Chapter 19 : Devastated Pt.2

This chapter contains mature content for graphic of violences and bloody scenes.

Please, read at your own discretion!

Dua puluh lima tahun memang telah berlalu, tapi Qasim sama sekali tak bisa lupa. Hari itu ia masih seorang yang akan mengorbankan segalanya untuk negara. Ia masih berbalut seragam tentara, pengabdi negara. Baginya, tidak banyak yang menarik di tanah airnya. Qasim hanya melihat pertumpahan darah, kekejaman, dan ledakan yang menghancurkan segalanya. Udara pun terasa panas, sesak, dan menyiksa.

Tetapi, hari itu terasa berbeda. Kelompoknya tengah berkumpul bersama anak-anak untuk menuju tenda kesehatan. Orang-orang bilang petugas dari luar negeri datang membawa banyak obat dan makanan. Anak-anak itu terlihat bersuka-cita, begitu pula dirinya dan para anggota yang lain. Saat itulah, Qasim melihatnya. Seorang wanita berdiri di antara anak-anak lain dengan balutan setelan kemeja sederhana, ia tertawa gembira sembari membagikan makanan-makanan. Tawa yang begitu menawan. Seperti kesejukan yang melintas diantara gurun penuh penderitaan.

Tanpa sadar, tawa itu seperti menyihir. Untuk pertama kalinya, hati seorang Qasim Al-Azhar menghangat. Rihanna Ariesha Schmidt. Aktivis dari UN yang berhasil menyihir hatinya dalam sekejap. Qasim terpesona, ia jatuh untuk pertama kali dalam hidupnya.

Wanita itu tersenyum untuknya, mereka mulai berbagi cerita bersama-sama. Kisah perjalanan keduanya yang sama-sama sering dihadapkan pada kengerian. Rihanna menjalankan kehidupan sebagai seorang dokter di bawah naungan WHO. Sementara Qasim bekerja keras mempertahankan negerinya.

Hari-hari berlalu cepat dan terasa lebih ringan. Qasim sadar ia tak bisa menahan lagi perasaan di relung hatinya. Rasa itu membuncah dan begitu ingin disampaikan. Hari itu, ia pun memutuskan. Tepat di hari kepulangan Rihanna ke negerinya, ia mengutarakan perasaannya.

Hari itu, untuk pertama kalinya, senyuman surut di wajah Rihanna. Perempuan itu menarik dirinya menjauh dan menggeleng. Dengan senyum kecil, ia berkata tidak. Untuk pertama kalinya pula, Qasim melihat senyum asing. Senyuman yang sungguh menawan. Tetapi, hati Qasim hancur saat ia sadar senyuman itu bukan untuknya. Ada pria lain di sana.

Kepahitan yang ia rasakan tak berhenti di sana. Qasim dipaksa kembali hancur ketika kematian keluarganya menyusul menorehkan luka lain. Keduanya jemaat taat yang selalu menjalankan kehidupan sesuai jalan dari Tuhan. Tapi orang-orang itu membantai mereka tanpa ampun.

Satu persatu kepedihan menghantam kehidupannya semenjak Rihanna meninggalkan negerinya untuk bertugas di negara lain. Seluruh kekacauan itu juga menghancurkan kewarasan yang berusaha keras ia jaga. Tetapi, pada akhirnya ia tak mampu bertahan dengan rasa sakit dan dendam di dadanya. Saat itulah, ia memilih jalan lain yang tak semestinya. Menebar ketakutan dan kematian di sebagian penjuru dunia.

***

"Tidak ada yang memintamu bertahan. Begitu, katanya. Aku melewati kematian untuknya, aku meninggalkan segalanya untuknya, aku mencintainya, tapi hanya itu yang ia katakan."

Seluruh kalimat yang Qasim lontarkan masih berputar di kepala Yonesha, terlalu sukar untuk dicerna dan dipercaya. Tidak, sang ibu tak mungkin mengenal ******** di hadapannya ini. Semua yang ia dengar pastilah kebohongan. Sial, tapi Yonesha harus menelan kekecewaan karena ia tak bisa menemukan kebohongan di kedua manik Qasim yang menatapnya penuh kepedihan.

"Pada akhirnya dia tak memilihmu, karena ini kau menghabisinya?" Yonesha seakan nyaris kehilangan suaranya. Ia masih tak bisa percaya jika sang ibu meninggal bukan karena melahirkannya. Qasim tak menjawab, tetapi rahang pria itu mengetat dengan kencang. Ada kemarahan di kedua matanya.

"Aku tidak membunuhnya! Aku membenci ****** itu karena memilih ayahmu, tapi-"

"Jangan menyebutnya sembarangan, bedebah sialan!" Yonesha meraung, kemarahan mengalir di setiap nadinya. Demi apapun, ******** itu tak seharusnya mengatakan kalimat kotor untuk sang ibu. Memang siapa dirinya berhak berkata demikian!?

Qasim terbungkam untuk sesaat, ia mengacak rambutnya dengan frustasi sebelum akhirnya mendekat dan mencengkeram leher jenjang Yonesha. "****** itu mengatakan cinta untuk ayahmu, kesalahan terbesar yang tak seharusnya ia lakukan. Jika ia memilihku sedari awal, dia takkan memilih kematian tragis untuknya."

"Kau, membunuhnya! Kau membunuh ibuku!" Oksigen terasa semakin menipis, tapi rasa panas dan sesak itu tak cukup besar dari rasa sakit yang menggerogoti hati Yonesha.

"Kubilang aku tak membunuhnya! Kami menikmati malam panjang itu, tapi dia malah mengakhiri hidupnya sendiri." Qasim memundurkan langkah, berujar dengan nada ringan tak bersalah. Kemudian, tangannya bergerak menyingkap jas yang ia kenakan dan mengeluarkan sebuah revolver."Dia menekan pelatuk untuknya sendiri. Apa yang bisa kulakukan selain merelakannya?" Demi Tuhan, Yonesha begitu ingin mencabik mulut itu. Bisa-bisanya ia tersenyum saat mengatakan hal sekeji ini.

"Iblis sialan! Kau harusnya mencegahnya! Kau harus menghentikannya! Sialan, kau bilang mencintainya!" pekikan parau Yonesha beradu dengan isakan yang tak lagi tertahan. Dalam benaknya, terbayang bagaimana penderitaan yang harus sang ibu lalui sebelum akhirnya memutuskan mengakhiri hidupnya. Ya Tuhan, kenapa sang ayah menutupi semua ini? Tidak tahu kah sang ayah bahwa selama ini Yonesha hidup dengan rasa bersalah karena kelahirannya menyebabkan kematian sang ibu.

"Sudah kubilang dia mengatakan cinta untuk orang lain, itu adalah kesalahan terbesarnya! Dia layak mendapat hal yang lebih buruk!" Tidak ada lagi umpatan yang lolos dari mulut Yonesha. Tampaknya gadis itu sudah tak mampu berkata-kata. Tak lagi tahu apa yang harus ia lontarkan untuk lelaki di hadapannya.

Kacau. Yonesha sama sekali tak bisa memikirkan apapun. Ia tenggelam dalam bayang-bayang ingatan mengerikan. Bukan hanya kematian tapi bayangan penderitaan yang tak lagi tertahankan. Ibunya tidaklah meninggal karenanya, haruskah ia merasa lega karena bukan dirinya-lah penyebab kematian itu? Tapi, mengetahui penyebab yang sesungguhnya membuat Yonesha lebih terluka. Ia hanya tak menyangka, ternyata kehidupannya sudah dibayang-bayangi kengerian bahkan sejak ia belum dilahirkan.

"Sial, ada apa dengan wajahmu!?" Qasim mencemooh seraya memainkan revolver dalam genggamannya, "jangan menatapku sepertinya. Oh, atau kau ingin mencicipi kenikmatan yang ibumu lalui sebelum menjemput kematian?" seakan sebuah ide brilian melintas di benaknya, wajah pria itu tampak berbinar penuh antusiasme.

Yonesha sadar kemana arah pembicaraan pria itu. Tidak, bagaimana pun ia tak bisa membiarkan hal itu terjadi. Tapi, tampaknya Qasim sama sekali tak main-main. Yonesha menggeleng kuat ketika pria itu kembali melangkah ke arahannya dengan seringai lebar. Gadis itu tak berkutik, kakinya yang sedikit berjinjit karena tubuhnya diikat lebih tinggi membuat ia tak bisa banyak melawan.

"Berhenti di sana! Kau takkan bisa melakukan hal itu kepadaku!" Yonesha tak bisa berbohong jika ia merasa ketakutan, gemetar di suaranya terdengar jelas. Hal itu sukses mengundang gelak tawa.

"Tenanglah, aku bukan penikmat gadis kecil sepertimu. Tapi, kupikir anak buahku akan menyukaimu." Seringai Qasim melebar, kalimat itu mencambuk Yonesha dengan keras. Ini buruk, sangat buruk. Apa pria itu berniat melemparnya sebagai mainan bersama!? Sialan!

Yonesha berusaha mengelak saat jemari Qasim menyentuh bahunya yang telanjang karena sebagian pakaiannya telah robek. Pria itu menyeringai sambil mendekat, menghidu aroma di sekitar leher jenjang Yonesha. "Bedebah, menjauh dariku!"

Raungan Yonesha membuat Qasim tergelak, pria itu menarik diri dan menepukkan kedua tangannya. Tepat setelah itu, muncul beberapa pria dengan seragam hitam dan bandana menutup wajah, lengkap dengan senapan di depan dada. Yonesha menegang di tempatnya terikat, ketakutan mengaliri seluruh nadinya. Demi Tuhan, ia juga seorang wanita yang memiliki kehormatan. Tidak, ia tak bisa membayangkan bila harus berakhir di tangan-tangan kotor itu.

"Anggap saja bayaran atas lelah kalian selama ini, kalian bisa memakainya sesuka hati." Qasim terkekeh, mendudukkan dirinya sembari mengeluarkan sebatang rokok. Menikmati raut ketakutan yang terpancar jelas di wajah puteri dari wanita cinta pertamanya.

"********! Menjauh sialan!" tenggorokan Yonesha terasa lebih perih, suaranya pun terdengar lebih parau. Gadis itu menggeleng saat seorang dari beberapa pria itu mendekat. Ia mengenakan bandana hitam menutup separuh wajah dan topi yang senada.

Pria itu tak terpengaruh, ia mendekat, membuat jarak keduanya semakin rapat. Yonesha menahan napas, berusaha menjauhkan kepalanya saat pria itu mengendus lehernya. Ia bisa merasakan jemari berbalut sarung tangan kulit menyentuh perutnya. Pria itu meraih dagu Yonesha, memaksa gadis itu menatap matanya.

Yonesha menegang, kelerengnya melebar dengan sempurna. Sejurus kemudian, pria yang merengkuhnya itu berbalik.Dengan gerakan efisien, pria itu meraih pistol di sisi tubuhnya dan mulai menembak. Yonesha masih berusaha mengatur napasnya ketika pria itu melemparkan sebuah kunci. Jemari Yonesha menangkapnya, susah payah tangannya berusaha melepaskan rantai yang melilit pergelangan tangannya. Yonesha bergegas meraih sebuah pistol milik salah satu pengawal yang tergeletak tak jauh darinya.

Kedua mata Yonesha melihat dengan jelas bagaimana pria bertopi itu menghabisi anak buah Qasim yang datang bersamanya. Tapi, beberapa pengawal lain berdatangan dari arah berlawanan. Yonesha membidiknya sebelum mereka sempat melontarkan peluru ke arahnya.

Qasim sukses dibuat terkejut, ia bergagas bangkit dari posisinya saat menyaksikan dengan jelas beberapa anak buahnya tumbang dengan kepala tertembus peluru. Pria itu menggeram tertahan, memandang sosok bertopi yang berdiri beberapa meter di depan seraya menodongkan pistol tepat ke arahnya.

"Assalamu'alaikum, Al-Azhar."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!