Isteriku Tidak Penakut

Ting!

Sebuah pesan WA masuk. Saat itu, Abraham, Adley dan Ridwan sedang berbicara tentang kasus-kasus yang terjadi, diluar dari kasus Lucifer.

Abraham mengernyitkan keningnya saat melihat sebuah pesan yang masuk dari adiknya, Arshinta, yang dilihat masih dilayar depan ponselnya saja.

Pikir Abraham ada berita atau pesan penting dari Arshinta, makanya Abraham tidak menunda dan langsung membuka isi pesan.

Pesan WA pun sudah dibuka, dan ada 2 foto yang dikirim Arshinta, yakni foto Bellova saat mengenakan dress berwarna hitam.

Karena Abraham membuka foto saat ponselnya diatas meja, Adley dan Ridwan bisa melihat, foto siapa yang dilihat atasannya.

Abraham menyadari dengan tatapan dari rekannya, sehingga ponsel diangkat agar mereka tidak bisa melihatnya lagi.

Tentu saja aksi Abraham membuat dua rekannya tersenyum lucu.

Foto Bellova yang dikirim Arshinta, ditatapnya beberapa menit. Entah bagian mana yang ditatap Abraham itu.

Arshinta : Bagaimana? cakep kan? Kakak ipar akan memakai ini.

Lagi, Abraham mengernyitkan dahinya, ‘Apa-apaan ini, kenapa mereka menyuruh Bellova memakai pakaian seksi seperti ini?’

Abraham : Jangan! Aku tidak mau Bellova memakai pakaian itu, suruh ganti!

Abraham membalas isi pesan dari adiknya.

Abraham gelisah dan khawatir. Dia tidak mau, orang-orang mesum melihat lekuk tubuh isterinya, apalagi tidak ada dirinya disana, untuk menjaga mata mereka dari Bellova.

Dia menunggu balasan dari adiknya. Wajahnya sangat serius.

‘Ada apa dengannya?’

‘Entahlah, apa dia sedang marah?’

Adley dan Ridwan saling melihat, seakan mereka sedang berbicara dari batin ke batin.

‘Kenapa tidak ada balasan dari Arshinta?’

‘Apa Bellova masih memakai pakaian itu?’

Menunggu balasan dari Arshinta, membuatnya tidak nyaman dan tenang.

“Ekhem, Pak Abraham, bagaimana dengan tindakan selanjutnya?” tanya Adley membuka topik.

Abraham hanya melihatnya sebentar, lalu kembali fokus pada ponselnya.

Padahal, di lain tempat, Arshinta, Ina dan Bellova sedang asik memilih mana yang ingin mereka tonton.

Karena ponselnya diatur silent, Arshinta tidak tahu kalau ada pesan masuk dari kakaknya.

“Lov, kamu mau nonton yang mana?”

“Mmm, bagaimana kalau yang ini saja?” tunjuk Bellova pada film horror.

“Hm? Kau mau nonton ini?” tanya Arshinta untuk meyakinkan Bellova. Dia seakan tidak percaya, kalau kakak iparnya memilih untuk menonton film horror yang sangat seram.

Bellova menjawab antusias dengan anggukan kepala juga.

“Ya sudah, kalau begitu kita nonton yang ini ya,” Ina pun setuju dengan film pilihan Bellova.

Sebelumnya, mereka sudah selesai memilih sepatu, gaun, pakaian casual dan pakaian dalam. Sudah makan siang juga. Dan semua yang dibelikan untuk Bellova, adalah pemberian dari Ina dan Arshinta untuknya. Meski pada awalnya Bellova terus menolak dengan halus dan menunjukkan black cardnya, namun kedua iparnya tetap menolak dan ingin memberikan padanya secara pribadi.

“Anggap saja ini adalah sebagian hadiah pernikahan untuk kamu Bellova,” begitulah ucapan yang dilontarkan Ina dan Arshinta, dan itu juga yang membuat Bellova berulang kali tidak bisa menolak.

***

“Kalian tidak mau mampir dulu? Abraham juga pasti sudah pulang.”

“Tidak usah kakak ipar, kami mau langsung pulang saja karena ini juga sudah menjelang malam.”

“Kalau begitu, sampai jumpa lagi. Dan, terima kasih buat hadiahnya, aku sangat senang,”

“Iya, sama-sama. Sekarang masuklah, anginnya sangat dingin,” suruh Ina.

Setelah menurunkan Bellova didepan rumah, Ina dan Arshinta pulang tanpa mampir.

Bellova pun masuk kedalam rumah. Dengan beberapa papper bag di kedua tangannya.

Tok… tok… tok..

Bellova mengetuk pintu karena tahu kalau suaminya sudah pulang, ada mobil milik Abraham yang sudah parkir dihalaman.

Ceklek!

Tidak menunggu lama,Abraham sudah membuka pintu.

“Bram?”

Abraham malah memperhatikan Bellova, mulai dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.

‘Jadi dia sudah mengganti pakaiannya? Dia mengganti saat mau kesini, atau saat aku mengatakan pada Arshinta?’

“Bram, apa aku bisa masuk kedalam?”

“Hm? Oh, iya,” Abraham membuka pintu dengan lebar agar Bellova bisa masuk. Isterinya masuk dengan melewati dirinya.

Isterinya meletakkan barang belanjaannnya dilantai, dan dia masih berdiri, belum duduk. Abraham menutup kembali pintu dan menghampiri Bellova.

“Mmm… kamu sudah makan? Apa mau aku masakkan makanan?”

“Tidak usah, aku sudah makan tadi diluar.”

“Oh..” Bellova mengangguk.

Abraham masih terus memperhatikannya dalam diam. Ditatap seperti itu, tentu saja membuat Bellova malu.

“Mmm, ada apa?” tanya Bellova menyingkap rambut kebelakang telinganya.

“Kamu duduk saja dulu,”

Bellova pun duduk.

“Kamu habis belanja?”

“I… iya, tapi ini semua Arshinta dan kak Ina yang membelinya, aku tidak menggunakan kartu dari Bram.” Bellova menjelaskan.

“Kamu menggunakan Black Cardnya juga tidak apa-apa kok. Tapi kenapa mereka yang membelinya untukmu?”

“Itu… itu kata mereka sebagai hadiah pernikahan kita.”

Gantian Abraham menganggukkan kepalanya.

“Apa dari awal pergi, kamu memakai pakaian ini?”

“Iya. Kenapa?”

“Kamu tidak memakai pakaian seksi kan? Yang warna hitam?” tanya Abraham yang duduk mengangkat salah satu kaki dan menatap isterinya yang duduk dihadapannya.

“Tidak kok. Dari awal aku pakai pakaian ini. Di toko kain tadi, Kak Ina membelikanku dress berwarna hitam, Arshinta menyuruhku untuk memakai pakaian itu, tapi aku tidak mau.”

“Kenapa kau tidak mau?”

“Aku… aku malu dan lagipula, dressnya sangat pendek, aku tidak percaya diri memakainya. Untungnya mereka tidak memaksaku memakainya sepanjang hari.” Penjelasan lengkap dari Bellova.

“Hm, baguslah kalau kau tidak memakainya sepanjang hari.” Ucap Abraham. Suaranya sangat pelan.

“Apa Bram akan marah kalau aku memakai pakaian itu?”

“Iya, tentu saja aku marah!”

“Kenapa?”

“Kalau kau memakai pakaian pendek seperti itu, pasti akan ada banyak pria mata keranjang menatap genit padamu. Dan mereka pikir, kalau kau adalah wanita yang disewa untuk… untuk…”

‘Aduh, bagaimana caraku menjelaskannya.’ Abraham menggaruk pelipis matanya. Sedangkan Bellova, menatapnya dengan penasaran.

“Ah, sudahlah. Selain belanja, apa lagi yang kalian lakukan?” tanyanya mengalihkan topik.

Untungnya Bellova bisa dialihkan topik pembicaraannya.

“Kami menonton film,” jawab Bellova antusias. Terlihat dia sangat semangat untuk menceritakan kegiatan yang sudah dia lakukan bersama iparnya.

“Oh ya? Film apa yang kalian tonton?”

‘Pasti yang mereka tonton adalah film yang romantis. Para wanita kan lebih suka dengan hal-hal yang lebay dan romantis.’

“Judulnya ‘Pocong Terbang’.” Jawab Bellova tersenyum semangat.

Wajah Abraham berubah heran, terkejut, kaget, dan apalah itu yang menunjukkan ekspresi lainnya.

“Apa??” Abraham mengernyitkan dahinya.

“Iya, judulnya ‘Pocong Terbang’. Film itu sangat seru, walau seram tapi aku suka menontonnya. Tapi aku penasaran dan bertanya-tanya, sebenarnya, pocong itu melompat atau terbang?” pertanyaan yang membuat Bellova kebingungan. Karena yang dia tahu, kalau hantu jenis itu terkenal melompat, bukan terbang.

‘Sama, aku juga bingung dan bertanya-tanya denganmu. Kenapa kau bisa menonton film seram seperti itu?’

‘Dan lihat wajahmu itu, sangat bersemangat menceritakannya.’

“Hais, isteriku ternyata tidak penakut.”

“Hm? Apa yang Bram katakan?”

“Tidak, tidak ada,” Abraham menggelengkan kepalanya.

Terpopuler

Comments

Apendi Pendi

Apendi Pendi

pak polisi lagi ngintrogasi istri 🤭

2022-06-01

2

Febriani Soemantri

Febriani Soemantri

Yuk bucin yuk kaya papa lucifer

2022-05-26

0

Nurak Manies

Nurak Manies

😁😁😁😁

2022-04-27

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 54 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!