Kembali kemasa sekarang.
Semua anggota keluarga yang sudah berkumpul dirumah kediaman Lucifer. Menatap heran pada Denis yang
sedari tadi hanya tersenyum tanpa merasa bersalah.
Abraham melihat Bellova yang masih melihat Denis. Rasanya dia ingin langsung bertanya, hubungan apa antara isterinya dengan pria yang belum pernah dia lihat.
“Denis, kenapa kau datang kesini?” tanya Revand yang ikut berdiri.
Denis tidak langsung menjawab, dia masih berdiri dihadapan Lucifer yang duduk dengan tenang.
Anak muda itu tersenyum ramah pada pria yang usianya hampir 60 tahun itu. Walau umurnya menua, dan kerutan diwajahnya, tidak menghilangkan aura misterius dan tajamnya.
“Aku ingin melihat Papaku lah, mau apalagi tujuanku datang kesini.” Jawab enteng Denis tersenyum menatap Lucifer.
“Revand, apa kau kenal dengan orang itu?” Vicky melirik Denis. Karena dirinya tidak tahu atau tidak ingat pernah bertemu atau tidak.
Revand melihat denis, Lucifer dan Vicky secara bergantian. Semuanya juga penasaran termasuk Eva. Revand menjadi target tatapan mereka, meminta agar segera dijelaskan.
“Ehem, kamu duduk dulu Denis,” suruh Revand yang juga ikut duduk. Mereka yang berdiri pun akhirnya duduk.
Denis mengambil posisi duduk tepat disamping Bellova. Masih sama, pria itu terus tersenyum pada Bellova, sedangkan isteri Abraham itu hanya tersenyum sekedarnya dan mengalihkan wajah.
‘Apa yang terjadi?’ batin Abraham.
Revand pun menjelaskan semuanya tentang Denis. Tidak ada yang tertinggal informasi apa yang mereka
inginkan. Sepanjang Revand menceritakan, Lucifer melihat Denis terus.
“Hey! Jangan melihat menantuku seperti itu,” ucap Lucifer memotong perkataan Revand.
Karena Lucifer berbicara seperti itu, semua melihat pada Denis.
‘Dia terlihat kurang ajar. Apa dia menyukai kakak iparku?’ tanya Arshinta dalam hati yang kesal.
“Maafkan aku Papa, itu karena aku melihat Nona Bellova sangat cantik.” Ujar denis tanpa merasa sungkan
.
“Nona? Dia adalah isteri puteraku. Lagipula aku sudah bilang, ‘Jangan melihat menantuku’, artinya
dia sudah menikah.” Ucap Lucifer lagi dengan nada suara pelan namun terdengar jelas.
“Oh, iya Pa, iya.” Balas Denis. Tidak merasa bersalah atau tersinggung. Walau begitu, dia masih melirik Bellova walau wanita itu tidak mau melihat padanya.
Eva juga kesal. Tidak suka cara Denis berbicara seperti itu. Kekesalannya hanya berkurang ketika tahu kalau Denis adalah salah satu anak yang dirawat suaminya.
“Aku sudah tahu dan mendengar semua kasus itu. Dan aku datang untuk membantu kalian, maksudku, aku
ingin membantu Papa Lucifer.” Ucap Denis.
“Bagaimana caramu membantu?” pertanyaan muncul dari Abraham.
Ujung bibir Denis terangkat, “Apa kau lupa siapa aku?”
Abraham berusaha bersabar dengan tingkah tengil dari Denis.
“Aku adalah pengacara, dan sudah banyak kasus aku selesaikan.”
Sesaat Denis diam dan menarik napasnya untuk mulai berbicara lagi.
“Tidak ada yang akan keluar dari Indonesia ini hanya karena masalah ini. Lagipula penjahat yang paling kejam dan licik sudah mati, hanya tinggal antek-anteknya saja kan? Itu mah gampang, buat apa kalian semua sibuk berkorban.” Lagaknya Denis berbicara.
Denis berdiri, yang lainnya masih diam menyimak apa yang akan dikatakan Denis. Dari gerak-gerik laki-laki itu, dia akan berbicara lagi.
“Abraham tidak usah sampai melepas jabatan, Papa Lucifer juga tidak sampai dihukum mati. Tidak akan ada yang kehilangan disini.”
“Tapi, diluar sana sudah banyak yang ikut bergabung untuk menangkap Papa,” sekarang Arshinta yang memberi komentar.
Denis berbalik, melihat Arshinta yang duduk.
“Ya ampun Shinta, waktu kecil kamu sangat semangat dan pemberani sampai aku kagum padamu, tapi kenapa sekarang kau malah ketakutan begitu?”
“Aku tidak takut-
“Santai saja Sayang.”
“Apa? Apa yang kau katakan?” Satmaka menyela perkataan Denis.
“Jangan coba-coba menggodanya-
“Pft, siapa yang menggodanya?” Denis menggaruk alisnya sambil menahan tawa.
Satmaka, Ina dan Arshinta dilihatnya satu persatu. Tentu saja dia ingat siapa saja mereka, sama sepertinya yang pernah diculik.
“Anak-anak angkat Papa ini semuanya terlihat hebat ya. Tidak sia-sia Papa membesarkannya.”
Revand menepuk keningnya pelan. Dia merasa bersalah mengatakan dimana Lucifer pada Denis.
“Ayolah, jangan melihatku dengan tatapan seperti itu. Seakan-akan aku adalah orang jahat disini. Sudah aku katakan, aku ingin membantu kalian, apa aku salah?”
Karena disinggung, mereka menoleh tidak melihat Denis dengan sinis lagi.
“Jadi apa rencanamu Denis?” tanya Lucifer. Lucifer menunggu saran dari Denis yang percaya diri bisa mengatasi semua.
“Mungkin karena Papa Lucifer sudah tua, makanya semangat hidupnya turun-
“Kau!! Tutup mulutmu! Dari tadi kau berbicara seenakmu saja. Apa kau pikir hanya karena Papaku merawatmu dan kau bersikap tidak sopan? Hah?” Abraham berdiri sambil berteriak marah pada Denis. Dia merasa kalau Papanya tidak dihargai. Kalau tidak mengingat keluarganya, dia pasti akan melayangkan tinjunya diwajah Denis.
“Bram, tenanglah,” Bellova membujuk Abraham untuk tenang, menarik ujung lengannya agar segera duduk.
Abraham melihat Bellova, isterinya itu terus membujuknya dengan wajah memelas. Denis melihatnya pun tidak suka.
Akhirnya Abraham duduk kembali, tapi wajahnya masih sangat kesal, begitu juga dengan yang lainnya.
“Ehem, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk tidak sopan pada kalian, terutama pada Papa Lucfer.” Suara Denis memelan. Dan sekarang wajahnya terlihat merasa bersalah dan murung.
Beberapa saat mereka semua diam dan hening. Karena keadaan yang genting, semuanya gampang emosi dan kesal. Tidak ada waktu atau tidak ada yang tahu kapan Denis bercanda atau serius.
“Aku dengar kalian sedang mencari Angela, puteri dari Si Irwan kan?”
Abraham mengernyitkan keningnya, “Jangan bilang kau yang menculiknya?”
“Aku tidak menculiknya, ekhem, apa aku menculiknya ya?” Denis menyentuh dagunya.
“Jadi kau-
“Tunggu dulu, tahan dulu emosimu Bram.” Denis mengangkat tangannya agar Abraham tetap tenang.
“Saat itu aku tidak sengaja bertemu dengannya di Bandara, dan aku tahu, pasti kau yang menyuruh anak buahmu menjaganya. Tapi ditengah jalan, mereka dihadang orang lain, yang menurutku mereka adalah suruhan dari Irwan sendiri.”
Ucapan Denis masuk akal mereka dengarkan.
“Justru aku membawa wanita itu bersamaku, agar mereka tidak membawanya. Harusnya kau berterima kasih padaku Bram. Anak buahmu itu sangat lemah dan bodoh.”
“Jangan menghina mereka! kau tidak tahu apa-apa.”
“Hm, terserahlah. Tapi yang jelas, sekarang wanita itu ada bersamaku. Tenang saja, aku tidak akan menyakitinya karena dia akan berguna untuk kita.”
“Sekarang diluar sana, pasti Irwan yang sengaja menyebarkan berita hoaxnya, seakan-akan Papa Lucifer yang melakukannya.” Ucap Denis.
Memang benar. Itu adalah rencana Irwan, orang tua kandung Angela.
“Tidak ada yang tahu kalau wanita itu bersamaku, termasuk anak buah mereka. Dan tentu saja kalian yang dituduh menculiknya.”
Denis menceritakan semua rencana dan ide-idenya.
Awalnya, suasana yang menegang dan menahan emosi, perlahan-lahan mulai mencair. Tidak ada lagi yang
menatap sinis pada Denis, kecuali Abraham.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Aini Uzumaky Giuventciny
akhirnya sekian lamanya, nemu juga episode ini, lov lov you thor hehe
2023-07-22
1
Lili Lala
kak authornya nulis juga di fizzo, judulnya Tolong Jangan Buang Aku
TERJEBAK CINTA DAN NAFSU,
by Linieva
2022-08-03
1
baby_chubby
setelah sekian purnama tak baca novel sekarang aku baca lagi thor..dan itu nyari karya mu 😘
2022-07-29
1