"California? Ayolah, apa kita akan ke Disneyland?" Yonesha bisa mendengar tawa renyah Zhayn yang terlontar begitu mendengar kalimatnya. Pria menoleh sekejap dengan raut tak habis pikir sebelum kembali fokus mengemudi.
"Boleh juga. Kau mau ke sana?" Yonesha memutar matanya dengan perasaan jengah. Kenapa pria itu mendadak bertingkah aneh. Setelah berpacu dengan kecepatan tinggi di bawah rentetan peluru, sekarang pria itu mengajaknya ke California, bukannya kembali ke Inggris dan mencari petunjuk lain tentang keberadaan Qasim Al-Azhar.
Setelah bergantian mengemudi dan memakan waktu lebih dari enam jam, keduanya tiba di Beverly Hills, California. Tempat yang selama ini hanya berada dalam angan Yonesha saja. Sebuah rumah di Beverly Hills baginya seperti mimpi. Tapi, di depan mereka saat ini, sebuah vila megah beridiri dengan kokoh. Dipayungi suasana senja yang memukau.
Zhayn memperlambat laju kendaraannya ketika tiba di pelataran. Beberapa orang bersetelan lengkap tampak berlalu lalang, membuat Yonesha mengernyitkan dahi curiga. "Tempat siapa ini? Siapa mereka?" Zhayn tak menggubris, pria itu hanya memberikan lirikan singkat dan berlalu keluar. Dari teras utama, seorang berkemeja hitam melangkah mendekat, kemudian menerima kunci mobil Zhayn untuk diparkirkan.
"Mr. Jannivarsh, Ms. Yo." Yonesha mengangguk kikuk mendengar pria berkemeja itu menyebut namanya. Ia pun seketika melemparkan tatapan penuh tanya kepada Zhayn.
"Ini vila milikmu?" Kedua alis Yonesha terangkat penuh antusiasme. Partnernya itu hanya memberikan anggukan kecil dan menggiringnya memasuki vila. "Agent macam apa yang punya tempat semewah ini?" celetuk Yonesha tanpa bersalah.
Zhayn hanya menggeleng dengan ekspresi geli sebelum berbalik dan bersedekap. "Kau pikir hanya ISA yang menggajiku?" Yonesha menghentikan langkah dan mendongak, memasang cengiran tak berdosanya. Ia pun kembali mengikuti langkah Zhayn, memasuki vila lebih dalam.
Di sepanjang lorong menuju ruang utama, Yonesha bisa melihat jajaran foto yang terpasang berurut di dinding. Sebagian besar adalah foto keluarga pria itu. Sosok Amora Croft muda sukses menarik perhatiannya. Yonesha menghentikan langkah hanya untuk memandang foto mendiang ibu Zhayn itu. Ia memiliki rambut pirang platina yang memukau dan dua bola mata hijau jernih. Rambutnya yang mengikal jatuh sedikit melewati telinganya. Ia mengenakan seragam kepolisian yang membuat sosoknya tampak tegas sekaligus menawan.
"Ini, ibumu?" Yonesha menggumam tanpa sadar. Membuat Zhayn sontak menghentikan langkahnya. Memerhatikan gadis itu memandang sosok yang paling dirindunya. Sosok yang teramat berharga. Cintanya. Pria itu hanya terdiam, membiarkan Yonesha menyusuri tiap bingkai foto yang tergantung di sana.
"Lihat betapa banyak foto di sini. Kenapa kau hanya memasang satu di penthouse-mu?" Yonesha terhenti di depan foto seorang remaja dengan balutan seragam, ia sontak melemparkan tatapannya kepada Zhayn dan kembali ke foto tersebut. Seakan tak memercayai penglihatannya.
Kedua pipi Zhayn memerah tanpa sadar. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan berusaha mengatakan sesuatu, namun ia seakan tak menemukan suaranya. Sial, apa seharusnya ia tak membawa Yonesha kemari? Pikirnya.
"I-itu ..."
"Ya Tuhan, lihat lesung pipi ini, di mana kau menyembunyikannya sekarang?" Yonesha tak bisa menahan senyumnya, ia kembali memandang sosok Zhayn saat remaja yang terlihat berbanding jauh dengan pria kekar yang kini berada di hadapannya.
"Berhenti tertawa dan istirahatlah." Secepat kilat Zhayn berbalik dan meninggalkan Yonesha di lorong. Pria itu menghilang di ujung lorong dan menyisakan Yonesha yang terkekeh sendirian.
"Astaga, kau terlihat sempurna dengan senyuman ini." Gumam gadis itu tanpa sadar.
"Bukankah Mr. Jannivarsh sangat manis saat tersenyum?" Yonesha nyaris terlonjak saat mendengar suara pria dari arah pintu masuk. Ia menoleh dan mendapati pria berkemeja hitam tadi melangkah ke arahnya dengan senyum ramah.
"Ah, kau benar sekali." Yonesha mengangguk dengan setuju dan kembali menatap sosok Zhayn dalam foto, sebelum menoleh, "Oh iya, siapa namamu?"
"Diego Marshall." Yonesha mengangkat sebelah alis. Menyadari siapa pria yang tengah berdiri di hadapannya.
"Oke. Jadi aku sudah bertemu Andrew, Freink, dan Diego. Di mana satu yang tersisa?" Pria bernama Diego itu tampak terkejut dan mengulas senyum lebar.
"Maksud Anda, Gerald Black?"
"Ya, mungkin?"
"Kami memiliki tugas masing-masing, Miss." Yonesha mengangguk dengan paham. Tampaknya pria di hadapannya ini tak jauh berbeda dengan Andrew. Memiliki kesetiaan tinggi dan takkan mengatakan apapun tanpa seizin sang tuan. "Saya akan mengantar Anda ke kamar."
Yonesha mengikuti langkah Diego masuk lebih dalam ke bangunan vila. Tempat itu sangatlah nyaman dan memiliki kesan yang hangat. Bangunannya merupakan kolaborasi sempurna dari dinding kokoh, kaca, dan kayu-kayuan. Seluruh penjuru rumah dapat merasakan cahaya matahari yang menerobos leluasa melalui dinding kaca. Dari perabotan yang terlihat, vila itu sangat cocok menjadi tempat berkumpul keluarga.
"Jadi, tempat ini milik Zhayn?" Yonesha bertanya retoris. Sesungguhnya ia hanya ingin memecah keheningan yang selalu membuatnya tak betah.
"Tentu. Saya dengar, dahulu keluarga Jannivarsh sering menghabiskan waktu di sini." Mendengar kalimat Diego membuat Yonesha tercenung. Vila keluarga? Astaga, mengapa pria itu menggiringnya kemari alih-alih memesan hotel? Setelah semua yang pria itu lakukan padanya, Yonesha merasa begitu bodoh karena kemarahan itu seakan menguap begitu saja. Walaupun rasa sakit di hatinya masih tak terbantahkan.
"Ini kamar Anda, Miss. Ruangan Mr. Jannivarsh ada di ujung lorong sebelah sana. Beliau berpesan supaya Anda tidak menggunakan ponsel pribadi di sini, tapi Anda bisa melakukan panggilan dengan telepon di kamar Anda." Diego menjelaskan dengan senyum ramah. Pria berusia akhir dua puluh itu tampak seperti sosok yang hangat. Terlihat jauh lebih santai daripada Andrew dan Gerald.
"Terimakasih, Diego."
"Sama-sama." Yonesha menatap punggung Diego yang menjauh sebelum mengalihkan pandangan ke lorong sebelah kanan. Tepat di mana pintu ruangan Zhayn tertutup. Ia menghela napasnya dan menarik gagang pintu. Sepertinya, ia memerlukan istirahat.
Yonesha memandang jendela kaca besar yang membuat sinar jingga menerobos masuk. Gadis itu menggeser pintu yang mengarah ke balkon. Merasakan semilir angin menerpa helaian rambutnya. Ia menghela napas, suasana senja tampaknya memang selalu bisa membuatnya merasa lebih tenang.
Setelah mengenal pria, kau akan terus-menerus gelisah.
Mendadak sebuah kalimat melintas di benak Yonesha. Gadis itu mengernyit, teringat betul ketika Mr. Jannivarsh mengatakan hal itu kepadanya beberapa tahun lalu. Waktu itu, Yonesha bercerita tentang seorang senior di akademi. Dengan percaya diri ia bercerita pada Mr. Jannivarsh bahwa ia menyukai senior itu. Tapi, Mr. Jannivarsh hanya tertawa mendengarnya. Ia bilang, itu hanya kekaguman sesaat. Ya, Yonesha sadar, dahulu ia masih terlalu muda dan naif hanya untuk sekadar memahami rasa suka. Tapi bagaimana dengan sekarang?
"Kenapa aku gelisah?" gumamnya tanpa sadar. "Bukankah selama ini aku mengenal banyak pria? Kenapa aku gelisah sekarang?"
"Kenapa ini begitu memusingkan?" Yonesha berdecak dan memandang sinar matahari di ufuk barat. Langit menjadi keemasan dan entah kenapa hal itu mengundang bayangan lain di kepala Yonesha. "Astaga, tak bisakah kau enyah dari kepalaku!?" Gadis itu menggeram, kemudian setengah berteriak saat tiba-tiba sebuah suara menginterupsinya.
"Kau bicara sendiri?"
Yonesha sontak menoleh ke arah suara itu berasal. Ia menatap seoarang pria yang kini berdiri di balkon utama. Sejajar dengan balkon kamarnya. "Kenapa sekarang dia malah keluar dari kepalaku?" gumamnya tanpa suara.
Zhayn berdiri di sana, dengan sebatang rokok yang tampak nyaris habis. Pria itu memandang ke arahannya dengan sorot datar yang entah kenapa membuat Yonesha menjadi sebal. Astaga, ia sungguh merasa sangat aneh dengan dirinya sendiri. Mengapa hanya ia sendiri yang terkesan tak bisa bersikap biasa saja sekarang? Bukankah gadis itu yang memulai permainan ini lebih dulu? Kenapa malah pria itu bisa bertingkah seakan tak pernah terjadi apapun di antara mereka?
Apa baginya hubungan pria dan wanita tak ada artinya? Ah, memikirkannya membuat kepala Yonesha seperti ingin meledak.
"S-sejak kapan kau di sana?"
"Sebelum kau melamun dan berbicara seperti orang gila."
Yonesha tercekat dan terserang rasa gugup. Apa pria itu mendengar dan melihat tingkahnya yang jelas aneh? Ah, astaga. Tentu saja. Pria itu masih memandangnya dengan sorot yang sama. Jari panjangnya tampak mengapit batang rokok yang masih berasap. Ia berdiri miring dengan tubuh bersandar pembatas balkon. Sial, kenapa pria itu terlihat menggoda? Terlebih saat kaos pendek pria itu mencetak tubuh proporsionalnya yang menawan. Yonesha merutuk karena pemikiran liar yang membeludak di kepalanya tanpa malu. Jika ia tak segera pergi, Yonesha yakin otaknya akan semakin tak waras.
Tanpa kata, Yonesha berbalik dan meninggalkan balkon. Menutup pintu yang menghubungkan dengan ruang kamarnya sebelum menghempaskan tubuh di sebuah single sofa. Gadis itu mengembusakan napas panjang. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia adalah gadis yang sangat mudah terserang rasa bosan. Setidaknya ia hapus melakukan sesuatu atau mengobrol dengan seseorang sebelum ia mulai berbicara pada tembok seperti orang gila.
Yonesha melirik telepon rumah di meja sampingnya, mungkin ia bisa menelpon seseorang. Gadis itu meraih gagang telepon dan menekan beberapa nomer. Sedetik, dua detik, tiga dektik, dan suara yang dikenalnya pun menyambut.
"Agent 452 375, Blac Lilacs."
"Ellisa!"
"Yo-Yonesha? Kenapa kau menghubungi nomor kantorku?"
"Sorry. Tapi aku tak bisa gunakan ponsel dan aku tak hapal nomor ponsemu." Yonesha meringis dan mendengar helaan napas di seberang sana. "Aku mengganggumu?"
"Tidak juga. Shift-ku selesai hari ini, ada anak magang yang menggantikanku. Aku hanya mengawasinya saja."
"Baguslah."
"Ada apa? Kenapa kau bilang tak bisa hubungi dengan ponsel?"
"Ceritanya panjang. Zhayn melarang memakai ponsel pribadi tapi dia memperbolehkanku menelepon lewat telepon rumah."
"Begitu rupanya. Kurasa hubungan kalian membaik?"
Yonesha menelan ludah tanpa sadar. Membaik? Apa itu kata yang sesuai setelah semua yang terjadi? Yonesha ragu. "Ah-ya ... kurasa hubungan kami jauh lebih baik."
"Hei, Yo. Kau ingat Risetta yang kau tanyakan padaku?"
"Tentara wanita itu?" Yonesha mengernyit, mengapa Elly mendadak membahasnya?
"Iya, kemarin dia mencari Zhayn di kantor. Dia juga bertanya pada Andy, kudengar sepertinya Risetta dan Zhayn pernah dekat saat masih berada di militer. Ia sering menemui Mr. Jannivarsh, tidakkah kalian mungkin pernah bertemu?"
"Mungkinkah mereka berkencan?"
Yonesha seperti kehilangan suaranya. Ia tercekat. Kalimat Elly menghantam tepat di ulu hatinya. Seperti sebuah karang yang menyumbat dadanya. Sesak, sakit, apa ini? Kenapa ia harus merasakan seperti ini? Suara Elly di seberang terdengar jauh, beragam pemikiran membeludak di kepala Yonesha. Gadis itu membuka mulut, berusaha mencari suaranya.
"Elly, aku tidur dengan Zhayn."
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments