Chapter 11 : Getaway

Zhayn membedah tas punggung yang sempat dibawanya. Ia mengeluarkan sebuah suitcase hitam yang berisi senjata. Zhayn mengambilnya dari hotel yang sebelumnya mereka tempati. Pria itu bergegas mengeluarkan dua buah pistol dan memberikan salah satunya pada Yonesha.

"Kupikir mereka langsung pergi dari kota ini setelah kejadian semalam?"

"Kupikir juga begitu. Kenyataan mereka datang untuk mengunjungi kita," Zhayn mendengkus dan melampirkan kembali tas hitam itu ke punggungnya. Keduanya pun bergegas meninggalkan motel sebelum benar-benar terkepung.

Zhayn berniat menuruni tangga darurat saat telinganya mendengar suara langkah terburu-buru dari bawah sana. Ia pun mengurungkan niatnya dan membawa Yonesha menuju sebuah lift. Hal itu langsung membuat Yonesha memprotes dengan keras.

"Apa kau gila? Mereka jelas akan memakainya!" Zhayn tak menjawab. Pria itu hanya menempelkan telunjuknya di depan bibir dan menarik Yonesha memasuki lift. Selanjutnya, ia mengarahkan telunjuknya ke bagian atas lift. Seakan mengerti isyarat yang Zhayn berikan, Yonesha sontak mengulas senyumnya. Pria itu berjongkok untuk membantunya naik ke atas.

Zhayn mengangkat tubuh gadis itu dengan mudah. Dengan sedikit upaya keras, Yonesha berhasil membuka penutup bagian atas lift dan menaikinya. Zhayn mengambil sedikit ancang-ancang untuk melompat dan dengan mudah menaikkan tubuhnya. Kemudian, menutup kembali jalan yang mereka gunakan. Keduanya berdiri tepat di atas kotak besar yang perlahan bergerak turun.

"Wow, kurasa aku menaiki lift sungguhan." Yonesha menyeringai yang hanya mendapat dengkusan Zhayn sebagai balasan. Pria itu berdiri dengan posisi siaga saat merasakan lift telah mencapai lantai dasar. Terdengar beberapa orang memasuki lift dan membuat boks besar itu kembali merangkak naik.

"Kita ke atas lagi?" bisik Yonesha.

"Tidak ada pilihan."

"Ah, astaga." Yonesha memutar bola matanya, bersedekap dengan posisi siaga, berusaha menjaga keseimbangan.

"*Mengapa bos repot-repot mencari ****** itu?"

"Entahlah. Sebaiknya kau jaga mulutmu. Wanita itu tampak lebih berharga dari seorang ****** biasa di mata bos*."

Zhayn melempar tatapan penuh tanya ke arah Yonesha. Gadis itu hanya memberikan gelengan, keduanya terdiam dan memusatkan pendengaran pada obrolan orang-orang di dalam lift. Mereka tentu tak lain adalah anak buah Rashad Hussain.

"*Semalam, bos menyebut-nyebut nama seorang wanita."

"Nama ****** itu?"

"Entahlah, kurasa bukan."

"Siapa memangnya? Kau mengenalnya?"

"Rihanna. Rihanna Ariesha. Ini kali pertama aku mendengarnya*."

Tubuh Yonesha sontak menengang. Kedua tangannya terkepal tanpa sadar. Nama itu, nama yang sudah terasa begitu lama tak terucap. Bagaimana mereka bisa tahu? Tiba-tiba, Yonesha merasakan sentuhan hangat di bahunya, sukses menariknya kembali ke dunia nyata. Gadis itu berjengit dan menatap Zhayn yang kini memandangnya. Memberikan tatapan yang seakan mengatakan, tenanglah, kita akan mencari tahu.

Yonesha menghela napas karena kini lift kembali berhenti di lantai atas. Zhayn berjongkok dan berusaha membuka kembali penutup atas lift yang mereka gunakan. Setelah memastikan kondisi aman, ia pun melompat turun. Ia mengulurkan kedua lengannya ke atas, membantu gadis itu turun ke dalam lift. Yonesha menjulurkan kakinya ke bawah, meraih lengan kokoh Zhayn dan melompat turun. Lift pun membawa mereka dengan selamat ke lantai satu.

Begitu tiba di lantai dasar, mereka menyelinap di antara pengunjung hotel dan mencari pintu belakang. Zhayn menaikkan hood jaketnya, menutup sebagian kepalanya, kemudian melemparkan topi hitam yang ia pakai kepada Yonesha. Tanpa kata, gadis itu pun memakai topi tersebut. Mereka melangkah menyusuri gang sempit di belakang motel sebelum berhasil mencapai jalan raya yang cukup besar.

"Kemana kita akan pergi sekarang? Ke hotel kemarin?"

"Mustahil. Mereka sudah mengetahui hotel itu. Kita harus keluar dari Vegas secepatnya." Zhayn mengeluarkan ponselnya dengan tergesa. Kemudian menghubungi seseorang.

"Kau di mana?"

"Baiklah, aku akan mengambil mobilmu."

"Aku akan tiba dalam sepuluh menit."

"Siapa yang kau hubungi?" Tanya Yonesha setelah pria itu kembali menyimpan ponselnya.

"Tidak ada waktu, kita harus sampai di Light Royals secepatnya." Yonesha mengetikkan sesuatu di ponselnya dengan cepat setelah mendengar kalimat tersebut.

"Itu memakan duapuluh menit berjalan kaki dari sini. Tapi akan lebih lambat jika menaiki taksi. Kau bilang akan sampai dalam sepuluh menit."

"Untuk itulah kita harus lari." Tanpa meminta persetujuan, Zhayn meraih tangan gadis itu dan menariknya, membawanya berlari bersama. Yonesha terpekik kecil sebelum berusaha menyesuaikan kakinya dengan langkah Zhayn yang lebar. Mereka berlari cepat melintasi lalu lalang pejalan kaki.

Yonesha mengulas senyum lebar seiring jantungnya yang berpacu kencang. Ia mengeratkan topinya dan membiarkan sebagian rambutnya berkibar karena langkah mereka yang cepat. Gadis itu melirik ke arah Zhayn yang berlari di sampingnya. Pria itu sesekali mengedarkan pandangan, gesturnya yang sangat waspada benar-benar tak dapat disembunyikan. Mendadak, pria itu menoleh ke arahnya, melepaskan pegangan mereka, namun segera meraih tubuhnya.

Gadis itu terpekik saat Zhayn meraih tubuhnya dengan cepat, tubuh Yonesha menghantam dada bidang pria itu sebelum keduanya kehilangan keseimbangan dan berguling keras di trotoar. Beberapa orang di sekitar mereka terlihat cukup panik dan terkejut. Yonesha mengangkat kepalanya yang jatuh tenggelam di lekuk leher Zhayn. Ia sontak menatap ke sekeliling dan menyadari kecerobohannya.

"Apa yang kau pikirkan!" Zhayn berusaha bangkit dan membantu Yonesha. Gadis itu memandang lampu lalu lintas yang menyala hijau. Nyaris saja, jika Zhayn tak menarik tubuhnya, entah apa yang akan terjadi. Mungkin beberapa kendaraan akan menghantam tubuhnya.

"Walaupun buru-buru, kau tak bisa bertindak sesuka hati! Apa yang ada dipikirkanmu itu, huh!?"

Yonesha menunduk, mengaitkan jemarinya dengan gelisah. Mana mungkin ia mengaku jika sedang memikirkan pria itu, bukan? Astaga, mau ditaruh di mana wajahnya. Akhirnya ia hanya menggeleng dan kembali mengikuti langkah Zhayn menyebrangi jalanan. Berjarak beberapa blok lagi, mereka akan tiba di Light Royals.

Sayangnya, harapan untuk mencapai Light Royals dengan mudah harus pupus ketika seorang gadis yang berdiri beberapa meter di keduanya mendadak tumbang dengan lubang di kepalanya. Zhayn dan Yonesha tersentak kaget, orang-orang menjerit dengan panik. Detik berikutnya, desingan peluru memenuhi pendengaran. Tak sedikit peluru itu bersarang di tubuh warga sipil tak bersalah.

"****." Zhayn menabrak kembali tubuh Yonesha untuk kedua kalinya, keduanya jatuh berguling merasakan kerasanya jalanan, lagi. Nyaris saja peluru itu menembus mereka. Keduanya merapatkan diri di balik bangunan. Telah berisap dengan pistol di tangan masing-masing.

Zhayn mengintip dengan hati-hati dan melihat sepuluh orang dengan balutan mantel hitam berlari ke arah mereka. Ah, anak buah Rashad Hussain benar-benar sudah gila. Bagaimana mereka bisa muncul begitu terang-terangan seperti sekarang. Apa yang mereka rencanakan sebenarnya? Sial, Zhayn merasa kesal hanya karena memikirkannya.

"Kita tak mungkin melawan mereka di sini. Terlalu banyak warga sipil."

"Kau benar." Zhayn menggeram dan tampak menerawang sesaat, ia melirik ke arah gang di seberang jalan. Mereka bisa menemukan kompleks yang sepi di penghujung gang di seberang.

"Kau lihat gang di depan? Lari secepat yang kau bisa. Aku akan membidik mereka."

"Itu tak adil!"

"Mereka harus melihat umpan. Mereka mengenalimu dan akan berusaha membawamu!" Yonesha memandang raut serius di wajah Zhayn sebelum akhirnya mengangguk mengerti.

"Bagus. Lari, jangan menoleh sebelum tiba di seberang." Kemudian, Zhayn mulai menghitung, dalam hitungan ke-tiga Yonesha memacu kakinya dengan cepat menuju seberang. Zhayn sontak bangkit dari posisinya, matanya menyipit tajam dan membidik.

Dor Dor Dor. Tiga tumbang.

Zhayn melangkah perlahan, kemudian melontarkan kembali pelurunya dengan lebih cepat.

Dor Dor Dor Dor. Tiga tersisa, dan mereka menyadari kehadiran Zhayn. Tentu saja setelah tujuh rekan mereka tumbang bersimbah darah.

Zhayn berguling dan bersembunyi di balik sebuah mobil ketika beberapa peluru mengarah padanya. Ia melirik Yonesha yang hampir mencapai seberang, tapi salah satu diantara anak buah Rashad tampak kembali membidik gadis itu. Zhayn tak bisa tinggal diam. Pria itu keluar dari persembunyian dan meledakkan pelurunya yang lain. Tepat saat itu, dua anak buah Rashad membidik ke arahnya. Zhayn kembali berguling, merasakan kerasnya jalanan kesekian kalinya. Peluru itu meleset, nyaris saja menyerempet.

Setelah berhasil mencapai seberang, tanpa menunggu persetujuan, Zhayn menarik lengan Yonesha kembali. Mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari. Mereka menyusuri gang-gang sempit yang memutar hingga sampai di sebuah perempatan di depan Light Royals. Seorang pria seumuran dengan Zhayn berdiri di depan kasino besar tersebut. Ia mengenakan setelan resmi yang tampak mahal, rambutnya pun tertata dengan baik. Jika Yonesha perhatikan, gaya pria itu seperti Andrew namun sedikit lebih segar.

"Mr. Jannivarsh." Sapanya. Zhayn langsung menyodorkan tangannya, kemudian pria itu segera mengeluarkan sebuah kunci mobil dan memberikannya dengan gerakan sopan. Melihat hal itu, Yonesha hanya mengangkat alisnya dengan heran. Belum berniat melontarkan pertanyaan.

"Kau bawa uang tunai?" Lagi-lagi pria itu mengangguk dan bergegas mengeluarkan semua lembaran dollar di dompetnya. Yonesha tak bisa lagi menyembunyikan raut terkejutnya kali ini. Siapa pria itu? Bagaimana bisa ia dengan mudahnya memberikan mobil dan semua uangnya? Gila, batin Yonesha tak habis pikir.

"Terimakasih."

Sebelum melangkah mengikuti Zhayn, Yonesha menoleh ke arah pria itu dan mendapatkan anggukan sopan. Yonesha tersenyum kikuk dan balas mengangguk. Ia bergegas mengikuti langkah Zhayn menuju area parkir.

Pria itu berjalan menuju sebuah Bugatti hitam yang tampak menawan. Yonesha semakin tak habis pikir, namun masih menahan rasa penasarannya. Ia pun langsung memasuki mobil itu dan menyamankan diri di kursi penumpang.

"Siapa pria yang kaurampok barusan?"

"Aku tidak merampok."

"Ah, benar juga. Dia menyerahkan hartanya padamu dengan sukarela, termasuk si menawan ini. Bagaimana bisa?"

"Dia salah satu orang kepercayaanku, Freink Alison." Zhayn melajukan Bugatti itu, meninggalkan area parkir dan membelah jalanan Las Vegas yang cukup padat.

"Freink, yang tinggal bersamamu?"

"Bagaimana kau tahu?"

"Andrew bercerita. Omong-omong, apa yang pria itu lakukan?"

"Bekerja."

"Seperti Andrew?"

"Tidak. Dia bekerja untukku."

"Untukmu?" Yonesha mengernyit dan teringat pembicaraan mereka di Singapura, "kau sungguh membuat dan menjual senjata?"

"Kau pikir aku berbohong?" Zhayn sama sekali tak mengalihkan perhatiannya pada jalanan di sekitar. Pria itu terus memasang sikap waspada.

"Jadi, Freink mengurus bisnismu, Andrew membantumu di ISA?" Zhayn mengangguk. "Lalu, bagaimana yang lain?" Pria itu tak menjawab, ia melajukan mobilnya kembali setelah lampu lalu lintas menyala hijau. Merasa tak ditanggapi, Yonesha pun memilih diam. Pandangannya tak sengaja mengarah ke kaca spion, ia mengernyit dan menyadari sebuah SUV yang dipakai anak buah Rashad Hussain.

"Kurasa kita diikuti."

"Aku tahu." Zhayn tampak tak acuh dan menambah laju mobilnya, melintasi jalanan panjang yang mengarah keluar Las Vegas. Tak berjeda lama, seseorang dari dalam SUV tampak menjulurkan sebagian tubuhnya ke luar. Seorang pria mengarahkan senapannya dan Zhayn dengan sigap mengemudikan mobilnya mengindari serangan tersebut.

"Yonesha, bisa kau membuka penutup tersembunyi di belakang?" Yonesha hanya mengangguk dan memutar tubuhnya, mencari panel tersembunyi yang ternyata terhubung dengan bagasi. Gadis itu berusaha menyeimbangkan tubuhnya ketika mobil Zhayn terus meliuk menghindari peluru. Ia melihat sebuah suitcase panjang berwarna hitam dan menariknya keluar. Yonesha membukanya dan menemukan sebuah senapan rakitan.

"Oke, sekarang berpindahlah kemari dalam hitungan ketiga." Yonesha mengangguk saat Zhayn dengan mudah memindah tubuhnya ke kursi kemudi sebelum pria itu berpindah ke kursi penumpang. "Aku yakin kau mahir menyetir." Zhayn menyeringai dan bergerak cepat merangkai senapannya.

Yonesha terlalu gugup untuk menjawab. Ini adalah kali pertamanya mengemudikan mobil berkecepatan begitu tinggi. Tapi, dari ujung matanya ia bisa melihat jemari terampil Zhayn tampak begitu tangkas merakit senapan. Di bawah lima menit, Zhayn berhasil merakit senapannya, pria itu menurunkan kaca mobil dan menjulurkan sebagian tubuhnya. Kakinya mengait pada kursi penumpang untuk menjaganya seimbang.

Yonesha berusaha menjaga mobil itu kembali stabil saat Zhayn mulai membidik. Pelurunya berhamburan keluar, dalam beberapa saat saja, SUV di belakang mereka kehilangan kendali dan terguling di kerasnya jalanan. Zhayn mengisi kembali magazinnya. Kemudian, melirik ke arah spion mobil untuk memastikan musuhnya tak lagi mengejar.

"Kemana kita sekarang?" Yonesha menoleh sesaat untuk melihat ekspresi di wajah Zhayn. Pria itu memberikan seringai kecil sambil membereskan senapannya.

"California."

****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!