Semenjak Zhayn berniat untuk memulai latihan guna menebus dua bulan yang terbuang tanpa persiapan yang cukup, Yonesha harus menerima hari-hari berat nan melelahkan bersama pria itu. Ia dibangunkan dengan paksa di subuh hari. Memulai latihan dengan meningkatkan kebugaran lewat lari tiap pagi dan sore. Selanjutnya, ia akan berlatih beragam beladiri hingga sarapan tiba. Menunggu makan siang, Yoonesha harus menghabiskan waktu di atas ring, area tembak maupun fitness. Malamnya, Zhayn mempertajam kemampuannya dalam dunia teknologi. Hacking dan segala macam urusan terkait.
Selain urusan olahraga dan latihan, Zhayn mengatur pola makannya. Pria itu melarang keras makanan cepat saji. Ia terus-terusan menyediakan makanan super sehat yang sukses membuat Yonesha muak. Tapi gadis itu memilih diam, atau ia akan mendapatkan porsi hukuman yang melelahkan.
Buagh
Yonesha jatuh tersungkur kesekian kalinya. Zhayn benar-benar membantingnya tanpa ampun. Pria itu sungguh berubah menjadi pelatih mengerikan. Yoonesha membiarkan tubuhnya masih telentang di atas matras, sembari mengatur pernapasannya, ia memandang Zhayn yang berdiri dengan kokoh. Sungguh, menjatuhkannya adalah hal tersulit yang seakan mustahil. Yoonesha selalu berakhir tersungkur, dipiting, hingga dibanting tiap kali berusaha menjatuhkan Zhayn ke matras barang sekali saja.
"Bangun, Yonesha. Aku ingin kau di lapangan tembak dalam dua menit." Selanjutnya, Zhayn melenggang begitu saja. Meninggalkan arena bertarung. Yoonesha mendesah pasrah dan bergegas menuju arena.
Zhayn memandang Yonesha yang tengah berkutat dengan senapan mesinnya. Gadis itu telah berlatih dari pistol tangan hingga menggunakan senapan mesin dengan sangat baik.
***
"Stop. Makan malam pukul delapan, aku tak ingin kau terlambat."
Yonesha mengernyit, pandangannya langsung mengarah pada jam, mereka bahkan baru selesai makan siang. Apa pria itu akan pergi sampai larut? Tak biasanya pria itu menghentikan latihan sebelum waktunya. "Kau mau pergi?" Yonesha memberanikan diri bertanya. Zhayn hanya meliriknya sesaat sebelum melangkah meninggalkan arena.
Akhirnya, Yonesha memilih menurut, ia membereskan peralatannya sebelum berlalu untuk membersihkan diri. Selanjutnya, ia memilih berdiam diri di hadapan jendela besar yang menunjukkan pemandangan lautan lepas. Ia menghela napas sembari menatap langit yang menggelap. Gadis itu melirik jam dinding, pukul delapan kurang dua puluh. Zhayn belum kembali, pria itu juga tak memberinya kabar apapun. Membuat Yonesha menunggu dengan rasa penasaran dan tak terdefinisikan.
Yonesha melangkah menuju meja makan, dua piring pasta tersaji di meja. Lengkap dengan salad sayur yang kerap Zhayn konsumsi bila pria itu tak menyukai masakannya. Ya, ini adalah kali pertama Yoonesha memasak untuk orang lain. Selama ini, Zhayn yang selalu menyiapkan makanannya. Kali ini, ia ingin menyiapkannya sendiri.
***
Zhayn melangkah masuk dan melihat lampu ruang makan yang masih menyala. Pria itu melangkah mendekat dan mendapati Yoonesha jatuh terlelap dengan kepala tertumpu di kedua tangannya. Ia melirik jam yang sudah menunjuk pukul dua belas lebih, kemudian pandangannya jatuh pada dua piring pasta dan salad sayur yang masih utuh. Hal itu sukses membuat Zhayn menghela napas.
"Apa dia tak mendengar kalimatku?"
Zhayn berniat membangunkan Yoonesha saat gadis itu mendadak mengeliat bangun, tangannya dengan tak sengaja menyenggol piring makanan hingga terdorong dan jatuh ke lantai. Menciptakan suara yang sukses mengembalikan kesadaran Yoonesha sepenuhnya. "Ah, astaga ... sejak kapan kau di sana!?" gadis itu terlonjak kembali ketika melihat sosok Zhayn bersedekap, menatapnya dengan pandangan tajam.
"Kau tak mendengarkanku, huh?"
"Eh, itu ... aku hanya-"
"Aku tak memintamu menungguku." Yoonesha tercekat dan menunduk ketika mendengarnya. Ia memberikan anggukan kecil sebagai tanda mengerti.
"Ayo, keluar."
"Huh?" Yoonesha mendongak saat mendengar Zhayn mengajaknya keluar. Pria itu hanya menatapnya dengan datar sebelum berlalu.
"K-kita mau ke mana?" Yoonesha memasang sabuk pengamannya. Ia melirik Zhayn sekilas sebelum pria itu melajukan mobilnya. Tak butuh waktu lama keduanya tiba di sebuah restoran. Zhayn langsung memesankan beberapa makanan, mereka pun menunggu pesanan tiba.
"Sudah kubilang jangan terlambat. Sekarang makanlah!"
"A-aku pikir kau juga akan makan di rumah."
Zhayn hanya memandang tak acuh sebelum melahap hidangannya. Melihat bagaimana Zhayn memakan makanannya dengan lahap, Yoonesha sadar jika pria itu tampaknya juga belum menyantap makan malam. Gadis itu menatap sekeliling dan menyadari tak ada pengunjung lain selain mereka.
"Ini sudah larut malam. Kenapa mereka masih buka?"
Zhayn meneguk air putihnya dan mendongak. Pria itu menunjuk ke luar jendela dengan ujung sendoknya. "Kau lihat puncak bangunan yang menyala kebiruan?"
Yonesha mengikuti arah pandang Zhayn dan mengangguk. "Itu kantor cabang ISA?" dan pria di hadapannya itu memberikan jawaban melalui kedipan.
"Pemilik tempat ini anggota ISA, semacam pekerjaan sampingan sebagai bagian penyamaran di masyarakat. Anggota lain sering kemari untuk makan malam. Sebagian dari mereka datang larut malam."
Yonesha mengangguk-angguk mendengarnya. Ia pun kembali melahap makanannya sebelum sebuah pertanyaan melintas di benaknya. "Seperti aku yang menjadi mahasiswi sebagai penyamaran di masyarakat, dan agen ISA yang memiliki restoran, kau juga punya pekerjaan sampingan?"
Zhayn melempar tatapan datar sebelum memalingkan wajahnya dari Yonesha yang menggerak-gerakkan kedua alis. Menanti jawaban. "Kau punya, 'kan? Apa yang kaulakukan, mengajar, mendirikan restoran, atau kau pengusaha? Jangan bilang kau juga seorang mahasiswa? Mana mungkin!"
"Aku bukan mahasiswa dan aku tidak mendirikan restoran."
"Kau benar-benar mengajar? Dosen?"
Zhayn melempar tatapan malas. "Trainer." Kedua kelereng Yonesha membulat sempurna. Mungkin nyaris menggelinding dari tempatnya. Imajinasi liar membayangkan Zhayn dalam balutan kaos ketat, celana cargo, boot hitam, dan topi merah khas dari para trainer di akademi, membombardir pikirannya. Ia teringat hari-harinya berlatih, pria itu selalu tampak semakin menggoda ketika bersedekap dan memandang serius ke arena. Melontarkan ejekan sinis dan beteriak keras.
Sial, kalau ia masih siswa akademi, mana mungkin ia bisa berkonsentrasi dan belajar jika sang trainer sepanas itu. Yonesha menggeleng cepat dan kembali menikmati makanannya. Tanpa sadar, setiap geriknya tak luput dari pengawasan mata emas milik Zhayn.
"Sungguh? ISA Academy?" Pria itu nyaris terkesiap saat Yonesha mendongak dan kembali melempar pertanyaan.
"Kau pikir di mana?"
"Tunggu-tunggu ... itu bukan pekerjaan sampingan! Jangan membodohiku, kau benar-benar mendirikan restoran!?" Zhayn mengerling jengah dan meletakkan sendoknya dengan malas. Ia kemudian melempar tatapan datar yang membuat Yonesha semakin penasaran.
"Aku membuat dan menjual senjata, Yonesha."
***
Yonesha memerhatikan jajaran foto yang terpampang di hadapannya. Sosok Qasim Al-Azhar mencuri seluruh perhatiannya. Mengalirkan rasa sakit ke hatinya. Senyum tak berdosa pria itu sukses membuat gadis itu sesak, dadanya seakan bergemuruh karena amarah dan dendam.
Tanpa gadis itu sadari, Zhayn meremat kuat jemarinya. Ia memejamkan mata sejenak, sebelum menyentuh monitor virtual di depannya. Ia berdehem singkat membuat fokus Yonesha teralihkan. Berbagai data bermunculan menenuhi layar. Yonesha berusaha mencernanya dengan perlahan. Zhayn menghela napas, sebelum memulai penjelasannya.
"Alexander Jannivarsh mengumpulkan semua ini sebelum kita mengambil alih. Selama beberapa bulan, ia melakukan pengejaran di kawasan Asia. Terkahir kali, jejak Qasim di Asia Tenggara, sebelum kembali menghilang hingga saat ini."
"Mungkinkah dia masih di Asia?"
"Aku tak yakin, tapi selama beberapa bulan kita tak menemukan jejaknya di Asia sama sekali."
"Apa kita punya jalan tercepat untuk menjangkaunya?"
"Rashad Hussein." Sebuah foto baru terpampang di layar, tepat di bawah foto Qasim Al-Azhar. "Tangan kanan Qasim, dialah satu-satunya yang paling tahu tentang Qasim. Dialah yang membereskan semua perbuatan pria itu."
"Di mana kita akan menemukannya?"
"Posisi terakhirnya di Las Vegas. Kita akan mengetahui detilnya begitu sampai di ISA." Yonesha mengangguk paham. Zhayn mematikan proyektor. Pria itu membereskan berkas-berkasnya dan berlalu keluar ruangan. Yonesha mengempaskan tubuhnya ke kursi seraya menghela napas. Debaran jantungnya tak bisa membohonginya. Ia gugup, tentu saja. Sejak umur 12 tahun, ia dipersiapkan untuk hal ini. Saat ini, waktunya telah tiba. Ia harus melakukan yang terbaik.
"Bersiaplah, jemputan kita telah tiba." Yonesha berjengit saat mendengar suara Zhayn dari luar ruangan. Gadis itu bergegas keluar dan mendapati Zhayn yang telah berbalut mantel hitam panjang. Pria itu melemparkan sebuah mantel serupa dan mengisyaratkan gadis itu untuk mengikutinya. Dia tak perlu membereskan barang-barangnya sama sekali, karena pria itu tak membiarkannya membawa barang-barang dari apartemen yang Yonesha tempati sebelumnya.
"Oh, Ya Tuhan!" Yonesha terperanjat saat melihat sebuah helikopter mendarat di landasan dekat halaman belakang. Gadis itu pun bergegas menyusul Zhayn yang menaiki benda melayang tersebut. Yonesha memerhatikan kendaraan tersebut dan baru menyadari jika helikopter itu bukanlah milik ISA. Ia begitu ingin mempertanyakannya, namun sang pilot sudah lebih dulu meminta keduanya bersiap untuk segera lepas landas.
Yoonesha memerhatikan daratan yang kian menjauh dari pandangannya. Helikopter yang mereka kendarai bergerak melintasi perkotaan padat dan mulai merambah daerah perbukitan. Tanpa gadis itu sadari, Zhayn tak sekalipun mengalihkan pandangannya. Ia menarik sudut bibirnya sekilas saat melihat Yoonesha yang jatuh terlelap dengan mudahnya.
Pria itu menurunkan pandangannya ke arah buku-buku jari Yonesha yang memerah. Gadis itu berlatih dengan keras. Zhayn sadar, Yoonesha tak pernah sekalipun mengendurkan semangat di setiap latihannya. Pada awalnya, ia memang tampak canggung, mungkin karena selama dua bulan ia tak menerima latihan sama sekali selain keduanya belumlah akrab. Untunglah, kebugaran gadis itu masih terjaga dengan baik.
Zhayn mengguncang bahu Yonesha perlahan. Membangunkan gadis itu dengan hati-hati. Setelah mengudara selama berjam-jam, kini mereka telah menadarat di London, Inggris. Yoonesha melenguh lirih, gadis itu mengerjap dan menyadari bahwa mereka telah mendarat di sebuah landasan terbang pribadi.
"Kita sudah sampai?" tanya gadis itu terkejut. Zhayn hanya membalasnya dengan anggukan dan bergegas turun dari helikopter. Yonesha menyusulnya, ia pun melihat beberapa orang berdiri tak jauh dari tempat keduanya berada.
"Kami sudah menyiapkan apartemen terdekat." Zhayn mengangguk pada seorang bersetelan rapi yang menjadi kopilot helikopter tadi. Mendengar hal itu, Zhayn hanya memberikan anggukan dan menerima sebuah kunci mobil dari seorang pengawal. Sebuah Aston Martin kelabu yang tampak memikat terparkir di dekat mereka.
Pengawal tersebut mengangguk serempak ketika Zhayn memasuki mobil disusul Yoonesha. Mereka pun melaju meninggalkan landasan tersebut, menyusuri jalanan memutar kawasan bukit dan menuju perkotaan. Yoonesha melirik landasan yang kian menjauh, heran karena keduanya tak langsung mendarat di ISA. Tapi, gadis itu memilih bungkam dan menikmati perjalanannya.
***
Zhayn memarkir mobilnya dengan lincah begitu tiba di basemen ISA. Yoonesha yang pertama kalinya menginjakkan kaki di kantor pusat ISA tersebut tampak tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Keduanya bergegas meninggalkan mobil dan menuju lift. Yoonesha yang sempat tertinggal karena harus merapikan diri, bergegas berlari mengikuti Zhayn yang kini sibuk menelepon seseorang. Saat itulah, Yoonesha tak sengaja menabrak seseorang yang tiba-tiba keluar dari lift sebelah.
Tubuh Yoonesha terhuyung dan terjerembab ke lantai, begitu pula seseorang yang ditabraknya. Gadis itu mendongak sembari mengucapkan maaf dan melihat sosok perempuan yang ditabaraknya barusan. Perempuan itu memiliki garis wajah menawan dan tubuh proporsional yang dibalut seragam dinas militer resmi dan mantel berwarna cokelat, rambutnya yang dipotong pendek tampak berkilau keemasan karena cahaya lampu.
"Risetta?" suara Zhayn mengejutkan keduanya. Wanita itu bergegas bangun dan tampak begitu terkejut.
"Zhayn. Lama tak berjumpa, maaf karena tak bisa datang di pemakaman ayahmu. Aku baru kembali dari ..." wanita bernama Risetta itu melirik tak nyaman ke arah Yoonesha. Gadis itu segera menyadari lirikan tersebut dan berniat pamit.
"Mm, sepertinya aku harus naik ke atas dulu?" Yoonesha melangkah menuju lift, namun tangan Zhayn dengan cepat menahan lengannya. Pria itu menatapnya dengan tajam.
"Memangnya kau mau kemana tanpaku?" ujarnya datar. Ia kemudian melirik ke arah Risetta dan berujar sama datarnya, "terimakasih sudah mengunjunginya. Aku harus pergi sekarang." Yonesha masih mematung mendengar kalimat Zhayn yang terlontar untuknya, hingga ia kembali tersadar ketika pria itu menarik tangannya.
"Ah, begitu. Baiklah." Risetta tersenyum dengan paksa dan membiarkan keduanya berlalu memasuki lift. Ia pun membenarkan posisi bajunya sebelum berbalik pergi.
****
pictures source - Pinterest
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments