“Jadi kau ingin membawa Raka bersamamu?”
“Iya, besok aku dan kak Ina ingin pergi berbelanja dulu, dan Raka minta ikut bersama kami.”
“Oh,”
“Bagaimana? boleh tidak anaknya aku bawa nginap ditempat kak Ina? Kalau tidak boleh, aku akan mengantarnya pulang sekarang, tapi aku tidak tanggung jawab ya kalau Raka nangis.”
“Hm, secara tidak langsung kau sudah mengancamku Sayang.”
“Pft, ketahuan ya,”
“Ya sudah, Raka boleh ikut bersamamu. Lagipula nanti saat kita menikah kan, dia akan tinggal bersamamu juga, jadi biar dia tidak canggung.”
“Apa kau lupa saat pertama kali kami bertemu? Sepertinya Raka sudah menyukaiku tuh,”
“Hah, aku tidak bisa berdebat lagi denganmu, kau menang Sayang.”
“Tapi, apa tidak apa-apa dengan pekerjaanmu? Bagaimana dengan sekolahmu?”
“Hm, aku meliburkan sekolahnya untuk beberapa waktu saja. Lagipula, orang tua murid juga sudah membawa keluar anaknya karena tidak mau terlibat tentang kasus itu. Tapi, aku tidak kehilangan kepercayaan dari murid-muridku yang teladan. Kalau anak-anak kaya yang sombong itu pergi meninggalkanku, itu tidak masalah, yang penting bibit-bibit asset negara ada padaku,” ucap Arshinta dengan bangga.
Mereka sedang mengobrol melalui video call. Tertawa dan tersenyum bersama sambil bercerita.
“Jangan lupakan aku Sayang. Karena aku juga percaya denganmu dan papa Lucifer.”
“Oho, tentu saja aku tidak lupa denganmu Nathan. Dari kecil, kau sudah percaya padaku kan?”
“Ekhem, sebenarnya bukan percaya, aku hanya mencoba menjagamu dari aksi nekad dan bodohmu itu.
Saat papa Lucifer datang, aku pikir beliau bukan sekedar preman yang khawatir dengan puteri kesayangannya, eh ternyata beliau adalah bos mafia.”
“Jadi, apa kau takut dan menyesal menyukaiku?”
“Hahaha, siapa yang bilang? Lagipula aku bukan hanya menyukaimu, tapi aku mencintaimu. Jangan lupa, aku mencintaimu.”
“Iya, iya, aku tidak lupa. Buset deh, apa kamu tidak bosan mengucap kata-kata lebay itu.”
“Loh, kok lebay sih. Itu kan pernyataan dari perasaan hatiku yang terdalam.”
“Pft, maafkan aku. Rasanya aku geli dengarnya. Lihat nih, bulu-bulu ditanganku sampai berdiri merinding,” Arshinta mengarahkan kamera ponselnya ditangannya.
“Ah, kau selalu begitu,” wajah Satmaka yang di panggil Nathan itu murung.
“Dih, ngambek? Cup, cup,cup,” ledek Arshinta.
“Ngomong-ngomong, dimana Raka? Aku tidak melihatnya?” Satmaka mengalihkan topik.
“Oh, dia ada dengan kak Ina. Mereka berdua ada di kantin beli roti. Sebentar lagi kami mau pulang.
Makanya aku menghubungimu untuk memberitahukan.”
“Asal dia ada bersama kalian, aku bisa tenang.”
“Hm, Nathan,”
“Hm? Kenapa?”
“Apa tidak apa-apa denganmu?”
Dari kamera Arshinta, terlihat kalau pasangannya sedang mengernyitkan dahi.
“Maksudnya?”
“Kau tahu kan keadaan kami semua. Aku, kak Ina dan kak Abraham sedang dilanda rumor berat. Siapapun yang terlibat dengan kami akan menjadi target mereka-mereka yang tidak tahu apa-apa. Termasuk kamu.”
Wajah Arshinta serius saat berbicara.
“Sayangku, Cintaku, Soul-
“Aih, jangan panggil aku seperti itu dong, nih lihat bulu kudukku berdiri lagi,” Arshinta menggosok-gosok tangannya untuk menidurkan bulu-bulu tangannya yang memang berdiri.
Sebenarnya Nathan ingin mencairkan suasana obrolan saja.
“Hahahaha, iya, iya. Habis, kamu serius sekali.”
“Kau itu memang harus diingatkan setiap detik ya, siapa aku, Ina, Leo, dan anak-anak lainnya yang ikut diculik saat itu. Kita sama-sama ada disana, melihat, merasakan, dan diselamatkan oleh papamu. Kalau bisa bicara jujur, bahkan papaku saja tidak sehebat papamu, bukan aku tidak menyukai papaku. Aku sempat kecewa dengan papaku yang langsung bersembunyi dan menghindari kalian. Tapi, aku yakin itu adalah pilihannya yang terbaik untuk kami.”
Arshinta mendengar dengan tenang. Dia duduk dikursi dimana Ina duduk saat mengerjakan pekerjaan
kantornya.
“Kami semua ada saat kejadian itu, dan aku yakin, mereka juga percaya pada papa Lucifer. Sayang, biarkan mereka diluar sana yang tidak tahu apa-apa menilai kita. Mau mulutmu berbusa untuk menjelaskan yang sebenarnya, mereka tidak akan percaya sampai mereka mengalaminya sendiri. Aku salut pada papa Lucifer, bisa bertahan dan tetap tenang menghadapi semua.”
Satmaka diam sesaat, ingin melihat reaksi wanita yang dicintainya.
“Mungkin yang sekarang kita khawatirkan adalah kakak ipar kita, Bellova.”
“Mmm? Bellova?”
“Iya. Karena dia adalah benar-benar ‘orang luar’ yang tidak tahu apa-apa. Saat ini dia pasti ketakutan meski ditutupi.”
“Iya juga sih. Walau dia berusaha untuk tenang, pasti dia cemas.”
“Makanya, kalau kau dan Ina pergi, bawalah dia bersama kalian, agar dia tidak merasa diabaikan atau sendirian. Kau tahu kan, pasti Abraham saat ini sedang sibuk-sibuknya.”
“Benar. Memang rencananya besok kami akan mengajak kakak ipar bersama kami.”
“Baguslah. Aku dukung kamu Sayang.”
Ceklek!
“Kakak Shintaaaa.” Raka dan Ina membuka pintu. Ditangannya sudah ada permen bertangkai dan berlari mendekati Arshinta.
Pluk!
Langsung mendaratkan dirinya dipaha Shinta.
Arshinta menggendong Raka, memangkunya dan berbicara dengan Satmaka lewat ponselnya.
“Raka, kata kak Shinta, kamu mau nginap dengannya ya?”
“Iya Pa.”
“Tidak apa-apa, tapi kamu jangan nakal ya,”
“Iya Pa, Aka akan dengalkan kak Shinta.”
Satmaka senang mendengarnya. Untuk selanjutnya papa dan anak itu sedang mengobrol asik.
“Baiklah, sepertinya kalian sudah mau pulang ya. Teleponnya kita tutup saja ya. Hati-hati dijalan.”
“Iya, kamu juga langsung pulang saja, ini sudah mau malam, jangan dikantor terus, jaga kesehatan.” Pesan Arshinta sebelum menutup teleponnya.
Ina sedang duduk santai menunggu adiknya mengobrol dengan calon adik iparnya. Hampir 1 jam dia dan Raka bermain diluar. Ina sangat menyukai anak kecil, dan hanya ada Raka anak kecil yang muncul dikeluarga besar mereka, dan tentu saja, bukan hanya Ina yang gemas dengan Raka. Raka yang berusia hampir 5 tahun itu mendapatkan banyak kasih sayang dari keluarga Arshinta.
“Yuks, kita pulang sekarang,” Arshinta berdiri setelah memasukkan ponsel kedalam tasnya. Sambil menggendong Raka.
“Sudah selesai ngobrolnya?”
“Udah dong.”
“Dek, Kakak lapar nih, kita makan diluar saja ya.”
“Iya, aku juga lagi malas masak, hehehe.”
“Sama,” balas Ina ikut tertawa juga.
Mereka berdua berjalan bersama keluar dari ruangan. Ina membuka pintu dengan lebar agar Arshinta keluar lebih dulu karena sedang menggendong Raka.
“Pakai mobil kakaka saja ya, mobil kamu diparkir disini saja.”
“Iya. Oh iya kak, kita juga harus memberitahukan pada kak Abraham untuk mengajak kakak ipar besok.”
“Selamat sore Bu Ina, sudah mau pulang?” tiba-tiba Sakya dan Zafran datang.
“Iya, kalian masih disini? Berduaan lagi, ngapain?” canda Ina.
“Eh? Kalian pacaran ya? ckckckckck, apa gak ada perempuan didunia ini?” Arshinta pun ikut meledek mereka.
Zafran melihat Sakya, dan spontan jaga jarak. Sedangkan Sakya tertawa geli.
“Karena kami tahu Bu Ina dan Arshinta belum pulang, kami sengaja disini sebagai jaga-jaga saja.” ucap Sakya setelah puas tertawa.
“Oh, kirain kalian lagi ngedate.”
“Buset, masa main pedang-pedangan.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Nurak Manies
😁😁😁😁
2022-04-26
1
Azzam
mereka sama ky BPK BPK ny pengabdi setia,
2022-04-20
1
Putri Utari Paputungan
lebih tertarik rumah tangganya bellova dan abraham
2022-04-01
1