Zhayn membanting kemudinya dengan ekstrem, lincah menyalip mobil-mobil di hadapannya. Pria itu mengetatkan rahang, mengutuk perasaan campur aduk yang memenuhi dadanya. Ada apa dengan gadis itu sebenarnya? Apa ia tak bisa memahami bahasa manusia!? Zhayn sudah memintanya tinggal dan sekarang gadis itu mengacaukan semuannya. Bisa-bisanya gadis itu mengacam untuk mendapatkan sebuah mobil dan keluar dari vila. Sialan, harusnya ia tak meninggalkan gadis itu begitu saja. Sudah hampir lima jam dan Diego baru mengabarinya, apa yang sebenarnya pria itu pikirkan. Mungkin, Zhayn harus memberikan sedikit teguran padanya.
Astaga, bagaimana ia akan menemukannya sekarang? Gadis itu bahkan tak membawa ponselnya. Jika sudah seperti ini, pastilah akan memakan lebih banyak waktu. "Aku ingin kau memeriksa seluruh CCTV terdekat dari vila, sekarang." Perintah pria itu dengan ketenangan dan nada dingin yang tak terbantahkan. Ia mencengkeram kemudi mobil, buku-buku jarinya memutih karena cengekramannya yang semakin erat. Pria itu sungguh tak bisa membayangkan beragam kemungkinan yang mendadak membeludak di kepalanya. Saat ini, ia hanya ingin melihat gadis itu di hadapannya. Bernapas, hidup.
"Yes, Sir." Andrew dan Diego menyahut melalui earpiece yang mereka kenakan. Zhayn mengemudikan mobilnya melintasi jalanan padat. Berusaha bersabar dengan lalulintas siang hari di musim panas. Ia tak peduli dengan klakson dan sumpah serapah pengemudi lain. Telinganya mendadak tuli dan mengabaikan semua hal itu.
"Apa yang ada di kepala batumu itu, Yonesha!" Zhayn tak bisa menahan geraman gemas sekaligus tak habis pikir dari mulutnya. Gadis itu benar-benar tak terduga, ia tak bisa menebak jalan pikirannya, dan itu membuat Zhayn merasa sangat kesal.
"Sir, Miss Yo sempat mengunjungi pusat perbelanjaan selama lebih dari tiga jam sebelum kembali keluar."
"Kemana dia sekarang?"
***
Zhayn memarkirkan mobilnya sebelum beranjak keluar dengan tergesa. Ia mengenakan sunglasses miliknya ketika merasakan matahari yang begitu terik dan menyilaukan. Kakinya menjejak hamparan pasir berwarna terang di Santa Monica. Dari kejauhan, ia bisa melihat beberapa orang anak buahnya bersama Andrew dan Diego. Pria muda itu berdiri dengan kepala tertunduk dan siap menerima hukuman.
"Saya layak memperoleh hukuman, Sir." Ujarnya membuat Zhayn mendengkus. Ada rasa kesal di dadanya, namun ia juga sangat mengenal salah satu anak buah andalannya ini. Pria itu tak pernah lalai dalam tugasnya, ia sangat cermat, setia, dan waspada. Tapi, Zhayn rasa Yonesha terlalu cerdik dan berhasil membodohinya.
"Aku akan memikirkannya nanti. Bagaimana ini bisa terjadi?" Zhayn bertanya tanpa melepas pandangannya ke sekeliling.
"Miss Yo sempat ingin meminjam mobil. Saya menolak dan menjelaskan bahwa ia harus tinggal sampai Anda datang. Dia menurut dan meminta saya menemaninya berkeliling vila karena merasa bosan, hingga ..." Zhayn mengangkat alisnya, menanti jawaban. Diego menelan ludahnya sesaat sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Miss Yo membuat saya terkurung di ruang penyimpanan. Saya sungguh minta maaf, Sir. Kami akan segera menemukan Miss Yo." Zhayn hanya memberikan anggukan kecil dan memberikan perintah.
"Cari sampai dapat, tapi ingat, jangan terlalu menarik perhatian."Anak buah Zhayn berpencar. Ia pun juga mengambil arah yang berbeda menuju area permainan. Pria itu menyusuri jalanan yang ramai pengunjung. Terlalu ramai dan Zhayn tak bisa melihat sosok gadis itu di sana. Terlalu banyak gadis perempuan yang tampak seusianya, namun Zhayn tak sekali pun salah ketika mengamatinya. Seharusnya gadis itu cukup mencolok di matanya.
Pria itu berkacak pinggang di bawah guyuran terik matahari. Kedua manik hijau keemasannya menatap sekeliling untuk kesekian kalinya. Ia melangkah menuju kerumunan di sekitar wahana, namun gadis itu juga tak di sana. Begitu pula di sekitar penjual makanan hingga toko souvenir.
Zhayn melirik debur ombak yang terdengar lembut serta hamparan pasir penuh manusia. Sial, Zhayn tak terlalu suka keramaian yang berlebihan, dan suasana libur musim panas benar-benar tak cocok untuknya. Pria itu mendesah keras sebelum berbalik dan berlari menuju area pantai.
Semua pria di pantai berbusana setengah telanjang, memamerkan tubuh atas mereka. Tentu saja, karena sekarang adalah musim panas. Siapa manusia yang berjalan di pantai dengan kaos tebal dan jaket kulit. Mungkin Zhayn satu-satunya pria yang berjalan dengan pantofel dan celana bahan di hamparan pasir. Tapi, sepertinya hal itu tak cukup aneh untuk sebagian besar wanita di sana. Mereka jelas-jelas melirik lebih dari sekali pada pria itu. Bukan karena pakaiannya, namun pesonanya yang tak dapat diabaikan.
Zhayn menyugar rambutnya yang mulai lepek karena keringat. Ia melepas jaket kulitnya dengan kasar dan melampirkan benda itu di salah satu bahu lebarnya. Pria itu berkacak pinggang seraya memandang hamparan pasir yang luas. Tak ada tanda-tanda jika anak buahnya berhasil menemukan Yonesha. Ia pun juga tak bisa melihat sosok gadis itu di mana-mana.
Zhayn tengah mengedarkan pandangan saat sebuah kerumunan beberapa meter di depan sukses menyita perhatiannya. Pria itu mengernyit dan melangkah ke sana, perasaannya mendadak tak enak. Apa gadis itu di sana, pikirnya? Zhayn berusaha menyela kerumunan saat beberapa anggota regu penyelamat meringsek lebih dahulu. Ia sedikit terdorong ke belakang dan tak sengaja melihat sepasang boot yang teronggok. Mata Zhayn membulat tanpa sadar, ia ingat betul jika dirinya-lah yang memilih sepatu itu kemarin. Bersamaan dengan pakaian Yonesha.
Sial! Pikiran Zhayn mendadak kosong, tubuhnya bergerak tanpa sadar, menerjang kerumunan. Orang-orang menyingkir dan Zhayn berhasil mencapai ke tengah kerumunan. Napasnya tersengal. Seketika jantungnya seperti ingin melompat dari tempatnya. Pria itu mengembuskan napas kasar melihat pemandangan di depannya.
Gadis itu, di sana. Basah kuyup, dengan tubuh hanya berbalut pakaian dalam. Di sampingnya, seorang anak kecil tergeletak tak sadarkan diri, regu penyelamat tampak berusaha keras menyelamatkannya. Sepertinya bocah itu baru saja tenggelam.
Zhayn merasa beban di dadanya mulai meluruh. Gadis itu mendongak, membulatkan mata cokelatnya. Terkejut. Lebih terkejut lagi ketika pria itu melangkah mendekatinya. Dengan lengan kokohnya, pria itu menarik tubuhnya. Memberinya dekapan yang erat. Napas Zhayn masih terdengar memburu, kelegaan mengisi setiap ruang di dadanya. Saat itulah, ia menyadari perasaan campur aduk yang sempat memenuhi dadanya. Sebuah kekhawatiran yang tak terbantahkan.
Yonesha pasrah saat pria itu menariknya dari kerumunan. Zhayn meraih boot yang teronggok di pasir masih sambil membawa gadis itu bersamanya. "Apa yang kaulakukan, lepaskan!"
"Harusnya aku yang bertanya. Apa yang kaulakukan!? Apa kau akan membuatku benar-benar gila!?" Zhayn menyembur, setengah berteriak. Melempar Yonesha pada keterkejutan. Ada apa dengan pria ini? Batinnya.
Zhayn melepaskan cengkeramannya, mengacak rambut dengan frustasi. Pria itu menyesali perbuatannya barusan. Tak seharusnya ia berteriak. Ia kehilangan ketenangannya dan demi apapun ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Tak lagi. Gadis itu benar-benar menghancurkan tatanan dirinya. Gadis itu mendobrak batasan-batasan yang telah dibuatnya dengan susah payah selama ini.
"Apa yang kaulakukan di sini!? Berlibur!?" Zhayn tak bisa menyembunyikan nada sinis di kalimatnya. Pria itu melempar tatapan tajam yang anehnya membuat Yonesha balik menatapnya.
"Memang apa yang kauharapkan? Pagi tadi kau meninggalkanku tanpa penjelasan apapun, padahal aku sangat yakin jika itu berkaitan dengan misi kita. Aku tahu aku sudah mengacau, tapi bukan begini caranya hingga kau mengabaikanku. Aku tahu aku tak sehebat dirimu, mungkin aku juga kurang layak menjadi partnermu, tapi bicaralah dengan jelas dan aku akan mundur. Jangan mengabaikanku!"
Yonesha tak bisa menahan genangan airmata yang nyaris tumpah di kedua matanya. Tubuhnya gemetaran saat pria itu kembali meraihnya. Lengan kokoh itu melingkupi tubuhnya, mengalirkan rasa aman yang tak terbantahkan, hingga bibir pria itu membungkam bibirnya yang gemetar. Yonesha seperti meluruh dalam rasa nyaman. Mengabaikan terik mentari yang menyengat, ciuman itu menjadi lebih panas.
Zhayn melepas tautannya membuat Yonesha limbung dengan rasa pusing, tapi pria itu memegangnya, menatapnya dengan sendu. Tidak, tatapan itu ... tampak begitu putus asa.
"Aku berusaha menjagamu, Yonesha."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments