Chapter 16 : Getting Worse

This chapter contains mature content for graphic of violences.

Please, read at your own discretion!

***

Yonesha memilin jemarinya dengan gelisah. Gadis itu tertunduk seraya memandang sosok Zhayn yang masih terbaring tak sadarkan diri. Selang melilit lengannya, ditambah alat bantu pernapasan yang melekat di wajah pria itu. Zhayn terpejam rapat dengan wajah yang sepucat kapas, dadanya mengembang dan mengempis dengan pelan. Pria itu tampaknya merasa kesakitan dan kesulitan untuk sekadar bernapas.

Tidak ada yang bisa Yonesha lakukan selain merutuki perbuatannya. Bagaimana pun pria itu terbaring di sini karena ulahnya. Andai saja ia tak berusaha membunuh rasa bosan dengan memasak dan tetap menuruti pria itu, ia yakin Zhayn takkan terbaring seperti sekarang. Ah, pria itu benar-benar tak cocok terlihat begitu tak berdaya seperti saat ini.

"Maaf." Kalimat Yonesha terlontar seperti bisikan. Gadis itu masih tertunduk dalam, tangannya terasa gatal ingin menyentuh jemari pria itu dan menggenggamnnya sekali lagi. Di perjalanan tadi, pria itu balik menggenggam tangannya tak kalah erat, tampak menahan sakit sekaligus ketakutan. Yonesha tak mengerti. Sebelum benar-benar jatuh tak sadarkan diri, ada kerisauan di kedua matanya. Pria itu sungguh ketakutan.

Akhirnya, Yonesha memberanikan dirinya, jemarinya yang gemetar terulur, menyentuh punggung tangan Zhayn, kemudian menggenggam tangan besar itu dengan perlahan. Kedua telapak Yonesha menangkup tangan pria itu yang terasa lebih dingin dari biasanya. Gadis itu menggigit bibirnya dengan erat sebelum suara isakannya menerobos keluar. Ia tak mengerti, kenapa dirinya bisa merasa hancur seperti ini? Apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya?

Yonesha melepas genggaman tangannya dan berlalu cepat meninggalkan ruangan. Ia sudah tak mampu membendung gemetar dirinya, isakannya, serta airmata yang jatuh tanpa terasa. Gadis itu meluruh di lantai rumah sakit, mengabaikan beberapa pasang mata pengawal Zhayn yang memandang terkejut ke arahnya. Andrew yang melihat hal itu sontak mendekat dan berjongkok. Meletakkan tangannya di bahu gadis itu.

"Miss, tenanglah. Mr. Jannivarsh akan baik-baik saja. Percaya pada saya." Andrew memberikan senyuman hangat. Membuat Yonesha mengangguk kecil sembari menyeka airmatanya.

"Saya dan Diego akan mengambil beberapa pakaian Mr. Jannivarsh, sebaiknya Anda menunggu di dalam."

"Tidak, biar aku dan Diego yang pergi. Kau harus bersama para pengawal lain di sini." Andrew mengerutkan dahinya tak yakin.

"Tapi, Anda yakin?"

"Tidak apa-apa, lagi pula aku bersama Diego. Kau harus ada di sisinya jika ia sadar, siapa tahu ia membutuhkan sesuatu," Yonesha berujar yakin, berusaha memberikan keyakinan yang sama pada pria di hadapannya itu.

"Baiklah. Hati-hati, Miss." Gadis itu mengangguk dan melangkah ke arah Diego yang telah menunggu.

***

"Aku sungguh minta maaf soal tadi pagi."

Diego tertawa kecil sebelum menoleh sesaat ke arah Yonesha yang duduk di kursi penumpang. "Tidak masalah, Miss," sahutnya dengan senyum, "jangan lakukan lagi. Mr. Jannivarsh hanya ingin menjagamu."

Yonesha tertunduk dengan helaan napas berat. Teringat kalimat pria itu siang tadi. Ia tak bisa melupakan kekhawatiran dan putus asa yang ditunjukkan raut wajahnya. Mengapa Zhayn menjaganya? Pria itu menjaganya dari apa? Siapa? Yonesha merasa sangat yakin ia baik-baik saja. Apa ada sesuatu yang ia lewatkan?

"Beliau sangat cemas dan mencari Anda di seluruh kota."

"Sungguh?" Oke, ini benar-benar mengejutkan bagi Yonesha. Astaga, ia takkan kabur. Tapi, mengapa pria itu sampai mencarinya seperti itu? Sungguh, Yonesha sungguh akan menanyakan hal ini pada Zhayn. Pria itu benar-benar harus memberinya jawaban yang memuaskan.

"Ya, setelah saya berhasil keluar, saya segera menghubungi Mr. Jannivarsh, selanjutnya ia langsung kembali dari Vegas dengan penerbangan pribadi. Beliau mengerahkan pasukan pribadinya untuk mencari Anda ke seluruh kota."

"Pasukan pribadi?" Yonesha mengangkat sebelah alis. Antara heran dan bingung. Apa mungkin yang dimaksud Diego adalah para pengawal?

"Apa Mr. Jannivarsh belum bercerita?"

"Cerita seperti apa?"

"Belum mendengar sesuatu seperti pekerjaan sampingan Mr. Jannivarsh?" Diego melirik kaca spion sesaat sebelum memutar kemudi untuk berbelok.

"Seperti dia yang menjual senjata?"

"Wah, Anda rupanya sudah tahu." Pria itu meringis kecil dengan pandangan fokus pada jalanan. Yonesha hanya mengangkat bahu seraya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.

"Tapi aku tak pernah mendengar soal pasukan pribadi." Yonesha bisa melihat Diego yang kembali mengecek kaca spion. Kali ini mereka tak mengambil jalan berbelok, tapi pria itu sudah menoleh ke spion mobil lebih dari dua kali. Pria itu mengkhawatirkan sesuatu.

"Keluarga Jannivarsh memiliki semacam-"

"Ada apa Diego?" Yonesha mencuramkan alis dengan tatapan curiga. Pria itu tampak terkejut, namun tak mengalihkan pandangannya dari jalanan.

"Siapa mereka?" Gadis itu menoleh ke belakang dan menyadari sebuah SUV hitam melaju. Diego terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya menemukan suaranya.

"Mereka mengikuti kita sejak keluar dari tol." Suara Diego terdengar rendah, pria itu mempercepat mobilnya saat menyadari SUV yang membuntuti mereka melaju lebih cepat. Tetapi, sebuah truk besar melaju dari arah berlawanan. Diego membanting kemudi ke kiri, namun tanpa diduga mobil lain melaju cepat ke arahanya.

Mobil yang mereka kendarai dihantam dari sisi kiri. Yonesha mencengkeram peganggan lebih erat. Mobil mereka terguncang dengan kuat, membuat Diego berusaha keras menjaganya tetap terkendali. Tetapi hal itu menjadi sia-sia ketika truk yang sempat melaju dari arah berlawanan, bergerak memblokir jalan mereka. Mobil mereka dihantam untuk kedua kalinya.

Kaca mobil pecah berhamburan, Yonesha refleks melindungi wajahnya. Samar, ia mendengar erangan Diego sebelum tubuhnya seperti terangkat dan suara debumam keras memenuhi telinganya. Pandangan Yonesha memburam saat ia merasakan dunia seperti terbalik. Dadanya sesak karena sabuk pengaman yang masih mencengkeram tubuhnya. Ia berusaha melihat sekeliling ketika menyadari Diego sudah jatuh tak sadarkan diri dengan kepala dibanjiri darah.

"Diego ..." panggil gadis itu dengan suara parau. Tenggorokannya seperti tersumbat, kepalanya pening, dan telinganya seperti berdenging. Yonesha nyaris kehilangan kesadarannya, sebelum ia melihat--dari posisinya yang terbalik--beberapa pasang kaki melangkah ke arah mereka.

Gadis itu mengernyit, berusaha memperjelas penglihatannya, namun usahanya sia-sia saja. Kepalanya menjadi semakin pusing. Berdentam tak karuan. Orang-orang itu semakin dekat, mereka mengenakan kaos dan celana jeans. Sebagian dari mereka mengenakan bandana untuk menutupi wajah. Sisanya memilih memakai topi dan hoodie. Penampilannya mungkin terlihat santai bahkan sedikit urakan, namun mereka memegang senapan yang jelas mematikan. Saat mereka sampai, Yonesha yakin semuanya takkan berjalan dengan mudah.

Yonesha berusaha menjangkau sesuatu yang terselip di balik pakaiannya. Tepat saat salah satu orang itu berusaha menariknya keluar, Yonesha mengayunkan tangan. Menyabetkan sebuah pisau lipat yang selalu melekat dengan dirinya. Menggunakan pisau adalah keahliannya. Pria itu harus menyesali perbuatannya yang gegabah karena berani menyentuh gadis itu tanpa pikir panjang.

Melihat salah satu rekannya mengerang kesakitan dengan lengan sobek, orang-orang itu langsung bersiap sebelum memutuskan untuk membawa gadis di hadapan mereka. Mereka menghancurkan pintu mobil yang sudah ringsek dengan mudah. Satu diantara pria itu berjongkok dan menyeringai, menatap jemari Yonesha yang gemetar memegang pisau. Menariknya, tidak ada ketakutan di kedua mata gadis itu.

Dengan satu tangan, pria itu mencengkeram pangkal rambut  Yonesha. Sementara tangannya yang lain, sigap menahan tangan Yonesha yang berusaha menyabetkan pisau. Pria itu sengaja menekan luka di pelipis gadis itu dengan ujung jarinya. Membuat Yonesha sontak menjerit kesakitan. Cengkeraman di pisaunya melemah, pria itu berhasil merebutnya. Tanpa menunggu lagi, pria itu menariknya keluar dengan kasar.

Yonesha merasa seluruh rambutnya seperti akan tercabut. Ia berusaha melepas cengkeraman pria itu di kepalanya. Namun, tenaganya tak cukup kuat. Pria itu tetap menyeretnya dengan brutal. Yonesha tak bisa menyerah, seraya menahan rasa ngilu yang menggila di kepalanya, ia berusaha meraih kaki pria itu. Memukul dan menariknya sekuat tenaga.

"****** tak berguna!" pria itu menyumpah dan menghentikan langkahnya untuk sesaat. Ia menarik kepala Yonesha hingga membuat gadis itu berdiri tegak, "kau memukulku? Iya? Baiklah."

Buagh

Setelah mengatakan hal itu, kepalannya melayang ringan dan mendarat di rahang Yonesha. Gadis itu jatuh tersungkur dan menghantam aspal. Sedetik kemudian, tendangan mendarat di perutnya. Disusul tendangan lain di kepalanya. Yonesha merasa separuh tubuhnya mati rasa. Tapi tendangan itu tak berhenti, sebelum beberapa rekan pria itu menahannya.

Lelaki itu menyumpah saat rekannya membisikkan sesuatu. Hal itu seakan mengingatkannya pada sesuatu hal. "Persetan!" Ia kembali menyumpah dan berjongkok menatap Yonesha yang di ambang kesadaran.

"Sayangnya boss ingin melihatmu bernapas ketika menemuinya. Jika tidak, dengan senang hati kuhancurkan seluruh tulangmu!"

Yonesha meringis sinis, haruskah ia berterimakasih pada Boss?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!