Chapter 15 : I'm Sorry

Apa itu barusan? Apa pria itu sungguh menciumnya? Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Yonesha tak bisa berpikir. Mungkin otaknya sudah mencair dan tak berfungsi akibat teriknya matahari. Gadis itu pasrah ketika Zhayn memakaikan jaket kulit di tubuhnya yang hanya berbalut pakaian dalam. Kemudian, menggiringnya sampai ke tempat parkir kendaraan.

Zhayn masih terdiam di kursi mobil tanpa sepatah-kata pun. Pria itu mencengkeram kemudi dengan sebelah tangan dan satu tangan lain menyangga pelipisnya. "Aku menemukannya. Bawakan handuk dan pakaian sekarang." Perintahnya melalui earpiece yang ia kenakan.

Kepala Yonesha jatuh tertunduk. Jemarinya saling bertaut dengan resah. Sungguh, ia tak berniat membuat pria itu sangat khawatir. Ia juga tak menyangka jika pria itu akan sedemikian khawatirnya. Ia pikir pria itu tak lagi peduli padanya.

"Aku minta maaf." Akhirnya, dengan susah payah kalimat itu berhasil meluncur dari bibirnya.

Tidak ada respon. Yonesha hanya bisa mendengar helaan napas yang panjang. Apa pria itu sangat marah sekarang? Akhirnya, setelah mengumpulkan cukup keberanian, Yonesha menoleh dan sangat terkejut ketika mendapati pria itu memandangnya dengan sorot intens.

"Lihat mataku saat berbicara padaku, Yonesha." Datar, tidak ada emosi di raut maupun nada biacaranya. Yonesha kembali melihat Zhayn yang biasa. Pria dingin penuh ketenangan yang tampak nyaris tak beremosi.

Tiba-tiba, seseorang mengetuk jendela mobil. Ternyata Diego datang dengan sebuah paper-bag besar. Pria itu mengangguk padanya dengan senyum sopan sebelum berlalu. Yonesha hanya membalas dengan kikuk saat rasa bersalah nenyeruak di benaknya. Ayolah, ia sudah membodohi pria itu dan menguncinya di ruang penyimpanan. Entah bagaimana pria itu bisa keluar.

Zhayn mengeluarkan sebuah handuk dan memakaikannya pada Yonesha. Gadis itu tak sadar menahan napas ketika wajah Zhayn hanya berjarak beberapa inci darinya. Pria itu kembali menarik dirinya, kemudian meraih sebuah kaos longgar yang mungkin seukurannya. Yonesha bergegas menerimanya dan mengenakan kaos itu di tubuhnya. Terlalu longgar dan kebesaran, namun setidaknya bisa menutup hingga setengah pahanya.

Andai ia tak melepas bajunya sembarangan dan meloncat ke lautan saat gadis kecil itu terombang-ambing di sana, mungkin Zhayn tidak akan memberikan jaketnya, juga tak akan merengkuh tubuhnya yang nyaris telanjang agar pria lain berhenti memandangnya. Haruskah ia merasa bersyuku? Beragam pertanyaan lagi-lagi memenuhi kepalanya. Ayolah, ia perempuan, perempuan membutuhkan kejelasan. Ia tak bisa duduk diam ketika seorang lelaki terus-terusan memberinya begitu banyak.

"Mengapa mencariku?" Zhayn sontak menghentikan gerakannya ketika mendengar kalimat gadis itu. Tetapi, ia tak menyahut dan tetap memilih bungkam.

"Mengapa kau berteriak dan menciumku?" Kalimat Yonesha sungguh menghantam Zhayn dengan keras. Pria iti mengetatkan rahang. Gadis itu tak menatapnya, lagi.

"Mengapa aku akan membuatmu menjadi gila dan mengapa kau melindungiku!?" Yonesha nyaris berteriak dan melemparkan tatapan nanar ketika kali ini Zhayn menyahutnya tanpa jeda.

"Aku mengkhawatirkanmu, tidakkah kau tau!?" Zhayn mengacak rambutnya frustasi, lagi-lagi pria itu berteriak. Sial, akhirnya ia harus menyesal untuk kesekian kalinya. YaTuhan. Apa ia salah lagi sekarang? Gadis itu terdiam dan menciptakan suasana yang tak nyaman.

"Kenapa?"  Setelah hening yang cukup lama, Yonesha kembali menemukan suaranya. Dari semua yang pria itu lakukan padanya. Hanya kata itulah yang memenuhi isi kepalanya selain beragam ekspetasi gila.

"Karena kau menjalankan misi bersamaku. Kau tanggung-jawabku. Hanya itu."

Kalimat Zhayn melempar Yonesha pada realitas hubungannya dengan pria itu yang tanpa diduga ternyata mengantarkan rasa sakit ke dadanya. Sial, entah apa yang sebenarnya terjadi. Ya, mereka menjalankan misi bersama. Hingga akhir, kedua tak boleh terpisah dan saling menjaga. Ya, memang seperti itu harusnya, bukan? Tapi kenapa rasanya begitu sakit mendengarnya? Apa karena jawaban ini tak seperti yang ia harapan? Ya Tuhan, memang apa yang bisa gadis itu harapkan?

Yonesha tersadar dari lamunan dan berujar panik ketika Zhayn mulai melajukan mobilnya meninggalkan kawasan Santa Monica.

"B-bagaimana dengan mobil Diego, aku meninggalkannya di parkiran sebelah sana!?"

"Diego akan mengurusnya."

***

"Anda berbelanja banyak hal, Miss." Yonesha mengulas senyum simpul saat Diego membawakan barang belanjaannya memasuki dapur.

"Aku ingin belajar memasak."

"Benarkah?"

"Ya, lagipula apa yang bisa kulakukan di sini. Dia tak pernah memintaku melakukan hal lain selain berdiam tanpa pekerjaan." Yonesha mulai mengeluarkan bahan makanan yang sempat ia beli dan mulai menatanya di almari pendingin.

Diego mengulas senyum sopan sebelum akhirnya berujar, "Saya rasa Mr. Jannivarsh sudah mempertimbangkan keputusannya itu, Miss." Gerakan Yonesha terhenti, ia mengangkat kedua bahunya tak acuh dan membuka lembaran sebuah buku panduan memasak.

"Apa yang harus kucoba? Omelette? Aku belum pernah membuatnya." Yonesha meringis.

"Omelette terdengar bagus."

"Oke." Yonesha meletakkan bukunya dan mulai menggulung lengan pakaiannya.

"Apa Anda memerlukan bantuan lagi, Miss?"

"Kurasa belum lagi. Kau bisa pergi."

"Baik, Miss." Diego memberikan anggukan sopan sebelum pamit pergi.

Yonesha memandang bahan-bahan makanan yang ia miliki sambil memilah varian resep omelette di buku. Ia pun memilih sebuah omelette dengan paduan sosis dan sayuran. Gadis itu mulai mempersiapkan bahannya dan mengikuti tiap langkah yang ada di buku.

Sementara itu, Zhayn menutup laptopnya ketika mencium aroma masakan yang menguar dari dapur. Pria itu mengernyit dan berjalan ke dapur hingga menjumpai Yonesha yang tampak kerepotan dengan penggorengan. Zhayn menarik sudut bibirnya tanpa sadar. Melihat betapa menggemaskannya Yonesha dengan rambut digelung asal-asalan dan celemek belepotan. Setidaknya, Zhayn bisa merasa sedikit lebih tenang. Mungkin dengan memasak Yonesha tidak akan berusaha mencari tahu apa yang tengah terjadi sesungguhnya. Itu akan membuatnya tetap aman.

"Zhayn!" Pria itu hendak berbalik ketika Yonesha memanggilnya. Ia menolah dan mendapati gadis itu melambai dengan ragu ke arahnya. Memberikan isyarat padanya untuk mendekat.

"Apa?"

"Kau pergi tanpa sarapan tadi pagi. Kita juga belum makan siang, sekarang terlalu dini untuk disebut makan malam-"

"Jangan berbelit-belit." Yonesha sontak memutar bola matanya dan berdecak. Ah, pria ini benar-benar.

"Kau harus mencicipinya. Aku membuatnya dengan susah payah." Zhayn hanya diam dan memandang dua piring omelette yang tersaji. Tampak tak terlalu cantik, namun setidaknya digoreng dengan baik. Cukup mengesankan karena tak gosong.

"Baiklah." Yonesha melonjak girang, membuat Zhayn cukup terkejut. Kenapa gadis itu begitu mudah merasa senang hanya karena hal sepele ini? Batinnya. Baru tadi siang pria itu seakan menghancurkan ulu hatinya, kini pria itu membuatnya begitu kegirangan dengan mudahnya.

Yonesha menatap lekat ke arah Zhayn saat pria itu memotong omelette dan memasukannya ke dalam mulut. Pria itu masih menatap piringnya sebelum mendongak dengan sebelah alis terangkat.

"Lumayan untuk percobaan pertama," ujar pria itu setelah menelan kunyahannya.

"Oh, yeah!" Yonesha bersorak girang sambil mengangkat kedua tangannya dengan heboh. Ia kemudian mulai mengiris omelette buatannya dan memakannya. Sejurus kemudian, gadis itu mengernyit dengan  wajah aneh.

"Lumayan dari mana! Ini aneh!" rengeknya. Zhayn hanya mengulas senyum kecil sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan. Ekspresi Yonesha benar-benar menarik perhatiannya.

"Setidaknya tak gosong."

"Ini jauh dari kata lumayan!" Yonesha menatap tak percaya ke arah Zhayn. Pria itu mengiris kembali omelette buatannya dan memasukannya ke dalam mulut tanpa ragu. Ia mengunyah dengan baik sebelum menelannya.

"Jangan memaksakan diri, rasanya benar-benar aneh." Yonesha menahan tangan pria itu dan berusaha menarik piringnya. Namun, pria itu menghentikan gerakannya.

"Kubilang ini lumayan-uhuk" Zhayn menjatuhkan garpu dan meraih lehernya dengan gerakan cepat.

"Zhayn!?" Yonesha sontak dibuat panik saat melihat pria itu mulai memegang lehernya dan terbatuk dengan keras. Astaga, apa yang terjadi? Pria itu memegang perutnya dengan sebelah tangan, otot-otot tubuhnya mengejang dengan wajah memerah. Pria itu mulai kesulitan bernapas dan jatuh terhuyung.

Yonesha bergegas meraih tubuhnya ketika pria itu nyaris menghantam kerasnya lantai. Zhayn mulai mengerang kesakitan ketika rasa panas terasa membakar dadanya. Oksigen di sekitar seakan menipis dan perutnya sangat mual. Sial, harusnya ini tak boleh, harusnya ini tak terjadi lagi! Rutuknya dalam hati.

Pria itu mengejang membuat Yonesha berteriak panik dan orang-orang mulai berdatangan. Suara di sekeliling seakan menjauh dan Zhayn merasa dunianya seperti berputar. Ia merasa tubuhnya terangkat, Andrew mengangkat dan membawanya menuju ke mobil.

Oksigen terus menipis, samar Zhayn melihat Yonesha menangis di sampingnya. Gadis itu merengkuhnya, dan Zhayn bisa merasakan kehangatan di tangannya. Gadis itu menggengamnya dengan erat. Gadis itu masih di sisinya, setelah semua hal buruk yang ia lakukan padanya. Zhayn merasakan kegelapan  yang membayangi penglihatannya, rasa pusing itu tak terbayangkan lagi. Sejurus kemudian, semuanya gelap.

"Andrew, Zhayn pingsan!"

"Kita akan segera sampai. Bertahanlah, Sir."Sesampainya di rumah sakit, dokter dan perawat langsung membawa pria itu dan melakukan beragam prosedur penyelamatan. Yonesha menunggu dengan gelisah ketika ia melihat melalui pintu kaca hal-hal yang dokter lakukan pada pria itu. Ya Tuhan, apa yang sesungguhnya terjadi. Ia benar-benar sukar mempercayai penglihatannya ini. Pria itu, terkulai tak berdaya di sana dengan alat-alat medis yang membantu menopang kehidupannya.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Drew!?"

"Harusnya ini tak terjadi lagi. Saya sungguh tak mengerti. Mr. Jannivarsh adalah orang yang sangat hati-hati."

"Apa maksudmu?"

"Saya rasa, alerginya kambuh." Kalimat Andrew menghantam Yonesha dengan telak. Ya Tuhan, apa mungkin?

"Alergi?" ulang Yonesha dengan suara tercekat.

"Bukan tanpa alasan Mr. Jannivarsh memilih menjadi seorang vegan. Beliau tidak bisa mengonsumsi daging." Yonesha terhuyung dan membekap mulutnya, membuat Andrew refleks meraihnya agar tak jatuh. "Anda baik-baik saja, Miss?"

"Kami makan omelette bersama." Ujar gadis itu pada akhirnya.

"Omelette?" Andrew mengernyit dengan dahi berkerut, "Mr. Jannivarsh tidak bermasalah dengan produk telur-"

"Ada sosis daging di dalamnya." Tubuh Yonesha meluruh ke lantai. Demi Tuhan, apa yang sudah ia perbuat, ia menggiring pria itu pada kematian. Astaga, semua ini karenanya.

"Miss, saya yakin beliau akan bertahan. Saya mohon tenanglah. Dokter akan memberikan yang terbaik." Tepat setelah itu, seorang dokter melangkah keluar.

"Bagaimana, Dokter?" Tanya Andrew, setelah membantu Yonesha kembali bangkit berdiri.

"Mr. Jannivarsh sempat mengalami reaksi syok anafilaktik akibat alerginya. Saya rasa beliau sempat mengonsumsi alergen. Untungnya, saat ini beliau berhasil melewati masa kritisnya."

Yonesha bisa mendengar desahan lega Andrew. Pria itu sadari tadi tampak sangat khawatir. Namun, mendengar kondisi Zhayn sekarang sudah lebih dari cukup baginya. Sementara Yonesha, gadis itu tak bisa menghilangkan rasa bersalah yang memenuhi dadanya. Karena dialah pria itu terbaring di sana. Meregang nyawa.

****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!