Chapter 7 : Dangerous Game

Yonesha mengintip dari balik tirai tipis yang menutupi jendela hotel. Menatap lalu-lalang jalanan di bawah sana. Ada banyak pejalan kaki menikmati kebersamaan dengan pasangannya. Saat ini, libur musim panas, tentu saja mereka menghabiskan waktu dengan pasangan maupun keluarga. Di Vegas, tempat hiburan dapat ditemukan di mana-mana, saat musim ini tiba, tempat itu akan semakin dipenuhi lautan manusia.

Hari mulai beranjak petang, sebentar lagi kerlip kota akan mulai tampak. Orang-orang akan berhamburan keluar untuk bersenang-senang. Tempat ini adalah surga untuk pecinta dunia malam. Yonesha melangkah menuju balkon kamarnya yang berada di lantai tiga. Mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celana jeans yang ia kenakan. Gadis itu menyelipkan batang rokok di antara bibirnya, berniat menyulutnya ketika tangan seseorang merampasnya begitu saja.

"Hei!"

"Memangnya kau sudah cukup umur?" Zhayn menyelipkan rokok itu di antara giginya, kemudian mendekatkan wajah mereka. Menunggu Yonesha menyalakan pematik api untuknya.

"Aku 18 tahun. Bukan gadis di bawah umur!" Yonesha mencuramkan alis dengan geram. Mendongak untuk melihat Zhayn yang jauh lebih tinggi darinya.

Zhayn mengembuskan asap rokoknya dan merebut pematik tersebut dari tangan Yonesha. Gadis itu hendak mengeluarkan protes, namun memilih menahannya. "Kau sama sekali tak terlihat seperti perokok."

"Aku memang bukan perokok."

"Dasar pembohong."

"Hanya sesekali."

"Whatever." Yonesha mengerling. "Setelah sekian lama ternyata misi ini dimulai. Aku sungguh tak sabar untuk segera mencapai akhir. Berapa waktu lagi, ya, kira-kira?" 

Hening mengambil alih selama beberapa saat, Zhayn tampak tak berniat untuk menanggapi. Pria itu asyik menikmati rokoknya seraya memandang lalu lalang jalanan. Tapi, pada akhirnya pria itu memilih buka suara. "Memang apa yang kauharapkan?"

"Hidup normal, tentu saja." Yonesha menyahut dengan cepat, tidak ada keraguan di nada bicara maupun kedua matanya. Jawaban yang cukup mengejutkan Zhayn rupanya. Pria itu terdiam kembali, seperti hanyut dalam pemikirannya sendiri untuk beberapa saat, hingga kalimat Yonesha yang selanjutnya berhasil menariknya kembali dari lamunan.

"Apa yang kauharapkan?" Kalimat itu berbalik. Seperti sebuah pukulan telak. Zhayn termanggu. Membuat gadis muda di sampingnya itu menunggu dengan penasaran.

"Aku tak sempat mengharapkan apapun."

"Ya Tuhan, memang apa yang kaupikirkan saat melamun? Pikirkan keinginanmu atau apapun di masa depan."

"Aku hidup dalam bayang-bayang kematian setiap harinya. Hari ini adalah hari terakhir untukku. Begitulah yang kupikirkan dan seterusnya. Waktu terus berjalan dan aku tak pernah memikirkan apapun yang kuinginkan."

"Ah, pembohong." Zhayn menoleh dan memasang tampang datarnya, memerhatikan Yonesha yang kembali mengerling. "Setidaknya bermimpilah sesekali. Seperti, aku akan mengencani seluruh gadis di kelab jika misi ini selesai. Seperti itu misalnya." Ia meringis.

"Omong kosong." Zhayn hanya memberikan gelengan dan kembali menyesap rokoknya. Membiarkan Yonesha terkekeh-kekeh di sampingnya.

Pria itu sedikit membungkuk ketika menumpukan kedua lengannya pada pembatas balkon. Kelereng emasnya berkilau ketika terkena sinar senja. Zhayn terdiam sambil menikmati rasa pahit rokoknya hingga sadar Yonesha terus memerhatikannya. Ia menoleh, mengangkat sebelah alisnya yang tebal, menunggu suatu hal yang mungkin ingin gadis itu sampaikan.

"A-aku minta maaf soal rapat kemarin. Aku tak tahu mengenai ibumu."

Zhayn menghela napas, menyelipkan batang rokok di antara jemari panjangnya. Ia kembali menatap ke depan, memerhatikan jalanan yang bertambah ramai. Pria itu tak menunjukkan ekspresi apapun, membuat Yonesha menduga-duga dengan cemas.

"Setidaknya kini kau tahu, kau tak sendirian." Yonesha tertegun, ia berani bersumpah, ini adalah kali pertama ia melihat Zhayn tersenyum. Sayangnya, senyum itu palsu. Senyuman itu tak menyentuh kedua matanya. Hanya sekejap, senyum itu kembali menghilang. Zhayn menyelipkan kembali rokoknya dan berjalan masuk.

"Apa-apaan barusan!" Yonesha menatap punggung Zhayn yang menjauh, hingga ia menyadari debaran aneh di dadanya.

***

Zhayn mengancingkan kemejanya ketika mendengar Yonesha melangkah keluar dari kamar mandi. Melalui cermin meja rias, Zhayn dapat melihat penampilan gadis itu dengan baik. Rambut cokelatnya tergerai bebas, menjuntai melewati bahu dan menutup setengah punggungnya yang telanjang.

Ia menggunakan polesan kosmetik yang berani, dengan warna bibir semerah darah. Gaun panjang berwarna marun membungkus tubuh proporsionalnya dengan v-neck style membuat belahan dadanya lebih dari cukup untuk menggoda iman para pria. Kaki jenjang gadis itu dibalut stiletto berwarna hitam, anggun dan menambah kesan menawan. Tampilannya benar-benar tak mencerminkan gadis belasan tahun.

"Apa aku terlihat sangat tua?" Yonesha bertanya dengan polos. Kelopak mata dengan bulu lentiknya berkedip dengan pelan. Menyadarkan Zhayn dari lamunannya.

"Ya, sedikit."

"Benarkah? Haruskah aku ganti pakaian?"

"T-tidak. Kita sudah kehabisan waktu." Yonesha mengangguk mengerti, sejurus kemudian pandangannya terarah pada kemeja Zhayn. Ia mendekat, menyentuhkan jemarinya di sana, membuat Zhayn refleks memegang tangan gadis itu dan mengambil langkah mundur.

"Apa kau tidak bisa mengancingkan pakaian dengan benar?" Zhayn menunduk dan melihat kemejanya tak dikancingkan dengan benar. Ia memerhatikan jemari ramping Yoonesha yang melepaskan beberapa kancingnya dan memasangkannya ke lubang yang sesuai. Tanpa sadar, Zhayn menahan napasnya, mengalihkan pandangannya keluar jendela. Fokus, ia tak boleh kehilangan fokusnya barang sedetik pun.

"Sudah selesai. Ini, pakai jasmu."

"Terimakasih." Zhayn meraihnya. Kemudian, menyelipkan kembali dua buah pistol ke balik tubuhnya. Lalu, ia melemparkan atensinya pada Yoonesha. Memastikan bahwa gadis itu membawa senjata untuk melindungi diri. Selesai bersiap, keduanya pun bergegas meninggalkan hotel. Menuju salah satu kasino termegah di Vegas.

Hari telah sepenuhnya berganti menjadi malam. Yonesha mendudukkan dirinya di kursi bar dengan segelas minuman di tangannya. Kelereng wanita itu menyapu pandang sesekali. Melihat dengan jeli di antara lautan manusia. Seorang pria Timur Tengah dengan dua orang pengiring, melangkah dari gerbang masuk. Seringai Yonesha terukir saat melihat sang mangsa.

"Berhenti menatap mereka seperti itu!"

Suara Zhayn mengalun jelas di telinganya. Entah ada di mana posisi pria itu sekarang. Keduanya hanya terhubung melalui mini-earpiece yang mereka kenakan. Mendengar kalimat Zhayn, Yonesha sontak mengatupkan mulut, berdeham dan melanjutkan aksinya. Ia melangkah ke arah Rashad Hussain yang berjarak beberapa meter darinya. Pria itu sama sekali tak menyadari kehadirannya.

Saat tersisa kurang dari dua meter, Yonesha sengaja membuat seseorang seakan menabrak tubuhnya. Perhatian Rashad teralih padanya, pria itu menghentikan perbincangan dengan salah seorang di sampingnya ketika melihat tubuh Yonesha terhuyung dan jatuh tersungkur di depannya. Segelas anggur yang sempat dalam genggaman Yonesha, tumpah membasahi sebagian gaunnya yang kini tersingkap.

Dengan ekspresi malu dan kesal, Yonesha berusaha membenarkan gaunnya yang sempat memamerkan pahanya. Dari balik bulu matanya yang lentik, Yonesha bisa melihat Rashad tersenyum dan berusaha berjongkok. Pria berusia empat puluhan itu bergegas membantu Yonesha membenarkan gaunnya. Namun, jemarinya yang panas sempat menyusuri pahanya. Yonesha hanya memberikan senyum malu menggoda.

"Biar kubantu, Candy!"

"Candy?" Yonesha membeo dengan tatapan mata menggoda. Rashad tertawa dan memberikan anggukan. Pria itu mendekat, meletakkan jemarinya di panggul Yonesha seraya berbisik.

"Pakaianmu basah. Aku punya beberapa pakaian di kamarku jika mau?" Yonesha terkikik mendengarnya. Kemudian, mengalungkan kedua tangan di leher Rashad Hussain. Membiarkan pria itu mengangkat tubuhnya dengan mudah.

"Kurasa aku mulai kedinginan." Rashad Hussain pun tersenyum mendengarnya.

Kena kau, buaya gila**!

Yonesha melampirkan rambutnya di bahu. Menatap pantulan dirinya di cermin. Gadis itu berbalut kemeja pria yang terlalu besar untuk tubuhnya. Ia melangkah keluar dan melihat Rashad Hussain tengah menikmati segelas anggur.

"Kau tidak mau berbagi denganku?" Yonesha datang menginstrupsi. Ia menempatkan diri di pangkuan Rashad dan menyilangkan kakinya. Mengekspos kaki jenjangnya yang mulus. Rashad tertawa mendengar kalimatnya sebelum mengisyaratkan Yonesha untuk beranjak.

"Akan kuambilkan gelas." Ia mengedipkan sebelah mata dan berlalu. Yonesha tersenyum dan mendudukkan dirinya di sofa. Jemarinya menyentuh cincin perak di kelingkingnya sebelum beberapa tetes cairan terjatuh dari sana. Berbaur cepat dengan minuman milik Rashad Hussain.

"Cheers."

Kedua gelas mereka berdenting, Yonesha menempelkan ujung bibirnya pada permukaan gelas. Melirik ke arah Rashad yang menenggak minumannya. Gadis itu menggoyangkan gelasnya seraya melempar tatapan menggoda. Menunggu reaksi yang akan pria itu tunjukkan.

"Kau hidup dengan gelimang harta, Sir. Dunia benar-benar ada dalam genggamanmu, bukan?"

Yonesha mendengar gelak tawa dari pria di sampingnya. Pria itu kehilangan fokus di kedua matanya. Dengan tangan sedikit bergetar, ia kembali menenggak sisa minuman di gelas. Kemudian, menyandarkan punggung di sofa.

"Kau tak tahu neraka seperti apa yang harus kulalui untuk mendapatkan semua ini."

Yonesha menyeringai, ia pun mendekatkan dirinya seraya berbisik di depan telinga pria itu. "Benarkah? Neraka seperti apa itu?" gadis itu menggerakkan jarinya, menyusuri wajah Rashad Husain yang terpahat tegas.

"Dia iblis sang penguasa neraka," bisiknya dengan suara serak. Menatap wajah Yonesha yang terlihat begitu memikat. Membakar udara di sekitarnya.

"Qasim Al-Azhar. Apakah dialah sang iblis?" Yonesha menyentuhkan dahinya. Merasakan embusan napas berat pria itu di wajahnya. Gadis itu menunjukkan seringai terbaiknya saat pria itu membuka bibir. Siap memberikan jawaban yang ditunggu-tunggu.

"Ya. Dia sang penguasa."

"Aku ingin melintasi nerakanya bersamamu. Kenapa kau tak membaginya bersamaku? Kau hanya tinggal menyebut tempatnya dan aku akan datang bersamamu." Yonesha merapatkan tubuhnya, mendudukkan diri di pangkuan pria itu seraya mengalungkan kedua tangannya.

Rashad Hussain sudah benar-benar dalam pengaruhnya. Pria itu tergelak dan menenggelamkan wajahnya di leher Yonesha. Menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.

"Nerakanya-"

Tok tok tok

"Sir, Anda harus mendengar ini, Sir!" suara seorang pria terdengar dari luar ruangan. Menginterupsi kegiatan Yonesha.

Persetan!

Yonesha mengeratkan rengkuhannya, berusaha menjaga Rashad tetap dalam pengaruhnya. Gadis itu mendekatkan wajah ketika Rashad mendongak, memandangnya dengan sorot tajam. Saat itulah, Yonesha sadar jika pengaruh obat itu telah hilang.

"****." Satu umpatan lolos dari bibir moleknya saat dengan satu gerakan efisien ia melompat mundur. Menjauh dari jangkauan Rashad Hussain yang kini beranjak dari posisinya dengan wajah merah padam.

"Kau bermain dengan orang yang menghabiskan hidupnya dengan segudang obat terlarang, Candy!"

Yonesha memasang posisi siaga, ia melangkah mundur perlahan ketika Rashad semakin mendekat. Pria itu menyeringai saat mengambil sebilah pisau dari balik jasnya. Hanya sekian detik setelahnya, dinding kaca besar di balik tubuh Yonesha hancur berkeping-keping. Gadis itu membeliak, begitu juga dengan Rashad yang kini menerjang ke arahnya.

****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!