Kemudian Raja Darian Cashel beralih memandang Jenderal Felix yang tidak memandang ke arahnya alias kepalanya tertunduk, seperti halnya para pejabat lainnya. Mereka akan mengangkat kepala kalau di ajak bicara oleh Raja Darian Cashel atau yang lainnya.
Lalu raja penuh santun itu memandang Dhafin yang masih memejamkan matanya, kedua kaki bersila, kedua tangan terkumpul di pusarnya. Kemudian terdengar ucapannya yang lembut berbicara kepada Jenderal Felix.
"Jenderal Felix, aku ingin bicara dengan sahabatmu itu. Apa dia sedang tidur?"
Mendengar ucapan Raja Darian itu para pejabat dan wakil pejabat segera melirik ke arah Dhafin. Sorot mata sebagian mereka begitu sinis sekaligus jengkel melihat tingkah kurang ajar bocah itu. Sebagian yang lainnya hanya memandang biasa saja.
"Ampun, Yang Mulia," ucap Jenderal Felix penuh takzim. "Sahabat hamba ini biasa melakukan hal seperti ini. Dia masih dalam keadaan tersadar, Yang Mulia, dia mendengar ucapan Yang Mulia."
"Huh! Kamu memiliki teman yang aneh, Jenderal Felix," dengus Pangeran Adrian Carel bernada ketus. "Bisa-bisanya dia tidur di tengah sidang seperti ini."
Seorang anak kecil yang duduk bersebelahan dengan Pejabat Keegen, Pejabat Kepala Kerajaan yang sebenarnya bernama Pangeran Brian Darel berdecak kesal dalam hati melihat sikap angkuh saudara seayahnya itu.
Sedari kecil pangeran angkuh itu sudah memupuk sifat buruk dalam dirinya, padahal dia seorang putra mahkota. Besarnya mau jadi apa anak itu? Jika suatu saat menjadi raja, bagaimana nasib kerajaan ini nantinya di bawah kepemimpinannya?
Sedangkan Jenderal Felix tidak menanggapi ucapan pangeran angkuh itu. Dia lalu mendekatkan kepalanya ke arah Dhafin, terus berbisik.
"Bangumlah, Dhafin! Yang Mulia Raja ingin bicara denganmu."
Dhafin cuma mengangkat sedikit kepalanya seraya membuka kedua matanya yang langsung menatap Raja Darian yang tidak pernah lepas memandangnya. Tapi belum bicara apa-apa. Lantas Raja berbicara padanya dengan nada tanya.
"Anak Muda, boleh aku tahu siapa namamu?"
"Hamba bernama Dhafin, Yang Mulia," sahut Dhafin mengimbangi kesantunan sang raja. Suaranya bernada lembut penuh ketenangan jiwa. Membuat Raja Darian Cashel mulai tertarik dengan sahabat kecil pejabatnya ini.
Raja Darian Cashel belum tahu perihal Dhafin sebelumnya. Dia baru dengar ada anak kecil di sisi Jenderal Felix atas laporan Letnan Fidell yang hari ini dia mengingkarinya.
"Dari mana kamu berasal, Dhafin?"
"Hamba sudah tidak ingat lagi dari mana hamba berasal, Yang Mulia," sahut Dhafin masih santun penuh hormat. "Dan belum punya tempat tinggal yang menetap."
"Jenderal Felix! Tuan mempunyai teman yang tidak tahu asal usulnya dan tidak punya tempat tinggal yang tetap," berkata salah seorang pejabat yang tak jauh dari Jenderal Felix bernada sinis dengan tatapan meremehkan. "Bukankah tuan serampangan dalam memilih teman? Apalagi seorang anak kecil."
"Tuan kemarin dari Kota Pendar 'kan, Jenderal Felix?" kata pejabat yang lain menimpali. Gayanya juga tidak jauh beda dengan pejabat yang tadi. "Yang saya tahu Kota Pendar itu banyak pengemis dan anak gelandangan. Jangan-jangan anak yang tuan jadikan teman itu adalah salah seorang anak pengemis atau anak gelandangan di sana, Jenderal Felix? Kalau begitu saya sungguh terkesan atas kemurahan hati Jenderal Felix."
"Tuan punya rencana apa sebenarnya memungut anak gelandangan Kota Pendar, Jenderal Felix?" timpal pejabat yang lain yang juga bernada menyebalkan. "Apa hanya membagi kemurahan hati atau ada tujuan lain? Hati-hati, Jenderal Felix!"
Dhafin diam tak bergeming mendengar ocehan tiga pejabat yang sungguh menghina itu. Raut wajahnya tidak menunjukkan perubah apa-apa, tetap tenang dan tatapan tetap ke depan.
Sedangkan Jenderal Felix seketika menatap tajam ketiga pejabat yang jelas-jelas melontarkan hinaan itu. Namun baru saja dia hendak meledakkan amarahnya, terdengar Raja Darian Cashel sudah menegur halus.
"Apa kalian sudah selesai bicara?"
★☆★☆
Ketiga pejabat itu langsung terkejut atas teguran Raja Darian Cashel. Wajah mereka langsung berubah tegang. Buru-buru mereka langsung menyembah hormat.
"Ampunkan hamba, Yang Mulia," ucap mereka penuh takzim hampir berbarengan.
Sang raja tidak menghiraukan lagi ketiga pejabat itu. Dia kemudian memandang pada Jenderal Felix, terus berkata.
"Jenderal Felix. Kemarin Letnan Fidell melaporkan kepadaku kalau ada anak kecil yang ternyata punya andil atas terbongkarnya kejahatan Pejabat Kota Pendar. Makanya aku mengumpulkan para pejabat untuk menyaksikan aku memberikan hadiah dan penghargaan kepada anak yang berjasa besar itu. Bagaimana tanggapanmu?"
"Ampunkan hamba, Yang Mulia," ucap Jenderal Felix penuh takzim. "Bukankah hamba sudah memaparkan semuanya pada sidang 4 hari yang lalu? Adapun mengenai laporan Letnan Fidell tentang adanya anak kecil yang ikut andil dalam terbongkarnya kejahatan Pejabat Kota hal itu hamba tidak tahu, Yang Mulia. Karena memang tidak ada anak kecil yang ikut andil. Penanganan kasus di Kota Pendar murni dari kesatuan hamba, tidak ada bantuan pihak lain."
"Berarti tuan menuduh Letnan Fidell memberikan laporan palsu, Jenderal Felix?" kata Pejabat Keegen seakan menegaskan.
"Kalau tidak ada bukti atas laporan itu," tegas Jenderal Felix tanpa ragu, "berarti laporan itu adalah laporan palsu."
Jenderal Felix harus tegas dan bersungguh-sungguh dalam memberi keterangan. Dia memang harus tega kalau tidak ingin ketahuan. Memang untuk menyelamatkan sesuatu harus ada yang dikorbankan. Adalah sayang mengorbankan Dhafin hanya karena kecerobohan Letnan Fidell.
"Kamu bertemu dimana Anak Muda itu, Jenderal Felix?" tanya Raja Darian ingin tahu.
"Hamba bertemu dengan anak ini di Kota Pendar sewaktu menangani kasus perdagangan manusia di sana, Yang Mulia," sahut Jenderal Felix apa adanya.
"Pada waktu itu juga tertangkapnya pelaku perdagangan manusia. Begitu, Jenderal Felix?" tanya Yang Mulia lagi.
"Benar, Yang Mulia."
"Dhafin, kenapa kamu bisa bertemu dengan Jenderal Felix?" Raja Darian Cashel beralih pada Dhafin.
"Pertemuan hamba dengan Paman Felix sebenarnya tanpa disengaja, Yang Mulia," ungkap Dhafin yang memang benar. "Waktu itu Paman Felix sebenarnya juga tengah mencari putrinya yang hilang, di samping melakukan tugasnya. Kebetulan hamba bersahabat dengan putri Paman Felix dan tinggal bersama di Kota Pendar. Pertemuan hamba dengan Paman Felix menjadi sebab ayah dan anak itu bertemu."
"Putri Jenderal Felix?!" kejut Raja Darian seraya menatap Jenderal Felix. "Kamu sudah menemukan putrimu, Jenderal Felix?"
"Benar, Yang Mulia," tutur Jenderal Felix berterus terang. "Dengan sebab bertemu Dhafin lah hamba bisa menemukan putri hamba yang sudah lama hilang. Karena Dhafin berteman baik dengan putri hamba, maka hamba mengajak Dhafin ke kotaraja ini bersama putri hamba."
Tentang putri Jenderal Felix yang hilang sembilan tahun yang lalu, sudah banyak pejabat yang tahu. Dan sebagian mereka tahu akan kisahnya. Jadi, mereka tidak terkejut lagi mengenai hal ini. Lagipula tidak ada pejabat yang perduli Jenderal Felix menemukan putrinya kembali atau tidak selain sahabat-sahabatnya sendiri. Dan kebetulannya pula, Jenderal Felix menemukan putrinya, juga bertemu dengan Dhafin.
★☆★☆
Persoalan ini masih membingungkan bagi Raja Darian Cashel dan beberapa pejabat lainnya. Jelas-jelas Letnan Fidell melaporkan bahwa ada anak kecil ikut andil atas terbongkarnya kejahatan Pejabat Kota Pendar. Namun hari ini malah pemuda itu mengatakan tidak pernah melaporkan hal itu. Sedangkan Jenderal Felix mengaku tidak tahu menahu tentang adanya anak kecil yang ikut andil dalam tugasnya.
Sedangkan Pendeta Noman, Pejabat Penasehat Kerajaan menduga ada sesuatu yang aneh pada kejadian ini. Laporan Letnan Fidell kemarin dia menduga adalah benar. Karena dia cukup tahu pribadi wakil sahabat baiknya itu yang tidak suka berbohong.
Adapun hari ini Letnan Fidell tidak mengakui laporannya itu juga benar. Benar Letnan Fidell tidak pernah melaporkannya. Kenapa? Karena Letnan Fidell tidak mengingatnya lagi. Bukan sengaja tidak mengingat, tapi ingatannya telah dihapus.
Entah siapa yang menghapusnya Pendeta Noman belum bisa menduga-duga. Yang pasti bukan Jenderal Felix, sahabatnya itu. Karena orang yang bisa melakukan hal demikian itu adalah orang yang menguasai tenaga batin. Sedangkan Jenderal Felix belum menguasai tenaga batin. Adapun Dhafin.... Ah, terlalu pagi untuk menduga anak itu.
Dia yakin Jenderal Felix pasti menyembunyikan sesuatu dalam kejadian ini. Lebih tepatnya dia melindungi sesuatu atau seseorang. Hanya saja dia tidak mau atau tidak ingin mengungkapkannya di Balairung Istana ini. Karena jenderal itu tahu pejabat-pejabat yang berkumpul di sini ada yang bermuka dua atau pengkhianat.
"Pendeta Noman!" Raja Darian Cashel memandang ke arah Pejabat Penasehat. Suaranya yang lembut itu memecah kebisuan. "Kejadian ini benar-benar membuatku masih bingung sekaligus heran. Bisakah pendeta menerangkan ada apa di balik kejadian ini?"
"Ampun beribu ampun, Yang Mulia," sahut Pendeta Noman dengan nada tenang tapi penuh takzim. "Sayang sekali hamba belum mengerti akan kejadian ini."
"Yang saya tahu Pendeta Noman biasanya bisa menduga sesuatu di balik suatu kejadian," Pejabat Keegen, Pejabat Kepala ikut angkat bicara. Suaranya bernada tenang, tapi maknanya mengandung sindiran. "Apakah kejadian ini begitu sulit untuk menduga sesuatu di balik kejadian itu?"
Ucapan Pejabat Keegen menyindir sekaligus menebak. Artinya dia menduga Pendeta Noman tahu akan sesuatu. Tapi apakah tebakan yang tepat itu akan diakui oleh Pendeta Noman?
"Saya bukan Penguasa Langit, Pejabat Keegen," kata Pendeta Noman masih tenang penuh santun. "Saya tahu sedikit makna tersirat di balik sesuatu, tapi banyak hal yang saya tidak tahu."
Jawaban ini sungguh tepat. Meski tebakan Pejabat Keegen juga tepat, tapi dengan jawaban Pendeta Noman itu dia tidak bisa mempertahankan tebakannya itu. Makanya dia terdiam tidak bisa membantah.
"Kamu punya suatu pandangan, Pejabat Keegen?" Raja Darian beralih pada Pejabat Kepala itu.
"Ampun, Yang Mulia," kata Pejabat Keegen penuh takzim. "Mohon ijin berbicara dengan Dhafin."
"Silahkan!"
★☆★☆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Ulun Jhava
terlalu mutar2 dhafin jg trll lebay dan drama apa masalahnya klu jujur
2024-06-09
1