***
"Zhayn sangat ingin menjadi tentara, hum?" Kedua bola mata bocah berusia 8 tahun itu berbinar dengan cerah. Ia mendongak untuk menatap sosok menjulang di depannya seraya memberikan anggukan penuh semangat. Melihat hal itu, sang ayah hanya bisa mengulas senyum hangat.
"Tapi, kenapa kau sangat bersemangat?" Rhys Arthur, sang kakak, melontarkan pertanyaan yang sudah cukup lama dipendamnya. Ia dibuat heran dengan keseriusan adiknya itu, pastilah ada alasan kuat di baliknya, bukan?
Zhayn kecil yang duduk di pangkuan sang kakak, tampak memilin jari-jari mungilnya. Pipinya yang tembam terlihat menggemaskan, belum lagi dengan sepasang mata bulat yang kini terlihat malu-malu.
"Zhayn melihat Daddy menjaga Mom dengan baik. Zhayn pikir dengan menjadi tentara bisa menjaga seseorang yang akan Zhayn cintai dengan baik." Ungkapan bocah itu sukses membuat Rhys tergelak, siapa yang sudah mengajari adik kecilnya berbicara tentang cinta? Astaga.
"Wah, darimana kau belajar seperti ini?" Alexander Jannivarsh berjongkok. Melihat wajah puteranya yang memerah dan tertunduk.
"Mom selalu bilang jika Dad mencintainya, Mom juga bilang suatu saat nanti Zhayn juga akan mencintai seseorang seperti Mom."
"Astaga, pintar sekali putera Mommy." Ketiga atensi lelaki itu teralih, seorang wanita dengan rambut pirang cerah melangkah mendekat. Kelereng hijaunya berkilau hangat dan senyumnya tak kalah memikat. Zhayn berlari ke arah sang ibu yang melangkah pelan seraya memegang perutnya. Wanita itu tengah mengandung buah hatinya yang ke-tiga.
"Amora, apa yang kau ajarkan pada putera kita? Kenapa dia manis sekali!?" Wanita itu hanya bisa tertawa saat sang suami mendekat dan mengecup dahinya.
"Baiklah, Zhayn. Jadilah tentara tangguh dan lindungi orang yang kaucintai!" Alexander tersenyum, dengan keyakinan tinggi puteranya pasti akan menjadi sosok yang diharapkan.
Zhayn tersentak bangun dengan tubuh bermandikan keringat seperti biasa. Mimpi itu adalah hal yang lebih mengerikan dari apapun. Karena ingatan itu terlalu indah dan manis. Mengetahui keindahan itu tak bisa diulang dan hancur berantakan membuatnya menjadi mengerikan.
Erangan lirih yang lolos dari mulut Zhayn membuat Andrew bergegas mendekat. Zhayn merasakan tenggorokannya begitu kering, perutnya masih mual tapi setidaknya rasa sesak di dadanya telah berkurang.
"Sir, ada yang bisa saya lakukan?" Pria itu berusaha mendudukkan dirinya dan menunjuk segelas air di atas nakas.
Andrew bergegas meraih gelas itu dan memberikannya pada Zhayn. Ia segera meraihnya dan menenggak cairan itu perlahan. "Ah, menyebalkan sekali." Zhayn merutuki tubuhnya yang masih terasa lemas, kenapa hal ini terjadi di saat seperti sekarang? Batinnya. Waktunya benar-benar tak tepat. Ia merasa buang-buang waktu dengan terbaring tak berdaya seperti sekarang. Ya ampun, ia masih memliki tanggungan misi yang harus diselesaikan bersama Yonesha.
Seketika ingatan tentang Yonesha memenuhi kepalanya. Gadis itu, di mana dia sekarang? "Yonesha, di mana?" Zhayn melempar tatapan tajam saat melihat Andrew tercenung selama beberapa saat.
"Andrew!?" panggil Zhayn dengan nada penuh peringatan.
Pria berusia awal empat puluhan itu melirik jam tangan di pergelangan tangannya sebelum berujar dengan nada tak yakin. "Sir, Miss Yo pergi bersama Diego untuk mengambil beberapa pakaian Anda di vila."
"Sejak kapan dia pergi?" potong Zhayn dengan cepat.
"Ini, sudah lebih dari tiga jam berlalu." Kalimat Andrew seperti hantaman telak untuk Zhayn. Pria itu memejamkan matanya sejenak, berusaha keras mengendalikan ketenangannya. Sialan, apa yang gadis itu ambil di vila hingga pergi begitu lama, pikirnya.
"Ponsel!" Andrew bergegas menyerahkan ponselnya. Zhayn tampak mengetikkan sesuatu di sana sebelum menelpon seseorang. Sedetik, tiga detik, lima detik, sepuluh detik ... tidak ada sahutan. Zhayn menyumpah tanpa suara dan kembali mendial nomer salah satu anak buahnya itu.
"Diego tak menjawab!" Zhayn kembali mengetikkan sesuatu, kali ini menghubungi penjaga vila.
"Hello, Sir?"
"Derek, apa Diego ada di vila?"
"Mr. Marshall belum kembali dari tadi siang, Sir-" Zhayn langsung memutus sambungan telepon dan mencengkeram ponsel di tangannya itu dengan erat. Perasaan menyesakkan itu kembali mencengkeram dadanya. Rasanya jauh lebih menyakitkan melebihi reaksi anafilaktiknya sekalipun.
"Sir?" Andrew berusaha menahan gerakan Zhayn saat melihat pria itu berusaha melepas selang infus di tangannya. Tapi, siapa yang bisa menghentikannya? Andrew hanya pasrah saat Zhayn beranjak turun dari ranjang dan merampas kunci mobil di saku jas yang Andrew kenakan.
"Sir, biarkan saya menyetir, saya mohon," ujar Andrew memelas. Namun, Zhayn tak peduli. Dengan langkah tertatih ia berjalan mencapai pintu ruangan sebelum akhirnya berhenti dan berbalik.
Andrew merasa sedikit lega, mungkin saja sang tuan berubah pikiran. Tetapi, harapannya itu sirna saat Zhayn berbalik hanya untuk meraih jaketnya. "Sir?" Andrew ingin menyuarakan protes saat tuannya itu berusaha melepas jaket yang masih ia kenakan. Akhirnya, Andrew hanya bisa mengalah. Membiarkan Zhayn merebut jaketnya guna menutup pakaian rumah sakit yang pria itu kenakan.
Pintu ruangan terbuka, Freink muncul dengan dua cup kopi di tangannya. Rautnya begitu terkejut saat melihat Zhayn sudah berdiri tepat di hadapannya. "Sir-"
"Lepas sepatumu." Freink sontak membulatkan matanya terkejut, pandangannya beralih pada Andrew yang hanya bisa menggeleng pasrah.
"Ah- ya, Sir." Freink bergegas melepas sepatunya. Tanpa menunggu lama, Zhayn menyelipkan kedua kaki telanjangnya di pantofel cokelat yang sempat Freink kenakan, sebelum akhirnya melenggang keluar begitu saja.
"Apa yang terjadi?" tanya Freink dengan raut bingung. Seniornya itu hanya menggeleng dan menepuk bahunya.
"Kita harus mengikutinya. Aku khawatir beliau akan mengebut dengan gila seperti biasanya." Andrew mendesah lelah, "Belilah sepatu lebih dulu," tambahnya.
Freink meringis, "Kak," panggilnya, Andrew menoleh. "Aku kehabisan uang tunai. Aku tidak bisa menarik jatah uang untuk bulan depan sekarang. Mobilku bobrok. Aku tak mungkin ke Washington dan mengambil mobil lain."
Andrew memasang tatapan datar. Tahu betul jika semua itu pastilah ulah Zhayn. Ia akhirnya hanya bisa mendesah dan menepuk pundak juniornya itu dengan prihatin. "Aku akan membelikanmu sepatu, nanti."
***
Zhayn masih bisa merasakan rasa nyeri yang menggerogoti dadanya. Napasnya yang masih sesak dan irama jantung tak teratur. Gejala aritmianya belum sepenuhnya pergi, rupanya. Pria itu mencengkeram kemudi mobil dengan erat, mencoba bernapas dengan lebih tenang sebelum akhirnya melaju meninggalkan kawasan rumah sakit.
Sedan hitam milik Andrew yang ia kemudikan melaju membelah jalanan gelap. Zhayn menginjak pedal gas lebih dalam. Mobilnya meliuk dengan lincah, hanya dibutuhkan tiga puluh menit untuk sampai di vila. Paling lama satu jam jika macet. Tapi, ini sudah keterlaluan. Kemana Yonesha dan Diego, apa gadis itu mencoba kabur lagi? Tapi kenapa? Diego juga tak memberinya kabar. Mereka tak kembali ke vila. Apa yang sesungguhnya terjadi?
Zhayn tak bisa menahan tangannya yang gatal ingin memukul kemudi. Pria itu menggeram gemas. Belum 24 jam semenjak gadis itu membuatnya nyaris gila karena keluar dari vila tanpa kabar apapun. Sekarang gadis itu berulah lagi.
Apa yang coba kaulakukan, Yonesha!?
Pria itu begitu ingin berteriak. Ia tak menyalahkan Yonesha yang tanpa sengaja memberinya makanan mengandung alergen. Sungguh, ia tak masalah dengan itu. Lagipula, hal itu adalah kesalahannya karena tak teliti ataupun memberi tahu Yonesha sebelumnya. Tapi, sekarang? Kenapa gadis itu malah menghilang dan terus-terusan menyiksanya dengan perasaan khawatir.
Zhayn Jannivarsh sudah lama hidup tanpa rasa khawatir. Bahkan terhadap nyawanya sendiri.
Tetapi sekarang, gadis itu kembali mengenalkannya dengan perasaan yang selalu membuatnya lemah. Zhayn menyumpah dalam hati. Ia tak bisa terus seperti ini. Bagaimana pun ia akan menemukan gadis itu, melihatnya masih bernyawa. Zhayn merasa seperti dejavu. Kenapa lagi, kenapa?
Dalam kebingungannya, ponsel Andrew yang ia bawa terdengar begetar. Zhayn mendial panggilan masuk dari Diego, sahabatnya. Ah, akhirnya.
"Di mana Yonesha!?" ujar Zhayn tanpa basa-basi.
"Ah- Sir, saya benar-benar ... harus dihukum."
Sialan, Zhayn sungguh benci mendengarnya.
***
Rahang Zhayn mengetat melihat pemandangan di hadapannya. Pria itu bergegas keluar dan melihat salah satu anak buahnya tergeletak di samping sebuah mobil yang ringsek dan terbalik. "Sir-" Diego berusaha memanggil dengan suara paraunya. Zhayn bergegas mendekat dan menghentikan Diego yang mencoba bangkit untuk duduk.
"Jangan bergerak. Rusukmu patah." Zhayn mengembuskan napas kasar dan memandang mobil ringsek itu. Seseorang jelas telah merencakan semuanya. Saat menuju ke tempat itu, jalan satu-satunya yang mengarah ke sana ditutup dengan alasan perbaikan. Saat itulah, Zhayn sadar jika semua ini jelas sudah direncanakan.
"Sir, mereka membawa Miss Yo." Diego mengulurkan tangannya yang mengepal, Zhayn segera meraihnya dan menemukan sebuah memory card dari blackbox.
"Saya minta maaf, Sir."
"Diam, atau aku benar-benar akan menghukummu." Zhayn mencengkeram memory itu di telapak tangannya. Selang beberapa waktu, Andrew tiba dengan ambulans. Petugas bergegas memberikan pertolongan medis dan membawa Diego ke rumah sakit.
"Anda baik-baik saja, Sir?" Andrew mendekat dan mengedarkan pandangannya ke seluruh tubuh Zhayn. Memastikan sang tuan benar-benar dalam kondisi baik.
Pria itu memberikan anggukan dan mengulurkan memory card yang Diego berikan. "Cari kendaraan yang membawa Yonesha. Aku akan kembali ke vila sebentar. Kirim juga sejumlah uang dari akun pribadiku untuk Freink. Aku sempat merepotkannya kemarin." Andrew mengangguk tanpa protes. Membiarkan Zhayn kembali berlalu ke mobilnya dan melaju menuju vila.
Tubuh Zhayn limbung sesaat ketika berlalu keluar dari dalam mobilnya dengan tergesa. Pria itu mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya melanjutkan langkah ke dalam vila. Ia mencapai kamarnya tanpa banyak membuang waktu, kemudian mengeluarkan sebuah koper hitam dari dalam almari pakaian dan membukanya.
Zhayn menyingkirkan beberapa helai pakaian yang disusun paling atas. Sebuah koper berukuran lebih kecil tersembunyi di baliknya. Pria itu bergegas menariknya keluar, koper berwarna kelabu itu ternyata berisi perangkat komputer dan beberapa senjata seperti revolver dan pisau.
Zhayn menyalakan laptopnya, jemari pria itu menari dengan lincah di atas papan ketik. Rangkaian huruf dan angks yang tak mudah dimengerti seketika bermunculan. Tak butuh waktu lama untuk memenuhi monitor.
Dalam beberapa menit, Zhayn menghentikan gerakan jarinya di papan ketik. Giginya menggesek ujung kuku ibu jarinya dengan gelisah, menunggu pemuatan data yang ia inginkan. Sepuluh detik terasa sepuluh menit, kedua mata emas Zhayn menjelajah dengan cermat. Salah satu tangannya bergerak mengetuk-ketuk jari di meja. Data itu terpampang memenuhi layar laptopnya. Rekaman CCTV di seluruh kota.
"Demi apapun, Yonesha. Akan kupasang alat pelacak di tubuhmu suatu saat nanti!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Luck
Semangat dan sehat ya ka...
saling dukung yuk ka
feedback ya ka
mampir juga yuk ke halaman aku
Salaminezt dari karya ku💖
2020-08-12
0