Byurr
Yonesha tersentak dengan rasa ngilu di seluruh tubuhnya. Kepalanya berdentam luar biasa sakit, sementara seluruh tulang gadis itu serasa dihujam ribuan jarum. Air dingin itu membuat semua luka di badannya terasa semakin menyiksa. Gadis itu berusaha memperjelas pandangan ketika helaian rambutnya yang lepek menutup sebagian wajah. Saat itulah, Yonesha sadar jika ia tak dapat menggerakkan kedua tangannya.
"Bedebah kurangajar!" raung gadis itu saat menyadari kedua tangannya disatukan dan diikat ke atas dengan sebuah rantai. Hal itu benar-benar menempatkannya dalam posisi berbahaya. Mereka bisa dengan leluasa menjangkau tubuhnya. Sementara kakinya yang terbebas tentu akan dengan mudah mereka tangani.
Gadis itu hanya bisa memandang nyalang pada seorang pria asing yang tengah asyik menikmati rokok. ******** itulah yang berani mengguyurnya dengan air es dan Yonesha berani bertaruh jika sekarang sudah larut malam. Sialan, batinnya. Andai saja mereka tak memposisikan tangannya seperti saat ini, ia pasti akan meraih pisau lipat yang disembunyikan di sepatunya. Kemudian, ia bisa memberikan pelajaran pada pria di hadapannya itu dengan sedikit muslihat.
"Hei, preman! Begini caramu mengikat wanita? Kau pikir aku samsak!? Aku mau buang air, lepaskan!"
Pria itu tak bereaksi sedikit pun. Ia masih asyik menikmati rokoknya seraya memandang wajah Yonesha yang merah padam. Kakinya mengetuk-ketuk ke lantai semen yang tampak lembab. Menimbulkan bunyi kecil yang membuat Yonesha muak.
"Apa kau tuli!? Haruskah aku pipis di sini!? Ayolah!" kali ini ia berhasil membuat pria itu bangkit dari posisinya. Pria itu menjatuhkan rokoknya dan ******* benda tersebut dengan ujung sepatu, sebelum melangkah mendekati Yonesha.
Yonesha sontak menahan napas saat pria itu sedikit membungkuk di depan wajahnya dan membuat wajah mereka sejajar. "Kau mau buang air? Buang air saja, tidak ada yang peduli. Lagipula, bos pasti tetap akan menyukaimu."
Kalimat pria jumbo itu membuat dahi Yonesha mengerut tak mengerti. Tetapi, gadis itu tak sempat melontarkan pertanyaan apapun karena pintu ruangan mendadak terbuka. Seorang pria muncul dan melangkah dengan santai, menampakkan wajahnya di bawah guyuran cahaya lampu. Dalam hitungan detik, pandangan mereka bertemu. Yonesha tercekat, dadanya sesak, dan jantungnya berdetak tak normal. Apa ini? Sialan, kenapa tubuhnya merespon sedemikian parahnya!? Demi, apapun. Yonesha tak pernah berharap akan menatap wajah ******** itu dalam kondisi seburuk ini.
Qasim Al-Azhar berdiri di sana dengan senyum manis yang sama. Senyum mengerikan yang takkan pernah Yonesha lupakan.
"Apa kabar, Nona Manis?"
Yonesha menelan ludahnya susah payah. Tenggorokannya kering dan membuatnya seakan kehilangan suara. Jemari gadis itu gemetar membuat ia refleks mengepal hingga buku-bukunya memutih. Ia berusaha keras menegakkan kepalanya. Mengendalikan gemetar tubuh serta jiwanya.
Ya Tuhan, gadis itu menyadari suatu hal sekaligus merutukinya dengan sangat. Ternyata tahun-tahun yang dilaluinya tidaklah cukup. Qasim Al-Azhar telah menanamkan kengerian luar biasa yang takkan pernah bisa meninggalkan gadis itu sekaligus memasung sebagian keberaniannya.
Yonesha tak pernah lupa. Bagaimana bisa ia melupakan kengerian yang terus berulang di setiap malamnya? Ingatan mengerikan itu tak pernah absen dari mimpinya selama ini. Ingatan bagaimana iblis itu merenggut satu-satunya keluarga yang gadis itu miliki.
Cltarr
Sengatan panas itu menjalar di tubuh Yonesha dengan cepat, meninggalkan jejak merah pekat yang akan membiru. Cambukan Qasim di tubuhnya sukses melempar Yonesha ke dalam kengerian yang sama.
Enam tahun lalu, Yonesha melangkah riang menuju ruang kerja sang ayah. Pria itu berjanji akan memberinya kado istimewa. Walaupun ulang-tahunnya kemarin, Yonesha tak masalah. Ia tahu sang ayah sangatlah sibuk. Bagaimana pun pria itu bekerja keras untuknya, memberikan yang terbaik untuk puterinya. Yonesha harus beryukur untuk itu.
Cltarr
Cambukan lain kembali mendarat. Qasim Al-Azhar mengulas senyum andalannya. Senyuman yang mengingatkan Yonesha pada malam itu. Ia berdiri di ambang pintu. Cairan merah bergerak di lantai, mengalir hingga menyentuh ujung kakinya. Di sana, iblis itu tersenyum. Senyuman manis yang mengerikan karena tangannya menggenggam sebilah belati berdarah.
Yonesha menjerit sejadi-jadinya saat melihat kepala sang ayah dihantamkan ke dinding. Sekali, dua kali, tiga kali, dan berkali-kali. Yonesha bahkan tak sanggup untuk berpaling. Ia melihat bagaimana kedua mata sang ayah menatapnya penuh rasa bersalah. Pria itu masih hidup, sekarat, hingga Qasim benar-benar mengakhirinya dengan membenamkan sebilah belati. Tepat di jantung Andres Aguero.
Cltarr
Yonesha meraung dalam ketidakberdayaan. Qasim Al-Azhar kembali tertawa. Ya Tuhan, tawanya bahkan masih sama. Yonesha kehilangan suaranya sendiri. Rintihannya tak terdengar, namun rasa sakit dan bayangan mengerikan itu tak lagi mampu digambarkan.
Qasim tak berhenti. Ia belum puas. Pria itu menarik belati yang mengoyak jantung Andreas Aguero. Darah menyembur dengan leluasa. Anyir, pekat, dan mengerikan. Yonesha kecil gemetar. Tubuhnya tak mampu digerakkan. Dunianya seperti terhenti, segalanya seakan menjauh. Di depan matanya hanya ada kekejian. Kengerian yang terekam sangat jelas dan akan tertanam untuk selamanya.
Belati itu kembali menghujam, mencipta lubang yang lain. Qasim menariknya kembali, kemudian menghujamkannya, lagi. Lagi, dan lagi. Berulang-kali.
Cltarr
Yonesha tak bisa menahan pekikan, cambuk itu mendarat kembali di punggungnya. Mengoyak kaos tipis yang ia kenakan. Matanya terpejam tanpa sadar, menahan rasa panas yang menjalar. Yonesha sungguh tak ingin mengingat ini, tapi bayangan itu muncul kembali.
Tubuh Andreas Aguero meluruh dalam genangan darahnya sendiri. Dua bola mata cokelatnya terbuka, penuh penyesalan, keputusasaan, dan ketakutan yang tak terbantahkan. Yonesha kecil berusaha keras untuk menjauh. Kakinya yang gemetar perlahan membantunya kembali bangkit. Kerongkongan Yonesha terasa sakit ketika mulai berteriak, memanggil siapapun yang ia harap bisa membawanya keluar dari neraka itu.
Sunyi, manison besar itu temaram dan terasa lebih mengerikan. Suasana mencekam itu menjadi semakin nyata saat telapak kaki Yonesha tergelincir dan membuatnya jatuh dalam genangan anyir. Gadis itu berteriak histeris saat melihat belasan mayat para pelayan rumah tergeletak bersimbah darah memenuhi koridor.
Tak ada yang bisa ia lakukan. Menangis pun tak akan membantunya. Qasim Al-Azhar mendekat. Langkahnya nyata terdengar di belakang tubuh gadis itu. Dalam satu tarikan, Yonesha merasa seluruh rambutnya seperti akan terlepas dari kepalanya. Pria itu menjambak dan menyeretnya kembali ke ruang kerja di mana ia menghabisi Andreas Aguero.
Di sana, pria itu mendaratkan cambuknya. Menghantarkan rasa panas menyengat di punggung mungil Yonesha. Gadis itu jatuh terisak-isak sambil menatap jasad sang ayah yang tercabik mengerikan. Hari itu, ia hanya ingin mati. Tapi, Tuhan tak mengabulkannya. Pria itu hanya menyiksanya sebelum membuangnya ke gudang penyimpanan anggur. Mungkin berniat membiarkan Yonesha kecil mati perlahan.
Tapi, hal itu adalah kesalahan besar. Yonesha melihat sebuah harapan saat teringat lift barang yang terhubung ke dapur. Yonesha memakainya untuk naik ke atas. Dengan sedikit keberuntungan, tubuhnya yang lemah bergerak sekuat tenaga menuju halaman belakang. Gadis itu memacu langkahnya sekuat yang ia bisa. Menyusuri jalanan-jalanan gelap yang pada akhirnya mempertemukannya pada Mr. Jannivarsh.
Cltarr
Darah mengalir dari luka cambuk yang Yonesha terima, berpadu dengan keringat di sekujur tubuh. Gadis itu menyeringai, sadar jika ia tak boleh menyerah sekarang. Ia sudah bekerja keras untuk ini. Ia bukan lagi gadis yang sama. Melihat ekspresi itu membuat Qasim begitu ingin tertawa.
"Lihatlah, apa ini yang Alexander Jannivarsh ajarkan padamu?" ia bertanya dengan kekehan sinis.
Yonesha hanya membuang wajah, ******** itu sungguh tak tahu apa-apa. Waktu telah berlalu, dunia pun berubah, begitu juga manusia. "Kau sama sekali tak berubah," Yonesha menjeda, melemparkan pandangan datar ke arah pria itu, "mereka yang tak berusaha berubah pada akhirnya takkan bisa bertahan."
Tanpa jeda, jemari Qasim meraih dagu Yonesha, membungkam gadis itu untuk beberapa saat. "Berubah? Tidak ada yang menarik soal perubahan. Manusia berubah dan melukai mereka yang berusaha bertahan." Yonesha bersumpah, untuk sesaat ia bisa melihat kilat kepedihan di kedua mata pria timur tengah itu. Sulit dipercaya, tapi itu benar adanya. Sungguh, hal apa yang pernah melukainya?
"Tidak ada yang memintamu bertahan-"
Buagh
Kepala Yonesha tersentak ke samping dengan keras, hantaman Qasim sukses merobek sudut bibirnya. Gadis itu membuang ludahnya yang bercampur darah sebelum kembali menatap Qasim Al-Azhar. Pria itu mendekat, mencengkeram rahangnya dengan erat.
"Ternyata buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya," Qasim memasang seringai lebar dan kembali berujar, "delapan belas tahun lalu, aku mendengar kalimat yang sama dari ibumu, Rihanna Aguero."
Yonesha membeku dalam keterkejutan, apa telinganya tak salah? Tidak, ia tak mungkin salah, pria itu dengan jelas menyebut nama sang ibu. Wanita yang hanya ia kenal melalui lembaran foto. Bagaimana ******** itu mengenal sang ibu? Bagaimana bisa? Pertanyaan itu berputar di benak Yonesha sebelum sebuah pukulan kembali mendarat di wajahnya.
"Bagaimana? Apa hal itu yang terlintas di kepalamu?" Kekehan Qasim benar-benar terdengar menyebalkan, membuat Yonesha begitu ingin membungkamnya. Tapi, apa yang bisa ia lakukan? Kedua tangannya masih terikat begitu kuat.
"Tidakkah kau ingin mendengar kisahku dengannya?" Qasim kembali mengulas senyuman, membuat Yonesha tak bisa menahan umpatan. Yonesha tak bisa menyangkal jika ia begitu penasaran. Ia sungguh tak menduga jika Qasim Al-Azhar mengenal sang ibu.
***
"Qasim Al-Azhar pernah memiliki hubungan dengan Rihanna Aguero?" Zhayn seakan tercekat, nyaris tak memercayai penjelasan dari Leonard Whitley padanya beberapa saat lalu. Ia langsung menutup laptop di hadapannya dan memfokuskan pendengaran pada sambungan teleponnya.
"Qasim seoarang mantan tentara, sebelum membelot ia pernah bertemu dengan Rihanna yang notabene seorang aktivitas kemanusiaan."
"Mereka terlibat hubungan?" suara Zhayn terdengar rendah, pria itu tak bisa menahan untuk tidak menggigiti kuku jarinya dengan gelisah.
"Andreas mengatakan seperti itu, tapi ia tak tahu bagaimana detailnya. Ia hanya tahu jika Rihanna telah mengakhirinya dengan baik-baik karena dia memang telah menjalin hubungan dengan Aguero, walaupun berasal dari perjodohan." Leonard menjeda kalimatnya. Suara helaan napasnya terdengar samar.
"Tepat setelah melahirkan Yonesha, Qasim membawanya pergi. Pada akhirnya, wanita itu memilih bunuh diri setelah Qasim memperkosanya." Kalimat itu seperti tamparan telak, rasa tak nyaman seketika menyeruak dalam diri Zhayn. Ya Tuhan, bagaimana jika Yonesha sampai mendengar hal ini? Hanya itulah yang terpikir di benak pria itu sekarang.
"Jadi, penyebab kematian Rihanna Aguero bukanlah pendarahan hebat pasca melahirkan?"
"Ya, itulah kebenaran yang Andreas Aguero kubur selama ini. Mungkin juga alasan khusus yang membuat Al-Azhar menghabisi nyawanya."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments