Chapter 6 : Victims

"Kenapa Mr. Jannivarsh dimakamkan begitu jauh dari sini? Mengapa harus di Swiss?" Yonesha mendengkus saat tahu ia takkan mendapatkan jawaban. Zhayn, pria itu masih saja membungkam mulutnya. Ia hanya sibuk dengan tablet di tangannya. Tampak tak memedulikan ocehan Yonesha semenjak keduanya meninggalkan kantor ISA.

"Andrew!" merasa tak akan mendapatkan jawaban, Yonesha mengalihkan perhatiannya pada sang supir yang tak lain tangan kanan Zhayn sendiri.

"Ya, Miss?"

"Kenapa kau mau jadi tangan kanannya? Bukankah kau bagian dari ISA?" Andrew tertawa kecil sebelum menyahut.

"Saya menjadi bagian dari ISA setelah mengabdi pada Mr. Jannivarsh. Beliau meminta saya untuk mengikuti pendidikan di akademi selama beberapa tahun."

"Ck, dia hanya memata-mataiku lewat dirimu!" mendadak Zhayn angkat bicara dengan nada ketus. Pria itu melepaskan kacamatanya dan bersedekap seraya memejamkan mata. Ya, apalagi alasan Andrew bergabung dengan ISA jika bukan karena ingin mengawasinya? Ayolah, sang ayah memang selalu bertindak berlebihan. Zhayn nyaris muak mengingatnya.

"Dasar, tidak sopan!" Yonesha mendesis, sementara Andrew hanya mengulas senyum sambil mempertahankan fokusnya pada jalanan.

Dalam dua puluh menit, mereka tiba di sebuah bangunan apartemen mewah. Tak selang lama, dua mobil lain menyusul, keluarlah beberapa pria bersetelan serupa yang langsung memberikan anggukan pada Zhayn. Selanjutnya, Yonesha mengikuti langkah Zhayn menuju lift pribadi yang mengarah ke penthouse.

"Aku ingin penerbangan jam 10 pagi."

"Baik, Sir." Andrew mengangguk ketika pintu lift terbuka.

Zhayn pun berlalu setelah memberikan isyarat pada Yonesha untuk mengikutinya. Pria itu memasukkan security code dan sidik jarinya sebelum pintu terbuka. Yonesha melangkah melewati koridor singkat yang mengarahkan ke ruang utama. Sebuah penthouse dengan gaya modern dan maskulin. Bangunan mewah itu didominasi warna hitam dan putih yang berpadu sempurna. Sebagian dindingnya berupa kaca jernih yang begitu kokoh. Dengan tirai panjang kelabu yang menjuntai elegan.

Sebuah tangga berkelok berdiri di sudut ruangan. Pijakannya terbuat dari kaca kokoh dengan pegangan besi mengilap. Sebuah mini bar berdampingan dengan dapur praktis yang berdesain minimalis. Di sisi lain, tampak jajaran pintu kaca yang mengarah ke kolam renang pribadi dan arena fitness.

Zhayn meletakkan mantelnya di salah satu sofa beludru berwarna kelabu sebelum berbalik, memandang Yonesha. Menangkap raut kagum yang terpatri begitu gamblang di wajah gadis itu membuat Zhayn nyaris menggeleng tak habis pikir.

"Kamarmu di lantai atas, pintu kanan." Pria itu melemparkan tubuhnya ke sofa. Menyamankan diri. Ia menghela napas seraya memijit pangkal hidungnya. Yonesha mengangguk dengan ragu seraya mengamati lantai atas.

"Biar saya tunjukkan, Miss." Andrew mengumbar senyum dan melangkah mendahuluinya. Mengisyaratkan gadis itu untuk mengikuti.

"Apa dia tinggal sendiri di sini?"

"Saya tinggal bersamanya."

"Berdua?"

"Kami berempat."

"Dimana yang lain?"

"Diego, Freink, dan Gerald sedang mengurus sesuatu."

"Jadi, kalian hanya berlima? Bagaimana dengan keluarga Zhayn yang lain? Kekasih?" Andrew melempar senyum mendengar pertanyaan-pertanyaan Yonesha. Kepalanya sibuk membayangkan hari yang akan dilalui Zhayn bersama gadis itu. Mungkin, Yonesha dapat membuat hari-hari Zhayn lebih hidup, pikirnya.

"Nona tahu Mr. Alexander hanya memiliki Mr. Zhayn. Kekasih? Mr. Zhayn tak pernah memiliki kekasih." Mendengar hal itu membuat Yoonesha berdecak tak percaya. Mana mungkin pria seperti Zhayn tak pernah memiliki kekasih. Ia cukup yakin, lebih dari separuh karyawan wanita di ISA memandang lebih dari sekali ke arahnya. Belum dengan para pria yang menyimpang.

"Ah, sulit dipercaya. Terimakasih sudah mengantar, Andrew. Selamat beristirahat!"

"Selamat beristirahat, Miss."

Yonesha mengangkat sebelah alisnya ketika mendapati ruangan mewah untuk kamarnya. Ruangan itu tampak feminin, sangat berbanding terbalik dengan nuansa penthouse tersebut. Gadis itu melangkah dan melirik ke arah closet yang dipenuhi pakaian.

"Apa-apaan ini, apa ini kamar kekasihnya atau bagaimana? Astaga."

***

Yonesha terbangun dan mendapati ruangannya yang temaram. Hanya ada kerlip cahaya kota yang menerobos masuk melalui dinding kaca. Gadis itu mengernyit dan menyalakan lampu ruangan, ia jatuh tertidur rupanya. Yonesha beranjak untuk membersihkan diri, masih tak menyangka akan mendapati sebuah closet yang penuh pakaian perempuan. Lebih mencengangkannya lagi, semua pakaian di sana baru dan berukuran cukup pas untuknya.

"Sudah kuduga, mustahil dia tak memiliki kekasih." Yonesha menggeleng dan meraih sebuah tanktop longgar dan hotpants. Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin. Seorang gadis yang begitu berbeda terpantul di hadapannya. Yonesha tersenyum hambar ketika mengingat dirinya dahalu. Gadis manja yang tak pernah bisa melakukan apapun sendirian.

"Sial, aku lapar!" ia mendengkus ketika mendengar perutnya protes meminta diisi. Yonesha berlalu keluar dan menuju dapur. Ruangan lantai satu tampak temaram. Hanya lampu redup mini bar yang masih menyala.

Yonesha mengerutkan dahi ketika melihat seorang pria setengah telanjang memunggunginya. Ia hanya mengenakan celana bahan panjang berwarna hitam dan membiarkan tubuh atasnya terekspos. Zhayn menumpukan kepala di salah satu tangannya yang bertumpu pada meja bar. Tangan lainnya menggenggam sebotol whiskey yang nyaris tandas.

"Apa kau gila!?" Yonesha nyaris berteriak melihat hal itu. Dengan cepat tangannya merebut botol tersebut. Zhayn tak merespon apapun, kepalanya tertunduk layu dengan rambut acak-acakan.

"Kita punya penerbangan pagi hari dan kau mabuk-mabukan tengah malam seperti ini!?" Zhayn tetap tak bersuara. Pria itu setengah terpejam, masih menumpukan dahi di salah satu tangannya. Yonesha berakhir menghela napas, ia pun mendudukkan diri di samping pria itu. Menumpukan kepala di salah satu tangannya seraya memandang sosok Zhayn yang begitu berbeda.

Gadis itu mengangkat alisnya ketika melihat kalung yang menjuntai di dada bidang Zhayn. Sebuah lempeng logam atau kalau tanda identitas anggota US ARMY dan peluru menjadi liontinnya.

"Puteraku sedang bertugas bersama tentara UN lainnya. Dia sangat bersemangat. Dia pasti akan senang bertemu denganmu!"

Kalimat Mr. Jannivarsh mendadak melintas di benak Yonesha. Ia tak menyangka mereka akan dipertemukan dalam situasi seperti ini. Mengapa harus Zhayn? Pertanyaan itu mengusiknya berulang kali. Namun, ragu untuk mengungkapkannya. Bukankah seharusnya ia bersyukur?

"Yonesha ..."

Yonesha terperanjat ketika mendengar suara Zhayn. Pria itu mabuk berat? Sungguh? Ia menggeleng dan mendekatkan dirinya, melipat kedua tangannya di atas meja bar dan memandang Zhayn lebih lekat.

"Kaupikir ... hanya dirimu yang gugup?" Yonesha membulatkan matanya terkejut. Apa yang pria itu bicarakan? Bagaimana pria itu bisa tahu?

"Aku sangat gugup menghadapi hari esok." Kepala Zhayn jatuh terkulai, nyaris menghantam meja bar yang terbuat dari marmer jika Yonesha tak segera menahannya.

"Ya, aku memang sangat gugup. Aku gugup untuk segalanya, Zhayn. Ah, kau benar-benar mabuk."

"Astaga, apa tuan sungguh mabuk?" Yonesha berjengit ketika suara Andrew mengejutkannya. Gadis itu memberikan jawaban dengan mengangkat sebotol whiskey yang nyaris tandas. Melihatnya, Andrew hanya menggeleng jengah. Gurat lelah tampak kentara di sekitar matanya. Ia pun bergegas merangkul tubuh Zhyan untuk membawanya ke kamar.

Susah payah, akhirnya Andrew dan Yonesha berhasil membawa Zhayn ke kamar. Yonesha menghela napas panjang sembari memerhatikan Andrew yang begitu perhatian. Pria itu tampak lebih dari sekadar seorang tangan kanan. Perhatiannya seperti kasih sayang keluarga. Yonesha tersenyum melihatnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, ruangan Zhayn hanya disinari lampu tidur di samping ranjang. Dinding kacanya pun tertutup tirai tebal. Dalam remang itu, Yonesha menangkap sebuah foto yang sukses menyita perhatiannya.

Yonesha melangkah, mempersingkat jaraknya dengan dinding ruangan di mana foto itu tergantung. Sepasang suami isteri dengan dua orang putera. Sang kakak tampak menawan dengan balutan seragam militer, sedangkan sang adik terlihat begitu gembira di pangkuan sang ibu. Yonesha mengenali salah satunya, sang suami tak lain adalah Mr. Jannivarsh yang dikenalnya. Wanita itu pastilah sang isteri. Mendadak suatu hal melintas di benak Yonesha. Senyum wanita itu. Yonesha merasa pernah melihatnya.

Ya, Yonesha melihatnya. Daftar korban pembunuhan oleh Al-Azhar.

"A-Andrew ..."

"Ya, Nona?"

"Bukankah w-wanita ini ..." Yonesha melempar tatapan tak percaya ketika Andrew hanya memberikan anggukan dengan senyum datar.

"Mrs. Aamora serta kedua puteranya, Rhys dan Zhayn."

Yonesha sontak membungkam mulutnya. Ia melirik ke arah Zhayn yang terlelap di balik gulungan selimut. Tak menyangka, ternyata dunia begitu sempit. Mungkinkah ini alasan Mr. Jannivarsh membawanya? Ia tak pernah menceritakan apapun mengenai tragedi ini. Yonesha hanya tahu jika Mr. Jannivarsh memiliki seorang putera.

"Miss, saya tak bisa memberitahu lebih banyak. Akan lebih baik jika Mr. Jannivarsh sendiri yang bercerita."

"Aku mengerti."

"Baiklah, sebaiknya Nona kembali beristirahat."

"Ya, terimakasih, Andrew."

Dengan hati-hati, Yonesha menutup pintu kamar Zhayn. Gadis itu pun melangkah menuju kamarnya, membuka pintu balkon dan membiarkan semilir angin menerbangkan rambut cokelatnya. Hari ini, ada cukup banyak hal mengejutkan dirinya. Ia terus berusaha mengingatkan diri sendiri, semua ini hanyalah awal. Bagaimana pun, ia harus siap untuk semua hal yang akan menantinya.

****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!