Yonesha meletakkan gagang teleponnya dengan lemas. Jemarinya gemetar tanpa sadar. Apa itu barusan? Apa yang ia dengar sungguhan? Apa mereka benar-benar berkencan? Yonesha tertawa hambar membayangkan betapa serasinya jika dua orang itu bersama. Apalah dirinya? Apa Zhayn menganggapnya sebagai wanita? Sepertinya tidak. Pria itu pastilah hanya mengangap dirinya gadis remaja labil yang merepotkan.
Gadis itu menggeleng dengan kuat, di kepalanya seperti melintas bayangan Zhayn bersama wanita itu. Membayangkan bagaimana bibir Zhayn menyebut namanya, meneriakkannya. Kedua bahu Yonesha melorot dengan lemas. Apa yang ia harapkan? Bagi pria itu hubungan mereka sama sekali tak ada artinya, baginya mungkin itu hanya sebuah malam singkat. Tapi, tidak untuk Yonesha.
Malam itu jelas bukan hal singkat untuknya. Ia sadar, nyaris sepenuhnya. Ia bisa mengingat segalanya dengan jelas. Dia bukan gadis polos, dia tahu betapa sorot Zhayn begitu mendamba kepadanya. Bukannya ia merasa terlalu percaya diri, tapi semua itu tercermin di setiap sentuhan yang pria itu berikan. Setiap dorongan dan kalimat yang memabukkan, membuat Yonesha merasa begitu dicintai dan diinginkan. Tapi apa daya, semua itu menjadi gamang karena kenyataan bahwa Zhayn dalam kondisi mabuk. Bisa saja pria itu hanya merasa lebih bersemangat karena pengaruh alkohol, bukan? Ah, Yonesha sungguh merutuk karena tak bisa berhenti memikirkan malam itu.
Tubuh gaids itu meluruh ke lantai, ia menyandarkan kepalanya di single sofa dan memandang langit yang telah menggelap. Penglihatannya memburam, "Sialan!" umpatnya, ketika menyadari airmata menggenangi kedua matanya. Yonesha dibuat tak mengerti. Ia tak bisa memahami dirinya sendiri. Ia merasa seperti putus asa, dan dadanya terus-terusan terasa sesak. Mengapa ia merasa begitu kebingungan? Apa seperti ini rasanya menyukai seseorang?
"Sialan, Yonesha. Kau menyukainya!"
Yonesha jatuh tertunduk ketika kalimat Elly kembali berdengung di kepalanya. Sungguh? Apa wanita itu tak bohong? Bagaimana jika semua ini hanya kekaguman sesaat? Tapi mengapa rasanya begitu berbeda dan asing?
***
Zhayn melepaskan kacamata baca yang ia kenakan, sebelum memandang jendela bertirai tebal di ruangannya. Pria itu meletakkan bukunya dan menghela napas, kemudian beranjak untuk membuka tirai, membuat sinar matahari pagi menerobos kamarnya. Pagi terasa datang begitu lambat, Zhayn menyunggingkan segaris senyum datar sebelum menggeser pintu kaca mengarah ke balkon. Mata keemasannya yang berkilau di pagi hari, memerhatikan sebuah mobil hitam asing yang memasuki pelataran.
Pria itu mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa dia datang begitu cepat?" Zhayn masih memerhatikan mobil yang kini terparkir di pelataran. Seorang pria berusia akhir empat puluhan melangkah keluar. Ia memakai kaos santai dan celana bahan. Rambut gelapnya yang mulai ditumbuhi uban tampak tertata dengan rapi. Pria dengan garis wajah tegas dan memancarkan kewibawaan itu mendongak, membuat pandangannya bersirobok dengan Zhayn. Ia pun mengulas senyum hangat yang membuat Zhayn mendengkus.
"Aku tak memintamu datang sepagi ini." Zhayn melempar nada sinis saat melihat pria itu sudah berada di ruang tamunya. Pria itu tampak tak terganggu dan melempar senyum jenaka.
"Kenapa? Aku mengganggu tidurmu? Lagipula kau tampak tak tidur, seperti biasanya." Zhayn kembali mendengkus, sedikit risi saat orang lain mengetahui kebiasaan itu. Ia benci tampak lemah. Karena ia sudah berusaha keras untuk jadi kuat selama ini. Tapi kengerian itu tak lenyap, tak pernah meninggalkan dirinya, dan manjadi bagian hidupnya. Mungkin selamanya.
"Lagi, kau seperti hilang di kepalamu." Kini, pria itu balik menyindir. Membuat Zhayn mengerjap dan kembali tertarik ke dunia nyata.
"Rihanna Ariesha. Kenapa kau tertarik dengan isteri Aguero? Apa kau tak bisa menunggu sampai pagi dan menelponku alih-alih tengah malam."
"Kupikir kau akan kembali ke kantor pagi ini."
"Ya, aku memang akan kembali ke kantor. Tapi, tidak sepagi itu. Sebenarnya, apa yang ingin kau ketahui?"
Zhayn menghela napas dengan pandangan menerawang. "Salah satu tangan Al-Azhar tampak mengenalnya. Aku khawatir mereka memiliki masalah pribadi dengan wanita itu."
"Kau takut itu membahayakan puterinya?" Zhayn terdiam, bungkam. Apa yang ada di pikirannya? Kenapa ia bertindak sejauh ini? Apa semata-mata karena misinya? Apa ia benar-benar mengkhawatirkan gadis itu?
"Yonesha tampaknya berhasil menggangumu?" Pria itu menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Menahan tawa seraya memandang Zhayn yang melempar tatapan tajam.
"Gadis itu hanya tahu jika ibunya meninggal setelah melahirkannya. Tapi, Andreas Aguero menceritakan semuanya pada kami. Kurasa kita harus minum beberapa botol selagi aku masih di sini?" Zhayn mengernyit saat kalimat terakhir pria itu melenceng jauh dari topik. Ia pun menoleh ketika mendengar suara langkah yang samar. Yonesha berjalan ke arah mereka dengan wajah khas seperti orang yang tak bisa tidur. Ia tampak terkejut dengan sosok yang duduk tepat di hadapan Zhayn berada.
"Ah, Astaga. Mr. Whitley!?" Raut terkejut Yonesha sukses membuat pria itu terkekeh, ia bangkit dari posisinya dan menghampiri Yonesha.
"Leon saja, atau Uncle Leon, untukmu. Alexander sudah bercerita banyak tentangmu."
"Ah, suatu kehormatan bertemu denganmu, Mr- maksudku, Uncle." Leonard Whitley adalah sahabat karib Alexander Jannivarsh. Ia juga salah seorang yang berakhir menjadi bagian dari ISA setelah berkarir di militer. Yonesha pernah sekali berjumpa dengannya saat awal masuk di Akedemi. Ya, beliau salah satu petinggi di sana. Kini, ia berdinas di kantor utama, White ISA.
"Sir, Sir, maaf mengganggu perbincangan Anda. Andrew ingin menyampaikan berita penting." Kalimat Diego sukses menyita perhatian mereka. Zhayn mengerutkan dahi dan menerima ponsel salah satu tangan kepercayaannya itu.
"Ada apa?"
"Sir, kurasa yang Anda khawatirkan benar-benar terjadi." terdengar suara dari seberang.
"Bicara yang benar!"
"Saya sudah mengirimkan semuanya ke surel Anda. Saya rasa dugaan Anda benar." Zhayn menggertakkan giginya dan beranjak. Berjalan tergesa meningalkan ruang tamu.
"Kurasa kau harus menemani partnermu. Sampai jumpa, Yo." Yonesha memberikan anggukan dan segera menyusul Zhayn. Pria itu memasuki sebuah ruangan yang tampaknya menjadi ruang kerja. Lengkap dengan beragam komputer dan rak yang dipenuhi dokumen dan buku.
"Apa yang terjadi? Apa terkait dengan Hussain?" Zhayn tak menjawab. Pria itu sibuk dengan komputernya. Matanya bergerak cermat ketika membaca dokumen di sana. "Zhayn, katakan sesuatu!"
"Tetap di sini. Aku akan kembali." Zhayn kembali beranjak, membuat Yonesha melempar tatapan heran sekaligus tak habis pikir. "Kau mau ke mana!?" Yonesha nyaris berteriak ketika pria itu berlalu begitu saja setelah menyambar sebuah jaket di gantungan. Yonesha mendesah keras melihat Bugatti yang mereka pakai kemarin melaju meninggalkan vila.
Gadis itu melihat Diego yang berjalan menuju ke luar dan segera menghentikannya. "Siapa yang menelpon Zhayn?" ujarnya tanpa basa-basi.
"Andrew, Miss."
"Apa yang mereka bicarakan?" Yonesha mencuramkan alis, namun tampaknya Diego sama sekali tak terpengaruh. Pria itu hanya mengulas senyum sopan dan menggeleng.
"Maaf, saya tidak tahu, Miss. Andrew hanya meminta saya untuk menyerahkan ponselnya ke Mr.Jannivarsh."
Yonesha melemparkan tatapan serius dan berujar, "Pinjamkan mobilmu!"
"Maaf?"
***
Zhayn berdiri beberapa ratus meter dari kerumunan yang dijaga beberapa anggota kepolisian. Ia membaur di antara lalu lalang orang-orang di sekitar sembari memandang salasalah satu kasino megah Vegas yang kini nyaris tak berbentuk. Kasino yang menjadi tempat Rashad Hussain singgah kemarin. Bom meledak dini hari tadi, 94 pengunjung tewas dan beberapa puluh lainnya mengalami luka serius. Pukul lima pagi, kepolisian mendapatkan video konfirmasi bahwa kelompok Al-Azhar-lah dalangnya.
"Sir, kami menemukan ini dari rekaman CCTV terakhir." Andrew melangkah mendekat dan menyodorkan selembar kertas.
Zhayn menerima selembar foto yang menampilkan wajah seorang pria berpakaian hitam. Ia mengernyit, berusaha mengingat sosok itu dalam memorinya. "Osman Paracha?"
"Benar." Zhayn mendongak dan melihat Andy melangkah ke arahnya. Pria itu langsung menuju ke Vegas dengan helikopter ISA berkecepatan tinggi setelah mendengar berita pengeboman tersebut. Ia sangat yakin jika hal ini pastilah terkait dengan kelompok Al-Azhar.
"Dia tangan kanan Rashad Hussain, seorang mantan tentara Israel yang merakit bom untuk Al-Azhar selama ini. Rashad yang membawanya pada Al-Azhar." Zhayn menjeda, pandangannya menerawang, dahinya berkerut ketika memikirkan beragam kemungkinan dalam kepalanya. "Kurasa, dugaanku sepenuhnya benar." Sambungnya kemudian, rautnya berubah serius dipenuhi kegelisahan yang tersimpan rapat.
"Apa maksudmu, apa yang kau pikirkan, Zhayn!?"
"Dari semula perbuatan Al-Azhar, ada beberapa pola yang tak pernah pria itu tinggalkan. Di mana Osman Paracha terlihat, disitulah bom akan meledak. Kemudian, di mana pun lokasi tempat itu, Al-Azhar akan selalu berada di sana. Melihat kehancuran itu dengan matanya. Itu artinya ..."
"****, Qasim Al-Azhar berada di Amerika?" Sambung Andy dengan tatapan horror.
Zhayn membeku, semuanya menjadi masuk akal di kepalanya. Kecurigaannya serta kekhawatiran yang ia rasakan akhir-akhir ini bukan tak berdasar. Pria gila itu di sini, negeri yang jelas menjadi istana musuhnya. Pria itu nekat meledakkan bomnya di sini, Amerika. Tempat yang tak seharusnya ia kunjungi. Tempat di mana ia tak mempunyai sekutu. Namun, dia kemari. Hanya ada satu alasan masuk akal yang mendasarinya. Sial, darah Zhayn mendidih hanya dengan memikirkannya saja.
Mendadak, getaran ponsel Andrew menginterupsinya. Ia melirik sekejap saat tangan kanannya itu mengangkat panggilan tersebut. Andrew mengernyit dan memberikan tatapan serius ke arah Zhayn.
"Apa!?"
"Miss Yo, Sir."
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments