Chapter 8 : Escape

Yonesha membeliak ketika dinding kaca di belakangnya mendadak hancur berkeping-keping. Belum terobati rasa keterkejutannya, Rashad menerjang ke arah gadis itu dengan sebilah pisau di genggaman. Yonesha bersiap untuk melawan, namun sebelum pertarungan keduanya dimulai, sebuah tangan kokoh seorang pria telah meraih pinggangnya. Gadis itu terlonjak, namun tak mampu mengelak. Pria itu membawa tubuhnya ke tepian balkon sebelum meloncat turun dengan begitu mudah.

"Are you crazy!?" Yonesha berteriak saat menyadari Zhayn membawanya keluar dengan cara gila dan tak terpikirkan olehnya. Ayolah, mereka berada di lantai sebelas! Tetapi, tampaknya rappelling merupakan hal yang sangat mudah untuk pria itu. Baginya tak masalah bila membawa satu orang tambahan bersamanya.

Zhayn tak memberikan jawaban. Baru Yonesha sadari, pria itu sudah tak lagi mengenakan setelan resminya. Ia hanya mengenakan kaos hitam pendek yang dibalut kemeja overshirt dengan celana cargo. Pantofel mahalnya telah diganti dengan sepatu boots. Rambutnya yang sempat klimis itu kini tampak teracak akibat ulah sang angin.

Pria itu sama sekali tak memedulikan teriakan gadis dalam dekapannya. Ia sibuk memantau sekeliling dan menjaga keduanya tetap meluncur dengan baik, walaupun hanya berbekal rangkaian tali. Setelah berhasil menapak di tanah dengan selamat, keduanya berlari menuju bagian luar gedung. Tepat di seberang jalan, Zhayn mengeluarkan sebuah kunci motor. Sebuah Ducati hitam yang menawan terparkir di tepian jalan.

"Sepeda motor? Why?" Yonesha melemparkan tatapan tak percaya, menurutnya mobil jauh lebih aman untuk berlindung dari peluru.

"Ini musim panas. Jalanan akan sangat ramai." Zhayn meraih helmnya dan bersiap. Selanjutnya, tanpa banyak menunggu, Yonesha mengangkat kakinya. Mendudukkan diri tepat di belakang Zhayn yang mengemudi.

Tak butuh waktu lama setelah keduanya melaju, beberapa mobil SUV mengejar mereka. Zhayn melajukan motornya lebih cepat. Ducati hitam miliknya meliuk lincah di jalanan aspal yang dipadati mobil. Klakson-klakson mobil mulai bersahutan seiring bertambahnya laju kendaraan milik Zhayn. Diperparah dengan anak buah Rashad yang tak mengenal aturan dalam mengemudi. Ah, tentu mereka tak memedulikan itu.

Tapi, Zhayn masih berusaha keras tak terlalu menjadi pusat perhatian. Walau cara mengemudinya mungkin terbilang cukup menyita perhatian yang melihatnya. Terlalu banyak warga sipil, ia hanya tak mau menimbulkan korban tak bersalah, walaupun hal itu terasa mustahil.

"Damn, mereka mulai menekan pelatuk!"

Zhayn mengetatkan rahang karena geram. Jika ia tak segera menyingkir dari jalanan besar, bukan tidak mungkin warga sipil akan menjadi korban peluru nyasar. Mereka jelas takkan kenal ampun ketika sudah menghamburkan pelurunya. Pria itu memantau melalui kaca spion dan berbelok melewati jalan yang lebih sempit. Suara kendaraannya membelah jalanan di antara deretan pertokoan. Yonesha mengeratkan pegangannya di depan perut Zhayn. Merasakan tonjolan otot perutnya yang tersembunyi di balik kaos. Terasa pas dan terpahat sempurna.Ya Tuhan, apa-apaan pikirannya itu!

Zhayn menambah laju kendaraannya walaupun sebuah perempatan jalan menanti mereka. Keduanya memasuki jalur satu arah ketika beberapa mobil kembali mengejar. Zhayn tak mengendurkan tarikan gas motornya. Sementara Yonesha masih berpegang erat di balik punggung pria itu. Rambutnya berkibar dengan bebas, sesekali menghalangi pandangan dan menggelitik lehernya. Adrenalinya semakin terpacu saat Zhayn kembali menunjukkan kemampuan menggemudinya yang luar biasa. Apa pria itu pernah digembleng di sirkuit balap? Pikirnya.

"Bisa kau menghitung jumlah mereka?"

Yonesha mengangkat kepalanya dan berusaha menoleh ke belakang. Kelerengnya memicing untuk menghitung anak buah Rashad yang berada di dalam mobil dengan cermat.

"Dua SUV penuh penumpang. Empat sedan dengan masing-masing dua penumpang."

Dor Dor Dor Dor

Motor mereka kembali meliuk. Menyalip beberapa mobil dengan gerakan lincah, berusaha berlindung dari lontaran peluru. Cengkeraman Yonesha mengerat ketika sebuah tangan hangat tiba-tiba menyentuhnya. Gadis itu berjengit saat tangan besar Zhayn melingkupi punggung tangannya. Zhayn mencengkeram tangan gadis itu dan menuntunnya menuju dada bidangnya. Gadis itu terkejut ketika merasakan benda dingin yang menonjol di balik kemeja pria itu. Tersemat di sebuah holster yang melekat. Sejurus kemudian ia menyadari jika benda itu adalah sebuah pistol.

"Kau merasakannya?"

"Y-ya."

"Take it!"

Yonesha menurut, jemarinya mengeluarkan pistol itu dari holster, ia juga menemukan satu pistol lain di sisi tubuh Zhayn. Yonesha mengambil keduanya, merasakan telapak tangannya yang panas bertemu dengan logam dingin mematikan.

"This is your turn. Are you ready?" Yonesha masih berusaha mencerna kalimat Zhayn saat dengan mudahnya pria itu merengkuh tubuhnya dengan sebelah tangan, memindahnya ke depan tubuh pria itu dengan enteng. Yonesha menahan napas saat menyadari posisi keduanya, chest to chest. Ia tak bisa memungkiri jika jantungnya berdegup dengan gila. Zhayn masih begitu fokus ke depan, ia seakan tak terpengaruh oleh posisi keduanya.

"Shots them down!" Zhayn berbisik. Seperti tersihir, Yonesha mengangkat kakinya, mengaitkan keduanya di pinggang Zhayn dengan erat. Cukup kokoh untuk menjaganya tetap seimbang. Gadis itu mengangkat lengannya, bertumpu di kedua bahu lebar sang partner, dengan sebelah mata memicing ia mulai membidik.

Dor Dor Dor Dor Dor Dor

Rentetan peluru terlontar dari kedua pistolnya. Empat mobil terguling ketika rodanya pecah tertembus timah panas. Yonesha nyaris terlonjak kegirangan ketika hampir seluruh tembakannya mendarat sempurna. Kemacetan pun tak terelakkan, cukup untuk menahan orang-orang yang mengejarmereka.

"Perfect." Suara Zhayn yang serupa bisikan mengalun di telinganya. Mengalirkan sengatan aneh yang membuat sudut bibir gadis itu berkedut dan membentuk senyuman. Ia mengeratkan pegangannya di bahu lebar pria itu. Merasakan aroma maskulin yang anehnya terasa sangat familiar.

"Damn!" Umpatan Zhayn menyentak gadis itu, mengaburkan lamunan sesaatnya. Ia menyumpah dalam hati karena sempat kehilangan fokus. Gadis itu pun mengedarkan pandangan dan menyadari hal yang membuat pria itu menyumpah.

Dari arah berlawanan, melawan arus yang teratur, beberapa orang mengendarai sepeda motor melaju ke arah keduanya. Mereka mengacungkan tangan dengan pistol di genggaman. Sebelum mereka sempat menembak, Zhayn melakukan manuver, klakson mobil dan sumpah serapah pengemudi lain terdengar bersahutan. Pria itu berbalik arah dan ikut melawan arus.

"Hold on!"

Dor Dor Dor Dor Dor

"Zhayn!" Yonesha refleks berteriak saat sebuah peluru berhasil menyerempet lengan pria itu. Darah terciprat hingga menodai kemeja yang Yonesha kenakan. Tangan gadis itu gemetar tanpa sadar.

"Apa yang kau tunggu!" Zhayn menggeram masih sambil berusaha mempertahankan laju kendaraannya. Yonesha kembali tersadar dan berusaha membidik mereka. Namun, pelurunya terus-menerus meleset.

"Apa yang ada di kepalamu, fokus!"

Yonesha menggeleng, berusaha mengembalikan fokusnya. Untuk sesaat, ia kehilangan ketenangannya, sangat sulit untuk menyarangkan sebuah peluru tepat sasaran. Entah hal apa yang mengusik pikiran gadis itu, Zhayn dibuat heran karenanya.

"A-aku ... m-maaf ... "

*Dor

Dor

Dor*

Motor yang Zhayn kendarai kehilangan kendali saat ban belakangnya pecah karena hantaman peluru. Pria itu berusaha keras mengendalikan motornya, namun naas, keduanya terhempas membentur pembatas jembatan dan jatuh ke sungai.

Yonesha berteriak histeris, merasakan tubuhnya meluncur cepat ke air. Zhayn mengeratkan pegangannyaa pada tubuh Yonesha, mendekap gadis itu dengan erat. Pasrah saat tubuh mereka menghantam air dengan keras. Sejurus kemudian, rentetan peluru menyusul mereka, menembus dinginnya air.

Zhayn memberikan isyarat pada Yonesha untuk menyelam semakin dalam. Mereka pun memutar dan mencari tepian sungai yang cukup tersembunyi. Keduanya terduduk di tepian sungai dengan napas tersengal. Memandang jembatan di mana mereka terjun yang kini tampak cukup jauh.

"Apa kita lolos?" Zhayn menoleh, menatap Yonesha yang basah kuyup. Kelerengnya memicing pada kemeja pria yang gadis itu kenakan. Lepek, terawang dan mencetak bentuk tubuhnya.

"Kau melupakan pakaianmu?" Zhayn menggeleng tak habis pikir. Sementara Yonesha langsung menilik tubuhnya yang hanya berbalut kemeja putih dan celana sepangkal paha. Wajah gadis itu memerah menyadari betapa terbuka pakaiannya. Sejurus kemudian, Zhayn melempar overshirt longgarnya. Sebuah kemeja tebal yang cukup panjang untuk menutup hingga setengah paha gadis itu.

"Terimakasih," ujar gadis itu dengan suara bergetar. Dingin, tentu saja. Zhayn bangkit dan menawarkan tangannya untuk membantu gadis itu bangun. Pria itu mengedarkan pandangan sebelum menarik Yonesha untuk mengikutinya.

"Kau harus mengobati lenganmu." Zhayn langsung menoleh saat merasakan jemari dingin Yonesha menyentuh permukaaan lengannya. Menghantarkan sengatan yang sukar untuk diabaikan.

"Tidak masalah, ini hanya luka gores." Yonesha menarik tangannya kembali dan menunduk. Dalam hati tersadar jika hal inilah yang membuatnya sempat kehilangan fokus. Astaga, ia sadar, itu mungkin hanya luka kecil bagi Zhayn, pria itu bahkan terlihat tak terlalu peduli. Namun, hal itu benar-benar mengganggu Yonesha. Entah kenapa.

Zhayn mengatupkan mulutnya rapat-rapat, berusaha menahan rasa dingin yang juga menyerang tubuhnya. Pria itu melirik ke arah Yonesha. Gadis itu juga kedinginan. Setidaknya mereka harus mencari tempat terdekat untuk menghangatkan tubuh.

****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!