Chapter 9 : The Cold Night

"Kurasa beberapa gelas alkohol akan sangat membantu." Yonesha melirik Zhayn yang menyilangkan kedua tangan di depan dada. Membuat otot-otot lengannya terekspos sempurna. Pria itu tampak larut dalam pemikirannya sebelum mengalihkan pandangan pada Yonesha. Ia memberikan anggukan kecil dan melangkah memasuki kelab.

Yonesha bergegas mengikutinya dengan cengiran lebar, keduanya melintasi lorong bersekat kaca yang memisahkannya dari lantai dansa. Gadis itu memandang lautan manusia yang berhimpitan dan bergoyang mengikuti alunan musik. Tanpa sadar, ia mengangguk-anggukan kepala, kemudian menggerakkan sedikit badan, musik memang selalu bisa menghipnotis tubuhnya.

Tiba-tiba tubuh gadis itu terantuk sesuatu yang keras, Yonesha nyaris terjerembab, namun gadis itu bisa menyeimbangkan tubuhnya. Ia mendongak dan mendapati Zhayn berdiri begitu dekat dengannya.

"Kenapa kau berhenti mendadak!?" Yonesha setengah berteriak seraya mengelus dahinya. Pria itu melempar tatapan datar dan sedikit membungkuk, ia mendekatkan mulutnya di depan telinga Yonesha dan berujar.

"Pria-pria itu terus memandang tubuhmu!" Suara serak Zhayn sukses membuat tubuh gadis itu meremang, dengan tubuh menegang, Yonesha melirik beberapa pria yang duduk di sofa, melempari gadis itu dengan senyum nakal. Yonesha mendengkus jengah dan berniat memberi mereka pelajaran, sebelum tangan seseorang meraih pinggulnya. Gadis itu terpekik saat merasakan tubuhnya melayang. Tak habis pikir saat Zhayn menenteng tubuhnya dengan sebelah tangan seperti membawa sekarung beras.

"Apa kau gila!? Kau mau mendekat dan melemparkan tubuhmu ke serigala lapar? Jangan cari masalah." Yonesha memberengut dengan wajah merah padam, menyadari kebodohannya. Ia memandang raut dingin Zhayn yang terpatri dengan jelas, namun ada kilat aneh dikedua manik keemasannya.

Apa pria itu cemburu? Bibir Yonesha kembali berkedut dan membentuk segaris senyuman.

Zhayn kembali setelah memesan sebuah kamar. Terlalu berbahaya untuk minum di meja bar. Salah satu anak buah Rashad mungkin bisa mengenali keduanya. Zhayn membawa sebotol wiski dan anggur. Pria itu meletakkan gelas di hadapan Yonesha dan menuang minuman ke dalamnya. Kemudian, menyerahkannya pada Yonesha.

Gadis itu menerima segelas anggur tersebut, cukup terkejut karena pria itu membawa minuman yang biasa ia konsumsi selain martini. Ya, martini takkan membantu di saat seperti ini. Ia mengeratkan selimut tipis di tubuhnya dan menyesap cairan itu perlahan. Pandangannya jatuh pada sosok Zhayn yang memandang ke luar jendela. Pria itu menenggak wiskinya langsung dari botol.

"Kau sering minum-minum seperti ini?" Yonesha berusaha memulai pembicaraan. Memecah suasana hening yang cukup lama. Zhayn memandang botol wiski di tangannya, ia menyamankan posisi duduknya di bingkai jendela yang cukup lebar, sebelum menoleh. Gadis itu melangkah ke arahnya dengan sehelai kemeja longgar Rashad Hussain yang entah mengapa, benar-benar mengganggu pandangannya.

"Mm, cukup sering." Zhayn menarik kakinya, menumpukan lengan di lututnya seraya memberi ruang lebih untuk Yonesha. Gadis itu mendudukkan diri di bingkai jendela, kini saling berhadapan, Yonesha memandangnya sesaat, sebelum kembali mengenggak minumannya. Lagi-lagi keheningan menguasai suasana.

"Ayahku selalu bercerita tentangmu." Zhayn tampak menerawang, memandang jalanan yang cukup ramai, walau malam semakin larut. Yonesha yang mendengarnya langsung tersenyum.

"Benarkah?"

"Hmm. Dia sangat senang dengan anak perempuan."

"Apa karena semua anaknya seorang lelaki?" Yonesha mendongak dan mendapati tatapan Zhayn terfokus ke arahnya. Pria itu memasang wajah yang tak terbaca sebelum berujar dengan nada serak.

"Sial, aku benar-benar benci melihatmu memakai pakaiannya, Yonesha!" Yonesha membelalak ketika Zhayn mendekatkan wajahnya dan menggeram jengkel. Aroma alkohol menguar dengan jelas darinya. Pria itu benar-benar mabuk. Tapi, alkohol itu sama sekali tak mampu menghilangkan aroma musk, khas milik Zhayn yang terlampau memikat. Aroma yang akan selalu membawa ketenangan saat Yonesha bisa menghidunya.

"Zhayn..." pria itu kembali menenggak wiskinya dan menarik tubuh Yonesha ke atas pangkuan. Yonesha terkejut, namun tak bisa berbuat apapun. Pria itu melingkarkan lengan kokohnya, menjaga gadis itu tetap seimbang.

Yonesha dapat merasakan degup jantungnya yang menggila, tubuh Zhayn terasa panas menyentuh tubuhnya. Pria itu memandangnya dengan tatapan sayu. "Aku benci melihatmu menggodanya!" Pipi Yonesha memerah dengan cepat, gadis itu mengulum kedua bibirnya. Berusaha menyembunyikan senyuman. Apa yang kau katakan, Zhayn!?

Zhayn menumpukan kepalanya di bahu Yonesha. Membiarkan rambut gadis itu menyapu wajahnya. Yonesha menahan napas ketika embusan napas Zhayn terasa panas di lehernya. Dan kalimat Zhayn yang terdengar begitu posesif sungguh menganggu pikirannya. Apa pria itu benar-benar cemburu?

"Aku benci bagaimana dia menatap tubuhmu!" Zhayn menjauhkan wajahnya. Membuat Yonesha bisa bernapas lega. Namun, hanya sesaat. Pria itu menangkup kedua pipinya, sejurus kemudian ia mendaratkan ciuman yang sukses membuat tubuh Yonesha seakan membeku. Ia tak sadar telah membuka mulut, membuat pria itu dengan leluasa menjelajahinya. Bibir lembut pria itu bersirobok dengan miliknya, lidahnya mengabsen deretan giginya dan saling membelit. Kepala gadis itu terasa kosong dan pening hanya dengan ciuman pria itu saja.

"Zhayn ..." Yonesha tersengal nyaris kehabisan napas saat pria itu melepas tautannya. Keduanya melemparkan tatapan sayu yang sama. Gadis itu mengalungkan tangannya, kemudian menyamankan diri di pangkuan pria itu sebelum mendaratkan ciuman yang sama panasnya. Ia tak bisa menghentikan pikiran liar dalam kepalanya, membayangkan apa yang bisa dilakukan lidah panas pria itu di tubuhnya.

Atmosfer di sekitar mereka semakin memanas, rambut lepek Yonesha terjatuh melewati bahunya, mengelitik leher Zhayn yang telanjang. Napas pria itu berat dan panas, jemari panjangnya sibuk menyusuri tepian wajah Yonesha yang terasa mungil di tangannya. Yonesha tak bisa menolak segala perasaan yang bergumul dalam dirinya. Setiap sentuhan Zhayn di tubuhnya. Ia tak bisa berbohong jika kepalanya pernah membayangkan hal seperti ini.

"Apa kau tahu sebesar apa aku menginginkanmu selama ini?" Zhayn menggeram dengan jantan. Suara seraknya membuat Yonesha merinding, gemetar, dan akhirnya ia hanya bisa menurut dan pasrah. Logikanya seakan tersumbat. Malam dingin itu berubah menjadi sangat panas. Tetes air sungai yang tersisa di tubuh keduanya mengering dan berganti dengan keringat. Menuntun keduanya hingga ke tepian dan dihantam gelombang kepuasan, keduanya hancur, lebur dalam kenikmatan.

***

Yonesha melenguh lirih dan mengerjap, sinar matahari menembus melalui jendela besar di ruangan yang ia tempati. Gadis itu melebarkan kedua matanya ketika melihat sosok Zhayn yang masih terlelap, wajah pria itu hanya beberapa senti dari wajahnya. Yonesha sontak menegakkan punggung, meringis kecil ketika merasakan nyeri di bagian bawah tubuhnya.

Sejurus kemudian, kelebatan ingatan semalam membanjiri kepalanya. Gadis itu menepuk kedua pipinya dan melirik ke arah tubuh polos Zhayn yang tertutup selimut hingga perutnya. Nyaris tak mempercayai apa yang telah keduanya lakukan semalam. Yonesha merapatkan kedua lututnya dengan gelisah. Sial, rasanya ia akan kembali basah hanya karena memikirkannya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah semuanya akan berubah canggung, atau pria itu akan bersikap lebih hangat?

Yonesha memejamkan mata seraya menepuk pipinya yang memanas, demi apapun, ia benar-benar tak bisa melupakan apa yang sudah pria itu berikan untuknya. Semua sentuhan dan kalimat pria itu padanya. Tatapannya yang mendamba dan tak merendahkannya. Pria itu membuatnya merasa bebas, aman, dan diinginkan.

"****!" Yonesha berjengit saat mendengar umpatan yang lolos dari mulut Zhayn. Gadis itu langsung menoleh dan menyadari pria itu sudah mendudukkan diri di sampingnya.

"Sial, apa yang kita lakukan semalam, Yonesha!" pria itu kembali menyumpah, nada tingginya menghantam ulu hati Yonesha dengan begitu keras. Apa yang pria itu katakan?

"Z-Zhayn ..." tangan Yonesha terulur berusaha menyentuh lengan pria itu, namun Zhayn beringsut mundur dan melemparkan tatapan tajam. Oh, Ya Tuhan. Ada apa dengan pria itu? Yonesha menarik kembali tangannya seraya mengabaikan rasa sesak di dadanya.

"Berengsek, aku minta maaf, Yonesha. Tak seharusnya kita melakukan itu, kita tak boleh!" Pria itu memejam dan mengacak rambut frustasi.

Yonesha benar-benar seakan tak mempercayai reaksi pria itu. Apa yang salah? Keduanya sama-sama menginginkannya. Keduanya sama-sama menikmatinya. Dan pria itu juga melakukannya dengan sempurna. Ia sama sekali tak menyakitinya. Tunggu, sebuah pemikiran mengingatkan Yonesha. Menyentak gadis itu seketika. Ya, ia memang menginginkannya, tapi apa pria itu juga benar-benar menginginkannya? Astaga, Yonesha tersadar jika Zhayn tengah mabuk, sementara gadis itu masih memiliki kesadarannya.

Ya Tuhan, apa yang kaulakukan, Yonesha!

Yonesha meremas rambutnya, ia bisa menghentikan semuanya sebelum terlambat. Namun, ia malah begitu egois dan menikmatinya. Ia terlalu mendamba dan berfantasi jika pria itu juga menginginkannya. Ia memanfaatkan seorang pria mabuk untuk memenuhi fantasinya. Dengan tubuh gemetaran, Yonesha berusaha beranjak dari ranjang, ia berusaha berdiri dan melangkah, namun malah nyaris jatuh tersungkur. Tetapi, lagi-lagi pria itu merengkuh tubuhnya. Lengan kokohnya menjaga Yonesha kembali seimbang. Yonesha menunduk menyembunyikan airmatanya.

"Maaf." Lirihnya dengan suara gemetar.

"Ya Tuhan. Aku benar-benar berengsek!" Zhayn kembali mendudukkan Yonesha, kemudian meraih pakaiannya dan berlalu dari kamar itu dengan tergesa.

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!