Chapter 4 : Shocking News

Yonesha mengikuti langkah Zhayn yang lebar, sementara pikiran gadis itu sibuk mengelana. Risetta, nama itu terdengar tak asing. Kapan ia mendengar nama itu, pikirnya. Apa hubungan Zhayn dengan wanita itu sesungguhnya. Keduanya tampak akrab dan canggung sekaligus. Saat kepalanya disibukkan oleh beragam pertanyaan, Yonesha tak sadar jika Zhayn telah melangkah beberapa meter di depannya. Gadis itu pun bergegas menyusulnya. Yonesha terperanjat ketika melihat banyak karangan bunga menempati sudut lobi yang menandakan rasa duka sekaligus belasungkawa.

Yonesha membeku, menatap sebuah foto besar di atas meja duka yang sering digunakan untuk meletakkan foto anggota ISA yang meninggal dunia. Biasanya, kerabat atau kolega akan berdatangan dan menaruh lilin ataupun bunga sebagai bentuk penghormatan terakhir. Tampak beberapa orang berseragam serupa Risetta yang berdiri di sana.

Yonesha mengernyit saat mengenali foto tersebut, ditambah sebuah papan nama yang terpampang di dekatnya. Tubuh gadis itu terhuyung begitu saja, ia langsung membekap mulutnya saat menyadari sosok dalam foto tersebut. Orang yang teramat dikenalnya. Lelaki yang membesarkan sekaligus mendidiknya hingga sampai saat ini.

"Mr. Jannivarsh!" Yonesha nyaris tersungkur jika Zhayn tak segera meraih tubuhnya. Menopang gadis itu agar tetap berdiri dengan kokoh.

"Aku takkan membiarkanmu menangis di sini, Yonesha!" Zhayn langsung membawa gadis itu menuju ruangannya. Mereka memasuki lift kosong dan menuju lantai dua puluh. Tubuh Yonesha meluruh di lantai lift, tangis gadis itu pecah begitu saja. Zhayn mengembuskan napas berat. Ia telah menduga hal ini akan terjadi. Namun, tak menyangka jika Yonesha dapat kehilangan kendali dengan mudahnya.

"Aku berniat menjelaskannya begitu tiba di ruanganku."

"Kenapa tak seorang pun memberitahuku!" Yonesha meraung, "kau tak mengerti seberapa berartinya Mr. Jannivarsh untukku!" teriaknya. Zhayn memilih diam. Percuma ia menjelaskan apapun pada gadis itu sekarang.

Pintu lift terbuka dan Zhayn segera membantu Yoonesha untuk berdiri sebelum menjadi pusat perhatian semua orang. Beberapa staff yang terkejut langsung membungkuk hormat begitu menyadari kehadiran mereka. Zhayn memberikan anggukan sebagai balasan dan segera membawa Yonesha ke ruangannya.

"Minumlah." Zhayn menyerahkan segelas air setelah mendudukkan diri Yonesha di sofa. Gadis itu sesenggukan dan menyeka airmatanya dengan tangan gemetar, ia pun menerima gelas dari Zhayn dan meminumnya.

"Bagaimana bisa?" lirihnya dengan suara serak dan rendah. Gadis itu mendongak dan memandang Zhayn dengan mata yang memerah.

"Kerusakan hati, beliau meninggal tujuh hari yang lalu." Tangis Yonesha yang sempat mereda kembali pecah begitu saja. Gadis itu membekap mulutnya dan menunduk, bahunya gemetar karena menahan isakan agar tak semakin menjadi-jadi. Zhayn yang melihatnya merasa sangat bingung. Ia ragu harus berbuat apa. Menenangkan orang bukanlah keahliannya.

"Ah, Ya Tuhan ... berapa kali kubilang, dia tak seharusnya terus minum-minum seperti itu!" Yonesha sesenggukan, dengan suara parau ia terus saja meracau.

"A-aku akan menemuimu di jam makan siang. Kau bisa memakai ruangan ini," Zhayn berujar dengan ragu sebelum melangkah meninggalkan ruangannya.

Sepeninggal Zhayn, Yonesha pun semakin tak mampu menutupi kesedihannya. Masabodoh dengan orang-orang yang mungkin bisa mendengar tangisannya. Ia sungguh tak peduli. Ingatan Yonesha mengelana ke masa lalu. Saat dunianya runtuh dalam semalam. Lalu, Mr. Jannivarsh hadir seperti malaikat yang dikirim Tuhan dengan cuma-cuma.

***

Seorang gadis terseok-seok di bawah remang lampu yang menerangi trotoar. Hawa dingin berembus membuat gadis itu mengeratkan pelukan di tubuhnya. Wajah mungilnya kotor dipenuhi jejak debu dan lecet. Kelereng cokelatnya berkilat basah. Rambut yang menjuntai melewati punggung itu tampak kusut dan lepek oleh keringat. Gaun tidur yang ia kenakan pun lusuh, sobek di beberapa tempat dan dipenuhi bercak darah juga tanah.

Beberapa kali, ia menatap takut ke sekelilingnya. Berharap, tak ada seseorang pun bersembunyi di kegelapan sana. Kakinya yang telanjang terus menyusuri kasarnya trotoar, memperparah lecet dan sayatan yang bertebaran. Namun, gadis itu seakan tak peduli.

Gadis cilik itu menghela napas, perutnya terasa sangat lapar. Ia juga kehausan. Ia menghentikan langkahnya tepat di bawah lampu jalanan, membuat rambutnya berkilau diterpa cahaya keemasan. Ia berjongkok, memeluk kakinya sambil menunduk.

"Hei, mungil. Menangislah jika itu membuatmu lega," Yonesha mendongak, sembari mengeratkan pelukan di kedua kakinya yang telanjang. Ia menatap sosok menjulang di hadapannya dengan raut ketakutan, sebelum pria itu menyentuh kepalanya dengan lembut.

"Mereka menyakitimu, hum?" saat itulah Yonesha terisak dengan begitu hebat. Tubuh mungilnya bergetar karena rasa takut dan kesedihan.

Pria itu mendudukkan diri di sampingnya. Jemarinya yang besar masih setia mengelus kepalanya. Dengan ragu, Yonesha melirik pria itu. Mendapati sorot mata yang sehangat senyum lebarnya. "K-kau siapa?" Pria itu pun memperlebar senyumnya.

Yonesha menggelengkan kepalanya. Teringat kembali pertemuan pertamanya dengan Mr. Jannivarsh. Malam dingin itu ia berlari sendirian tanpa kenal arah. Dalam hati dan pikirannya hanya terpatri satu hal. Kabur. Ia ingin bebas, dan ia ingin hidup.

Tubuhnya sangat lelah kala itu. Ia merasa hidupnya seperti dijungkirbalikkan dalam sekejap saja. Gadis itu meremas kedua tangannya erat-erat, ia membiarkan dirinya meluruh di lantai ruangan Zhayn. Berusaha kuat mengusir bayangan masa lalunya sebelum bertemu Mr. Jannivarsh malam itu.

Mr. Jannivarsh adalah segalanya. Pria itu ayahnya, gurunya, pelindungnya, serta rumah untuk Yonesha. Gadis itu merasa berhutang padanya. Ia selalu berusaha mengingatkan dirinya, ada tujuan yang harus ia raih. Saat masa-masa sulit, pria itu tak pernah lelah memberinya dukungan.

"Kau akan membalas mereka dengan setimpal. Membunuh mereka adalah hal yang sangat ringan. Mereka patut mendapatkan penghakiman."

Begitulah Mr. Jannivarsh akan berujar ketika amarah dan rasa sakit mulai merambati dirinya. Begitulah ia belajar mengendalikan dirinya. Yonesha menamkan kalimat itu kuat-kuat di dalam benaknya. Pria itu adalah pegangannya selama ini. Memberikan arah untuknya di dalam kegelapan.

"Kau berjanji akan melihatku meraih tujuan ..." Yonesha menyandarkan kepalanya di sofa ketika mendengar suara langkah kaki. Kelerengnya bergulir dan mendapati seorang perempuan berambut cepak berjalan mendekatinya. Yonesha membelalakan matanya ketika mengenali perempuan itu.

"Harusnya ini tidak boleh. Tapi kupikir ini akan sedikit membantu." Perempuan itu berjongkok dan menyerahan salah satu kaleng minuman di tangannya. Yonesha menerimanya dengan raut seakan tak percaya sebelum membuka kaleng bir itu dengan tergesa.

Gadis itu mengulas senyum lembut sembari mendudukkan diri di sofa, sementara Yonesha mulai menenggak minumannya. Yonesha mengusap airmatanya dengan kasar, ia bangkit perlahan dan membenarkan letak pakaiannya. Kemudian, melemparkan pandangan pada sosok di depannya.

"Lama tak berjumpa, Yonesha."

"Elisa!"

"Oh, c'mon, Elly, please!" Elly merentangkan kedua tangan, membiarkan Yonesha memeluknya dengan erat.

"Kenapa kau juga tak memberitahuku!?" Yonesha melepaskan pelukannya dan memberikan tatapan kecewa.

"Semua orang pun sama terkejutnya. Beberapa petinggi mengatakan jika Mr. Jannivarsh dalam misi. Namun, nyatanya beliau dirawat," Elly merendahkan suaranya sebelum kembali melanjutkan, "Andy bilang tak seorang pun diizinkan masuk kecuali puteranya dan Mr. Whitney."

"Puteranya?"

"Ya. Kudengar kau menjadi partnernya sekarang. Apa dia tak menceritakan apapun padamu?"

"Partner, tunggu--" Yonesha mengerjap dengan dahi berkerut sebelum melemparkan tatapan luar biasa terkejut ke arah sang sahabat.

"Jangan bilang, mana mungkin ... apa Zhayn benar-benar putera Mr. Jannivarsh!?" Yonesha memandang raut Elly dengan tak sabar, menunggu jawaban yang membuat jantungnya berdegup tak karuan. Seakan tengah memacu kedua kakinya di atas treadmill.

"Err-- tentu saja. Kau tengah berdiri di ruangannya Yonesha!" Elly memundurkan langkah, menyentuhkan jemarinya pada papan kaca berukir nama.

Zhayn Arthur Jannivarsh

Yonesha menggeleng-gelengkan kepala, tentu saja ia terkejut. Terlintas di benaknya kalimat-kalimat Mr. Jannivarsh ketika menceritakan sang putera. Bagaimana raut bangga terpatri jelas di wajahnya. Ketika melihat hal itu, Yonesha selalu ingin menjadi kebanggaan pria itu suatu hari nanti. Selama tinggal bersama Mr. Jannivarsh tak sekali pun Yonesha melihatnya. Ia hanya membayangkan sosoknya lewat kisah yang diungkapkan Mr. Jannivarsh kepadanya.

"Kukira kalian sudah saling mengenal karena Mr. Jannivarsh membawamu." Yonesha hanya memberikan gelengan sebagai jawaban. Pandangannya terpatri pada foto Zhayn dan Mr. Jannivarsh yang saling berdampingan.

"Lalu, bagaimana dia tahu aku sahabatmu? Apa lewat Andy? Tunggu, aku tak pernah menceritakan tentang dirimu padanya." Yonesha kembali mengernyitkan dahi. Berusaha memahami perkataan sahabatnya tersebut.

"Apa maksudmu?"

"Dia menemuiku, barusan. Aku terkejut karena dia memintaku kemari untuk menghiburmu. Dia bahkan mengizinkanku membelikanmu minuman. Mana boleh kita minum-minum saat di kantor." Yonesha tercenung. Bagaimana Zhayn bisa tahu? Apa pria itu mencari tahu tentangnya selama ini? Ah, Yonesha merasa terlalu percaya diri, mana mungkin, bukan?

****

pictures source - Pinterest

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!