Suatu pagi Jenderal Felix dan Dhafin tengah duduk-duduk di teduhan taman belakang kediaman Jenderal Felix. Mereka ngobrol sambil minum teh dan kopi. Dhafin minum teh, sedangkan Jenderal Felix minum kopi.
Dhafin sudah beberapa hari tinggal di kediamannya membuat mereka sudah lumayan akrab. Dan Dhafin tidak canggung lagi dengannya sebagaimana pada awal-awal.
"Dhafin, kamu 'kan kakak angkatnya putriku," kata Jenderal Felix bernada membujuk. "Berarti otomatis aku ayah angkatmu."
"Tidak juga begitu, Paman," sahut Dhafin dengan santai sambil memakan kue kering yang telah diambilnya.
"Tidak juga begitu bagaimana?" tanya Jenderal Felix heran dengan gaya agak konyol. "Itu 'kan sudah otomatis. Kamu mau mengelak bagaimana?"
"Jangan bermudah-mudah mengangkat anak, Paman," Dhafin masih mengelak. "Lagipula apa istimewanya anak kecil seperti aku ini mau-maunya paman mengangkat sebagai anak."
"Kamu merendahkan diri atau memuji diri sendiri?" tanya Jenderal Felix seolah menegur.
"Aku tidak sedang merendahkan diri atau memuji diri," jelas Dhafin. "Aku hanya bicara apa adanya, Paman."
"Kamu tidak suka 'kan dengan bangsawan?" kata Jenderal Felix menebak. "Bukan karena kamu tidak mau diangkat sebagai anak, tapi karena aku seorang bangsawan makanya kamu tidak mau aku angkat sebagai anak. Begitu 'kan?"
Dhafin agak sedikit terkejut mendengar tebakan yang tepat itu. Namun itu tidak lama, wajah tampannya kembali seperti biasa, tenang penuh kedamaian, bagai orang yang tidak punya masalah. Tapi keterkejutan sesaat itu sudah dilihat orang Jenderal Felix yang hampir tidak pernah lepas memandang wajahnya.
"Apa Ariesha yang mengatakannya kepada paman?" tanya Dhafin setelah beberapa saat terdiam.
"Kemarin Ariesha mengeluhkan padaku kalau kamu tidak suka sama bangsawan," ungkap Jenderal Felix. "Kamu sudah tahu kalau dia ternyata putri bangsawan, makanya dia takut kamu membencinya, dan pada akhirnya kamu meninggalkannya."
Dhafin terdiam sejenak, tidak lantas menanggapi ucapan Jenderal Felix itu. Sesaat dia menghela nafas untuk melonggarkan perasaannya. Setelah itu dia berkata mendesah.
"Ariesha pengecualian, Paman. Aku tidak membencinya, bahkan tidak akan pernah membencinya. Aku akan selalu menyayanginya sepanjang hayatku...."
"Bagaimana kamu ini bisa memilih-milih begitu?" kata Jenderal Felix dibuat heran. "Kamu tidak membenci Ariesha meski tahu dia putri bangsawan. Tapi, malah kamu membenciku lantaran aku seorang bangsawan, padahal aku ini ayahnya. Bagaimana kamu bisa membeda-bedakan begitu, Anak Muda?"
"Hahaha...."
Dhafin malah tertawa mendengar ucapan Jenderal Felix yang menggebu-gebu itu. Tapi tertawanya tidak sampai terbahak-bahak. Mungkin memang begitulah tertawanya orang yang dapat mengendalikan emosi, tertawanya orang berjiwa tenang.
Jenderal Felix cukup tertegun juga melihat Dhafin tertawa demikian. Sudah satu pekan Dhafin tinggal di kediamannya, baru kali ini dia melihat anak itu tertawa. Dia cuma melihat Dhafin hanya tersenyum saja, itupun seperlunya.
Dia tidak menyangka anak seusia Dhafin ini sudah bisa mengendalikan luapan emosi. Dia sudah bisa menerbitkan ketenangan jiwa dalam dirinya, padahal usianya masih terbilang bocah. Benar-benar bocah ajaib!
★☆★☆
"Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Jenderal Felix menegur. "Apa yang lucu?"
"Ucapan paman yang lucu," sahut Dhafin yang tidak tertawa lagi.
"Bagaimana kamu bisa mengatakan ucapanku seperti lelucon? Padahal aku hanya mengungkapkan apa yang ada di pikiranku."
"Kapan aku bilang kalau aku membencimu, Paman?" Dhafin malah bertanya seraya tersenyum. Sikapnya juga begitu santai. "Perasaan aku tidak pernah bilang 'kan?"
"Tapi... bukankah kamu...?"
"Aku hanya bilang tidak suka sama bangsawan, tapi bukan berarti semua bangsawan aku tidak suka. Bedakan hal itu, Paman."
"Kalau begitu apa alasanmu membenci bangsawan?" tanya Jenderal Felix penasaran.
Dhafin tidak lantas menjawab pertanyaan itu. Menyeruput sejenak tehnya tiga kali dengan jeda satu helaan nafas. Kemudian terdengar gumamannya bagai orang menggerutu sambil meletakkan kembali cangkir tehnya di meja. Tapi tarikan wajahnya tidak menunjukkan demikian, tetap wajah bocah yang berjiwa tenang.
"Aduh, tehnya sudah dingin, Paman. Ini gara-gara paman yang terlalu lama mengajak aku bicara sehingga lupa meminumnya."
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Anak Muda!" tegur Jenderal Felix. Tapi tarikan wajahnya bukan orang marah atau tersinggung.
"Haha..., aku baru sadar kalau paman adalah Pejabat Penyelidik Rahasia rupanya," gumam Dhafin sambil tertawa pelan.
"Kalau sudah menyadari aku seorang pejabat istana, lantas kenapa kamu masih menunda untuk menjawab?"
"Paman masih ingat 'kan kalau aku punya andil dalam penangkapan para penjahat perdagangan manusia?" kata Dhafin seolah menagih sesuatu.
"Lantas?"
"Seharusnya aku dapat upah lho, Paman. Bayangkan, Paman, aku mempertaruhkan nyawa lho untuk mengetahui markas mereka."
"Berapa kamu minta upah?" kata Jenderal Felix menanggapi serius. "Nanti aku beritahu pihak istana."
"Aku maunya paman yang bayar, bukan kerajaan."
"Kalau begitu kamu minta berapa padaku?"
"Sabar dulu, Paman, nanti aku akan menagihnya. Sekarang aku mau bertanya dulu...."
"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, Dhafin," kata Jenderal Felix mengingatkan. "Sekarang kamu malah mau bertanya."
"Dengarkan dulu, Paman. Soal jawabannya urusan nanti."
"Kamu mau tanya apa?"
"Saat bibi menceritakan riwayat Ariesha yang sebenarnya, bibi mengungkapkan bahwa sebab Nyonya Meisya menukar bayinya dengan Ariesha karena kebenciannya kepada bibi, di samping itu juga bibi merasa bersalah kepada Nyonya Meisya. Apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka?"
"Buat apa kamu ingin tahu persoalan orang tua, Dhafin?" kata Jenderal Felix menegur.
"Aku hanya penasaran saja, Paman," kata Dhafin masih ngotot. "Tentu ada hal yang mendasari kebencian Nyonya Miesya kepada bibi sehingga bibi benar-benar merasa bersalah sedemikian rupa."
"...sebab, berdasarkan cerita Ariesha aku menduga kuat kalau Nyonya Meisya itu orang baik. Buktinya dia menyayangi Ariesha seperti menyayangi anak kandungnya sendiri, sampai-sampai Ariesha menganggap Nyonya Meisya-lah ibu kandungnya."
"Nyonya Meisya memang orang baik, bahkan suaminya pun demikian," kata Jenderal Felix bernada mendesah.
"Lantas kenapa ada kebencian di antara orang-orang yang baik itu?"
"Itu persoalan orang tua, Dhafin," Jenderal Felix masih berusaha mengelak untuk mengungkapkan. "Belum pantas anak kecil sepertimu mengetahuinya."
"Berarti paman tidak mau menceritakan?"
"Kamu belum pantas mengetahuinya."
"Baiklah kalau paman tidak mau menceritakan," kata Dhafin seolah tidak mau memaksa. Tapi dia menambahkan ucapan berikutnya yang membuat Jenderal Felix kaget. "Nanti aku tanya saja pada bibi, pasti bibi mau menceritakannya. Dan paman tidak akan tahu kenapa aku membenci bangsawan."
Jenderal Felix langsung terkejut seolah baru tersadar dari lamunan panjang. Dia tidak menyangka anak ini begitu cerdik untuk mengorek keterangan dari orang lain. Dhafin benar-benar berbakat menjadi pejabat istana.
★☆★☆
"Baik, baik, aku akan menceritakan padamu," akhirnya Jenderal Felix mengalah. "Tapi kamu katakan dulu alasanmu membenci bangsawan."
"Bukankah paman tadi ingin membayar upahku atas keandilanku dalam membongkar perdagangan terlarang?"
"Iya. Kamu ingin menagihnya sekarang?"
"Iya. Tapi bayarannya tidak pakai uang, melainkan bayarannya adalah paman duluan yang menceritakan apa sebab Nyonya Meisya benci kepada bibi."
"Baiklah. Ini sebenarnya persoalan cinta, Dhafin," ungkap Jenderal Felix. "Makanya tadi aku bilang kamu belum pantas mengetahuinya."
"Ceritakan saja, Paman. Jangan selalu menilai pantas atau tidak pantas hanya berdasarkan usia."
"Iya ya."
Sejenak Jenderal Felix menghela napasnya untuk melonggarkan perasaannya. Lalu bercerita.
"Sampai sekarang aku masih bingung kalau membahas tentang cinta. Dulu..., sebelum aku menikah dengan bibimu aku mencintai seorang gadis bangsawan dari Kerajaan Bentala. Akan tetapi cintaku tidak bersambut, bahkan dia menikah dengan Pangeran Kerajaan Bentala. Maka kandaslah cintaku...."
"...tiga bulan lebih aku memendam kecewa akibat cinta yang tidak terbalaskan itu. Sampai akhirnya aku mengenal Meisya Finola, putri seorang pejabat istana Kerajaan Amerta ini. Saat mengenal Meisya aku mulai melupakan Cassandra Berdine, gadis bangsawan Kerajaan Bentala itu...."
Ketika Jenderal Felix menyebut nama Cassandra Berdine, Dhafin langsung terkejut, jantungnya berdetak kencang. Nampak sekali perasaannya terguncang mendengar nama itu. Tapi itu cuma beberapa saat saja. Dhafin sudah bisa menormalkan ekspresinya lagi. Untung saja Jenderal Felix tidak melihatnya.
"...Tapi hubungan cintaku dengan Meisya tidak berlangsung lama, karena aku merasa tidak cocok dengannya. Hingga akhirnya aku berkenalan dengan Carissa Felicia, bibimu...."
"Semenjak menjalin hubungan cinta dengan bibimu, aku benar-benar melupakan Cassandra. Singkat cerita, karena kami merasa saling cocok dan saling mencintai, akhirnya kami menikah...."
Jenderal Felix terus saja menuturkan kisah cintanya tanpa disela oleh Dhafin. Dan anak kecil itu terus saja mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Tidak disangka Meisya datang di hari pernikahan kami, bersama dengan Danish, sahabatku yang semenjak aku menjalin cinta dengan bibimu dia menghilang. Tentu saja kedua orang itu datang membuat aku maupun bibimu kaget...."
"...Aku kaget karena ternyata Meisya dan bibimu bersaudara. Aku kaget karena ternyata Danish juga mencintai bibimu, dan menganggap aku merebut bibimu darinya dan membenciku. Danish menghilang akibat kecewa terhadapku karena aku merebut bibimu darinya menurut dia...."
"...padahal aku tidak tahu kalau Danish juga mencintai bibimu. Sedangkan bibimu mengatakan tidak pernah mencintai Danish meski beberapa kali mencoba mendekatinya. Makanya bibimu kaget kenapa Danish menyalahkan aku telah merebut bibimu darinya, padahal bibimu tidak pernah menjalin cinta dengannya...."
"...Bibimu juga kaget karena baru tahu kalau aku pernah menjalin cinta dengan kakaknya. Tapi aku sudah meyakinkan bibimu kalau aku tidak lagi berhubungan dengannya. Dan karena kami memang saling mencintai, kami tetap mempertahankan cinta kami, meskipun Danish dan Meisya merasa tersakiti. Dan pada akhirnya mereka membenci kami...."
"...Dua bulan setelah pernikahan kami, Danish dan Meisya akhirnya menikah. Entah bagaimana kisah cinta mereka aku tidak begitu tahu. Singkat cerita akhirnya terjadilah peristiwa di rumah bersalin seperti yang sudah kamu ketahui...."
★☆★☆
Dhafin tidak komentar apa-apa tentang kisah cinta Jenderal Felix. Karena pada asalnya dia cuma ingin tahu apa penyebab terjadinya kebencian. Yang ternyata bermula dari cinta yang begitu pelik di antara mereka.
Cinta memang terkadang membingungkan. Kita mencintai seseorang yang ternyata dicintai pula oleh orang lain. Dan orang tersebut menyalahkan kita karena mencintai orang yang dicintainya. Padahal kalau dia berpikir secara akal sehat barang sedikit saja, dia akan bisa memahami kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan.
Selanjutnya, Jenderal Felix menagih Dhafin untuk menceritakan penyebab kenapa Dhafin sampai membeci bangsawan. Dan Dhafin tanpa berbelok-belok langsung menceritakan penyebabnya.
Dhafin hanya menceritakan secara global saja. Dia membeci para bangsawan karena orang-orang bangsawan telah menghabisi keluarganya tanpa kenal ampun. Sehingga membuat dia sebatang kara di dunia ini.
Sedari bayi dia dirawat oleh bibi pelayannya yang dia sudah anggap sebagai ibunya. Pada usia lima tahun bibinya mati pula terbunuh orang anak buah orang-orang bangsawan. Akhirnya dia harus lari dan berlari menyelamatkan dirinya dari kejaran para bangsawan yang hendak membunuhnya.
Dia tidak memberitahukan nama-nama keluarganya yang dia ketahui dari gurunya, Siluman Kalyan. Saat Jenderal Felix menanyakannya, Dhafin cuma menjawab.
"Sebenarnya aku tidak mau lagi mengingat-ingat keluargaku, Paman. Karena setiap kali mengingat mereka, hatiku semakin pilu... dan melahirkan dendam dalam diriku... yang pada akhirnya akan menghancurkan diriku sendiri...."
"...biarlah semua tentang mereka itu terbenam bersama waktu dan akhirnya lenyap dalam ingatanku...."
"Benar, Ayah," tiba-tiba Ariesha muncul tak jauh di depan mereka, "jangan lagi membuat Kak Dhafin menginhat-ingat keluarganya yang telah tiada. Hal itu akan membuat hatinya semakin sedih. Biarkanlah Kak Dhafin menikmati kehidupan barunya dan keluarga barunya di sini...."
"Ariesha benar, Kanda," timpal Nyonya Carissa yang juga telah muncul bersama Ariesha. "Biarkanlah Dhafin menikmati kehidupan barunya di sini tanpa harus mengorek-korek masa lalunya...."
"Kalian sudah pulang rupanya," sapa Jenderal Felix setelah memperbaiki perasaannya yang sempat terharu atas kisah masa lalu Dhafin. "Kok cepat sekali? Apa tidak jadi ke istana?"
"Kami belum ke istana, Kanda," sahut Nyonya Carissa. "Kami mau ijin dulu sama Kanda sekaligus mau mengajak Dhafin juga ikut ke istana kalau Dhafin mau."
"Bagaimana, Dhafin?" tanya Jenderal Felix. "Apa kamu mau menemani bibimu dan adikmu pergi ke istana?"
Belum juga Dhafin menjawab, tahu-tahu ada seorang pelayan datang menghampiri Jenderal Felix. Setelah menjurah hormat, pelayan itu berkata dengan penuh hormat.
"Ampun, Tuan Jenderal. Ada tamu ingin bertemu Tuan Jenderal dan Tuan Muda Dhafin."
"Siapa?" tanya Jenderal Felix penuh wibawa.
"Tuan Letnan Fidell, Tuan Jenderal."
"Mau apa Tuan Fidell ingin bertemu Dhafin, Kanda?" tanya Nyonya Carissa heran yang sudah berada di dekat Jenderal Felix dan Dhafin bersama Ariesha.
Nampak juga Ariesha merasa heran mengapa Letnan Fidell ingin mencari Kakaknya. Kalau mencari ayahnya sih biasa saja. Dia jadi curiga akan hal ini.
"Apa dia menyebutkan kenapa ingin bertemu Dhafin?" tanya Jenderal Felix.
"Tuan Letnan memberitahukan bahwa Yang Mulia Raja menyuruh Tuan Jenderal dan Tuan Muda Dhafin untuk datang ke istana."
Dhafin langsung terkejut seolah mencurigai sesuatu dan menatap Jenderal Felix yang juga menatapnya.
"Jangan-jangan...," gumam Dhafin dengan wajah sedikit tegang.
Baru saja Nyonya Carissa atau Ariesha hendak bertanya kepada Dhafin jangan-jangan apa, Jenderal Felix mengajak untuk menemui Letnan Fidell.
★☆★☆★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Harman LokeST
laaaaaaaaaaaaaajjjjjjjjuuuuuuuuuuuutttttt teeeeeeeeerrrrrrrrrrruuuuuuuusssssssss author
2022-09-17
2
Aqsa Grizzly
kok masih kecil sudah mau tau urusan orang tua..
baru kenal lagi..walaupun anak mereka adik mc..tapi tidaklah sopan usil urusan orang.
2022-05-04
3
Anonymous
oh, udah gw tebak
2022-04-29
0