Chapter 10 : Lost Control

Seorang pria duduk menghadap dinding kaca yang telah hancur berkeping-keping. Membiarkan semilir angin malam di musim panas menerobos masuk. Pria itu terdiam dengan sebotol anggur dalam genggamannya. Kedua matanya memerah, terlalu banyak menenggak alkohol, tapi tak cukup banyak untuk membuatnya mabuk.

"Rihanna ..." Pria itu menggumam. Di sampingnya seorang pria bersetelan rapi berdiri dengan kepala tertunduk. Menyadari kesalahan yang diperbuat karena kelalaiannya.

"Apa kau tahu siapa Rihanna?" Rashad Hussain menggumam pelan. Pandangannya tampak menerawang jauh. Berusaha menggali memori-memori lama. Kenangan yang seharusnya ia buang jauh sedari dulu. Tapi, nyatanya kenangan itu tak pernah benar-benar pergi.

"Maaf, Sir?"

"Wanita paling tangguh yang pernah kukenal. Sayang sekali ia harus bernasib buruk karena berurusan dengan Al-Azhar." Rashad menenggak lebih banyak anggur. Membiarkan cairan pekat itu mengaliri kerongkongannya.

"Maksud Anda?"

"Malam ini, aku seperti melihat Rihanna berdiri tangguh di hadapanku." Rashad menyeringai. Menjauhkan botol anggurnya yang nyaris tandas. Kemudian mengalihkan perhatian pada sebuah tablet yang tergelak di sampingnya, menampilkan foto seorang gadis bergaun marun. "Al-Azhar pasti akan senang melihat hadiahku nanti." Pria itu mengakhiri kalimatnya dengan kekehan yang menggelegar.

***

Zhayn meraup celana dan kaos miliknya sebelum berlalu cepat meninggalkan kamar. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, tubuhnya melorot ke lantai seiring dengan suara tangis yang samar ia dengar dari dalam ruangan.

"Sialan." Zhayn jatuh tertunduk seraya meremas helaian rambut cokelatnya. Melontarkan makian, sumpah serapah untuk dirinya sendiri. Entah apa yang ia pikiran semalam. Entah iblis mana yang merasukinya semalam. Ia tak pernah kehilangan kendali hingga sejauh ini. Ia telah mengusir jauh-jauh bayangan wanita dari kehidupannya. Semua ini salah, bukan?

Sudah bertahun-tahun lamanya ia bertahan dengan hal itu. Ia benar-benar berusaha menjauhkan wanita dari kehidupan pribadinya. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal yang dinilai konyol oleh sahabat-sahabatnya itu. Ia hanya memiliki sebuah tujuan yang--bagaimana pun caranya--harus ia capai. Ia hanya berusaha tak mentoleransi segala bentuk hal yang dapat membuatnya terlena. Kehilangan fokus.Tetapi, semenjak gadis itu muncul di hadapannya. Entah apa yang terjadi padanya. Pertahanannya mulai goyah. Mata cokelat itu terlalu memikat. Sungguh, memandangnya benar-benar akan membuatnya gila. Dan menyadari bahwa gadis itu baru pertama kali melakukannya membuat Zhayn merasa semakin gila.

Kejadian semalam berkeliaran memenuhi pikirannya. Kurasa ia akan jadi benar-benar gila bila terus melihat kilasan-kilasan itu. Zhayn menghembuskan napas gusar. Tak tahu lagi harus melemparkan sumpah serapah apa untuk dirinya. Pria itu sadar, kalimatnya barusan hanya memperparah suasana. Tapi apa lagi yang harus ia katakan? Ia tidak bisa membiarkan gadis itu terlena dan menaruh harap lebih padanya. Mungkin terdengar terlalu percaya diri, namun Zhayn hanya memikirkan skenario terburuk yang mungkin terjadi jika hal ini dibiarkan.

Menjalin hubungan tidaklah sesuai untuknya. Ia tidak bisa membawa kebahagiaan apapun untuk orang lain. Tidak untuk sekadar kehidupan normal sekalipun. Rasa aman adalah hal yang sangat mahal di hidupnya. Zhayn tidak bisa mengambil risiko untuk membawa Yonesha ke dalam kehidupannya. Tidak pula untuk wanita lainnya. Sendirian jauh lebih masuk akal untuknya. Zhayn harus puas dengan hal itu.

Pria itu bangkit dari posisinya saat tangis Yonesha terdengar mereda. Berjalan meninggalkan motel dan mencari toko pakaian terdekat. Ia membeli pakaian untuk Yonesha dan sebuah jaket ber-hoodie untuknya. Terakhir, pria itu menyelipkan topi hitam menutupi sebagian kepalanya. Ia menyusuri jalanan yang mengarah ke hotel yang sebelumnya mereka gunakan.

Dengan hati-hati ia kembali ke ruangan yang ditempati mereka kemarin. Pria itu tampak tak terlalu terkejut saat mengetahui ruangan tersebut sudah berantakan. Seluruh pakaian mereka dikeluarkan dari tas, beberapa perabotan juga tak lagi berada di tempatnya. Zhayn mengedarkan pandangannya dengan jeli, berusaha memindai sekeliling jika saja ada kamera tersembunyi ataupun benda asing yang dipasang.

Setelah memastikan ruangan aman, pria itu melangkah ke arah ranjang, ia membungkuk untuk mengambil sesuatu yang terselip di balik kepala ranjang. Sebuah mini recorder. Pria itu beralih dan menuju jendela bertirai putih, ia berjinjit untuk mengambil benda lain pada besi yang mengait tirai tersebut. Kini, sebuah kamera tersembunyi. Dua benda itu adalah miliknya. Ia sudah menyiapkannya jikalau keadaan berubah tak terkendali dan memaksa keduanya untuk kabur. Nyatanya, skenario terburuknya benar-benar terjadi.

Setelah memastikan barangnya tak tertinggal, Zhayn bergegas meninggalkan hotel. Untunglah mereka tak meninggalkan benda apapun yang menunjukkan identitas asli mereka di kamar hotel. Jadi, tak masalah meskipun anak buah Rashad Hussain mengobrak-abriknya.

Zhayn menghentikan langkahnya di persimpangan jalan. Sekitar beberapa ratus meter dari hotel. Pria itu memandang kelab mewah yang berdiri di seberang jalanan. Beberapa mobil hitam terparkir di pelataran dan Zhayn bisa melihat sosok Rashad Hussain dengan balutan setelan mewah melangkah keluar. Pria itu diikuti orang kepercayaannya dan memasuki mobil. Melaju meninggalkan pelataran diikuti beberapa mobil pengawal di belakangnya. Melihat hal itu, Zhayn sontak mengetatkan rahangnya, kemudian berlari cepat menuju motel di mana Yonesha berada.

***

Yonesha memandang lalu lalang jalanan melalui jendela ruangannya. Ia bersedekap, helaian rambutnya basah, menjuntai melewati bahu dan punggungnya yang telanjang. Tubuh gadis itu hanya mengenakan underwear kemarin. Di kepalanya tertanam jelas bagaimana Zhayn membenci kemeja Rashad Hussain di tubuhnya. Ia juga takkan mau memakai kemeja itu lagi.

Gadis itu mendengar suara ketukan pintu dan berdehem singkat. Seseorang melangkah ke arahnya. "Yonesha." Suara serak Zhayn kembali membuat Yonesha meremang. Gadis itu berbalik dan berusaha menunjukkan senyum terbaiknya seperti biasa. Pria itu tampak terkejut karena pakaian yang dikenakannya. Telinganya memerah dan berusaha mengalihkan pandangan. Yonesha berusaha keras menahan senyum karena melihatnya. Selain itu, pria itu juga tampak berusaha mengontrol pernapasannya. Rambutnya tampak berantakan dan keringat membasahi pelipisnya. Apa pria itu baru saja berlari?

"Ada apa, Zhayn?" Pria itu mendongak mendengar nada bicara Yonesha yang ringan seperti biasa. Ia pun berdeham dan mengangsurkan tangannya. Gadis itu meraih paper bag yang Zhayn berikan dan tersenyum ketika menemukan pakaian baru di dalamnya.

"Terimakasih. Aku benar-benar tak betah memakai kemeja pria yang sangat kebesaran," ujarnya dengan senyuman. Zhayn hanya mengangguk dan mengalihkan pandangan saat gadis itu memakai kaus dan celana yang ia berikan, sebelum kembali berujar setelah menurunkan tas hitam yang sempat terlampir di bahunya.

"Aku sungguh minta maaf. Aku benar-benar berengsek, tapi semalam tak seharusnya terjadi. Kuharap kau-" kalimat Zhayn terpotong.

"Apa yang kau katakan, Zhayn? Memang apa yang terjadi semalam?" Yonesha terkekeh kecil dan memasang raut kebingungan. Ia membenarkan letak pakaiannya seraya melempar pandangan jenaka kepada pria itu.

Zhayn menggaruk tengkuknya dengan canggung, pria itu membasahi bibir bawahnya yang penuh sebelum berusaha memandang Yonesha. Namun, pria itu tak memandang kedua matanya. Ya Tuhan, Yonesha bahkan tak bisa lepas dari setiap gerakan kecil yang pria itu lakukan. Ayolah, Zhayn, dia benar-benar memesona dan menggemaskan karena sikap gugupnya.

"Yonesha..."

"Iya?" Zhayn menghela napas dan memandang kedua netra cokelat di hadapannya. Beragam pemikiran berjejalan di dalam kepala pria itu, ia mendesah keras sebelum memberikan gelengan. Ia sadar, gadis itu terluka karena sikapnya pagi tadi. Ia sungguh merasa menjadi pria paling berengsek karenanya. Mungkin, akan lebih baik jika ia tak membahas persoalan itu kembali.

"Rashad dan kelompoknya sudah meninggalkan kota pagi ini." Pria itu memandang lekat ekspresi terkejut di wajah sang partner. Gadis itu menghentikan gerakan tangan di bajunya dan mendongak dengan mata membulat.

"T-tapi, kita belum tahu di mana Qasim berada!" Yonesha tak mampu menyembunyikan getaran pada nada kalimatnya. Gadis itu menggeleng dan mengalihkan pandangan. "Ya, Tuhan. Ini semua salahku, a-aku mengacaukan semuanya!" Yonesha melangkah mundur seraya meremas rambutnya dengan kuat. Gadis itu menggeleng cepat dengan wajah pias.

"Tidak, tentu saja tidak. Kau tak mengacaukan apapun. Kita akan menemukannya."

"Bagaimana kita akan menemukannya!? Oh, Tuhan!"

"Tenanglah, kita akan mencari cara-" kalimat Zhayn terpotong ketika pria itu tak sengaja mengalihkan atensinya ke luar jendela. Dahinya mengernyit dengan dua alis mencuram menatap beberapa mobil hitam merapat di depan motel yang mereka tempati.

"Sial, kurasa mereka benar-benar mampir untuk berkunjung."

"A-apa maksudmu!?"

****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!