakin ketat.
“Kau sebenarnya siapa??! Apa yang kau inginkan?” teriak Angela.
Plak! Plak!
“Jangan berteriak breng**k! Kau tidak tahu ada dimana?” Denis menampar Angela lagi.
Walau dia laki-laki, tidak ada perbedaan untuknya, memukul perempuan atau laki-laki.
Angela sebenarnya sudah ketakutan pada Denis sejak pertemuan pertama mereka. Hanya saja dia masih
menutupinya dengan sedikit keberanian.
“Aku dengar, kau sudah melakukan kesalahan yang mengakibatkan seorang wanita hampir mati ya?”
Brugh!
“Akkh..”
Brugh!
Denis menendang perut Angela hingga dia menjerit kesakitan. Dia memeluk dirinya sendiri untuk melindungi perutnya agar tidak kena pukulan lagi.
“Hah, menyebalkan. Aku ingin membunuhmu sekarang juga, tapi, karena kau masih harus digunakan, aku harus menahannya dulu.”
30 menit kemudian, Denis keluar dari kamar. Angela lega karena Denis keluar dan tidak akan memukulnya lagi.
“Bi, awasi dia, kalau dia menjerit atau menangis disana, abaikan saja. Apapun yang dia katakan, jangan perduli, karena dia orang gila.”
“Iya Pak, tapi kalau dia mati, gimana Pak?”
“Gak mungkin dia mati Bi, tenang saja. Yang penting, kasih makan dua kali sehari saja, banyakin air ya.”
Denis pun pergi meninggalkan rumah kecil itu. Sebelumnya dia memberikan uang yang banyak pada pembantu dirumah itu.
***
“Papa,” panggil Bellova. Dia baru datang dengan membawa bekal makan siang.
Lucifer yang sedang membaca buku di sel khusus melihat Bellova.
“Menantuku,” ucapnya meletakkan kacamata dan buku bacaannya.
Atas permintaan Bellova, dia meminta untuk masuk kedalam sel penjara.
Tanpa canggung, Bellova mengobrol dengan mertua laki-lakinya.
“Papa sudah makan? Bellova bawa makan siang.”
“Papa sudah makan kok, tadi mamamu juga datang.”
“Tapi Pa, ini makanannya sengaja Lova bawa banyak.”
“Kamu makan dengan suamimu saja. Dia pasti sudah lapar.”
Wajah Bellova terlihat murung, tapi berusaha tersenyum meski merasa sedih.
“Ya sudah, ini saja yang Papa ambil, senang kan?” Lucifer mengambil buah pir Korea yang besar dan manis.
“Iya Pa,” tiba-tiba wajah Bellova tersenyum cerah. Lucifer tidak mau membuat menantunya merasa tidak enakkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Nurak Manies
💪💪💖💖🌷🌷🌷
2022-05-01
0
umiazmi
adam laki2 baik ok. ..sgra tangkap tuh irwan org yg sampahhh
2022-04-08
1
"SAYANGKU"😘
mau donk papa mertua yg seperti papa Lucifer
2022-04-05
2