Yonesha mengeliat dan mendapati jam telah menunjuk pukul sepuluh malam. Ia beranjak dari kasurnya dan melesat ke kamar mandi. Tiba waktu untuk menghibur diri, batinnya. Ia mengenakan kaus longgar tak berlengan yang memperlihatkan perut rampingnya, hotpants jeans membalut seperempat paha dan sebuah angkle boot berwarna cokelat terpasang di kakinya yang jenjang. Terakhir, ia meraih jaket kulit berwarna hitam dan melenggang keluar dari apartemen.
Gadis itu memilih menyusuri trotoar yang tampak ramai di malam hari. Melangkah dengan ringan menuju sebuah kelab malam yang menjadi salah satu tempat favoritnya untuk mengusir sepi. Hanya butuh berjalan sekitar sepuluh menit, ia tiba di pelataran kelab. Banyak pasangan tampak hilir mudik di pintu masuk. Beberapa sudah melangkah keluar dengan tubuh sempoyongan, tapi tak sedikit yang baru saja tiba seperti dirinya.
Sebuah meja bar panjang menjadi tujuan Yonesha, ia menyamankan diri di atas kursi tinggi. Berusaha menikmati irama musik yang mengentak cepat. Segala hiruk pikuk di sana seakan tak mampu menariknya dari rasa sepi. Ya, rasa sepi dalam hatinya sudah telanjur parah. Dunia malam sama sekali tak membantu. Yonesha sudah tahu, namun ia tak ingin berhenti. Ia hanya ingin mengusir bayangan-bayangan mengerikan dalam benaknya itu walau sesaat. Meskipun harus mengandalkan alkohol sekalipun.
"Hai, manis. Kau sendirian? Aku bisa menemani malammu, Sayang!" Yonesha mendongak sembari menyugar rambut bergelombang yang sempat menutupi wajahnya. Ia meringis tanpa dosa seraya menopang wajah. Ia memang sudah terlalu banyak minum. Wajahnya tampak memerah dengan pandangan yang tak fokus.
"Aku kesepian, kau tahu?" suara Yonesha terdengar parau, tapi bibirnya terangkat membentuk seringaian.
"Tepat sekali. Aku bisa membuatmu tak lagi kesepian. Ayo, menarilah denganku!" Yonesha terkikik dan membiarkan pemuda asing itu meraih tangannya. Menariknya menuju lantai dansa yang dipenuhi lautan manusia. Gadis itu menggila, darahnya berdesir hebat akibat pengaruh alkohol. Ia meliukkan tubuh, mengikuti irama yang mengalun di telinganya. Beberapa pria mendekat, berusaha menjamahnya. Namun, Yonesha tak bodoh. Tidak ada tangan yang berhasil menyentuhnya. Gadis itu selalu bisa menepis dan menghindar. Membuat beberapa lelaki menjadi semakin gemas.
Seakan tak peduli dengan sekitar, Yonesha masih terus menari. Tawanya tenggelam oleh musik yang membahana. Ia sama sekali tak sadar jika telah menjadi perhatian banyak pria. Pemuda asing tadi mendekat dengan dua gelas minuman. Ia memberikan salah satunya pada Yonesha. Gadis itu meraihnya tanpa ragu dan menenggak cairan keemasan tersebut hingga tandas.
Hanya beberapa menit berlalu, Yonesha merasa tubuhnya begitu panas. Ia meliukkan dirinya sembari menyentuh miliknya tanpa malu. Membuat beberapa pria terbahak dan mendekat. Mereka merengkuh Yonesha, tapi gadis itu tak menepis tangan mereka seperti tadi. Ada gejolak liar dalam dirinya saat tangan-tangan itu menyentuh kulitnya. Ia menggeram dan melangkah sempoyongan saat dua pria menuntunnya meninggalkan lantai dansa.
Ia melenguh merasakan tubuhnya yang seperti tak dapat dikendalikan. Yonesha merasa ada sesuatu yang salah. Tapi ia tak tahu apa. Ia hanya menurut saat dua pria membawanya ke sebuah bilik. Menghempasnya ke ranjang. Panas, itulah yang ia rasakan. Darahnya seperti mendesir lebih cepat dari biasanya. Napasnya pendek-pendek saat merasakan tangan dua pria itu menyentuh kulitnya yang terasa lebih sensitif.
Yonesha pasrah saat mereka melepas jaket dan sepatunya. Kemudian mencium kaki jenjangnya. Gadis itu kehilangan kendali atas dirinya. Hanya ada hasrat dan napsu yang memenuhi pikirannya. Ia merasakan udara dingin menyentuh kulit tubuh atasnya. Baru ia sadari, hanya hotpants dan bra-nya saja yang tersisa. Gadis itu mengerang saat mereka mencium kedua pahanya. Nyaris menyentuh inti tubuhnya sebelum suara yang keras menginterupsi mereka.
Gadis itu tak kuasa menahan gejolak dalam dirinya. Ia mengerang dan berusaha menyentuh dirinya sendiri saat tak lagi merasakan sentuhan dari dua pria tadi. Tangannya begitu gatal ingin menyentuh miliknya, saat tiba-tiba seseorang mencekal lengannya. Ia menarik tubuh Yonesha hingga terduduk dan memakaikannya sebuah mantel panjang.
Yonesha terpekik saat merasakan tubuhnya melayang. Seseorang membopongnya dan membawanya keluar dari kelab. Ia meracau tak jelas sembari menyurukkan kepalanya. Menghidu aroma maskulin mewah yang anehnya terasa tak asing. Ia mengulas senyum dengan mata setengah terpejam. Merasakan nyaman yang tak pernah ia rasakan akhir-akhir ini. Yonesha mengalungkan dua tangannya ke leher pria asing yang membawanya itu. Ia masih memejamkan mata, mendengarkan detak jantung yang begitu kuat di telinganya.
"Sir, apa kita akan langsung lepas landas?"
"Ya."
"Baik, Sir."
Mobil yang membawa Yonesha melaju cepat meninggalkan pelataran kelab. Membelah jalanan Singapura yang ramai. Gadis itu semakin merapatkan tubuhnya. Bibirnya meracau tak jelas sebelum mendaratkan kecupan-kecupan ringan di dada pria asing yang masih berbalut kemeja. Pria itu hanya diam, kelereng emasnya menatap Yonesha dengan pandangan berkabut. Berusaha keras mengendalikan dirinya. Gadis muda itu benar-benar menggodanya.
"Kurasa mereka meminumnya obat perangsang, Sir."
"Sialan, aku tahu itu!"
"Lalu, sampai kapan Anda akan membiarkannya demikian?"
"Apa maksudmu? Kau tentu tak berniat memintaku memenuhi keinginan gadis ini, bukan!?"
"Maaf, Sir."
Sang tuan terdiam, berusaha mengabaikan Yonesha yang terus mencium dadanya. Gadis itu masih saja mengeratkan rengkuhannya sembari menggeram dan meracau. Bukan hal mudah bagi pria untuk menahan diri saat dihadapkan gadis seliar ini. Walaupun ia tahu, gadis itu bergerak karena pengaruh obat. Persetan dengan pemuda yang meminumi Yonesha obat perangsang. Pria itu hanya diam, berharap bisa menahan diri hingga penerbangan selesai.
***
Yonesha mengerjap, menyadari sinar matahari menyusup masuk ke dalam ruangan. Ia mengernyit saat merasakan kepalanya berdentam hebat. Ia mengedarkan pandangan dengan panik saat mendengar suara debur ombak yang lembut. Baru ia sadari, ia berada di atas sebuah ranjang besar di dalam kamar yang asing. Sebuah jendela kaca luas berada di sisi kiri ruangan. Menampilkan hamparan lautan dengan ombak yang membentur cadas. Sebuah balkon tampak berada di balik dinding kaca, terhubung dengan pintu kaca geser di sampingnya.
Yonesha berusaha menuruni ranjang, saat itulah kepalanya kembali berdenyut. Ia pun berusaha mengingat kembali kejadian kemarin. Kelab, wiski, menari, dan beberapa pria. Gadis itu mengerang tertahan. Terakhir kali yang ia ingat adalah dua orang pria yang mengajaknya ke sebuah kamar. Seketika, ia terbelalak dan menyadari pakaian yang dikenakannya. Sebuah kemeja kebesaran terlampir longgar di tubuh mungilnya. Aroma maskulin memenuhi ruangan berdominasi putih yang ia tempati. Ia berjingkat kaget saat pintu kamar tiba-tiba terbuka.
"Kau, sudah bangun rupanya." Seorang pria melangkah memasuki kamar, tubuh tinggi tegapnya berbalut kaus kelabu ketat. Mencetak otot-ototnya yang terbentuk sempurna. Yonesha melangkah mundur, walau pandangannya terpancang pada sosok di hadapannya itu. Kelereng emas pria itu menatapnya tanpa ekspresi. Wajah tegasnya tampak begitu tenang. Ia memegang sebotol Tylenol dan segelas air yang mungkin gadis itu perlukan.
"S-siapa kau? Kau yang mengganti bajuku!?" Yonesha beringsut mundur saat pria itu melangkah semakin dekat. Tangannya terulur membuat Yonesha refleks memejamkan mata.
"Hei, kau mungkin memerlukan ini." Ia mendongak dan mendapati pria itu mengulurkan sebotol obat dan air minum. Yonesha menerima keduanya ragu-ragu.
"Kau mabuk berat kemarin, seseorang memberimu obat perangsang. Aku tak sempat mengambil baju yang mereka lepas. Kau masih mengenakan pakaian dalammu, aku hanya menutupnya saja."
Yonesha melotot mendengarnya. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan menimpanya jika pria di hadapannya ini tak menolongnya. Gadis itu meremat ujung kemeja yang menutup lebih dari setengah pahanya, dengan kikuk ia berujar, "Terimakasih." Pria itu hanya mengangguk dan berjalan ke arah almari. Ia mengeluarkan sebuah paper bag dan menyerahkannya pada Yonesha.
"Mandi dan sarapan bersamaku, ada yang ingin kubicarakan." Yonesha hanya diam dan menerima tas tersebut. Membiarkan pria itu berlalu keluar meninggalkannya. Gadis itu menghela napas. Tanpa sadar, ia terus menahan napas saat pria bermanik emas itu menatapnya.
Yonesha membersihkan dirinya secepat mungkin dan mengenakan kaus berlengan pendek serta celana jeans yang pria itu berikan. "Bagaimana dia bisa tahu nomor dalamanku?" batinnya sambil lalu.
Ia pun melangkah keluar dari kamar dan mendapati suasana ruangan yang mewah menyambutnya. Sebuah dinding kaca memanjang terhampar membuat ruangan menjadi terang benderang. Terdapat satu set sofa besar berwarna gading berada di tengah-tengah. Lengkap dengan perapian dan televisi besar.
Gadis itu melangkah menyusuri lantai kayu mengilap menuju ruang makan yang hanya dibatasi dinding transparan. Pria misterius itu tampak sibuk dengan beberapa piring. Ia sempat menoleh saat menyadari kehadiran Yonesha. "Duduklah," ujarnya.
Gadis itu mengangguk dan menarik sebuah kursi kayu yang dibentuk sempurna. Ia menatap sepiring pancake yang baru saja pria itu letakkan. Segelas susu putih teronggok di sampingnya. Perutnya protes meminta diisi begitu melihat aroma dari sarapan di hadapannya itu.
"Makanlah, Yonesha." si pemilik nama sontak mendongak, bukan untuk melirik semangkuk salad sayur milik pria itu, namun berusaha memastikan pendengarannya.
"Bagaimana kau mengetahui namaku?" gadis itu mengernyit curiga. Menatap pria yang kini tampak sibuk dengan sarapannya. Pria itu menelan kunyahan di mulutnya dan meraih sebuah ponsel pintar, ia menggerakkan jarinya di sana sesaat dan menunjukkannya pada Yonesha.
Yonesha masih mengerutkan dahinya saat menerima ponsel itu. Tetapi, sejurus kemudian, matanya terbelalak ketika melihat laman ISA terpampang di sana. Menampilkan biodata lengkap miliknya.
"Kau!?" Yonesha menatap dengan mata nyaris tak berkedip. Sementara pria itu hanya diam memandangnya. Asyik mengunyah sayuran di mulut.
"Misi kita akan segera dimulai."
Kelereng Yonesha seakan nyaris menggelinding keluar dari tempatnya. Gadis itu tercekat, memandang pria bersurai cokelat cerah di hadapannya itu. Baru kemarin ia mengeluh karena Mr. Jannivarsh tak kunjung menghubunginya terkait misi perburuan Qasim. Kini, agen yang akan bekerjasama dengannya malah menemuinya secara langsung. Menolongnya dari peristiwa yang sungguh memalukan.
"Kau benar-benar orang yang akan menjadi partnerku?"
"Ya."
"A-aku ... aku sungguh berterimakasih untuk yang kemarin, Mr.-"
"Zhayn. Kau bisa memanggilku begitu."
"Ah, baiklah, Zhayn. Nice to meet you."
"Nice to meet you too."
Selanjutnya, mereka pun melahap sarapan dalam hening. Beberapa kali Yonesha sempat mencuri pandang. Pria itu tak banyak berekspresi dan memilih menyibukkan diri dengan mangkoknya. Ia juga tak memulai percakapan apapun tentang misi apalagi mengenalkan dirinya sendiri.
Pria bernama Zhayn itu merapikan peralatan makan yang ia pakai dan mencucinya di wastafel dalam diam. Yoonesha bergegas memasukkan potongan terakhir makanannya dan mengikuti pria itu.
"Mm, jadi ... kapan kita bisa memulainya?" Yonesha melihat pria itu meliriknya sesaat dan meraih piring kotor di tangan Yoonesha untuk ia cuci. "Eh~"
"Kita tak bisa terburu-buru." Zhayn memutar keran setelah membersihkan tangannya. Ia mengeringkannya menggunakan handuk yang ada di dekat wastafel dan menoleh ke arah Yoonesha.
Ia berlalu begitu saja ke sebuah ruangan, pria itu memberi isyarat pada Yonesha supaya mengikutinya. Gadis itu tak membuang waktu dan melangkah dengan cepat. Zhayn membawanya ke sebuah ruangan luas tak berjendela. Dinding putihnya dipenuhi rak-rak senjata berbagai jenis. Sisi lainnya terdapat lapisan kaca yang penuh tempelan beragam foto dan kertas. Gadis itu melirik jajaran komputer yang begitu lengkap di sana. Serta sebuah pintu geser berkaca gelap yang menghubungkan ke ruangan lain.
"Aku ingin memastikan kemampuanmu." Zhayn berbalik, bersedekap membuat otot-otot lengannya terlihat sangat jelas. Tanpa sadar, Yonesha mengigit bibirnya. Sejatinya ia tak menyangka jika ia akan mendapatkan partner yang masih begitu muda. Ya, Zhayn sepertinya masih berusia pertengahan atau akhir dua puluh. Ia pikir ia akan mendapat partner berusia empat puluh atau seusia Mr. Jannivarsh.
Zhayn memiliki tubuh menjulang, atletis, namun tetap proporsional. Otot-ototnya terbentuk sempurna, namun tidak berlebihan. Rambutnya cokelat terang dengan potongan yang rapi. Ia memiliki sepasang alis lebat rapi, hidung ramping yang tajam, serta bibir bawah yang penuh. Ah, Yonesha menggeleng saat menyadari pikirannya yang mulai melayang kemana-mana.
"Jadi?" Yonesha mengangkat alis, menunggu kalimat sang partner selanjutnya.
"Kita akan berlatih kembali. Kupikir dua bulanmu terbuang tanpa latihan, bukan?" Yonesha mengulas senyum tipis. Pria dihadapannya ini benar-benar mengetahui segalanya. Ia sukses membuat Yonesha semakin penasaran.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments