Yonesha menyusuri lorong cerah dengan dinding kaca pada salah satu sisinya, sesuai arahan Elly. Beberapa orang berlalu-lalang tanpa acuh di sekitarnya. Sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Ada yang memandang tajam pada berkas-berkas sembari berjalan tergesa, ada pula yang berteriak maupun berujar lirih pada seseorang di ujung sambungan telepon mereka. Di akhir lorong, Yonesha menuruni tangga dan menjumpai ruangan besar di mana para staff dapat menyantap makan siang.
"*Kau bisa bertemu dengannya di sudut kafetaria."
"Dia tak pernah terlihat duduk dengan orang lain."
"Dia akan memandang keluar sambil menyantap makan siangnya. Dia selalu makan tepat waktu*."
Gadis itu menyapu pandang ke sekeliling saat kalimat Elly melintas di benaknya. Akhirnya, tepat di arah jam sepuluh, Yonesha melihat sosok yang ia kenal. Pria itu duduk memunggunginya, menatap dinding kaca yang menampilkan pemandangan luar.
Yonesha memantapkan langkahnya, ia menarik kursi yang berada tepat di hadapan Zhayn sebelum menyamankan dirinya di sana. "Apa kau mencari tahu tentangku selama ini?" ujarnya tanpa basa-basi. Zhayn tak berujar apapun, pria itu hanya memasang raut datar, sementara rahangnya bergerak pelan karena mengunyah.
"Ralat. Bagaimana kau bisa tahu tentang hubunganku dengan Elly, Tuan Muda Jannivarsh?" Untuk beberapa saat manik Zhayn membulat. Tetapi, pria itu kembali memasang raut datarnya seperti semula. Ia menunduk untuk membenarkan letak sendoknya sebelum kembali mendongak. Kini, menatap Yonesha tepat di kedua matanya. Kelereng emasnya berkilau tajam karena sinar mentari. Pria itu menelan makanannya, sebelum menghela napas pelan.
"Apa itu penting?" sahutnya acuh-tak acuh.
"Apa maksudmu? Tentang kau mengetahui hubunganku dengan Elly padahal dia tak cerita pada Andy kekasihnya yang dekat denganmu itu? Atau karena aku sudah mengetahui identitasmu?" Yonesha melipat kedua tangannya di atas meja. Melempar tatapan dengan alis mencuram. Sebelum kembali melayangkan pertanyaan, tiba-tiba seorang pelayan membawakan senampan makanan dan minum.
"Makan. Temui aku di kantor setelahnya." Yonesha membulatkan mata ketika memandang Zhayn yang bangkit dan berlalu meninggalkannya begitu saja. Astaga, pria itu bahkan masih mengatur makanannya. Gadis itu berniat memulai menyantap makan siangnya ketika samar ia mendengar bisik-bisik dari staff lainnya. Mereka jelas membicarakan Zhayn, melontarkan pujian, namun tak sedikit pula yang memberikan kritikan.
"Apa dia selalu jadi pusat perhatian seperti itu?" gumamnya kemudian. Berusaha mengabaikan sekeliling dan menikmati hidangannya. Sesaat, pandangan gadis itu terarah pada sepiring salad yang nyaris seperti tak tersentuh. Pria itu hanya memakan seperempat porsinya saja. Bahkan, tatanannya pun masih belum berubah. Yonesha hanya menggeleng tak habis pikir melihatnya.
***
"Aku tak habis pikir mengapa kau tak memberitahuku sama sekali. Dia juga seperti ayah untukku, kau tahu itu!" Yonesha memandang tak percaya pada Zhayn yang sibuk dengan laptopnya, "hari itu, saat kau pergi dan mengakhiri waktu latihan dengan tiba-tiba, kau mengurus pemakamannya, bukan?"
Zhayn melepaskan kacamatanya, pria itu mendongak untuk melihat raut Yonesha yang penuh kekesalan. "Itu adalah keinginannya."
"Bohong!"
"Kau tak tahu bagaimana dia berusaha keras agar tak membuatmu kehilangan fokus sedetik pun. Dia ingin melihatmu mencapai tujuan. Dia hanya akan membuatmu cemas dan hilang fokus ketika tahu kondisinya. Apa kau sama sekali tak mengerti!?"
Yonesha membulatkan matanya, tak menyangka jika Mr. Jannivarsh berpikir seperti itu. Ya, tentu ia pasti akan merasa sangat cemas jika mengetahui kondisi pria itu sebelumnya. Namun, tetap saja ada rasa sesal ketika ia tak sempat melihat pria itu untuk terakhir kalinya.
"Dia hanya ingin kau fokus dan dia takkan segan melakukan apapun untuk mewujudkannya. Apapun, termasuk merahasiakan kondisinya."
"Aku mengerti."
"Tak masalah jika aku memulai rapat kecil kita?" Zhayn mengangkat sebelah alisnya dan Yoonesha pun mengangguk dengan senyum tipis. Ia bangkit dari posisi duduknya dan mengikuti Zhayn menuju ruang rapat yang terhubung dengan ruangannya. Di sana tampak beberapa orang yang sudah menunggu.
"Selamat atas keberhasilan misi Anda sebelumnya, Mr. Jannivarsh, kami pun turut berduka atas meninggalnya Mr. Alexander Jannivarsh." Zhayn hanya memberikan anggukan kecil pada wanita yang berdiri di samping layar virtual.
Yonesha mengedarkan sedikit pandangannya dan mendapati Elly duduk di seberang. Melemparkan senyuman. Saat itulah terdengar sambutan untuknya. "Selamat datang di Divisi Utama ISA, Ms. Yo." Yoonesha tersenyum kikuk, menyadari suatu hal. Dalam hati ia bersyukur, setidaknya ia mendapatkan sambutan yang hangat.
"Saya Grace Halter, dan rekan saya Agen Elisa Anderson, kami dari Divisi Telekomunikasi. Kemudian ada Agen Andrew Miller dan Andy Williams, Divisi Persenjataan. Dan tentu saja Mr. Zhayn Jannivarsh, sebagai pemimpin sekaligus Agen utama. Anda dapat mengenal sisanya seiring berjalannya waktu." Grace memberikan senyuman dan membungkuk hormat sebelum kembali ke tempat duduknya. Saat itulah Zhayn bangkit dan memulai penjelasan.
"Alexander Jannivarsh melakukan pengejaran terhadap Qasim Al-Azhar selama bertahun-tahun semenjak kasus pertama di Asia Barat. Pengeboman tempat ibadah dengan total korban 79 jemaah. Ia mengirimkan video yang mengklaim bahwa dirinya dalang dibalik pengeboman tersebut. Ia juga menyebutkan rencana selanjutnya. Yakni, pembunuhan pastor di Asia Timur. Seminggu berselang, salah seorang pastor di Korea Selatan tewas di altar. Semenjak itu mencul kasus pembunuhan berantai di negara tersebut. Terdapat 17 kasus pembunuhan dengan cara serupa, semua korbannya adalah pastor." Zhayn menjelaskan dengan nada datar seiring beragam foto bermunculan di layar, tepat di belakangnya serta permukaan meja.
Setiap orang di ruangan itu dapat melihat dengan jelas data yang ada. Selain itu, mereka juga dapat melihatnya dengan lebih rinci melalui tablet yang tersedia di hadapan mereka masing-masing.
"Qasim Al-Azhar menargetkan para pemuka agama, jemaat yang taat, serta tempat-tempat kegiatan keagamaan. Ia berulang kali terlihat di berbagai wilayah di Asia dan Afrika dalam kurun berdekatan. Ia terus melakukan perpindahan dengan pola acak yang mempersulit pelacakan. Sebanyak 37 intelijen nasional telah memberikan laporan bahwa dia pernah terlihat di negara mereka." Zhayn melempar pandangan pada Grace dan wanita itu langsung melanjutkan penjelasan.
"Sebelumnya, sepak terjang Qasim Al-Azhar hanya terlihat di kawasan Asia dan Afrika saja. Asia Barat dan Asia Tenggara menempati posisi teratas dengan kasus terbanyak, disusul Afrika, Asia Timur, kemudian Asia Selatan." Layar virtual itu mulai menampilkan peta dunia dengan titik-titik merah yang berkedip dan memenuhi kawasan Asia serta Afrika, sebelum mulai bergerak ke Eropa.
"Terdapat 128 kasus pengeboman, ribuan penjualan senjata berat dan puluhan kilo narkoba dalam kurun tujuh tahun. Tetapi, sepuluh tahun lalu, Qasim Al-Azhar tertangkap ketika sedang melakukan transaksi obat berbahaya dengan seorang mafia Eropa di Thailand. Sayang sekali, dalam pemindahannya, ia berhasil melarikan diri setelah meledakkan tempat penahanan hingga menewaskan puluhan aparat." Grace menyudahi penjelasannya, kemudian kembali duduk.
"Selama ini, Qasim memiliki beberapa orang kepercayaan yang selalu membersihkan jejaknya. Salah satu orang itu, Rashad Hussain, terlihat kembali di Amerika. Cukup mengejutkan, mengingat minimnya akses mereka di sana. Menurut data laporan terakhir, ia tengah menjalankan bisnis perdagangan manusia lintas negara, hingga ke wilayah Eropa."
"Kasus pertama Qasim di Eropa adalah pembunuhan Aamora Croft dan puteranya, dua puluh tahun lalu. Aamora Croft sempat menjadi aktivis UN, sementara ayahnya Warren Croft, merupakan seorang anggota kepolisian di Zurich," Grace berdeham sesaat sebelum kembali melanjutkan, "berikutnya, terdapat beberapa kasus pembunuhan serupa, pebisnis terkemuka di kawasan Eropa, termasuk kematian Andreas Aguero, salah seorang konglomerat di Paris."
Beberapa foto terpampang jelas di layar virtual. Wajah para korban, TKP yang dipenuhi genangan darah hingga catatan penyelidikan. "Semua kasus ini berakhir serupa, ditutup dengan alasan kurangnya bukti dan tidak adanya saksi sama sekali." Andy angkat bicara, ketika layar virtual mulai menampakkan data lainnya.
"Mereka sama sekali tidak terlibat dalam misi apapun yang berkaitan dengan Qasim. Namun, menjadi target pembunuhan yang sadis. Adakah yang tahu alasannya?" Yoonesha berujar tiba-tiba. Pandangan gadis itu terpancang pada layar tabletnya. Orang-orang terdiam, tak cukup memiliki jawaban maupun keberanian untuk angkat bicara. Hingga terdengar suara Zhayn yang memecah suasana.
"Hal itu akan menjadi salah satu tujuan kita. Mengetahui alasan dibalik pembunuhan orang-orang tak bersalah ini." Zhayn kembali berdeham, "besok, kami berdua akan berangkat, setelah menemukan beberapa koordinat lokasi terakhir Rashad Hussain. Dia adalah satu-satunya jalan kita menemukan Al-Azhar saat ini." Setelah itu, Zhayn mematikan layar dan menutup rapat.
***
"Miss Halter!"
"Ah, Mr. Jannivarsh?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu untuk rapat kita siang ini. Mengenai Yoonesha."
"Ah, Miss Aguero. Ada apa, Sir?"
"Mungkin ini sedikit pribadi, tapi bisakah kita tidak menyebut nama keluarganya? Err- dia akan merasa tidak nyaman."
"Begitu, ya. Baiklah, bagaimana dengan Miss Ariesha atau Miss Yo?"
"Miss Yo, lebih baik."
"Baik, Sir. Kalau begitu, saya permisi." Zhayn memberikan anggukan dan menghela napas. Memandang ke arah ruangannya di mana Elly tengah berusaha menenangkan Yoonesha.
****
Andrew Miller
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments